Percaya 

Ada sebuah tweet dari James Breakwall yang muncul di timeline twitterku. Disukai oleh Ika Natassa dan Mbak Vinci.

Isinya begini:

Percaya.

Aku ingat saat kelas 2 SD.

Mungkin aku dirasa cukup pintar dan aktif saat itu sehingga aku terpilih sebagai ketua kelas perempuan pertama dari seluruh angkatan. Mungkin juga ditambah sifat yang bossy dan intimidating-ku saat itu. Aku bossy dan intimidate karena tidak ingin dianggap lemah. Well.. saat SD, aku dibully habis-habisan, bertahun-tahun sampai lulus SD karena aku anak perempuan yang badannya tinggi dan cukup disegani (bahaha karena ketua kelas). Aku disebut jerapah, tiang listrik, sutet, dsb.

Ghils. Hahat ugha kalo dipikir-pikir anak SD jaman itu. I adore my self of being so strong. Lol.

Saat itu kelas bahasa Inggris dan aku lupa bawa buku. Entah karena tertinggal atau apa… Intinya aku lupa. Sampainya di sekolah, guru bahasa Inggris–yang merupakan salah satu mata pelajaran yang kusukai, memarahiku habis-habisan di depan kelas. Harga diri sebagai ketua kelasku hancur berkeping-keping hanya karena buku yang tertinggal. Kecemerlanganku mengingat kosakata-kosakata dan kesregepanku menjawab pertanyaan-pertanyaan di kelas seperti tak ada artinya.

Sejak saat itu, aku benci bahasa Inggris. Titik.

Bahkan, setelahnya aku pernah nekat membolos kelas bahasa Inggris karena menyadari LKSku tertukar dengan milik mas Arif (warna covernya sama).

Bayangkan, kelas 2 SD, semata tidak ingin berkonfrontasi lagi dengan Ibu guru bahasa Inggris, akhirnya memutuskan bolos. Wakakakakakkaka.  Ngarang cerita ke ayah dan ibu kepala sekolah juga saat itu. Luwar biyaza.

Sampai di awal SMP, ayahku getol ingin aku bisa bahasa Inggris. He might see my buried potential and wanted to unleash it. Lul. Aku manut saja, semata tawadhu. Wk. Lalu hadirlah brosur fotokopian kursus bahasa Inggris yang letaknya di perumahan belakang pasar di rumah kami.

Kesanalah aku. Sampai beberapa bulan, aku sama sekali tidak menemukan keasyikan belajar bahasa Inggris. Datang dan pergi. Tak serius ingin bisa, hanya penggugur kewajiban.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan-nya. Guru baru.

Mr. Irfan Rifai.

Mas-mas baru lulus kuliah, kulitnya sawo matang dengan kacamata tipis serta senyumnya yang mengembang menyapa kami semua di kelas. Pada awalnya aku seperti yang lain, biasa aja. Tak ada yang menarik.

Dia suka sekali tersenyum dan mendekati kami satu persatu. Mengecek, menanyakan langsung, dan mengajak kami ngobrol tentang materi dan relasinya dengan yang kami alami.

Dia mengamati setiap ucapan kami, walau berantakan– yang aku tahu temanku salah, tapi herannya ia selalu bilang: very good! bagus sekali, tapi kurang tepat…

Ketika aku yang ia hampiri, dia melakukan hal yang sama, mengucapkan hal-hal yang membuatku bersemangat bahkan ketika aku berusaha mengacuhkan dan menjawab sekenanya dengan sengaja. Yet he didnt give up on me, even he praised me. “Thank you very much for trying, Anisah!” katanya.

Lah? …

Aku merasa dihargai dan dipercaya. Ia mengapresiasi hal-hal sederhana yang aku dan teman-teman lakukan saat belajar bahasa Inggris. Sejak bertemu dengannya, kami– aku mungkin, jadi semangat sekali kalau lihat apapun yang pakai bahasa Inggris. Aku pede, nggak takut salah.

Saat SMP, masuk SMAN 15, dan masuk Unair, aku selalu menyempatkan diri mengiriminya email. Menceritakan kegalauanku semua dalam bahasa Inggris. Dan disetiap surat itu, aku selalu meragukan ingatannya padaku. Namun ia selalu berkata.

Of course I do remember you! You are  Anisah the smartest, most active, and tallest girl in our class! Hehehe. And now your english is getting more impressive. Only spot minor mistakes. Keep improving, girl!”

Terharu, padahal saat kubaca lagi email-emailku, iku akeh sing salah. . …

Ia juga mendukungku masuk Sastra Inggris, ambil linguistics (tapi gak tak ambil linguisticsnya, sir. wakaka), dan melanjutkan kuliah keluar negeri sepertinya, menempuh S2 dan S3 di Leeds, Inggris. Sekarang, beliau jadi dosen favorit di Universitas Adi Buana, Surabaya.

“I believe you can do that.”

Padanya, aku memahami esensi menjadi seorang pendidik: ia mempercayai anak didiknya. Ia memantik percaya diri dan rasa penasaran mereka terhadap ilmu pengetahuan.

Itu yang juga sedang berusaha kulakukan saat ini.

_____

Percaya.

Betapa magisnya kata itu terdengar. Ia begitu hangat, masuk dan menyalakan lagi semangat yang redup dan hampir mati. Sekuat dan seindependen apapun diri manusia, kurasa kita ingin dipercayai. Diserahi segepok percaya saat sedang ragu, rasanya seperti hilang separuh beban di pundak. 

Aku percaya kamu bisa. 

Mendengarnya seperti menemukan oase. Ia sejuk dan membuat hati jadi lembut. Ia seperti animasi ritmis dari manusia– yang melewati beberapa prose perubahan, sampai menjadi superhero yang siap melawan musuh. 

Mungkin beberapa kali kita seringkali ragu, mencurigai ucapan itu keluar hanya sekadar basa-basi, formalitas, atau penyemangat semu. Tak ada yang istimewa. 

Tapi pada akhirnya, kita mungkin luluh juga. Berpikir bahwa sekalipun tidak dengan hati, menyampaikannya pun butuh usaha. Just cherish that anyway. 

Jadi, terima kasih.

Terima kasih sudah mempercayaiku bulat, melebihi percayaku pada diri sendiri. Terima kasih sudah mengingatkan saat aku lupa.

Terima kasih. Semoga Allah meridhoi.

Advertisements
Percaya 

Sore Ini

Sekitar dua jam lalu, ada suara ritmis menghantam genting di dekat kamarku.  Sebentar saja, mungkin 15 detik.

Gerimis sebentar.

Dari momen sekejap itu, aroma tanah sudah menyeruak, menari meriah di hidung dan pikiranku. Aku sudah coba untuk tidak terbawa suasana biru, tapi gagal.

Aku berada di kilas balik yang cepat. Sepuluh tahun lalu sekitar kelas 2 SMP, aku pulang sekolah dan tertahan di pangkalan bemo ketika hujan turun. Aroma khas hujan yang entah apa itu buatku penasaran. Keesokan harinya kucari tahu namanya. Petrichor. Sebuah reaksi kimia dari tanah dan air hujan.

Aku juga masih ingat, saat itu pukul 16.00 di tahun 2011, hujan turun pelan sekali. Orang-orang berteduh, beberapa menembus hujan, mungkin tidak ingin ditinggal antar-jemput. Aku duduk berselonjor di selasar Masjid Ad-Dakwah. Entah mengapa, saat itu aku kelelahan karena merasa harus menjaga banyak hal dari orang-orang yang telah kujinakkan.

Langit sore itu, mirip seperti sore ini.

Time flies.

Ada banyak hal yang terjadi, tiba-tiba aku berusia 23 tahun dan dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang– jika tidak berhati-hati, akan menjebakku menjadi orang dewasa seperti di buku The Little Prince.

Pilihan yang menjelma pagi yang kesiangan, menuntutku untuk terburu-buru dan tidak peduli dengan indahnya bunga Angsana yang gugur satu-satu di perempatan lampu merah.

Pfft.

Yah, mungkin aku hanya sedang meromantisasi beban dan perasaan insecure saja.

1350737417234

Sore Ini

Cikurai dan Hal-hal yang Menyertainya

“Pertama kali naik gunung? Ke Cikurai? Berani-beraninya…” 

Begitulah respon warganung (pendaki gunung.red) yang kujumpai di sepanjang jalur pendakian Gunung Cikurai. 

Kujawab meringis. “Ehe. Doakan ya..”

Mereka menatapku dengan sorot tidak percaya…. pendaki amat newbie dengan perlengkapan yang juga B aja, bersepatu lari warna tosca, memakai rok…. “Itu nggak papa pakai rok? Siapa yang ajak kesini?”

“Rok bukanla penghalang. Wkk… Eh, yang ajak itu tuh, *tunjuk mas Arif*” 

“Gila Gila. Ngawurrr.” Kata mereka. 

Yah, perjalanan menuju negeri di atas awan resmi dimulai.

——

Mendaki gunung awalnya adalah mimpiku sejak kuliah. Bukan karena demam film 5cm, namun karena……. aku mengenal beberapa pendaki perempuan yang kunilai cukup strong, mandiri, dan berkharisma. Mbak Endita, kakak kelasku di Libels, dan Intan, anak UI di acara JWC. Intan malah ukhti dengan segala definisi kasat mata: rok panjang dengan kerudung lebar sebawah pinggang. Dengar cerita dia tentang gunung-gunung dan apa yang ia temui dan alami, sungguh buatku penasaran. Apa iya? 

Aku sudah berencana mendaki gunung Merbabu dan Merapi bersama Intan di tahun 2015, namun.. yha. apa daya. Tidak jadi karena hujan dan yha tentu saja ijin orang tua. Wk. 

Sudah tidak terhitung berapa kali aku mengatur ulang jadwal, mengontak teman-teman (yang ada mbak-mbaknya) untuk naik gunung… mana aja, sampai menabung beli sandal gunung, namun selalu semua berakhir buntu. Heu. Sampai aku berpikir.. ya Allah kudu harus punya suami dulu ta baru Kau bisa ijinkan aku naik gegunungan.. . . .

Lulz. 

Ada yang bilang, naik gunung mengajarkanmu untuk mengenal dirimu sendiri. Membuatmu lebih memahami karakter orang yang pergi bersamamu.

Kurasa aku bisa jawab.

Jawabannya…. Ya.

Dan lebih dari itu. Wkk. 

Aku jadi tahu bahwa aku ini ternyata penakut. Aku tidak se-tatag (kuat, mental baja.red) yang kupikir sebelumnya. 

Di tahun 2013, Aku pernah ke Pulau Sempu dengan hutan belantara serta tanah liat karena hujannya, bapak guide memujiku sebagai satu-satunya perempuan di gumbulan AIESEC yang berstamina penuh, pemberani, dan tatag.” 

 Iya aja, pas itu lagi galau. Wkk. Jadi kuluapkan semua galau pada alam. Ea.

Aku tidak melakukan survey tentang Cikuray sebelumnya kecuali Mas Arif yang rutin ngeshare foto di puncak Cikuray dan medannya. Leh uga.

Bismillah. 

Dengan kemiringan tanah 45 derajat sampai 90 derajat selama 5 jam pendakian.. Aku bersyukur masih bisa sampai di pos 6.

Di pos 1 menuju pos 2, sungguh aku sudah mau menyerah. Bahkan sempat berpikir cara apa yang paling logis dan elegan agar aku bisa menghentikan perjalanan ini tanpa merugikan siapapun. Kurasa aku hampir menyetujui pikiran yang bilang, “Nez, kamu baru pertama kali naik gunung, they will understand if you decide to stop. You’ve perfomed well so far.”

But, I didn’t..

 Kurasa karena setelahnya aku buru-buru membongkar direktori motivasi internal dalam kepalaku dengan sporadis. Dzikir, membayangkan pohon-pohon yang berkomunikasi, ranting dan daun yang bergesekan dan itu cara mereka mengingat Allah, membayangkan ada kehidupan mikroorganisme di serat pohon yang kupegang, membayangkan menceritakan kisah ini pada ponakan dan anak-anak… 

Istighfar, sebut nama Allah. He will definetely help you. 

Oke, aku sudah dikasih banyak sekali kemudahan– izin ayah-ibu, dukungan mbak-e yang ternyat mendukungku cuti di hari Sabtu yang padat, serta persiapan-persiapan lain yang dimudahkan. 

Kurasa Allah akan memberitahu sesuatu nanti. Allah has made it for me– up to this point. Do I really have to give up? 

Maka, dengan beban carier 40liter di punggung, aku meneruskan perjalanan yang bahkan belum separuhnya itu dengan… terseok-seok. 

Yang penting jalan.. 

Manjat sana sini, benerin rok yang nyangkut di akar dan ranting-ranting (salah pilih bahan rok euy), berpegang apapun– pohon, ranting, akar agar aku tidak limbung dan jatuh ke bawah. 

Yang penting berprogress..

I was the slowest hiker. Aku ada di paling belakang barisan. Paling terakhir, dan ketika dapat waktu istirahat, langsung menjatuhkan diri ke bumi– kata Mas Arif kayak orang pingsan. 

Mas Arif? Yha tentu saja dia di belakangku. Beberapa kali menasihatiku nasihat yang tidak perlu, “Nafas jangan dari mulut, Mah– Ammah.red—, dari hidung.” “Capek itu mindset, Mah. Ayo cepet. Ini seperti ketika menghadapi masalah dalam hidup, Mah. Kita harus terus majuu.. Ayo, Amah.”

Sampai aku tyda tahan dan bilang padanya. 

“Udah, duluan aja.”

Sejak saat itu, dia tak pernah lagi meributiku. Wk.

Yahh, singkat cerita, ternyata aku tidak se-tatag itu. 

Sehingga, sampaiku di puncak Cikuray dengan awan yang terasa sedekat jangkauan tangan, sungguh bukan suatu hal yang sangat kubanggakan. Yang ada malah rasa malu. 

Ini semua karena Allah yang mengizinkan. Kemampuan ini dari Allah. 

Allah masih mengizinkanmu menggapai mimpi yang kau nantikan bertahun-tahun– walau sebelumnya kau berulang kali ingin menyerah.  

Malu. Allah baik sekali. 

Di kelilingi awan dan kuatnya angin menusuk tulang, aku mengingat lagi mimpi-mimpiku, kemudian berdoa agar Allah memberi kekuatan untuk bertahan dari ragu yang kubuat sendiri.  

Bahwa semua keberhasilan adalah bonus. Akumulasi ragu, ingin menyerah, optimis, husnudzon, menguat-nguatkan diri, membentuk-bentuk adonan positif di kepala, dan keyakinan bahwa Allah-pasti-akan-kasih-kekuatan, terus silih berganti di pikiranku saat mendaki. 

Dua kali tangisku jebol, diam-diam tentu saja, nggak kuat. Sungguh ingin menyalahkan Mas Arif yang mengajakku naik gunung semenantang ini– bahkan untuk yang profesional. Namun, ya itu tadi, perasaan itu berkelindan dengan perasaan positif lainnya. 

Allah telah menjadi sebaik-baik pengatur. Allah sudah membawamu sejauh ini, Ia pasti bantu. Pasti.

Dan kurasa aku siap untuk naik gunung lagi. 

Jadi kapan kita kemana? 

Cikurai dan Hal-hal yang Menyertainya

Mungkin

Erick Weiner, in his book “Geography of Bliss” uttered that even when two people are travelling together, each of them owns her or his own journey. Personally. 

I’d say yes. 

Ini hari kedua, besok pagi sebelum subuh, aku harus sudah self-check out dari apartemen mura meriya namun sangat rekomended— thx Airbnb– untuk mengejar kereta ekspress paling pagi untuk ke bandara dan pulang, kembali ke Surabaya.

Dan aku– cukup sedih.

Sungguh bukan karena Niswah gagal mengambil foto instagramebel dari kameranya (aku ga nguruz foto2an sakjane…), atau karena aku jatuh cinta dengan tempat-tempat di Malaysia (tetap #visitindonesia yha, gais) atau nyaman dengan transportasi massa yang memang jauh-jauh-jauh lebih baik dari yang pernah kutahu di Surabaya bahkan Jakarta.

Bukan itu.

Dari dua hari yang singkat ini, kurasa aku menemukan mozaik diriku, yang usang sampai yang baru. Dengung bahasa Mandarin di MRT, turis-turis berbagai negara di tiap sudut kota, obrolan kampus dan kehidupan di Malaysia oleh Niswah dan mas-masnya yang hilang dan timbul di telingaku– di tengah-tengah itu semua selalu muncul satu kesadaran:

You’re away from home, you’re doing what you wanna do.

Yet, I wasn’t scared, even a bit. I found myself  brave and fine. And it amazed me. 

Anw, kamu jangan percaya jika aku bilang aku ini adalah orang yang menyukai tantangan. Waktu kamu pernah dengar aku bilang gitu, mungkin aku tidak sungguh-sungguh, mungkin aku cuma ingin membuat kesan yang menarik untuk kamu tahu.

Tapi, sungguh aku penasaran dengan bagaimana Allah menggeser batas diriku, hingga tak ada yang bisa kulakukan selain berani jalan dan yakin dengan pertolongan-Nya. Dan disaat yang sama terkaget-kaget dengan betapa baiknya Ia yang masih mau memberiku petunjuk lewat kesadaran semacam itu. Padahal aku masih celemotan dosa.

Hingga aku menyimpulkan, mungkin aku sudah siap. Mungkin aku sudah bisa. Mungkin aku harus memperjuangkan diriku lebih keras lagi. Mungkin aku harus pergi lebih jauh.

Semua masih berupa kemungkinan– yang dari semua kemungkinan itu, aku harus bersabar. Sabar yang lebih-lebih. Sabar dalam mengelola ekspektasi dan prasangka baik kepada Rabb Sang Maha Perencana. Nah, kalau yang ini, sebenar-benarnya tantangan untukku.

Dan di ujung safar ini, aku ingin diriku untuk terus ingat bahwa perjalanan dekat dan jauh– sendiri atau riuh itu bukanlah untuk membuktikan diri, ingin dirindukan, kaboorr, atau yang lain.

Tapi untuk menambal-mempertebal keimanan pada Allah dan mengumpulkan cerita nyata untuk diceritakan ke anak-anak sendiri– atau orang lain.

Bismillah ya, sis.

Mungkin

“Alhamdulillah, Mbaak”


Di suatu isya setelah buka puasa, aku menggonceng adik-adik baru kenal yang kuajak pulang bareng, semata sejalan dan yha kenapa tidak.

Di perjalanan, ternyata kami membicarakan hal-hal tentang diri masing-masing: kegagalannya di SBMPTN, kesibukannya di sekolah, keinginannya untuk bersekolah jauh dari rumah– karena ia lelah menjadi “terkenal” di Surabaya. Ia yang Amanah, ia yang semua-pasti-beres, Ia yang the-yes-girl. Ia ingin pindah ke tempat dimana ia bisa lebih jadi penyimak, pengamat, tanpa banyak dikenali. Me-reset ulang konsepsi tentang diri.

She, in some ways, reminds me of myself. Then I eventually agree that she has unlocked my password.

But, i think i need to revise it: she’s way better: in controlling her expectation, widening her acceptance, in seeing Allah’s plan for her, in husnudzon of Allah’s decision over all her efforts.

I remember the time in 2012, how gloomy i was. It took months– a year maybe, for me to finally accept my fate. I was craving for an answer, i dealt with my dissapointment, arrogance, and question. I didn’t really prepare myself to be in Surabaya and tbh, I didn’t really care about my murobbi’s implied sayin that DS is in its critical points.

That time.

And here I am. Tears streaming down, adoring my sister’s husnudzon towards Allah’s plan for her, her relief about bigger possibility to be in Surabaya– and join us. She might hold the grief, she might be tired of trying, yet she never loses her belief.

I learn a lot from her. In dakwah, in acceptance, in having faith in Him.

In embracing life.

Terima kasih ya, Hila.

“Alhamdulillah, Mbaak”

Pantas

Beberapa kita sering mendapat nasihat– entah dari ustadz, teman, senior, motivator tentang melihat diri sebelum bermimpi. Kita digiring untuk punya berbaris-baris mimpi, sampai 100 atau lebih kalau bisa, lalu menempelkannya di dinding-dinding kamar. Doa.  

Beberapa saat kemudian, banyak orang mengingatkan tentang keberpantasan. Tentu saja, pertanyaan mengapa menjadi sama pentingnya. Nomor satu malah.  

Mengapa Allah harus mengabulkan doa dan mimpi-mimpi itu? Buat apa?   

Punya mimpi-mimpi itu, kamu sudah pantas belum mendapatkannya? Dengan tercapainya mimpi-mimpi itu, akankah membuatmu menjadi hamba yang lebih baik–atau malah sombong dan merasa kesuksesan itu hasil kerja keras diri sendiri?  

Memantaskan diri. 

Saat ingin memulai bisnis, kamu sudah berguru ke berapa pakar dan CEO? Sudah survey market belum? Ingin punya istri seanu Fatimah, sudah sekualitas Ali belum? Sudah belajar jadi orangtua dan pasangan belum? Sudah menguasai skill-skill dasar kehidupan (baik untuk suami maupun istri) dalam mengolah makanan, menjahit, mengganti lampu, manajemen laundry, dll?  Sudah selesai dengan ego pribadi? Sudah siap belum untuk percaya penuh dan mengomunikasikan pikiran kepada orang itu?

Lul. 

Belum lagi jika ingin sekolah lagi.

Semuanya penuh usaha-usaha. Harapan apapun seharusnya selalu diikuti dengan berkaca yang intens. Sudah layak belum? 

Memantaskan diri kemudian menjadi upaya yang paling masuk akal dilakukan dalam menunggu keputusan-Nya. Terhadap apapun. 

Mungkin termasuk dengan mengharap Lailatul Qodar.  

Hadirnya malam terbaik dari seribu bulan ini kok agak membuatku sedih. Bagai pungguk merindukan bulan jadi peribahasa yang kenak pol. 

Apakah pantas? Ibadah Ramadannya segini-segini aja di 20 harinya, tilawah banyak tertinggal, diganti banyak cek sosial media, baca quran mudah mengantuk. 

Lah terus mengharap Lailatul Qadar. .. Berani-beraninya. 
Jauh. Surga terasa sangat jauh. 

Tapi karena perasaan tak pantas itulah, seharusnya aku dan kamu tidak menyerah. Karena Allah, hebatnya, tetap akan menerima kita dengan apapun yang kita bawa. Apapun. 

Katakanlah, wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka sendiri, Janganlah kalian putus asa terhadap rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa, sungguh Dialah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az Zumar : 53)

Tiba-tiba daftar keinginan yang panjang dan lebar itu jadi tidak terlalu urgent disampaikan di awal. Semua doa dimulai dengan menyemogakan harap akan berkumpul dengan nama-nama yang harum itu, takut dengan hilangnya iman dan sia-sianya amal tanpa ridho-Nya, dan cinta yang compang-camping. 

Jadi..

Semangat ya! :’) 

Semoga kita diberi waktu sampai di hari terakhir Ramadan.

Pantas

Harta

Kalau menurut OST sinetron tahun 2000an awal, Keluarga Cemara, harta yang paling berharga adalah keluarga, puisi yang paling bermakna juga keluarga.

Kamu setuju?

Karena bervariasinya ragam manusia, definisi harta dari manusia satu dengan lainnya mungkin saja berbeda. Beberapa orang boleh berpendapat bahwa harta adalah hasil pekerjaan yang kasat mata, seperti rumah, simpanan di bank, emas-emasan, mobil-mobilan. Yang punya harta, ya orang kaya. Sebagian yang lain mungkin yakin bahwa harta adalah sesuatu yang kita miliki dan berusaha untuk kita lindungi. You even sacrifice your life to do so.

Sore menjelang berbuka puasa di sebuah rumah yang hangat oleh ukhuwah– beuh, aku mendapat satu poin yang cukup nganu di ruang hati dan pikirku. Mengingatkan kembali tentang hal penting yang harus jadi prioritas.

Iman.

Harta yang paling berharga itu iman. Bersyukur atasnya adalah mutlak.

Bahwa setipis apapun iman, yang ia bisa naik-turun-bergulung-gulung, salto, kita masih memilikinya. Dari setitik iman itu, ia menjaga kita dari berbagai macam hal; mulai dari mendzalimi orang lain, menjaga dari bertindak curang saat tidak ada yang melihat, melindungi dari ketakutan hanya karena sekadar melewati lorong yang katanya angker, sampai membuat kita lepas dari segala ketakutan akan masa depan.

Jika punya iman, kepercayaan dan keyakinan penuh pada Allah, kita akan aman.

Iman, sayangnya tidak semua orang memiliki. Bahkan sekelas Rasulullah aja tidak bisa membuat paman kesayangannya beriman. Iman adalah hak prerogatif Allah. Hidayah itu Allah yang paling berkuasa memberi atau mencabutnya dari diri manusia. Tak ada yang bisa manusia lakukan untuk menjaganya, selain berdoa.

Syukurku sekarang mungkin lebih sederhana lagi. Aku bersyukur masih bisa bersyukur. Itu bisa jadi tanda bahwa Allah masih mau memberiku remah-remah iman yang mahal harganya, yang pilihan Allah saja yang bisa memilikinya.

Karena pada akhirnya, iman adalah satu-satunya harta yang kita punya. Kita boleh tinggal cuma di sepetak tanah kontrakan, makan cuma nasi dan garam, atau persediaan uang bertahan hidup yang hanya cukup beberapa hari ke depan.

Selama kita punya iman di dada, rasanya semua akan baik-baik saja. Dari dari harta paling mahal dan berharga itu, kita akan menjaganya mati-matian.

Bismillah.  

Harta