Ramadan Lalu dan Kini

Ramadan selalu memunculkan memori yang wangi. Aku ingat saat diri masih belasan tahun, sedang senang-senangnya mencari teman, memaknai pertemanan, memaknai diri, hidup, dan cita-cita.

Menuangkan harap pada malam-malam dan siangnya, berdoa supaya Allah mau mengabulkan doa-doa khas remajaku yang ingin menemui dunia di luar jendela Surabaya. Ingin masuk  UI ya Allah, ingin jadi anak BEM UI, ingin berdiri di bahu raksasa ya Allah~

Itu yang kuingat. Pencarian pada kawan-kawan yang sefrekuensi, yang juga ingin menjadi pahlawan di mimpi masing-masing, ingin membanggakan orangtua, ingin segera mendewasa. Mengajak mereka untuk menghabiskan malam-malam ganjil di Masjid, ada yang dengan mudah dapat izin, ada yang meminta maaf tidak bisa bergabung.

Merasa bisa i’tikaf jadi kemewahan yang saat itu kupikir– orang-orang tertentu saja yang sanggup.

Beberapa tahun setelahnya, i’tikaf keliling masjid kampus dan sekitar Surabaya pun jadi lebih mudah. Ramadanku padat aktivitas yang bermakna dan menguatkan yakinku bahwa Allah benar menciptakanku dengan satu maksud. Aku merasa berdaya menjadi hamba. Siang diisi tilawah, malam juga.

Tahun berganti, status dan peran bertambah, tentu Ramadan di masa setelah menikah dan punya anak, berbeda lagi. Mungkin bisa aku salahkan situasi yang tidak mendukungku atau mungkin aku yang memang terlena tidak menghidupkan detik-detiknya.

Rasanya ganjil dan jengah ketika tidak bisa tarawih dengan sempurna karena anak yang rewel, atau sekadar menyelesaikan tilawah sampai selesai 1 juz. Iri dengan mereka yang bisa mendapatkannya, tapi tidak dilakukan.

Subhanallahu wa bi hamdih, subhanallahil ‘adzim.

Di hari-hari terakhir Ramadan ini, aku mencoba mengais keberkahan Ramadan dengan tasbih yang banyak ustadz sampaikan, insya Allah bermakna dan sama berpahala seperti mereka yang penuh beribadah. Terus mencari tahu sampai paham bahwasanya Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Ia tak mungkin menyiakan hamba-Nya. Bahkan sekadar menyiapkan makanan berbuka, berniat i’tikaf walau hanya sala tarawih, Allah akan tetap mengganjarnya dengan sempurna.

Aku ingat nasihat Imam Omar Suleiman bahwa pada akhirnya, yang dinilai Allah adalah niat. Intention. Jika niat beribadah kita tulus mengharap ridho Allah, maka kualitas menjadi yang utama daripada kuantitas.

Indahnya agama ini adalah bahwa kita selalu punya kesempatan kedua, ketiga, keempat, untuk kembali. Bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan hambaNya, niat hamba-Nya, bahkan yang sekecil dzarrah.

Belajar dari Ibrahim

Ustadz Salim A. Fillah pernah berkisah di salah satu tulisannya yang sangat berkesan lalu bertahun-tahun kemudian kuingat dan kusyukuri. Tentang Nabi Ibrahim.

IdulAdha adalah perayaan tentang mengingat ketaatan dan cinta seorang hamba pada Allah melebihi cintanya pada keluarga– anak dan istrinya. Sungguh episode sejarah yang tiap tokohnya membawa hikmah untuk dihayati berabad-abad setelahnya.

Mulai dari penantian bertahun-tahun Ibrahim akan hadirnya seorang anak– lalu diuji dengan perintah mengorbankan anaknya, hingga hubungan ayah-anak yang sangat diplomatis,

“Bagaimana menurutmu Ismail tentang mimpiku ini?”

“Jika ini perintah Allah, lalu kan Ayah.” Kata Ismail.

Lalu Hajar yang “ditinggal” Nabi Ibrahim dengan Ismail bayi, tapi ia percaya Allah akan menolongnya maka ia terus berlari dari bukit Shafa ke Marwa, semata menunjukkan kesungguhannya berusaha.

Dalam menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim bukannya mudah melakukannya. Ia bahkan menutup matanya, beberapa riwayat lain ia menolehkan kepalanya– toh Nabi Ibrahim adalah ayah, ia manusia dengan segenap perasaan tidak teganya menyembelih anak yang ia idam-idamkan.

Namun, karena ini perintah Allah, maka ia lakukan. Dan ia melakukannya dengan kepala yang menoleh.

Sebuah gestur yang sangat dalam untukku. Setelah kurenungi, menjalani perintah Allah, menjalani kehidupan yang penuh tantangan, kita diperbolehkan kok untuk menunjukkan rasa sedih kita. Kita boleh menangis saat menjalani peran kehidupan terasa lelahnya, kita boleh menangis ketika menit demi menit terasa begitu berat dilalui, kita boleh melakukkannya.

Tidak ada yang pernah menjanjikan kita kehidupan yang lebih indah daripada sebelum-sebelumnya. Tidak ada yang pernah bisa menjamin bahwa rencana-rencana itu akan terlaksana.

When you feel you are in a long never seemed ended tunnel, remember to keep on going. As long as you know you are in the right path. Allah never sleeps.

Bahwa dunia adalah tempat kita merasa sedih. Bahwa kesenangan abadi hanyalah ketika sudah tuntas menunaikan tujuan penciptaan kita dengan sebaik-baiknya. Bahwa tempat yang di dalamnya abadi rasa aman, rasa tentram, adalah di Surga.

Ya Allah, semoga Engkau terima.

Sebuah Update

Ingin terus kuingat bahwa ujian setiap orang berbeda-beda. Dimanapun fase hidupnya.

Boleh dibilang, persiapan mpasi-ku cukup update, aku melakukan feeding rules seperti anjuran IDAI dan WHO. Aku menakar nutrisi anakku dengan presisi. Hasilnya, Langit tetap sulit makannya. Ketika di bulan ke 7 makan dan berat badannya sudah mulai melandai, pergi ke dokter menanyakan perihal ada apa, malah diceramahi tentang “kenapa kok vaksinnya nggak dilengkapi dengan yang ini ini dan ini?”

I feel attacked and right know I don’t need any secondary vaccine for my kids. And yes, it’s based on proper knowledge. That’s not what matter for now.

And yeah, BB Langit yang awalnya berstatus gizi baik jadi underweight. Pergilah kami ke dokter spesialis nutrisi dan metabolik, dr. Meta di Surabaya. Semua hidden disease yang ditakutkan tidak ada, hanya memang perlu booster susu padat kalori sambil terus sabar menemani Langit makan. Untuk mengejat ketertinggalan BB-nya.

Selang beberapa minggu, Langit menunjukkan minat makan yang jauh lebih baik. Dia minta makan, dia menghabiskan camilan, semua dengan porsi yang lebih banyak dari sebelum-sebelumnya. Dan baru saat itu aku melalui hari dengan perasaan yang sangat baik. Langit makan! Langit makan dengan baik, berarti kebutuhan nutrisi untuk otak serta pertumbuhan dan perkembangannya pun baik. Ini merupakan kewajiban dasar yang kuusahakan, Langit berhak akan hal itu.

Sampai di fase saat ini, berusia 18bulan ketika Langit mulai demam dan berlanjut tidak mau makan sampai berhari-hari, aku merenung lagi. Mencoba menelaah perasaan yang dulu menyergapku tiba-tiba. Fase sulit makan langit menguak semua trauma masa kecilku. Permasalahan sekecil Langit yang menumpahkan air untuk dimainkan bisa mentrigger emosiku sampai membuatku menyesal. He is not responsible to my unsolved inner problem.

Everyday I try to heal. Everyday I try to remember that this Langit situation doesn’t define me as Nezha, as a Mom. Everyday I try to reframe my own thoughts.

Ketika melihat anak lain tampak begitu lahap makan, tanpa drama, dengan sangat menyenangkan, aku mencoba memahami dengan lebih baik, bahwa everyone owns their own problem. Ada yang bermasalah dengan finansial rumah tangganya, ada yang bermasalah dengan keluarganya, ada yang struggling dengan pekerjaannya.

Allah memberikan pengalaman bersabar yang berbeda-beda pada hamba-Nya. Sesuai kadar yang cuma Allah yang paham kekuatan mereka. “Gitu aja kok bingung,” “Halah, gitu aja dibikin stress. Orang lain ada yang lebih parah dan buktinya mereka survive-survive aja?” Menjadi komentar yang sangat tidak empatik.

Jujur, aku pernah merasa “Ya Allah, masalahku anak suka makan aja kok ngeluhnya gini banget.” Sebuah denial yang justru memperburuk keadaan. M

My worries is around how if Langit’s 2 years golden age wouldn’t go as what it should be. Langit adalah amanah terbesarku saat ini. Adalah hak Langit untuk mendapat pengasuhan yang maksimal dari kami. Aku selalu membayangkan Langit akan menuntut di hadapan Allah tentang lalainya aku dalam membesarkannya. Aku tidak ingin begitu.

Aku harus selalu ingat untuk fokus pada hal-hal yang bisa aku kontrol saja. Hal di dalamnya termasuk persepsi, niat, dan upaya terbaik dalam mendampingi makan (dan hal apapun) dengan Langit.

Sisanya biar Langit dan Allah yang tentukan.

Semangat Ibu

Masa-masa Depan

Bulan sedang terang-terangnya malam ini. Pada angkasa, manusia berhutang pada ilmu pengetahuan yang tidak terbatas. Misteri-misteri tentang masa depan seakan bagai sebuah tirai, menunggu untuk dibuka.

Memandangi bulan dengan detil dan dalam, aku teringat sebuah janji yang tercatat di sebuah riwayat. Bahwa orang-orang beriman akan pula melihat keindahan Allah di surga, langsung dan jelas, seperti malam ini.

Aku tak pandai berkata-kata. Kata-kataku miskin, kata-kataku seperti tak pernah bisa mewakili perasaan. Perasaanku bising, tapi akan kucoba memelankan volumenya, dan merangkainya dalam kalimat seadanya.

Aku ingin bersamamu, selamanya. Aku ingin melihat dunia denganmu, ke tempat-tempat dengan nama yang sulit, tersesat dengan artu hilang. Aku akan melihat wajahmu yang lelah sambil menahan kesal. Aku ingin kita menemukan makna-makna baru, bersama. Kita sedang dan akan selalu menjadi murid abadi dalam pernikahan dan kehidupan. 

Aku ingin menyaksikan mimpi-mimpi susah payah kaurangkai, satu persatu terjadi dan tidak terjadi. Aku ingin memelukmu dari belakang saat kau menggoncengku kelak  ketika sudah punya SIM. Melihat punggung yang dulunya kecil dan rapuh, menjadi punggung seorang pemuda yang kokoh. Aku ingin mendengar ceritamu tentang hal-hal yang kelak aku tak paham. Aku ingin meyakinkanmu bahwa kau bisa jadi apapun. Bi idznillah.

Aku ingin membersamaimu, selama-lamanya.

Masa depan adalah hal paling misteri dan tidak pernah bisa kita kendalikan. Keinginan-keinginanku hanyalah keinginan yang hanya bisa kutitipkan dengan sungguh-sungguh pada Rabbku.

Karena kadang aku lupa mengimani bahwa Ia akan menemani apapun yang akan terjadi nanti. Kadang aku lupa, pada akhirnya masing-masing kita akan sendiri. Aku ingin menyelesaikan misi-misi hidup ini dengan hati yang lapang. Sehingga ketika di tengah perjalanan, ketika mungkin tidak banyak hal yang telah kulakukan, setidaknya aku sedang dalam proses menjaga amanah dan menjalankan perintah-Nya dengan sebaik-baik upaya.

Ya Allah, kabulkanlah…

Good Day

What makes a day, good day?

A rose will say, “a little boy takes a really good care of me. Even I’m such a demanding creature in his little tiny planet. I mean, he can just leave me.”

A swarm of ants finds rice played by a toddler. His mom prepares him to do rice transferring from one bowl to another bowl, intended to stimulate his fine motor skill like what other mama do in Instagram. Yet, the almost two year boy throws all rice to all over the place. Indeed a really good day for ants.

A young writer might say, ” I got an idea of the first sentence of my novel!” It’s because of the quote by Carl Sagan she read in a random science trivia account on Twitter. “Somewhere, something incredible is waiting to be known.

Or.. It can be when lovers finally find a way to talk about what they really feel these days. I bet this is a really good one. They can sleep peacefully without assuming.

A friend will say a good day is cup of hot tea accompanying her late dinner while watching ongoing Korean drama.

A good day can also mean this. Accepting that today is not one of those good days. That it’s not comfortable new situation I am in. And to feel not really good about it, is okay. This acceptance really makes my day.

Ibu dan Tiga Anaknya di Jl. H. Samali

Sejak tinggal di Jakarta, aku sering kaget dengan pemandangan anak seusia keponakanku (7-10 tahun) yang bersama orangtuanya, di tengah terik matahari, berjalan mencari entah apa di tumpukan sampah warung-warung dan toko. Kadang kutemukan satu atau dua, bahkan bisa lebih di hari dan jam tertentu.

Semakin lama, pemandangan ini jadi semakin biasa untukku. Aku bahkan cenderung mengalihkan pandangan ketika menemukan mereka, karena tidak nyaman dengan perasaan ….. kasihan? Bersalah? Gusar? yang meliputiku berjam-jam setelahnya.

Sampai ketika di bulan Maret/April, saat pergi ke warung dengan Langit dalam gendonganku, anak laki-laki dengan rambut merah dan baju yang lusuh, memangkul karung berjalan melewatiku. Ia melihatku sekilasnya, tampak buru-buru. Berbelas meter di depannya, ada anak lebih kecil lagi, sedang mengambil aqua botol dari tempat sampah TK sebelah kontrakanku.

Mereka adalah kakak beradik, menemani ibunya yang juga menggendong bayi, sepertiku, memulung botol atau gelas bekas di sepanjang Jalan Samali, Pejaten, sampai Siaga. Ditotal bisa lebih dari 5 km.

Hatiku remuk.

Aku menangis saat itu juga. Aku teringat keponakan-keponakanku yang mungkin saat itu sedang makan dengan ayam kesukaaan mereka sambil menonton TV di rumah mereka yang berantakan dengan krayon, kertas-kertas gambar, atau mainan-mainan. Saat melihat Ibu yang menggendong bayi yang sepertinya sama usianya seperti Langit, aku teringat aku, seorang Ibu yang baru melahirkan, dengan segala perubahan fisik dan emosi, mungkin tidak punya pilihan lain selain membawa ketiga anaknya turun ke jalan.

Tentang pemulung yang membawa tiga anaknya mungkin sudah belasan atau puluhan tahun menjadi persoalan khas Kota besar di Indonesia, mungkin juga sudah lama jadi PR dinas sosial.

Privilase pengetahuan semakin membuatku sesak, tentang 1000 hari pertama bayi, nutrisi yang seharusnya mereka dapatkan, hak anak untuk bermain, merasa aman… Apakah anak-anak itu mendapatkannya? Belum lagi tentang kerentanan pergaulan jalanan sampai kriminalitas. Aku perih membayangkannya.

Saat menulis ini, aku tak benar-benar tahu harus berbuat apa. Apa yang sebenarnya mereka butuhkan? Apa bagi-bagi makanan tiap Jumat saja cukup? Apa aku juga harus memberikan mainan edukasi atau buku bacaan untuk anaknya? Apa perlu aku kontak kawan bidanku untuk kita buat edukasi untuk ibu-ibu yang membesarkan anak di jalanan? Mencari tahu komunitas yang bergerak di ranah itu?

Apa mungkin mereka hanya ingin perasaan aman? Aman dari hujan, panas? Aman dari keharusan mengumpulkan sekian rupiah untuk diserahkan pada pengepul? Aman dari sesama pemulung yang memalak?

Apa yang harus kulakukan? Apa aku bisa benar-benar melakukannya?

Merangkum Jokpin

Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung dalam kepalaku.

Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma.

Aku baru menyelesaikan buku puisi milik Joko Pinurbo alias Jokpin. Padanya aku seperti masuk dalam labirin-labirin perasaan. Asing dan familiar, dekat dan jauh. Gelap dan terang. Di dalamnya, aku merasa rela terjatuh, memantul, jatuh, memantul dalam trampolin raksasa. Langit yang memayungi jadi tidak jelas warnanya. Tapi dominan jingga.

Sambil melompat aku memetik satu demi satu kenangan, sambil mengusap airmatanya. Terkaget dengan suara dari celah langit, yang ternyata suara Ibu yang bertanya, “Sini Ibu bersihkan sambal dari baksomu.”

Pada kata-kata penyair itu, aku dituntun memungut keping-keping ingatan, yang kubiarkan diam di pinggir jalan. tentang menjadi pahlawan untuk diri sendiri, tentang menjadi kekasih orang-orang yang menjual kalender di malam tahun baru. Merasakan waktu rontok menjadi bantal tidur mereka. Atau saat seorang anak perempuan yang dibesarkan penuh kasih dan kemiskinan, merayu bulan agar tak enggan meminjamkan bajunya, untuk esok hari raya.

Salah satu halaman mencoba melucu, ia bilang, puisi lebih ampuh dari obat untuk menyembuhkan demam. Setuju, aku sangat setuju. Karena dalam hari yang sepanjang jalannya dipenuhi abu, aku ingin segera cuci kaki dan meraupkan kata-kata pada wajahku. Mengabadikannya diatas pipi dan kening. Dunia(ku) baik-baik saja. Pipiku segar karena puisi.

Pada penyair, mari lantunkan hormat sedalam-dalamnya. Pada kepiawainnya mengekalkan sejarah manusia beserta tingkah laku aneh dan merdunya, kesombongan gedung, kejahatan penguasa, abadi dalam kata-kata, hening sekaligus lantang. Mereka abadi dalam genggaman zaman, dekat menempel di saku hati juga celana.

Healing Journey: A prolog.

Since being a mom, I think I’ve met the darkest version of me. The ugliest, the worst of Nezha. This is the thing that I always deny. Kenapa? Karena itu berarti hal-hal yang aku siapkan sebelumnya tentang pernikahan, tentang pengasuhan jadi terasa tidak berguna. Aku merasa tujuanku saat itu adalah agar dapat menjalani masa pernikahan dan pengasuhan dengan potensi konflik yang aman dan terprediksi.

Baru kusadari, ada satu hal basic yang tidak cukup kuketahui saat menjadi istri dan orangtua. Bauwa aku adalah bukan lagi Nezha yang sama. Aku kehilangan diriku yang dulu. Menjadi orangtua, terlebih ibu, aku sering dihadapkan situasi yang entah mengapa ingin membuatku kabur dari peran. Aku bangun tidur, dan menyadari akan ada hari yang panjang akan kulalui. Memikirkannya saja sudah berat.

Aku juga sering tiba-tiba nangis, tiba-tiba meledak, merasa nggak berdaya, merasa asing dan sendiri. Hal ini terjadi ketika aku berhadapan dengan situasi saat akumulasi lelah menemami Langit seharian ditambah ia yang tidak mau makan plus maunya hanya denganku, atau saat komunikasi dengan pasangan tidak baik, atau saat ada hal eksternal terkait orangtuaku, dalam hal ini ibuku, muncul.

Aku sadar itu adalah badai emosi yang harus dilewati, di depan Langit, saat sedang menangispun aku akan coba jelaskan, “Langit, ibu nangis karena ibu sedih. Sebentar ya.” Namun, setelah lewatpun, aku merasa itu bukanlah a good cry. I don’t feel any better. I feel that there’s something stuck, left hanging in the room of my chest.

Aku merasa masa baby bluesku sudah selesai (hal yang paling bisa menjelaskanku). Sampai akhirnya aku menemukan sebuah diskusi dua perempuan yang membawaku pada banyak penemuan tentang kondisiku yang sebenarnya. 5 stages of grieving Mom, oleh Damar Wijayanti dan Lolita.

Ternyata aku sedang berduka. Aku kehilangan diriku yang dulu. Hidupku berubah. Hal yang sudah kusiapkan sebelumnya, tapi tak benar aku paham apa artinya. Perubahan yang tak hanya tentang hormon dan bentuk fisik, tapi juga prioritas hidup, rutinitas (sekadar bisa makan dan mandi bener aja udah alhamdulillah) juga hubungan dengan pasangan yang berubah.

Sisi-sisi tersembunyipun perlahan muncul. I remember how I was parented, and I think that is the cause. Untuk sekadar mengakui bahwa hal ini valid saja aku enggan. Aku khawatir perenungan-perenungan itu akan membuatku tidak nyaman dan merasa bersalah.

But I think I need to do it. I need to heal myself. To dig deep down inside me.

It must be frightening, but it’s okay.

It is only a meeting with 5 years old of me. She’s a kid. She needs someone to pat herself. I’m more than ready to do that.

So let’s start our healing journey ya Anisah.

To Anisah

Halo, Anisah. Apa kabar kamu? Sudah minum susu Milo dengan 2 sdm gula belum? 😅

Aku Nezha. Entah sejak kapan aku enggan memperkenalkan diri dengan nama kita. Sungguh bukannya aku tidak suka, satu dan dua peristiwa menuntunku menjawab Nezha, jika ditanya nama. Semoga kamu berkenan.

Aku tidak benar-benar ingat hari-harimu saat itu. Apakah saat bangun pagi, kamu ditemui senyum segala penjuru, atau hanya suara berita SCTV dengan pembawa acara Alfito Deanova yang masih kurus. Aku ingin jadi orang pertama yang menyambutmu memulai pagi, mengucapkan, “Halo anak baik, tidurnya nyenyak semalam? Sudah baca doa belum?”

Anisah, banyak yang ingin kusampaikan padamu, tepat di manik mata. Pertama dan terpenting, aku sangat menyukaimu. Rambut keritingmu. Gigi kariesmu. Kulit hitammu. Aku bangga pada semangatmu saat menyusuri masjid, pura-pura detektif memecahkan kasus sendiri. Aku suka rasa penasaranmu. Aku suka saat kamu berpura-pura menjadi ibu yang sibuk mengantar anaknya sekolah dengan sepeda itu, sebuah skenario agar naik sepeda keliling perumahan lebih terasa bertujuan.

I’m truly sorry for those abandoned cries. That crying for help, for attention, or for anger and frustration that remained there, hanging and slowly vanished awkwardly. I am sorry that you have to find a way to calm yourself. Questioning whether you are a true drama queen or just simply a sad kid needs an assurance, and started believing that the former was the answer.

I am sorry that you have to hear those calls in all years of early school; tiang listrik, jerapah, ondo, sutet. I don’t know that it hurt you without you even realized it, but it made you walk while staring the floor, you didn’t want to be seen tall. Luckily, it made you brave to raise hand, in subjects, in class meeting.

I am sorry that you doubt yourself so much, that you forget you hold such sunshine in your smile. That you have power in your voice, swords in your hands to fight for those bullied friends who trust you.

I am sorry for the things that makes you feel unworthy. All those self-questions you secretly forget slowly reappeared, in more petrifying forms now. But it’s okay. I’ll handle it.

Thank you for everything. For every kindness, for your thrist in reading. Thank you that you didn’t mind wearing secondhand clothes. That sparkly shoes and bags worn by friends didn’t really bother you. Thank you for your understanding to your parents, your sisters, your brother. Thank you for making your friends smile and laugh. Some of them, they told me that they feel really happy to meet you. I’m so proud of you. You did a great job.

I like you so much. The world needs to know this fact.

You are loved, a lot.

Tentang Hal yang Tidak Bisa Dikendalikan

Rasanya kita semua sepakat bahwa Ada hal yang terjadi di setiap detik kehidupan kita ini, dari sejak bangun tidur sampai tidur lagi, memicu beragam emosi. Hal paling pertama yang muncul pagi ini bagiku adalah, wow Langit nanti makannya mau nggak ya pake kuah soto kemarin? Nanti pak sayur jual kulit lumpia nggak ya? laba jual buku kemarin udah kecatet belum ya?

Belum lagi emosi yang munchl ketika siang, sore sampai malam. Baik yang positif maupun negatif. Kalau diurut, entah sudah berapa emosi yang sudah kukoleksi. Beberapa kemudian membuatku stress, sedih, dan galau.

Sampai hari ini, mengelola emosi terus jadi PR yang nggak pernah selesai. Kayak, aku udah ngerasa selesai, eh ada lagi. Ibarat lagi UAS, bab-nya sama, materi lebih menantang gitu lah, Bun.

Setelah membaca sebuah buku tentang prinsip filsafat stoic, aku yang awalnya agak memicingkan mata saat membaca (karena merasa topiknya aku udah paham wkk) jadi bisa lebih menerima beberapa hal yang dulu enggan kupahami utuh, karena…. rasanya tidak nyaman.

Tentang menerima bahwa memang kita tidak pernah bisa mengendalikan hal-hal diluar diri kita, termasuk opini, perasaan, dan pilihan orang lain.

Kurasa aku seringkali bercerita secara implisit dan eksplisit, secara anggun maupun blak-blakan (wkk) di blog atau di medium lain tentang betapa inginnya aku akan validasi, ucapan terima kasih, ucapan selamat dan semua yang bermakna. Aku mengharapkan orang-orang di sekitarku mengetahui bahasa cintaku, dan konsisten melakukannya untukku.

Aku tau, keinginan untuk dimengerti dan dicintai sesuai ekspektasi adalah hal lumrah bagi setiap orang, itu merupakan fitrah yang memang sudah ada semenjak kita bayi.

Di sisi lain, aku pernah berdiskusi seru dengan suamiku, seorang yang bernalar dan rasional nomor wahidku, wkwk tentang hal-hal diluar kendali yang ia coba ikhlaskan dalam hidup, saat itu tentang ekspektasi orang-orang terhadapnya yang diam-diam membuatku kagum sekaligus gemas. Kok bisa gitu sih?

Kusadari, tanganku mungkin terlalu kecil untuk mengendalikan pikiran-pikiran orang dan hal-hal diluar itu. Sungguh aku tidak bisa memaksa orang, siapapun itu untuk terus mempertahankan apa yang mereka rasakan terhadapku.

Yang bisa benar kulakukan adalah mengelola ekspektasi, memaknai fakta sekadar sebagai fakta, tidak menilainya berlebihan. Langit berat badannya irit, itu fakta. Aku bukan ibu yang baik. Itu judgement.

Dilanjut besok lagi. Langit mau nyusu.