“Alhamdulillah, Mbaak”


Di suatu isya setelah buka puasa, aku menggonceng adik-adik baru kenal yang kuajak pulang bareng, semata sejalan dan yha kenapa tidak.

Di perjalanan, ternyata kami membicarakan hal-hal tentang diri masing-masing: kegagalannya di SBMPTN, kesibukannya di sekolah, keinginannya untuk bersekolah jauh dari rumah– karena ia lelah menjadi “terkenal” di Surabaya. Ia yang Amanah, ia yang semua-pasti-beres, Ia yang the-yes-girl. Ia ingin pindah ke tempat dimana ia bisa lebih jadi penyimak, pengamat, tanpa banyak dikenali. Me-reset ulang konsepsi tentang diri.

She, in some ways, reminds me of myself. Then I eventually agree that she has unlocked my password.

But, i think i need to revise it: she’s way better: in controlling her expectation, widening her acceptance, in seeing Allah’s plan for her, in husnudzon of Allah’s decision over all her efforts.

I remember the time in 2012, how gloomy i was. It took months– a year maybe, for me to finally accept my fate. I was craving for an answer, i dealt with my dissapointment, arrogance, and question. I didn’t really prepare myself to be in Surabaya and tbh, I didn’t really care about my murobbi’s implied sayin that DS is in its critical points.

That time.

And here I am. Tears streaming down, adoring my sister’s husnudzon towards Allah’s plan for her, her relief about bigger possibility to be in Surabaya– and join us. She might hold the grief, she might be tired of trying, yet she never loses her belief.

I learn a lot from her. In dakwah, in widening acceptance, in having a faith in Him.

In embracing life.

Terima kasih ya, Hila.

Ini Bulan Ramadan

Ini bulan Ramadan, Kak. 

Tidak boleh ada yang bersedih di bulan ini.

Lihat wajah-wajah itu, baik yang berbuka dengan beberapa butir kurma curah serta gorengan maupun kurma premium asli Madinah harga 600.000 dan cake red velvet, semua sama bahagianya. Mengawali buka puasa dengan doa dan syukur.

Ini bulan Ramadan, Kak. 

Anak-anak rantau menghitung hari. Tiket sudah dipesan jauh-jauh hari. Mahal sekalipun tidak masalah.  Berjubel di stasiun dan bandarapun, tidak ada apa-apanya.

Pulang ke rumah.

Mengingatnya adalah merdu, pelipur segala lelah. Sudah menyisihkan rupiah dan membelikan sepotong baju untuk ibu dan keponakan. Biar Hari Raya semakin semarak. Rindu yang ditabung, insya Allah akan segera lunas. 

Ini Bulan Ramadan, Kak. 

Ada rahmat, ampunan, dan berkah Allah yang bisa kita ambil dimana saja. Di sudut-sudut malamnya, di siang teriknya, di menit sebelum berbuka, di pagi setelah subuhnya. Kapanpun kau ingat, segeralah berdoa. Apa saja. Karena ini bulan Ramadan

Semua bahagia.

Ini bulan Ramadan, bulan dimana kita diberi kesempatan kedua, ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Mengingatnya, kekuatanmu seharusnya bertambah.  Mengingat bahwa Allah menyimak baik-baik setiap harap dan takut itu, seharusnya membuatmu kuat.

Kau punya Allah, dan itu lebih dari segala cukup.

Jadi jangan sedih.

Ingat, ini Bulan Ramadan. Allah lebih dekat bersama kita. 

Tamu di Depan Rumah

Ada tamu yang dinanti-nanti datang dua hari lalu. Tamu agung. Ramadan.

Walau tidak berkesempatan berpuasa di hari pertama (sampai hari ini dan lima hari selanjutnya), aku merasakan datangnya detik-detik Ramadan ini dengan berbeda dari tahun sebelumnya. Ada deg-degan, malu, sekaligus bersemangat. Well, I do hope that this is a good thing…

Aku masih ingat Ramadan tahun lalu, karena suatu hal yang sangat duniawi— seperti deadline skripsi di bulan puasa serta sidang skripsi beberapa hari setelah lebaran– aku merasa kurang memaksimalkan Ramadan. Tidak ada romantis-romantisnya. Semua gara-gara skripsi, /lol/, maksudnya, monster dalam diri yang dominan dan sibuk mencari pembenaran untuk lalai. Aku ingat, memaafkan diri di setiap 1 Syawal sering jadi hal yang cukup sulit dilakukan. Tahun lalu, salah satunya karena ini. Tidak maksimalnya aku pada Ramadan.

Dan ketika dipertemukan lagi dengan Ramadan tahun ini, sungguh rasanya seperti mendapat jawaban dari doa-doa yang padanya kamu belum siap. Aku deg-degan saat sore menjelang masuknya 1 Ramadan, mata perih sembari terus beristighfar. Ya Allah, semoga bisa. Semoga Engkau mampukan.

Yah, jadi.. Hai. Ahlan wa Sahlan, Ramadan.

Bulan luar biasa ini datang lagi, menyapa dengan ramah dan sangat ganteng padaku. Sedang aku tersenyum kikuk, sungkan dan malu karena merasa belum layak didatangi jawaban dari doa-doa ini. /hadeu kok seperti jodoh. . …..

Memikirkan rutinitas yang baru serta segala kombinasi asa dan harap itu, membuat Ramadan kali ini terasa lebih personal bagiku. Aku mungkin sedang berlomba dengan diri sendiri. Tolak ukur keberhasilannya sederhana: Ramadan tahun lalu. Tahun ini harus jauh lebih baik. Variabel-variabel baru di tahun ini (rutinitas dan harapan-harapan) jadi tantangan sekaligus motivasi untuk tidak melewatkan Bulan Ramadan begitu saja.

Di bulan Ramadan, semuanya jadi tentang aku dan Allah.

Target-target Ramadan adalah caraku membangun jembatan, memotong jarak, dan mendekat sampai sedekat-dekatnya. Merasakan manis dan lembutnya iman.

Semoga.

Lelap

Malam untuk beristirahat– kata Yang Maha Memelihara, kalau boleh kuingatkan.  

Jadi, dengan sebait doa, mari memejamkan mata sedalam-dalamnya. Menyadari tidur adalah merelakan diri untuk mati sejenak dan tak berkesempatan bangun lagi esoknya.  

Yang penting kita sudah berdoa.  

Dari upaya itu, kaurasa akan ada suara menari di pikiranmu. Mengajakmu menelaah hari ini. Manusia-manusia yang kau temui, kisah mereka, rindu yang kau tahan-tahan, juga harapan yang kau beri makan. 

Dalam perjalanan sebelum tidur itu, kaudapati dirimu kewalahan menahan gelisah. Ingin bangun lagi tapi terlalu lelah, ingin menyampaikan sebait dua bait pesan, tapi terlalu ngeri membayangkan responnya.  ingin menuntaskan pertemuan, tapi buat apa.  

Lalu kau ingat lagi tulisan di kolong internet tadi pagi yang begitu hangat dan merah jambu. Mempersonifikasi fenomena alam sebagai manusia yang tidak mampu menguasai hati dan ingin menyelamatkan satu sama lain. Dua orang telah bersepakat. 

Cukup muak, sekaligus iri. Karena diam-diam bertanya: seperti itukah mencintai dan dicintai? 

Betapa heroiknya.  

Atas kesadaran romantis itu, sedetik kemudian kau membuyarkannya dengan kembali membangun tembok tinggi. Mewanti diri untuk tidak menerbangkan perasaan tanpa navigasi. 

Mungkin manusia memang diciptakan untuk selalu merayakan sedih dengan bermewah-mewahan. 

Tapi semoga kita bukan termasuk golongan yg berlebih-lebihan. Agama tidak mengajarkan begitu kan ya. 

Oke, 

Sudah tertidur kah, kau? 

Tidur saja yang jauh. Ada bintang-bintang di atas sana, kalau kamu lihat, ada satu bintang, milikmu saja. Dia bisa tertawa. 

Cuma kamu yang punya. 

Oh, Pangeran Kecil juga. 

Jadi, selamat tidur.  Semoga besok Allah membangunkanmu.  

Arif. 

Aisyah dengan Abi dan Ibu.

Satu-satunya laki-laki di foto itu namanya Arif. Dia Masku, genap 27 tahun ini. Melihat di stories kakak iparku, kulihat ia begitu… berbeda ketika mendekap bayi perempuan itu. Entah emosi seperti apa yang kurasakan saat dia kagok dan heboh mengganti popok Aisyah.

Mas Arif ini LDM-an dengan istrinya. Mbak Annisa (iya, namanya sama kea aku)  tengah menyelesaikan S2-nya di Unair yang sempat tertunda karena hamil dan melahirkan Aisyah, dan Masku bekerja di Bandung.

Kedatangan Mbak Annis dan Aisyah ke Bandung pasti jadi pelipur lara Mas banget.

Aisyah kangen Abinya.  Abinya apalagi.

Melihat ke-kagokannya menggendong Aisyah pakai bedong, memoriku jadi berputar. Aku nggak menyangka sudah berada di fase ini. Tante dengan 7 (mau 8) ponakan, dan.. melihat Masku bersama bayi.

Dia sudah.. jadi ayah.

Aku coba ingat lagi warna rumah siang itu, ketika Mas Arif pulang ke rumah, rambut piak tengahnya, dengan bau khas matahari, kaus kaki bolong bilang, “Aku jalan lo dari sekolah.” yang serta merta disambut marah dan tidak percaya Ibuku. Bayangkan, dari Wonokromo ke Rungkut, anak usia 12 tahun jalan kaki. Katanya, duit naik bemonya ditabung buat beli tamiya. 

Atau saat dia pergi mencari batang tebu dengan mas-mas lain, aku ikut.  Aku mengamati caranya memakan batang tebu. Kutiru, lidahku langsung ditempeli serat-seratnya yang seperti bulu tajam, lalu dia ngikik-ngikik puas, cukup membuatku trauma makan es tebu sampai sekarang.

Belum lagi sederet kelakuan tidak bertanggung jawab lainnya.  Baca buku diariku keras-ketas,  nggarai,  ngece-ngece, nggudo-nggudo, semata-mata ingin melihatku menangis kencang.

Itu dulu. 

Kepergiannya mondok waktu SMP sangat kusyukuri, tak ada perusuh hari-hari puberku.  Lol. Aku tumbuh tanpa benar-benar bersama dengan Kakak-kakakku. 

Sampai akhirnya dia kembali, masuk SMA Negeri. Jadi Ketua OSIS. Jadi anggota remaja masjid yang aktif, disukai bapak-bapak, dielu-elu ibu-ibu.  Belum lagi saat kuliah, jadi ketua BEM dan dikenal, dihormati, disayangi, —- semua orang, dari pak Parkir sampai Pak Dekan. 

Bahkan sampai sekarang.

Temanku yang di ITL ketika berkesempatan tahu silsilah keluargaku, akan membulat matanya.  Seperti teman KKN-ku, Aman, “Serius kamu adiknya Mas Arif yang itu? Yang itu??!?!”

The legend Arif.  

Kebaikan Mas Arif saat ini kepadaku sering kuterima dengan curiga. Semata awkward, dan tidak tahu akan bicara apa, berterima kasih dengan suara alay yang terencana atau menanggapi dengan cuek-cuek cool. 

But, I miss him. 

Saat ini, mungkin dia tengah mengalami banyak hal di keluarga kecilnya, di kantor baru dengan amanah barunya, tuntutan yang ada padanya yang semuanya kurasa lebih berat.

I hope he’s okay, and I believe he is. He is my brother.

I’m gonna send him hi, and also weird IG post about Fullhouse (we were Fulhouse and Sassy Girl Chun Hyang lovers. Yes, in 2005, Korean drama united us.), maybe Pokemon, Digimon, or Hatchi too.

Di Masjid Dekat Rumah

Selepas subuh, Ayah pulang dengan air muka yang tampak janggal. 

“Tadi di masjid diceritakan Pak Basofi, Abah Ja’i, semalam marah-marah, nduding (nunjuk-nunjuk) Pak Heru karena bilang kalau NU itu munafik dan moderat bujukan, soalnya membubarkan pengajian Ustadz Basalamah.”

Ah, persoalan itu. 

Beberapa tahun ini, ada isu menarik yang dibahas di rumah oleh Ayah dan Ibuku tentang Masjid Baiturrohim, masjid di kampung kami. 

Tiada lain tiada bukan adalah tentang perbedaan. Mulai dari qunut-nggak qunut, pakai bismillah-tidak dengan pakai bismillah waktu shalat, sampai dengan perilaku jamaah yang mudah menuduh ini dan itu terhadap jamaah lain yang memiliki pemahaman berbeda. 

Ayahku dibesarkan di Ampel dengan kultur Nadhliyin yang sangat kental. Ibu lahir di Cianjur yang juga berbasis NU. Kami anak-anaknya disekolahkan dan di dipondokkan (ke uali aku *cry) di tempat NU, dengan mata pelajaran Aswaja, kitab kuning, lengkap dengan kebiasaan diba’an, qunut saat subuh, dll, dll. 

Ayah ibuku bertemu di sebuah organisasi bernama PII alias Pelajar Islam Indonesia yang heterogen pemahaman agamanya. Ada yang Muhammadiyah, NU, persis, dll dll,  yang versi mereka, membuat mereka terbiasa dengan perbedaan pandangan dalam berislam. 

Hidup di masyarakat (dan ambil peran aktif di tengah-tengahnya), perbedaan itu jadi makanan sehari-hari. Aku mengikuti cerita-cerita Ayah Ibuku tentang Masjid Kampung kami, tentang Pak Ini suka tiba-tiba memotong pembicaraan orang lain dan bilang, “bid’ah itu, nggak sesuai syariat Rasulullah.”, Pak Itu yang membawa isu khalifah islam di setiap komentarnya, Pak Anu yang suka menyebar undangan kajian ustadznya dan mendorong orang lain ikut, tapi ketika ustadz bukan dari golongannya yang mengisi di masjid, dia tidak pernah ikut. 

Dan masih banyak lagi. 

Aku lumayan senang berada di keluarga yang amat terbuka dengan diskusi dan bersedia mendengar. Ayah Ibu, menurutku adalah contoh, bahwa nanti ketika di masyarakat, aku harus bersikap tengah-tengah, menguasai teknik berkomunikasi dengan orang dari berbagai pemahaman ilmu yang berbeda, selalu siap jadi pendengar sekaligus penjembatan, dan menularkan semangat mencari ilmu— dari siapapun.

Karena umat Islam sekarang butuh lebih banyak pemersatu, kebersatuan Islam dengan segala coraknya ini harus jadi cita-cita kita. 

Dan mimpi besar itu bisa dimulai dari masjid yang paling dekat rumahmu. 

Yha, tapi sulit memang untuk berdiskusi dengan banyak kepala yang sudah merasa paling kaffah dan benar dalam menjalankan Islam. Apalagi kalau kita masih penduduk baru di kawasan itu, butuh strategi dakwah kultural, dan sepertinya waktunya cukup panjang (yha, sekali lagi perlu diingat bahwa usaha ini tidak dilandasi oleh perasaan bahwa cara kita adalah yang paling tepat dan benar).

Coba tunjukkan lewat akhlaq atau perangai kita, kayak Rasulullah waktu di Makkah dan Madinah.

Karena salah satu dakwah yang terbaik itu teladan. Akhlak. 

Tentang Tangis dan Jembatan 

Selama kurang lebih sebulan di tempat ini, sudah ada empat orang menangis di depanku. Benang air mata itu jatuh dan dengan malu-malu mereka menyekanya. Sekilas meminta maaf dan menghapus dengan tissu atau ujung jari, lalu terdiam beberapa saat. 

Pertama ada seorang dokter jiwa keturunan Cina yang tampak sangat pendiam. Darinya, aku tahu perspektifnya tentang #aksi212, Ahok, sampai cerita tentang keluarganya atau perjuangannya bersekolah spesialis dan betapa susah mendapat gelar spesialis hanya karena dirinya bermata sipit dan berkulit putih.  

Sampai kemudian, ia bercerita tentang orangtua yang selalu mendukung rencana dan mimpinya menjadi dokter di tengah keluarga yang kesemuanya adalah pebisnis toko kelontong serba ada di Pabean. Suaranya mengecil saat bercerita bahwa ayah beliau,  empat bulan lalu, meninggal. Ia menyesal karena merasa belum bisa membahagiakan ayahnya.  

Kedua, ada seorang perempuan yang ingin menjadi plant breeder, sebuah profesi agrikultur tentang bagaimana membuat lahan pertanian menjadi lebih produktif lewat persilangan-persilangan tanaman… Yha kira-kira begitu. 

Setelah cukup jenuh dengan soal-soal, aku kemudian mengajaknya bicara tentang dirinya. Kemudian tetiba setitik air mata jatuh. Ia tergelak kaget karena menangis lalu tanpa bisa dihentikan, air matanya jatuh seperti air bah. 

Saat itu ia bercerita tentang orang tuanya. Keinginannya untuk membanggakan orang tua.

Di lain hari, ada seorang ibu berbadan kurus, kecil, serta keriput di wajahnya menunjukkan kesenjaan usianya. Setelah kami duduk berhadapan, barulah kutau beliau adalah salah satu profesor bidang pendidikan Biologi yang sangat rendah hati. Setelah perbincangan singkat, sampailah pada ceritanya tentang anak perempuannya yang sedang berkuliah di Birmingham.  

Di tengah-tengah, bibirnya bergetar menahan tangis, sampai kemudian jatuhlah air mata itu. “Sorry, Miss. Saya memang cengeng.” sambil mencari-cari tissue dalam tasnya.  

Di setiap telpon, anak perempuannya ini selalu menangis, berkata bahwa sangat sulit bertahan di kampus itu. Essaynya selalu mendapat nilai 50, mendapat banyak sekali koreksi, sangat berbeda dengan nilai-nilai S1-nya di Unair. 

Belum lagi kondisi saat musim dingin. “I pity her. Saya..  kasihan. Tapi saya selalu memotivasi dia untuk bertahan. Saya nggak boleh nangis juga waktu dia nangis.” 

Dan yang terbaru, mahasiswa semester 4 yang sudah 2 bulan tidak pernah muncul, menangis deras tidak bisa berhenti selama 10 menit karena bercerita tentang kekecewaan ayahnya padanya.  

“Papa itu kecewa dua kali, Mbak. Saat SMA aku masuk  IPS dan saat aku nggak keterima di jurusan ekonomi kampus manapun terus malah masuk bahasa.” 

“Kata Papa waktu aku cerita pingin ikut seleksi PPAN, ‘Kamu tuh bisa apa. Emang bisa kamu kepilih? Wong dari jurusan bahasa.'”

Diam sejenak, dengan sesunggukan, ia melanjutkan. “Sering papa kayak gitu, Mbak. Tiap hari aku harus ngadepin. Aku gak ngerti kudu gimana lagi sama rencana-rencanaku.”

Topik tentang orangtua jadi alasan kita lebih mudah menangis. Dengan bertahun-tahun kehidupan yang kita alami, kebersamaan orangtua dan seluk beluk prosesnya yang kadang begini begitu, buat kita sulit membendung rasa. Rasa apapun. Memang rumit, sesederhana itu. 

Ini sebulan lebih 11 hari.

Disini aku menyimak bagaimana manusia-manusia asing tiba-tiba datang dan percaya aku bisa jadi jembatan untuk tujuan dan mimpi-mimpi mereka.

Aku merasa mimpi mereka jadi mimpiku juga. Aku cari cara, ikut waswas, dan bekerja keras membangun jembatan agar cukup kokoh untuk dilewati. Ya, walau peranku tidak semegah kontraktor atau siapa membangun jembatannya. Mungkin lebih tepat, aku ikut serta membangun jembatannya, menyiapkan kerangka.

Dan di proses itu, aku berkesempatan menyaksikan dari dekat bagaimana segala harap, cemas, lega, sampai jenuh muncul. Menjadi koleksi pengalamanku. 

‘ala kulli hal, Alhamdulillah.