Dari Draft: Tahun Baru dan Senpai

2013.

Bukan, bukan. Post ini tidak akan bercerita tentang hal-hal yang terjadi di 2013 atau resolusi menuju 2014.

2013 ini tahun yang unik sekali menurutku. Aku bertemu dengan banyak orang keren dan mempelajari banyak hal dari mereka. Bertemu, mengetahui, menyelami pikiran, membagi hati, beuh, semua terjadi di tahun ini di usia akhir belasan tahun, 19. Seru sekali. Kesempatan-kesempatan masih terbentang luas. (Iyo lek waktumu cukup!) :v

Tantangannya pun mulai bervariasi, mengajak diri untuk ikut dalam konvoi, memberi pilihan untuk mengikuti ritmenya dengan sepatu sendiri atau sepatu orang lain. Terus menggali makna, melakukan kritik terhadap diri sendiri, dan kemudian berani bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang diambil.

2013ku, dan orang-orang di dalamnya suwuwuwangar.

Kesempatan misalnya. Aku tidak pernah menyadari bahwa silaturahmi itu penting sekali untuk diusahakan dan dijaga, dengan bersilaturahim, kita akan menemukan pemahaman-pemahaman baru yang kita akan wow sendiri. Kesempatan bertemu orang dari jauh, mendengarkan mereka. Cerita mereka, bisa membuatmu berubah, membuka pikiranmu.

Terima kasih dulu dong.

Terima kasih untuk Pakcik Malaysia keheweren, Shev, untuk kesempatan dan dialog-dialog yang diberikan. Semoga masternya cepet beres dan cita-cita melanjutkan petualangan segera terlaksana.

Terima kasih untuk mbak deeydeey, yang selalu menemani dan bersedia menjadi satpam :v

Terima kasih untuk Ninoi, Ajeng Karinanza, Veronica Ajeng, serta Karina Zakia yang mengenalkanku dunia normal yang warna-warni. Aku jadi tahu merk-merk, kafe-kafe asik beserta menunya yang membuatku menahan jeritan dompet, serta semua pengalaman memberi surprise saat ulangtahun, kado-kadoan, dan juga untuk obrolan yang mengalir, tentang keluarga, pola asuh, buku-buku, cinta ❤

Kalian semua menantang hal-hal yang statusquo dalam diriku. Membuatku berani membuka pikiran dan belajar banyak hal baru.

Terima kasih, ya!

Dari semua poin di draft tulisan itu, ada satu hal yang menarik: Wow dulu aku pernah terjebak dalam jerat pesona seorang senpai yang rendah hati dan suka ngajak diskusi dari seberang samudera…

Masya Allah, sekarang jadi suami..

Selalu tersenyum saat mengingat bagaimana dulu kami. Kadang malu sendiri, kadang kesel karena satu hal, tapi lebih sering hatiku tiba-tiba hangat.

Sebagai pasangan, aku dan dia tidak pernah bisa sempurna, kalau digali-gali, pasti ada aja yang bikin kesel. Tapi saat mengamati wajah dari sampingnya yang lempeng nonton Dota itu, kadang aku suka mikir… Laki-laki ini pemberani sekali, mungkin dia sudah tahu, atau mungkin tidak tahu sama sekali apa yang akan ia hadapi setelah menikahiku. Pun juga aku, menikahi laki-laki ini membuatku berefleksi akan banyak hal. Ia membuatku semakin yakin bahwa cinta adalah kata kerja.

Saat menatapnya dari samping, aku bertanya-tanya, kejutan apa lagi ya yang Allah siapin buat perjalanan panjang kita?

Uwu. Bismillah…

Hadiah Pagi

Suami tersayang,

bersama surat ini, kukirimkan padamu sepotong pagi yang kuambil dari tahun 2050– dengan basah embun, cuitan burung, dan udara sejuk berkabut menyelimutinya. Apakah kamu menerimanya dengan lengkap?

Di tahun ke 29-mu menjadi manusia hari ini, aku ingin memberimu lebih dari sekadar kata-kata. Mereka kadang tidak cukup menjadi wakil perasaanku– atau aku yang kurang kosakata saja ya…

Tapi aku ingin memberimu sepotong pagi yang sudah rapi tersimpan rapi dalam amplop kartu pos. Jika dunia kelak menjadi bising dan menyedihkan, barangkali– barangkali, kau akan ingat bahwa kau punya sepotong pagi ini. Semoga bisa sedikit melipur hati.

Aku tahu kau ingin punya waktu yang panjang, dimana aku dan kamu bisa duduk di kursi malas, setelah perjalanan panjang yang jauh dan melelahkan, mungkin dengan sepiring pisang goreng hangat, diam menyimak sepotong pagi bercerita sembari memandang langit, bertanya-tanya, apakah semua ini memang benar terjadi. Sepotong pagi yan gbisa dibawa kemana-mana, bertahun-tahun lamanya.

Masa depan biar menjadi milik-Nya yang kita perjuangkan. Semoga tidak ada sesal kau menyimpan koleksi potongan-potongan pagi dariku, kelak.

Terima kasih sudah mengajakku dalam perjalanan di tahun ke-29mu. Semoga Allah selalu menjaga dan meridhoi kita.

Selamat ulang tahun.

What are your thoughts, concerns, question, feelings, and inspiration today?

That, maybe it’s perfectly OK to be vulnerable; to show and express feeling first, to feel ashamed by saying I love you first, to let the expectation rise– while in the same time realizing that it’s not going to work that way, to feel and accept all the negatives (some are weak assumptions, some are quick judgements) and also let them free.

Being able to finally control myself and have a space to welcome all those feelings– I found it liberating.

 

Menemukan Lagi

Ada hal-hal yang dulu pernah tampil di permukaan, energi positif yang pernah begitu kuat terpancar dari dalam diri. Masa dimana mimpi terasa begitu dekat sekaligus jauh. Terasa dekat karena murni diri yang memilih untuk mempercayai bahwa ia nyata, jauh karena segala upaya kesana selalu berakhir dengan kegagalan-kegagalan yang kurayakan dengan menangis sampai akhirnya kebas, terbiasa.

Dulu akulah supporter diriku sendiri, ada satu dua sahabat yang kubagi cerita tentang mimpi itu. Tak ingin banyak khalayak tahu karena 1, ya mungkin semata tidak percaya diri, 2. aku suka dengan sebuah idiom let the succes rings the bell. Aku di lima tahun lalu adalah aku yang menyusun semuanya sendiri, menghibur diri sendiri, menyemangati diri sendiri, membuat narasi tentang hal-hal yang akan kulakukan jika mimpi merantau dan menuntut ilmu di belahan bumi lain itu benar tercapai. Berkali-kali menemui penolakan di setiap event kecilnya, aku meyakini hal itu adalah biasa, menghabiskan jatah gagal, jadi frasa hiburan favoritku. Kegagalan adalah sebuah proses sangat biasa yang memang harus dilalui. Tapi sepandai-pandainya meyakinkan diri, toh kadang rontok juga segala tembok pertahanan diri. Kadang aku bertanya-tanya, kadang sampai capek juga. Menangis karena merasa bodoh juga sering, merasa…. mungkin emang nggak bisa, mungkin ini takdir, mungkin jalanku bukan disini, dan sejenisnya. Lalu aku perlahan mencoba menyelami dalam ke palung pikiran yang tergelap, yang selalu kucoba abaikan. Memberanikan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana nan basis dari lapisan terdalamnya:

Mungkin nggak sih, mimpi-mimpi itu hanya untuk memenuhi keegoisanmu sendiri? Karena kamu ingin diakui bisa? Mungkin nggak sih Allah menggagalkanmu karena masih menemukan titik pongah dalam hatimu?

Hingga dalam sujud yang panjang dari hari yang melelahkan saat itu, aku ingat dengan berani pula menjawabnya: Tidak, aku ingin menuntut ilmu seperti para solihin yang meninggalkan tempat tinggalnya dan berguru dari ulama-ulama terbaik. Aku ingin mengamalkan perintah Allah dari surat Al-Hujurat ayat 12, aku ingin menemukan jejak-jejak keesaan Allah di sudut bumi-Nya yang lain.

Aku harus bersyukur, mungkin Allah telah baik sekali memberikanku petunjuk-Nya. Ia mengingatkanku kembali tentang aku. Lewat ibuku, lewat catatan lama suami untukku di laptopnya, lewat sebuah postingan Instagram yang dulu pernah kubagi…

Segalanya mungkin akan menjadi lebih menantang nantinya, lebih sering mungkin aku menemui gagal, banyak hal mungkin memintaku berkompromi, menimbang lagi, bertanya-tanya. Tapi ini semua adalah sebuah niat yang harus diperjuangkan tidak hanya untukku tapi juga untuk anak-anakku, yang dari proses ini aku ingin anakku menyaksikan dan merasakannya. Kebermanfaatan yang perlahan semakin teramplifikasi, dimulai dari keluarga kecil ini.

Semoga Allah mengabulkan, semoga Allah selalu mengiringi…

 

 

Kehilangan

Ada satu hal yang hadir di pikiranku beberapa hari ini. Ia seperti gajah yang duduk di ujung ruang pikir, diam menyimakku riwa-riwi, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, tidak ingin mengagetkan dan kemudian merepotkanku. Ia diam, seperti menungguku untuk menyapanya.

Tapi mustahil untuk mengabaikannya. Ia disana, cukup besar. Aku menghindarinya, tak ingin bicara dengannya. Karena bicara dengannya berarti aku harus susah payah merasakan luapan emosi melelahkan bergantian.

Mungkin menghadapinya harus dengan tenang, dan melibatkan logika.

Aku tidak pernah merasa kehilangan seseorang, dalam hal ini, meninggal. Aku menghindari memikirkannya, karena takut, dan tidak siap tentu saja. Preambule tentang meninggalnya orang tua, atau keluarga inti, selalu merisaukan. Aku belum siap merasakannya. Ditambah saat ini aku yang memiliki keluarga kecil. Suamiku, aku, dan bayi kecil yang insya Allah kelak jadi manusia dewasa.

Dulu sempat terlintas pikiran, mungkin akan lebih baik jika aku meninggal terlebih dahulu daripada pilu menghadapi hari-hari tanpa suamiku yang sifat dan perilakunya kuhadapi tiba-tiba tidak ada. Bisa kubayangkan betapa nyerinya menjalani hari-hari memikirkan hal-hal yang belum sempat dilakukan, kata-kata maaf atau terima kasih yang belum sempat kusampaikan. Cara tertawanya yang kusuka, serta kegemarannya mengoreksi bahasa Inggrisku dengan menyebalkan, akan jadi ingatan yang manis sekaligus perih.

Dunia dan isinya adalah tempat luas. Seru sekali saat memikirkan mimpi-mimpi dan perjalanan yang dulu kami bicarakan sebelum dan setelah menikah. Kesamaan-kesamaan visi personal, berharmoniasasi jadi cita-cita keluarga. Hal yang jadi lecut saat ragu dan gamang deras meluruhkan nyali.

Kiranya akan nirmakna jika hidup harus aku lanjutkan setelah kehilangan suamiku dan anakku. Dari sedikit hal-hal yang kumaknai di dunia ini, mungkin mereka melingkupi arti dari sebagian besarnya. Sehingga sisanya tidak lagi relevan.

Mungkin terkadang aku ingin terlihat baik-baik saja, tapi di waktu lain aku ingin merenung dan merangkul kesedihan kuat-kuat, sambil mengingat fakta paling haq bahwa kepemilikan adalah fana. Allah selalu menguji dengan apa-apa yang kita cintai dan kita anggap miliki.

Sehingga pada akhirnya kelak kita memang harus membawa gajah ini duduk di meja makan, berhadapan dan membicarakan hal ini tanpa suara yang bergetar. Bahwa kematian adalah sebuah niscahya, bisa terjadi pada siapa saja, padaku, pada suamiku, pada anakku. Dari situ, kita mengerti bahwa akan ada masa kelam yang harus dilalui, menjalani hidup tak lagi sama dengan ritme yang mungkin melambat.

Berbekal cita-cita paling utama tentang berkumpul lagi di surga, aku ingin kami berjuang untuk satu sama lain, baik dengan anggota yang lengkap atau tidak. Bagiku mungkin akan sulit jika harus menghadapi hari-hari setelahnya, tapi jika memang harus, aku ingin membawa perasaan kehilangan itu bersamaku, dekat di samping, kuyakin perlahan ia akan bertransformasi menjadi sesuatu yang menguatkan. Cinta karena Allah tidak akan melemahkan kita.

Semoga.

Melihat Cinta

Sejak SMA, aku punya semacam anggapan yang tidak terlalu bagus tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Saat SD dan SMP, bagiku pacaran adalah aktivitas yang sangat menggelikan. Ketika melihat teman-temanku berpacaran, mereka tiba-tiba saling mengklaim satu sama lain, tiba-tiba harus berubah menjadi orang lain, jaim-jaim, sms-an nggak penting blas (2008an belum ada whatsapp) dan tentu saja isi pesannya nggak jelas dan annoying, ditambah bahasa tulisan yang populer pada jamannya, seperti..

qAmOuH gYe 4aPpa y4nkK??

gIe beL4jaR,,,

oWwch. dAch MaQan bLumph?

dan seterusnya.

Yang jelas konsep pacaran sangat asing bagiku. Saat itu aku juga dikelilingi oleh teman-teman yang cupu-cupu seperti Bocil a.k.a Atina Ilma, Sari, Novi, Bila.. yang taunya SMP itu seru karena isinya main-main doang, rapat-rapat OSIS sampe sore yang banyakan mainnya, dan yah.. ada sih naksir. Naksir yang gae lucu-lucuan. Bukan yang benar disimpan dalam hati. Naksir karena hormon. Lol.

Saat SMA, perpektifku tentang pacaran semakin jelas lagi. Aku begitu yakin pacaran adalah…. hng, tidak penting, buang-buang waktu, dan merepotkan. Diluar memang tidak ada istilah itu dalam Islam. Sehingga, ketika menemukan teman-temanku SMP yang satu persatu berpacaran, tidak lagi seru dan ngakak2 ketika ngomongin hati– karena mereka selalu menggunakan perasaan.. bertepuk sebelah tangab.. patah hati… Aku jadi tidak habis pikir. Wow. Kok iso ngunu lhoh.

Aku tidak paham bagaimana perasaan lawan jenis bisa berkait dan berkelindan. Ketika membaca buku tentang dua orang jatuh cinta, atau mendengar lagu tentang cinta, aku hanya bisa sebatas mengagumi dengan cara penciptanya meramu kata dan nada jadi indah begitu. Namun tidak pernah bisa merelasikannya.

Cinta terhadap lawan jenis adalah hal yang asing bagiku.

Seiring bertumbuhnya pemahaman, hadirnya keponakan pertama (Azzam!) yang membuatku belajar untuk mencintai anak-anak (dulunya aku anti gitu ditinggal berduaan atau disuruh menjaga anak-anak, mereka menyeramkan dan tidak bisa ditebak~), aku mulai mengenal ide-ide dan cerita parenting dari berbagai sumber, apa yang tidak dan seharusnya dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak di sekitar mereka. Kuaplikasikan langsung ilmu-ilmu itu pada keponakan. Jadi bagiku saat itu, seminar parenting lebih menarik daripada seminar pranikah. Wk. Dengan akumulasi pengalaman mengenyam pendidikan formal, refleksi keluargaku, sedikit info tentang isu-isu yang sedang terjadi, secara tidak langsung aku jadi punya bentuk konsep mendidik anak, walau samar. Kemudian aku sampai di titik.. anakku nanti seperti apa ya?

Membayangkan anakku saja merinding.

Sampai kemudian ada satu hal yang menggelitikku ketika di sebuah buku yang aku lupa apa, penulis bilang, mendidik anak dimulai dari memilih pasangan.

Wow.

Seingatku itu jadi catatan yang.. tidak terlalu kupusingkan juga. Maksudnya, aku tidak gupuh melihat-lihat sosok suami ideal di kehidupan nyata dan membayang-bayangkan kehidupan pernikahan kelak seperti apa.

Dari pemahaman yang kukumpulkan, aku kemudian menyimpulkan, cinta mungkin tak terlalu penting. Selama aku dan calon suami selaras dalam melihat visi hidup dunia-akhirat, masa depan, dan mendidik anak, kurasa pernikahan akan baik-baik saja.

Kata beberapa artikel dan pengalaman orang-orang yang sudah menikah juga, cinta bisa kok ditumbuhkan.

Cinta adalah kata kerja yang harus diusahakan, dirawat, dipupuk. Sehingga konsep menikah tanpa pacaran, sangat bisa kuterima dan sudah kurencanakan akan begitu.

Menikah tanpa cinta itu mungkin-mungkin saja. Dan memang begitu.

___

(to be continue)

Mengapa Menikah? (2)

Bagiku, selain karena pernikahan adalah wujud ibadah melaksanakan sunnah dan alasan primer lainnya, pernikahan merupakan awal untuk membangun sebuah rumah untuk satu sama lain.

Menikah berarti membangun susunan paling kecil masyarakat dimana di dalamnya semua hal tentang menjadi manusia diperkenalkan. Tentang menjadi hamba Allah, warga negara, warga dunia, suami, ayah, ibu, istri, adik, kakak, cucu, sahabat, tetangga, dan pembelajar kehidupan yang lebih baik.

Rumah adalah tempat kembali. Tempat pulang. Ramai dan bising diluar sana akan mereda, mengecil hingga hilang sama sekali seiring memendeknya jarak ke rumah.

Rumah adalah tempat pulang dari segala upaya. Percobaan-percobaan untuk memberi makna pada pekerjaan atau passion. Menang atau kalah, sama saja. Di rumah, segala hal diselebrasi. Bukan tentang hasil, tetapi kemauan anggotanya untuk menantang sejauh mana potensi diri bisa dimaksimalkan, untuk berdiri lagi saat jatuh dan melawan takut. Bahkan jika akhirnya menyerahpun, tak masalah. Rumah selalu disini, lebar terbuka. Menganggapmu istimewa dengan apapun yang dibawa, secompang-camping apapun.

Di rumah, kamu aman menjadi dirimu sendiri. Dengan keunikan masing-masing, semua bisa belajar. Melihat masalah sebagai tantangan, meresapi sedih sebagai proses alami manusia, dan melihat hal-hal kasat mata yang dimiliki adalah nikmat luar biasa. Syukur selalu terucap. Bahagia jadi sederhana saja parameternya.

Sedikit banyaknya benda maupun nominal yang dimiliki, tak akan mengubah kita. Tujuan rumah ini adalah surga. Kita akan lakukan apapun untuk menjemput rida Allah. Kita sedang menciptakan surga sebelum surga sebenarnya.

Rumah.

Menikah adalah membangun pondasi rumah yang hangat. Yang didalamnya kelak akan diisi cerita tentang sang teladan Rasulullah, diskusi tentang semesta, sedikit perdebatan, pengenalan konflik, presentasi target tahunan, ada juga gelak tawa, sedikit ece-ecean, dan gerutu gerutu tentang kaus kaki yang tertukar atau sepeda yang bocor.

Rumah adalah tempat dimana hatimu berada.

Rumah adalah keluarga. Dan kesemua itu bisa dimulai dari sebuah perjanjian langit dan bumi yang mengguncang arsy-Nya, ikatan yang disaksikan oleh malaikat:

Pernikahan.

Menikah bagiku adalah membangun rumah. Dan percayalah, kita akan selalu disatukan dengan orang yang meresonansi visi dan misi yang sama.

Semoga Allah ridho atas kami.

Mengapa Menikah? (1)

Ini adalah pertanyaan paling basis yang seharusnya selesai terjawab bagi siapapun yang berkehendak menikah. Jelas dan tuntas.

Value atau prinsip-prinsip yamg dipercaya masing-masing orang terhadap pernikahan itu berbeda-beda. Ini yang bagiku menarik, bahasan tentang pernikahan sering kujumpai bahkan sejak aku sek semester 2.

“He, kon kapan nyusul?” saat mampir kondangan senior.

“Ihir. Ndang nikah.”

Menikah jadi seperti solusi permasalahan dunia. Pusing tugas, nikah. Galau skripsi, nikah. Naksir orang, namun hampa karena belum atau tyada bisa memiliki, jadi tetap memelihara bayangan tentang nikah dan yang enak-enaknya. Bahasan jadi seputar itu-itu aja. Ditambah, beberapa pihak yang berkontribusi memupuk angan-angan warga muda. Menerbangkan khayalan tentang indahnya jatuh cinta, namun tidak dengan persiapan-persiapan jatuh atau bertanggung jawab atasnya.

Menikah tampak menyenangkan, a dreamy place– where a never ending happiness happens.

Jadi, mengapa kamu menikah?

Salah seorang temanku yang saat ini memutuskan tidak akan menikah bilang, dua orang yang jatuh cinta, satu frekuensi dan satu visi tidak melulu kok harus disahkan di depan agama dan negara. Baginya, menikah toh hanya jadi legalitas tinggal hidup satu atap (biar tyda digrebek warga). Pingin punya anak? Masih banyak anak terlantar yang butuh dibesarkan dengan cinta juga. Belum lagi ketika ia menyinggung tentang ‘kejahatan pasangan yang menikah kepada anak-anak mereka kelak’ karena telah sengaja “menghadirkan” insan tidak berdosa untuk hidup dan bertahan di dunia yang keras oleh ketidakadilan manusia-manusia dewasa ini, korupsi yang sistemik, dunia yang sesak, persediaan air yang semakin menipis, dan udara yang semakin tercemar.

Well. Membicarakan pernikahan dari sudut pandang itu mungkin butuh diskusi dan satu postingan utuh yang lebih panjang. Singkatnya, aku tidak sepakat dengan pendapat-pendapat itu. Walau aku fully aware dengan kompleksnya problematika dunia saat ini, aku tetap ingin menikah.

Di sisi lain, jika kita mau membuka mata lebih lebar, mendengar lebih peka, akan banyak lho kita temui kisah-kisah pilu tentang pernikahan. Yang tidak siap dengan perbedaan antara sebelum dan sesudah pernikahan, innerchild yang belum tuntas, dianugerahi anak spesial, orang ketiga dari masa lalu yang tiba-tiba muncul, masalah finansial, belum lagi perselisihan dengan keluarga pasangan, perasaan jenuh dan bosan…. dan lainnya. Banyak banget. 😅

Jadi, mengapa menikah?

Kembali kugarisbawahi. Apa nilai yang kita percaya?

Sejak awal, aku percaya bahwa menikah adalah sarana.
Ia ibarat mobil yang membawaku ke tujuan penciptaan manusia: beribadah. Visi hidupku. Visi dunia dan akhiratku.

Menikah adalah sarana beribadah menuju pertemuan dengan Allah di surga dengan mulia.

Dengan mengenali visi diri dan tujuan penciptaan, maka alasan kenapa menikah jadi terang diucapkan.

Ketika memiliki visi hidup, mengenali diri lebih baik, akan lebih mudah bagiku dalam memanfaatkan waktu dan Allah akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang bervisi sama, berfrekuensi satu.

Idealnya, menikah akan menambah dinamo baru untuk saling mendukung dalam bertumbuh dan menggapai cita-cita. Mimpi pribadi yang jadi mimpi bersama.

Sungguh aku sangat menyadari, dengan berbedanya karakterku dengan suami, akan ada friksi kecil sampai besar yang akan muncul. Dari tiap hal yang kami berdua lakukan, baik dalam support untuk aktivitas masing-masing, penyusunan mimpi jangka panjang keluarga hingga pekerjaan rumah tangga, kami ingin lakukan dalam bingkai bertumbuh, fastabiqul khairat. Melakukan apapun sedari awal diniatkan untuk menjemput ridha dan berkah-Nya.

Jadi…

Kalau kamu, mengapa menikah?

Sesuatu Setelah Menikah

Yha. Assalamu’alaikum.

Selamat siang dari Pasar Minggu.

Ini adalah postingan pertama di tahun 2019 dan setelah menikah. Dan sesungguhnya tulisan ini menjadi penanda dimulainya sebuah proyek sederhana dariku dan…… suami. (baik, suami. urhm…. s..ss..uami..) Alhamdulillah, setidaknya satu postingan muqaddimah akhirnya muncul juga. Haha 😂

Di proyek ini, kami akan menulis apa-apa saja yang penting untuk diingat dan pikiran-pikiran terlintas ketika menjalani pernikahan. Apa saja. Dari sudut pandangku dan sudut pandangnya. Jadi kelak akan ada platform gitu. Tapi ini aku akan memulai menyicilnya terlebih dahulu disini.

Disclaimer: tulisan-tulisan disini juga tidak bilang akan mewakili perspektif istri maupun suami. Murni jadi ajang implementasi value kami: berefleksi dan bertumbuh. Urhm.

Rencananya akan diberi nama: Rumah Samudera. Uwh. Mengapa rumah, kebetulan kami berdua sama-sama ingin menjadikan pernikahan yang homey. Hehe. Nanti deh dielaborasi. Samudera, karena… segala hal di dunia ini bermuara ke laut. Ini juga nanti akan lebih dijelaskan di satu tulisan. Lulss.

(Anyway, baru nyadar pakai kata ganti “kami” sekarang 😅 Mohon ijin senp Syaif kuwakili kita.)

Ohya.

Tentu saja, kami sungguh menyadari bahwa banyak hal yang belum kami alami sendiri, sehingga banyak hal tentang pernikahan yang mungkin kami sok-sokan aja mengerti. Maka dari itu, kami tertarik berdiskusi dengan siapapun. Terlepas dari itu, kami bersemoga bahwa keping-keping renung disini akan membawa manfaat. Terutama untuk kami sendiri.

Tulisan-tulisan receh (tulisanku paling, luls) dan padat (tulisan masnya lah, wkk) akan bertransformasi menjadi pulpen-pulpen yang menjendul kepala kami. Kami ingin mengabadikan nilai-nilai, pengalaman, kesan, pelajaran, perasaan, dalam sebuah tulisan– (kayak nasihatnya Pramodya gitu) sekali lagi, untuk dibaca kami saat ini, kami di tahun 2020, kami 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, saat berumur 45 tahun, 52 tahun, bercucu 4 atau 5, bahkan bi idznillah, bercicit 10… dan seterusnya.

Semoga Allah ridho atas kami. Benar menyampaikan kami berdua di tujuan akhir pernikahan: Surga. Sembari kami berusaha menciptakan surga sebelum surga sebenarnya. Laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyyil adzim..

About this project, I dont know how it will work. We might have super-lazy-demotivated feeling towards writing marriage stuffs. Because someday maybe we are bored or maybe we simply have no time.

However, let’s give a shot, then. Feel the doubtness, and do it anyway. Wkwkwk. Anw, kok campur-campur bahasanya. Yha gitu la. Gapapa, mungkin di masa depan akan ada beberapa tulisan yang berbahasa Inggris, latihan aja kita. Kan warga dunia, hohoho.

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan menyebut nama Allah, kami mulai perjalanan ini.