Sore Ini

Sekitar dua jam lalu, ada suara ritmis menghantam genting di dekat kamarku.  Sebentar saja, mungkin 15 detik.

Gerimis sebentar.

Dari momen sekejap itu, aroma tanah sudah menyeruak, menari meriah di hidung dan pikiranku. Aku sudah coba untuk tidak terbawa suasana biru, tapi gagal.

Aku berada di kilas balik yang cepat. Sepuluh tahun lalu sekitar kelas 2 SMP, aku pulang sekolah dan tertahan di pangkalan bemo ketika hujan turun. Aroma khas hujan yang entah apa itu buatku penasaran. Keesokan harinya kucari tahu namanya. Petrichor. Sebuah reaksi kimia dari tanah dan air hujan.

Aku juga masih ingat, saat itu pukul 16.00 di tahun 2011, hujan turun pelan sekali. Orang-orang berteduh, beberapa menembus hujan, mungkin tidak ingin ditinggal antar-jemput. Aku duduk berselonjor di selasar Masjid Ad-Dakwah. Entah mengapa, saat itu aku kelelahan karena merasa harus menjaga banyak hal dari orang-orang yang telah kujinakkan.

Langit sore itu, mirip seperti sore ini.

Time flies.

Ada banyak hal yang terjadi, tiba-tiba aku berusia 23 tahun dan dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang– jika tidak berhati-hati, akan menjebakku menjadi orang dewasa seperti di buku The Little Prince.

Pilihan yang menjelma pagi yang kesiangan, menuntutku untuk terburu-buru dan tidak peduli dengan indahnya bunga Angsana yang gugur satu-satu di perempatan lampu merah.

Pfft.

Yah, mungkin aku hanya sedang meromantisasi beban dan perasaan insecure saja.

1350737417234

Advertisements
Sore Ini

Cikurai dan Hal-hal yang Menyertainya

“Pertama kali naik gunung? Ke Cikurai? Berani-beraninya…” 

Begitulah respon warganung (pendaki gunung.red) yang kujumpai di sepanjang jalur pendakian Gunung Cikurai. 

Kujawab meringis. “Ehe. Doakan ya..”

Mereka menatapku dengan sorot tidak percaya…. pendaki amat newbie dengan perlengkapan yang juga B aja, bersepatu lari warna tosca, memakai rok…. “Itu nggak papa pakai rok? Siapa yang ajak kesini?”

“Rok bukanla penghalang. Wkk… Eh, yang ajak itu tuh, *tunjuk mas Arif*” 

“Gila Gila. Ngawurrr.” Kata mereka. 

Yah, perjalanan menuju negeri di atas awan resmi dimulai.

——

Mendaki gunung awalnya adalah mimpiku sejak kuliah. Bukan karena demam film 5cm, namun karena……. aku mengenal beberapa pendaki perempuan yang kunilai cukup strong, mandiri, dan berkharisma. Mbak Endita, kakak kelasku di Libels, dan Intan, anak UI di acara JWC. Intan malah ukhti dengan segala definisi kasat mata: rok panjang dengan kerudung lebar sebawah pinggang. Dengar cerita dia tentang gunung-gunung dan apa yang ia temui dan alami, sungguh buatku penasaran. Apa iya? 

Aku sudah berencana mendaki gunung Merbabu dan Merapi bersama Intan di tahun 2015, namun.. yha. apa daya. Tidak jadi karena hujan dan yha tentu saja ijin orang tua. Wk. 

Sudah tidak terhitung berapa kali aku mengatur ulang jadwal, mengontak teman-teman (yang ada mbak-mbaknya) untuk naik gunung… mana aja, sampai menabung beli sandal gunung, namun selalu semua berakhir buntu. Heu. Sampai aku berpikir.. ya Allah kudu harus punya suami dulu ta baru Kau bisa ijinkan aku naik gegunungan.. . . .

Lulz. 

Ada yang bilang, naik gunung mengajarkanmu untuk mengenal dirimu sendiri. Membuatmu lebih memahami karakter orang yang pergi bersamamu.

Kurasa aku bisa jawab.

Jawabannya…. Ya.

Dan lebih dari itu. Wkk. 

Aku jadi tahu bahwa aku ini ternyata penakut. Aku tidak se-tatag (kuat, mental baja.red) yang kupikir sebelumnya. 

Di tahun 2013, Aku pernah ke Pulau Sempu dengan hutan belantara serta tanah liat karena hujannya, bapak guide memujiku sebagai satu-satunya perempuan di gumbulan AIESEC yang berstamina penuh, pemberani, dan tatag.” 

 Iya aja, pas itu lagi galau. Wkk. Jadi kuluapkan semua galau pada alam. Ea.

Aku tidak melakukan survey tentang Cikuray sebelumnya kecuali Mas Arif yang rutin ngeshare foto di puncak Cikuray dan medannya. Leh uga.

Bismillah. 

Dengan kemiringan tanah 45 derajat sampai 90 derajat selama 5 jam pendakian.. Aku bersyukur masih bisa sampai di pos 6.

Di pos 1 menuju pos 2, sungguh aku sudah mau menyerah. Bahkan sempat berpikir cara apa yang paling logis dan elegan agar aku bisa menghentikan perjalanan ini tanpa merugikan siapapun. Kurasa aku hampir menyetujui pikiran yang bilang, “Nez, kamu baru pertama kali naik gunung, they will understand if you decide to stop. You’ve perfomed well so far.”

But, I didn’t..

 Kurasa karena setelahnya aku buru-buru membongkar direktori motivasi internal dalam kepalaku dengan sporadis. Dzikir, membayangkan pohon-pohon yang berkomunikasi, ranting dan daun yang bergesekan dan itu cara mereka mengingat Allah, membayangkan ada kehidupan mikroorganisme di serat pohon yang kupegang, membayangkan menceritakan kisah ini pada ponakan dan anak-anak… 

Istighfar, sebut nama Allah. He will definetely help you. 

Oke, aku sudah dikasih banyak sekali kemudahan– izin ayah-ibu, dukungan mbak-e yang ternyat mendukungku cuti di hari Sabtu yang padat, serta persiapan-persiapan lain yang dimudahkan. 

Kurasa Allah akan memberitahu sesuatu nanti. Allah has made it for me– up to this point. Do I really have to give up? 

Maka, dengan beban carier 40liter di punggung, aku meneruskan perjalanan yang bahkan belum separuhnya itu dengan… terseok-seok. 

Yang penting jalan.. 

Manjat sana sini, benerin rok yang nyangkut di akar dan ranting-ranting (salah pilih bahan rok euy), berpegang apapun– pohon, ranting, akar agar aku tidak limbung dan jatuh ke bawah. 

Yang penting berprogress..

I was the slowest hiker. Aku ada di paling belakang barisan. Paling terakhir, dan ketika dapat waktu istirahat, langsung menjatuhkan diri ke bumi– kata Mas Arif kayak orang pingsan. 

Mas Arif? Yha tentu saja dia di belakangku. Beberapa kali menasihatiku nasihat yang tidak perlu, “Nafas jangan dari mulut, Mah– Ammah.red—, dari hidung.” “Capek itu mindset, Mah. Ayo cepet. Ini seperti ketika menghadapi masalah dalam hidup, Mah. Kita harus terus majuu.. Ayo, Amah.”

Sampai aku tyda tahan dan bilang padanya. 

“Udah, duluan aja.”

Sejak saat itu, dia tak pernah lagi meributiku. Wk.

Yahh, singkat cerita, ternyata aku tidak se-tatag itu. 

Sehingga, sampaiku di puncak Cikuray dengan awan yang terasa sedekat jangkauan tangan, sungguh bukan suatu hal yang sangat kubanggakan. Yang ada malah rasa malu. 

Ini semua karena Allah yang mengizinkan. Kemampuan ini dari Allah. 

Allah masih mengizinkanmu menggapai mimpi yang kau nantikan bertahun-tahun– walau sebelumnya kau berulang kali ingin menyerah.  

Malu. Allah baik sekali. 

Di kelilingi awan dan kuatnya angin menusuk tulang, aku mengingat lagi mimpi-mimpiku, kemudian berdoa agar Allah memberi kekuatan untuk bertahan dari ragu yang kubuat sendiri.  

Bahwa semua keberhasilan adalah bonus. Akumulasi ragu, ingin menyerah, optimis, husnudzon, menguat-nguatkan diri, membentuk-bentuk adonan positif di kepala, dan keyakinan bahwa Allah-pasti-akan-kasih-kekuatan, terus silih berganti di pikiranku saat mendaki. 

Dua kali tangisku jebol, diam-diam tentu saja, nggak kuat. Sungguh ingin menyalahkan Mas Arif yang mengajakku naik gunung semenantang ini– bahkan untuk yang profesional. Namun, ya itu tadi, perasaan itu berkelindan dengan perasaan positif lainnya. 

Allah telah menjadi sebaik-baik pengatur. Allah sudah membawamu sejauh ini, Ia pasti bantu. Pasti.

Dan kurasa aku siap untuk naik gunung lagi. 

Jadi kapan kita kemana? 

Cikurai dan Hal-hal yang Menyertainya

“Alhamdulillah, Mbaak”


Di suatu isya setelah buka puasa, aku menggonceng adik-adik baru kenal yang kuajak pulang bareng, semata sejalan dan yha kenapa tidak.

Di perjalanan, ternyata kami membicarakan hal-hal tentang diri masing-masing: kegagalannya di SBMPTN, kesibukannya di sekolah, keinginannya untuk bersekolah jauh dari rumah– karena ia lelah menjadi “terkenal” di Surabaya. Ia yang Amanah, ia yang semua-pasti-beres, Ia yang the-yes-girl. Ia ingin pindah ke tempat dimana ia bisa lebih jadi penyimak, pengamat, tanpa banyak dikenali. Me-reset ulang konsepsi tentang diri.

She, in some ways, reminds me of myself. Then I eventually agree that she has unlocked my password.

But, i think i need to revise it: she’s way better: in controlling her expectation, widening her acceptance, in seeing Allah’s plan for her, in husnudzon of Allah’s decision over all her efforts.

I remember the time in 2012, how gloomy i was. It took months– a year maybe, for me to finally accept my fate. I was craving for an answer, i dealt with my dissapointment, arrogance, and question. I didn’t really prepare myself to be in Surabaya and tbh, I didn’t really care about my murobbi’s implied sayin that DS is in its critical points.

That time.

And here I am. Tears streaming down, adoring my sister’s husnudzon towards Allah’s plan for her, her relief about bigger possibility to be in Surabaya– and join us. She might hold the grief, she might be tired of trying, yet she never loses her belief.

I learn a lot from her. In dakwah, in acceptance, in having faith in Him.

In embracing life.

Terima kasih ya, Hila.

“Alhamdulillah, Mbaak”

Ini Bulan Ramadan

Ini bulan Ramadan, Kak. 

Tidak boleh ada yang bersedih di bulan ini.

Lihat wajah-wajah itu, baik yang berbuka dengan beberapa butir kurma curah serta gorengan maupun kurma premium asli Madinah harga 600.000 dan cake red velvet, semua sama bahagianya. Mengawali buka puasa dengan doa dan syukur.

Ini bulan Ramadan, Kak. 

Anak-anak rantau menghitung hari. Tiket sudah dipesan jauh-jauh hari. Mahal sekalipun tidak masalah.  Berjubel di stasiun dan bandarapun, tidak ada apa-apanya.

Pulang ke rumah.

Mengingatnya adalah merdu, pelipur segala lelah. Sudah menyisihkan rupiah dan membelikan sepotong baju untuk ibu dan keponakan. Biar Hari Raya semakin semarak. Rindu yang ditabung, insya Allah akan segera lunas. 

Ini Bulan Ramadan, Kak. 

Ada rahmat, ampunan, dan berkah Allah yang bisa kita ambil dimana saja. Di sudut-sudut malamnya, di siang teriknya, di menit sebelum berbuka, di pagi setelah subuhnya. Kapanpun kau ingat, segeralah berdoa. Apa saja. Karena ini bulan Ramadan

Semua bahagia.

Ini bulan Ramadan, bulan dimana kita diberi kesempatan kedua, ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Mengingatnya, kekuatanmu seharusnya bertambah.  Mengingat bahwa Allah menyimak baik-baik setiap harap dan takut itu, seharusnya membuatmu kuat.

Kau punya Allah, dan itu lebih dari segala cukup.

Jadi jangan sedih.

Ingat, ini Bulan Ramadan. Allah lebih dekat bersama kita. 

Ini Bulan Ramadan

Tamu di Depan Rumah

Ada tamu yang dinanti-nanti datang dua hari lalu. Tamu agung. Ramadan.

Walau tidak berkesempatan berpuasa di hari pertama (sampai hari ini dan lima hari selanjutnya), aku merasakan datangnya detik-detik Ramadan ini dengan berbeda dari tahun sebelumnya. Ada deg-degan, malu, sekaligus bersemangat. Well, I do hope that this is a good thing…

Aku masih ingat Ramadan tahun lalu, karena suatu hal yang sangat duniawi— seperti deadline skripsi di bulan puasa serta sidang skripsi beberapa hari setelah lebaran– aku merasa kurang memaksimalkan Ramadan. Tidak ada romantis-romantisnya. Semua gara-gara skripsi, /lol/, maksudnya, monster dalam diri yang dominan dan sibuk mencari pembenaran untuk lalai. Aku ingat, memaafkan diri di setiap 1 Syawal sering jadi hal yang cukup sulit dilakukan. Tahun lalu, salah satunya karena ini. Tidak maksimalnya aku pada Ramadan.

Dan ketika dipertemukan lagi dengan Ramadan tahun ini, sungguh rasanya seperti mendapat jawaban dari doa-doa yang padanya kamu belum siap. Aku deg-degan saat sore menjelang masuknya 1 Ramadan, mata perih sembari terus beristighfar. Ya Allah, semoga bisa. Semoga Engkau mampukan.

Yah, jadi.. Hai. Ahlan wa Sahlan, Ramadan.

Bulan luar biasa ini datang lagi, menyapa dengan ramah dan sangat ganteng padaku. Sedang aku tersenyum kikuk, sungkan dan malu karena merasa belum layak didatangi jawaban dari doa-doa ini. /hadeu kok seperti jodoh. . …..

Memikirkan rutinitas yang baru serta segala kombinasi asa dan harap itu, membuat Ramadan kali ini terasa lebih personal bagiku. Aku mungkin sedang berlomba dengan diri sendiri. Tolak ukur keberhasilannya sederhana: Ramadan tahun lalu. Tahun ini harus jauh lebih baik. Variabel-variabel baru di tahun ini (rutinitas dan harapan-harapan) jadi tantangan sekaligus motivasi untuk tidak melewatkan Bulan Ramadan begitu saja.

Di bulan Ramadan, semuanya jadi tentang aku dan Allah.

Target-target Ramadan adalah caraku membangun jembatan, memotong jarak, dan mendekat sampai sedekat-dekatnya. Merasakan manis dan lembutnya iman.

Semoga.

Tamu di Depan Rumah

Lelap

Malam untuk beristirahat– kata Yang Maha Memelihara, kalau boleh kuingatkan.  

Jadi, dengan sebait doa, mari memejamkan mata sedalam-dalamnya. Menyadari tidur adalah merelakan diri untuk mati sejenak dan tak berkesempatan bangun lagi esoknya.  

Yang penting kita sudah berdoa.  

Dari upaya itu, kaurasa akan ada suara menari di pikiranmu. Mengajakmu menelaah hari ini. Manusia-manusia yang kau temui, kisah mereka, rindu yang kau tahan-tahan, juga harapan yang kau beri makan. 

Dalam perjalanan sebelum tidur itu, kaudapati dirimu kewalahan menahan gelisah. Ingin bangun lagi tapi terlalu lelah, ingin menyampaikan sebait dua bait pesan, tapi terlalu ngeri membayangkan responnya.  ingin menuntaskan pertemuan, tapi buat apa.  

Lalu kau ingat lagi tulisan di kolong internet tadi pagi yang begitu hangat dan merah jambu. Mempersonifikasi fenomena alam sebagai manusia yang tidak mampu menguasai hati dan ingin menyelamatkan satu sama lain. Dua orang telah bersepakat. 

Cukup muak, sekaligus iri. Karena diam-diam bertanya: seperti itukah mencintai dan dicintai? 

Betapa heroiknya.  

Atas kesadaran romantis itu, sedetik kemudian kau membuyarkannya dengan kembali membangun tembok tinggi. Mewanti diri untuk tidak menerbangkan perasaan tanpa navigasi. 

Mungkin manusia memang diciptakan untuk selalu merayakan sedih dengan bermewah-mewahan. 

Tapi semoga kita bukan termasuk golongan yg berlebih-lebihan. Agama tidak mengajarkan begitu kan ya. 

Oke, 

Sudah tertidur kah, kau? 

Tidur saja yang jauh. Ada bintang-bintang di atas sana, kalau kamu lihat, ada satu bintang, milikmu saja. Dia bisa tertawa. 

Cuma kamu yang punya. 

Oh, Pangeran Kecil juga. 

Jadi, selamat tidur.  Semoga besok Allah membangunkanmu.  

Lelap

Arif. 

Aisyah dengan Abi dan Ibu.

Satu-satunya laki-laki di foto itu namanya Arif. Dia Masku, genap 27 tahun ini. Melihat di stories kakak iparku, kulihat ia begitu… berbeda ketika mendekap bayi perempuan itu. Entah emosi seperti apa yang kurasakan saat dia kagok dan heboh mengganti popok Aisyah.

Mas Arif ini LDM-an dengan istrinya. Mbak Annisa (iya, namanya sama kea aku)  tengah menyelesaikan S2-nya di Unair yang sempat tertunda karena hamil dan melahirkan Aisyah, dan Masku bekerja di Bandung.

Kedatangan Mbak Annis dan Aisyah ke Bandung pasti jadi pelipur lara Mas banget.

Aisyah kangen Abinya.  Abinya apalagi.

Melihat ke-kagokannya menggendong Aisyah pakai bedong, memoriku jadi berputar. Aku nggak menyangka sudah berada di fase ini. Tante dengan 7 (mau 8) ponakan, dan.. melihat Masku bersama bayi.

Dia sudah.. jadi ayah.

Aku coba ingat lagi warna rumah siang itu, ketika Mas Arif pulang ke rumah, rambut piak tengahnya, dengan bau khas matahari, kaus kaki bolong bilang, “Aku jalan lo dari sekolah.” yang serta merta disambut marah dan tidak percaya Ibuku. Bayangkan, dari Wonokromo ke Rungkut, anak usia 12 tahun jalan kaki. Katanya, duit naik bemonya ditabung buat beli tamiya. 

Atau saat dia pergi mencari batang tebu dengan mas-mas lain, aku ikut.  Aku mengamati caranya memakan batang tebu. Kutiru, lidahku langsung ditempeli serat-seratnya yang seperti bulu tajam, lalu dia ngikik-ngikik puas, cukup membuatku trauma makan es tebu sampai sekarang.

Belum lagi sederet kelakuan tidak bertanggung jawab lainnya.  Baca buku diariku keras-ketas,  nggarai,  ngece-ngece, nggudo-nggudo, semata-mata ingin melihatku menangis kencang.

Itu dulu. 

Kepergiannya mondok waktu SMP sangat kusyukuri, tak ada perusuh hari-hari puberku.  Lol. Aku tumbuh tanpa benar-benar bersama dengan Kakak-kakakku. 

Sampai akhirnya dia kembali, masuk SMA Negeri. Jadi Ketua OSIS. Jadi anggota remaja masjid yang aktif, disukai bapak-bapak, dielu-elu ibu-ibu.  Belum lagi saat kuliah, jadi ketua BEM dan dikenal, dihormati, disayangi, —- semua orang, dari pak Parkir sampai Pak Dekan. 

Bahkan sampai sekarang.

Temanku yang di ITL ketika berkesempatan tahu silsilah keluargaku, akan membulat matanya.  Seperti teman KKN-ku, Aman, “Serius kamu adiknya Mas Arif yang itu? Yang itu??!?!”

The legend Arif.  

Kebaikan Mas Arif saat ini kepadaku sering kuterima dengan curiga. Semata awkward, dan tidak tahu akan bicara apa, berterima kasih dengan suara alay yang terencana atau menanggapi dengan cuek-cuek cool. 

But, I miss him. 

Saat ini, mungkin dia tengah mengalami banyak hal di keluarga kecilnya, di kantor baru dengan amanah barunya, tuntutan yang ada padanya yang semuanya kurasa lebih berat.

I hope he’s okay, and I believe he is. He is my brother.

I’m gonna send him hi, and also weird IG post about Fullhouse (we were Fulhouse and Sassy Girl Chun Hyang lovers. Yes, in 2005, Korean drama united us.), maybe Pokemon, Digimon, or Hatchi too.

Arif.