Tentang Hal yang Tidak Bisa Dikendalikan

Rasanya kita semua sepakat bahwa Ada hal yang terjadi di setiap detik kehidupan kita ini, dari sejak bangun tidur sampai tidur lagi, memicu beragam emosi. Hal paling pertama yang muncul pagi ini bagiku adalah, wow Langit nanti makannya mau nggak ya pake kuah soto kemarin? Nanti pak sayur jual kulit lumpia nggak ya? laba jual buku kemarin udah kecatet belum ya?

Belum lagi emosi yang munchl ketika siang, sore sampai malam. Baik yang positif maupun negatif. Kalau diurut, entah sudah berapa emosi yang sudah kukoleksi. Beberapa kemudian membuatku stress, sedih, dan galau.

Sampai hari ini, mengelola emosi terus jadi PR yang nggak pernah selesai. Kayak, aku udah ngerasa selesai, eh ada lagi. Ibarat lagi UAS, bab-nya sama, materi lebih menantang gitu lah, Bun.

Setelah membaca sebuah buku tentang prinsip filsafat stoic, aku yang awalnya agak memicingkan mata saat membaca (karena merasa topiknya aku udah paham wkk) jadi bisa lebih menerima beberapa hal yang dulu enggan kupahami utuh, karena…. rasanya tidak nyaman.

Tentang menerima bahwa memang kita tidak pernah bisa mengendalikan hal-hal diluar diri kita, termasuk opini, perasaan, dan pilihan orang lain.

Kurasa aku seringkali bercerita secara implisit dan eksplisit, secara anggun maupun blak-blakan (wkk) di blog atau di medium lain tentang betapa inginnya aku akan validasi, ucapan terima kasih, ucapan selamat dan semua yang bermakna. Aku mengharapkan orang-orang di sekitarku mengetahui bahasa cintaku, dan konsisten melakukannya untukku.

Aku tau, keinginan untuk dimengerti dan dicintai sesuai ekspektasi adalah hal lumrah bagi setiap orang, itu merupakan fitrah yang memang sudah ada semenjak kita bayi.

Di sisi lain, aku pernah berdiskusi seru dengan suamiku, seorang yang bernalar dan rasional nomor wahidku, wkwk tentang hal-hal diluar kendali yang ia coba ikhlaskan dalam hidup, saat itu tentang ekspektasi orang-orang terhadapnya yang diam-diam membuatku kagum sekaligus gemas. Kok bisa gitu sih?

Kusadari, tanganku mungkin terlalu kecil untuk mengendalikan pikiran-pikiran orang dan hal-hal diluar itu. Sungguh aku tidak bisa memaksa orang, siapapun itu untuk terus mempertahankan apa yang mereka rasakan terhadapku.

Yang bisa benar kulakukan adalah mengelola ekspektasi, memaknai fakta sekadar sebagai fakta, tidak menilainya berlebihan. Langit berat badannya irit, itu fakta. Aku bukan ibu yang baik. Itu judgement.

Dilanjut besok lagi. Langit mau nyusu.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: