Menemani Langit

Di usia Langit 10 bulan, waktu main bareng, sambil dia ngelihatin mainan atau bukunya, kadang aku suka bertanya-tanya dalam hati, kapan ya Langit bisa paham sama instruksi sederhana? Kapan ya dia ngeh binatang yang kutunjukkin ini namanya kucing, sapi, kuda….

Kadang kalau dipikir-pikir, pusing juga nungguin momen-momen itu terjadi. Apalagi dengan secara sadar atau tidak sadar membandingkan dengan anak-anak lain yang seumuran di sekitar Langit. Perasaan anak ini udah bisa masuk-masukin bola ke kotak, Langit kok malah bolanya kalo ga dimasukin mulut, dilempar-lempar yaa? šŸ˜­

Semakin kesini, semakin berupaya memahami apa yang sebenarnya terjadi sama Langit, semakin aku lebih bisa menerima. Aku ngerasain dampak positifnya ke diriku sendiri ketika coba membersamai Langit dengan lebih mindful. Jadi less-stress!

Alih-alih nyeruput susu UHT dari sedotan, Langit malah numpahin ke meja dan nunduklah dia, diseruput langsung dari meja.. Niru mpus, gais..

Sambil terus kuawasi dan selamantidak membahaakan, aku sekarang lebih ngikutin maunya dia. Saat makan maupun main. Termasuk nyeruput susu, air, maupun kuah langsung dari meja booster seat-nya. Kata dokter Adillah, Salah satu dokter spesialis anak yang fokus sama gangguan sensori dan makan, ada 1001 cara makanan bisa masuk ke mulut anak yang baru belajar makan. Termasuk lewat nyeruput langsung ke mulut. Jika hal ini aku tidak ingat, pastilah murka diriku melihat bayiku cosplay kucing minum air….. Dan semakin rusaklah atmosfer makan yang menyenangkan. Akan muncul trauma buat Langit dengan apapun yang berkaitan dengan makanan. Hm.

Di titik ini, aku merasa perkataan mbak Vidya, salah satu pegiat Montessori, sungguh benar adanya. Menuntut ilmu tentang pengasuhan adalah cara kita melindungi anak-anak kita dari hal-hal yang akan membahayakannya.

Setelah lebih paham dengan kebutuhan motorik kasar dan halus Langit, aku sekarang lebih santuy kalo Langit obok-obok mangkuk makannya waktu dia udah mulai kenyang. Dia sedang merasakan kuah soto yang masih hangat, dengan beberapa biji nasi di dalamnya. Aku biarkan dia nyendokin kuah ke mulutnya, mengingat bahwa ada koordinasi tangan dan mulut Langit yang bekerja sama untuk menerima suapan. Hal sederhana yang ternyata sulit lhoo untuk bayii. Yaa walau kadang lebih sering sendoknya nyampai mulut udah kosong karena udah tumpah duluan kena kaus kutangg (kostum Langit waktu makan selalu kaus kutangg karena kalau baju pusing bun mbersihinnya…)

Lantai jelas lebih lengket yha, harus siap beresin satu persatu remahan nasi, dan kuah-kuahnya yang dilempar-lempar kemana-mana oleh tuan muda. Tapi, dibanding dulu yang sampai nangis bombay mberesinnya, wkwk, karena membayangkan soronya nyiapin makan yang berakhir jadi rizki semut, sekarang aku lebih woles. Ini konsekuensi Langit belajar mandiri. Lantai kotor tinggal lap, bersihkan. Sambil terus ku-sounding tentang syukur bisa makan, dan membiarkannya melihatku dari kursi makannya konsisten membersihkan dibawahnya. Sungguh Langit sudah seperti raja pada bawahan. Mana kadang waktu lantai udah bersih, dilemparin lagi sama dia makanan yang dia pegang dari atas booster chair. Hm… Inhale.. Exhale..

Kenapa begitu Langit? Oohh membuktikan teori gravitasi ya? Ok.. Besok-besok Langit sendiri ya yang membereskan makanan Langit..

Tapi hari ini Langit mencatatkan beberapa pencapaian yang cukup mencengangkanku. Saat melepas baju untuk mandi, tangan kecilnya mengambil bajunya dari tanganku dan perlahan meletakkannya di keranjang baju kotor šŸ˜­ padahal nggak pernah ada yang sengaja ngajarin.

Juga saat ia mengacak-acak keju di lantai, sesaat ia pergi dan kembali dengan sehelai tissu yang ia gosokkan seadanya ke lantai šŸ˜­

Fitrah anak itu suka kebersihan, jika dia di biarkan makannya sendiri, lama-lama alarm tubuhnya akan memberi sinyal tidak nyaman. Sehingga dia akan tergerak membersihkan atau melakukan hal yang biasa orangtua lakukan. Disinilah menurutku peran ortu, memberi contoh.

Belum lagi ingatannya akan hal-hal dan situasi seperti cicak yang bersembunyi di balik pigura, pesawat yang melintas, kuah sup yang panas… Semua indranya tengah melesat pesat.

Perjalanan masih panjang, hati dan pikiranku akan terus cari cara, mencari tahu, mencari makna, dari setiap hal yang dilakukan guru kecilku. Aku ingin membersamai fitrahnya dengan hati yang lapang. Selapang-lapangnya Langit, tempat dimana kekuasaan Allah tunjukkan, kadang tampak jauh dan tidak terdefinisi, kadang sangat cerah dan seterang kertas putih. Hal-hal yang pula terjadi dalam diri anak kami, silih berganti.

Semoga Allah jaga kita ya, nak..

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: