Di Dekat Langit

Kujumpai kekuasaanMu dari atap langit pukul 17.35 WITA.

Saat mimpi-mimpi yang berdesakan keluar dengan keyakinan yang tiba-tiba terasa penuh, Kau menyelinap perlahan di logat-logat asing, langit yang memerah, dan di desing burung raksasa yang tak kupahami.

Tentang senja yang kusaksikan begitu dekat hari ini, lagi aku dibuat kerdil di depanMu.
Masterpiece-Mu yang satu ini membuat orang-orang sibuk jatuh cinta dan memanfaatkannya untuk menghujamkan kata-kata sarat gula.

Ada rindu yang teramat pada orang-orang yang harus kuperjuangkan senyumnya, yang telah dengan sangat baik memberiku tempat untuk hidup. Kasih sayang yang terbungkus berlapis dengan keengganan berbicara. Yang pada mereka, diam-diam kujanjikan bahagia.

SenjaMu mengingatkanku pada sekelompok manusia yang kutemui, dengan mata menyimpan banyak rahasia kebaikan yang sering membuatku— yang hatinya sering sempit ini, terkagum-kagum.

Ada kelembutan yang mudah sekali mengendap.

Duhai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
Siapa yang sebenarnya kami rindukan?

Ya, petang ini kutelusuri Engkau dan kutemukan sebuah sabda yang termaktub dalam perjanjian paling pagi setiap manusia:

Dan ingatlah karunia Allah kepadamu danperjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kamitaat.” Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu). (QS. 5:7)

Kami dengar dan kami taat.
Dari segala ketidakberdayaan mengeja makna dan hikmah, dari kelemahan paling ujung. Dari kelelahan pergi sendiri, tidak ingin ditemani, tapi kemudian kembali dengan takut-takut.

Tak ada tempat kembali semerdu milikMu.

Wahai Yang Maha Mengetahui isi hati yang berbisik maupun lantang,

Kami dengar, kami patuh.

Advertisements
Di Dekat Langit

Sendirian

Dipikir-pikir, aku ini sering sendiri. Jika yang dimaksud adalah sendiri yang seru-seru seperti ke toko buku, ke kajian, undangan nikahan, ke bioskop, maupun ke konser (pernah dong sekali. .. diundang lihat perform jazz trafic gratis yha kenapa tyda, lul. semata ingin tahu.)

Aku rasa, aku tidak apa-apa pergi sendiri. Kalau ada teman pingin ikut ya ayo, kalo enggak ya yawda. Tapi temen beneran deket ya, bukan temen yang gak kenal dan dalam jumlah grup. O, tyda.

Tapi dimana-mana… enakan sendiri. Haha. Sendiri berarti: di kamar, good books, liked links in twitter, internet connection, waw perfffect. Sendiri juga berarti: ke kafe sepi, bahkan ke indomaret point beli greentea gocengan, sendiri, udah nikmat gitu.

Atau, solo-travelling jarak berapapun kayaknya aku baik-baik saja, kecuali mungkin naik gunung sendiri… hng.

Wk.

Balik lagi, jika tentang pergi sendiri, i think the idea of me going somewhere all by myself has never been that eerie.

Sendiri berarti aku punya waktu untuk melakukan banyak self-dialog, menertawai dan mengutuk diri karena kecerobohan yang tidak sengaja dilakukan, mengamati pikiran-pikiran terlintas, melihat orang-orang– kadang mengira-ngira apa yang mereka sedang lalui. Membuatnya jadi skenario, kalau bosan, coba cocoklogi dengan pengalaman serupa, yang akhirnya selalu kutertawai.

“Opo seh Nezh.”

Biasanya aku akan berjalan lagi, menikmati detik demi detik sendiri yang kurasa amat bermakna.

Aku tidak tahu kapan aku bosan sendirian.

Tidak urgent juga dicari tahu kapan berakhirnya. Hal itu bukan kerisauanku. Selagi ada waktu sendiri, dinikmati saja.

Lagian, bosan dan tidak bosan (terhadap apapun) hanyalah masalah pola pikir, kurasa. Dan kita sangat bisa mendesain itu; apa, kapan, bagaimana. Tinggal mau apa enggak, gitu.

Sehingga, ketika membayangkan ada masa dimana nantinya aku akan lepas dari segala kemerdekaan mewah– being alone– ini, lalu membagi ruang untuk seorang asing, mengidentifikasi eksistensinya, menyadarinya dengan penuh… walau tampak menyeramkan, sesungguhnya hal itu tidak pernah benar-benar mengkhawatirkanku.

Karena mungkin malah menyenangkan.

Wkk, semoga benar begitu adanya.

Sendirian

Saat di Sekolah

Aku lupa.

Aku sudah berusaha mengingat, melihat ke direktori masa lalu, mencari keping kenangan semasa di sekolah tentang siapa sosok guru yang paling kuingat.

Aku tidak menemukan.

Aku gusar, seharusnya ada. Ada satu guru yang membekas di hati. Tapi jangan salah, aku bisa menyebutkan semua nama guruku, warna bajunya ketika mengajar di kelas pertama, cara mereka duduk, cara memberikan penjelasan, tugas-tugas yang pernah diberi. Guru matematika, guru sejarah, guru bahasa Indonesia, guru agama. Aku mengingat dengan baik.

Ingatan-ingatan itu kemudian secara asing membuatku sedih.

Sepertinya, aku tidak pernah benar-benar merasa menemukan guru spesialku. Tidak ada yang pernah membuatku merasa spesial. Tidak pernah ada guru yang terlibat secara emosional padaku, dan saat itu ingin aku dekat dengannya. Yang darinya aku benar tergerak untuk bercita-cita, menginspirasi untuk melakukan sesuatu yang bermakna.

Kebanyakan hal-hal seperti itu kudapat dari buku yang kubaca dan interaksi di luar kelas.

Aku mengenal guru-guruku dengan sekat-sekat yang kubangun. Tak ada sentuhan istimewa.

Seorang teman yang pengajar dengan pengalamannya mengajar selama lima tahun pernah bercerita bahwa ia hanya bisa mengingat dua tipe murid saja: yang pintar dan yang nakal.

Dari situ kemudian aku berpikir.

Aku dulu jadi anak sekolah biasa-biasa saja. Tidak terlalu pintar apalagi nakal. Tidak tidur di kelas. Tidak pernah melanggar aturan, tidak neko-neko. Sama saja dengan ratusan siswa lain. Hm, tidak cukup unik untuk diingat gitu.

Bukan juga anak Olimpiade, peringkat 1 paralel, dsb. Walau selalu peringkat 5 besar di kelas sejak SD-SMP, dengan sekali rangking 1 saat SD, tetap aku bukanlah yang terpintar. Saat SD – SMP, aku lebih dikenal bukan karena aku dan prestasiku, atau aku sebagai anak OSIS. Guru-guru mengenalku, nginceng aku, bukan karena beneran berbakat, tapi karena kebetulan anak ragilnya Pak Lukman. Mantan Kepsek 25 tahun di SMP itu. Anisah anaknya Pak Lukman.

Apalagi saat SMA. Prestasi akademik terbaikku adalah rangking paralel ketiga di 2 kelas IPS. Ketiga. Bukan kesatu. Aku selalu masuk 10 besar saja. Bukan pertama.

Aku ingat dulu adalah remaja yang mudah stress. Aku bisa nangis semalaman karena remidi. Diari SMA-ku selain catetan mentoring, isinya adalah motivasi-motivasi untuk menjadi yang terbaik. To do list “belajar, belajar lagi. Jangan menyerah.” ada di berbagai lembar.

Tapi tidak juga jadi yang pertama.

“Dunia hanya mengingat yang pertama. Pemenang lomba paling diingat? Adakah sejarah menulis siapa yang juara kedua ketiga? Tidak ada.”

Jadi, mungkin karena aku bukanlah yang pertama, tidak ada guru yang tertarik dan mengingatku.

Mengingat fakta ini, aku cukup sedih.

Aku sedikit banyak mahfum dengan kompleksnya masalah pendidikan kita, sehingga cukup utopis rasanya jika berharap guru -guru kita akan memimpin kelas dengan siswa yang lebih sedikit, beban mengajar yang dikurangi sehingga guru bisa lebih mengembangkan dirinya, mengenal dan menemukan potensi anak didiknya, menumbuhkan percaya dirinya, memantik pengetahuannya…. secara personal.

Aku menemukan guru seperti itu, yang setidaknya pernah percaya padaku bahwa aku bisa, justru bukan di institusi formal sekolah. Aku menemukannya di sebuah lembaga kursus: Pak Irfan Rifai.

Aku sedih karena sampai hari ini, mungkin banyak anak di sekolah-sekolah kita yang merasa dirinya tak pintar, biasa saja, tidak berbakat, bingung, dengan berjubel mata pelajaran yang harus dikuasai. Merasa tidak istimewa.

Menjadi pembelajar seumur hidup, berarti siap untuk belajar kepada siapa saja, dimana saja. karena semua guru, semua murid.

Aku selalu berdoa dimana nantinya anak-anak di sekolah akan dibimbing oleh guru-guru idealis yang memantik keingintahuan dan mempercayai kemampuan mereka, serta menganjurkan berkompetisi dengan melihat perbandingan diri sendiri saja. Sehingga nantinya anak-anak ini akan menjadi anak yang tangguh secara ruh dan jasad, paham potensi dan peran yang ingin diambil, serta tumbuh menjadi manusia yang bijaksana

Semoga.

Saat di Sekolah

Bagaimana cara bertemu kamu?

Harus berjalan atau berlari?

Aku takut kamu terlewat dan aku mencarimu lagi…

Rahne Putri dalam Tetap Saja Kusebut Dia (Cinta)

Renung

That’s life, Nezha.

Seseorang berusia 60 tahun menyampaikan kesimpulan itu padaku dalam sebuah obrolan ringan tentang lalu lintas. Seorang petualang yang pensiun dan penyimpan rahasia yang ulung.

Hal-hal tersedih, paling menyakitkan, mengerikan, membahagiakan, akan selalu datang silih berganti.

Seperti langit, katamu.

Hati kita harus seluas langit. Hal-hal itu hanya akan mampir di kolong langit kita, berdiam barang sehari atau dua hari, lalu dia akan pergi. Tak pernah bertahan lama. Seperti cuaca yang buruk, besok akan ada matahari lagi.

Sekalipun hati terasa sesak sekali, dalam air mata yang deras turun tanpa dikomando, ingatlah bahwa ini hanya sementara. Rasakan perihnya, karena minggu depan mungkin kamu sudah lupa. Tapi ingat, hatimu seperti langit. Ia luas. Selalu ada ruang untuk berbenah dan membuat pelangi.

Lihat wajahmu di kaca.

Wow, begitu ya ternyata wajahmu saat menangis. Ingat-ingat terakhir kali, kapan pernah menangis begitu dalamnya.

Rasakan bahwa kamu menjadi manusia dengan spektrum pikiran dan emosi yang berpilin-pilin. Ketidakberdayaanmu, ketakutanmu, seharusnya tahu harus kemana berlari.

Ingatlah ketika masa dimana seorang mulia dirundung sedih begitu memilukan, kematian dua orang terkasih dan penolakan demi penolakan. Di sebuah daerah bersama Thaif, bahkan anak-anak kecil melemparinya batu, mengusirnya, menganggapnya tukang tenung. Dan disaat kesempatan membalas terbuka lebar, justru ia berdoa supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.

Lalu Allah beri hadiah luar biasa: Isra’ Mi’raj. Pertemuan melintasi langit seorang yatim yang kemudian disambut lembut oleh bapak para nabi.. Nabi Ibrahim.

“Yaa bunayya..”

Anakku..

Allah selalu punya cara menyembuhkanmu. Mintalah kepada-Nya. Ia selalu ada.

Dan ketika masa pemerintahan Abu Bakar terjadi murtad massal, hampir semua wilayah selain Makkah dan Madinah murtad, Sejarah mencatat Tha’if tidak. Ia tetap menjadi daerah yang taat pada Islam.

Maka pastikan bahwa kamulah yang tidak pergi. Tidak berputus asa dalam berdoa.Karena terkadang apa yang kita doa dan upayakan akan menjadi nyata justru di tahun-tahun setelahnya.

Sabar. Allah adalah sebaik-baik penyimak.

Renung

Sederhana

Kurasa, sederhana merupakan konsep yang, entah mengapa, cukup menantang untuk dilakukan di berbagai aspek hidup saat ini.

Sulit untuk menyederhanakan keinginan saat uang (sepertinya) ada, deretan hal-hal jadi mendadak penting untuk dibeli, menggeser prioritas beli buku-buku baru. Harus beli skincare ini dan itu– padahal belum riset mana yang cocok untuk kulit, kacamata baru– padahal yang lama hanya keselimpet di rak buku, sampai nongkrong dan njajan.

Sulit. Dan ketika kamu bisa menahan itu semua, kamu akan merasa merdeka dari keinginan-keinginan pseudo itu. You can buy that, but you don’t.

Sulit untuk menyederhanakan pikiran. Bahwa, dunia bergerak sangat cepat, kita tiba-tiba sudah berusia 23 tahun dan harus memutuskan untuk mengikuti dinamisnya dunia dewasa, berkelindan dengan keharusan untuk tampil selalu prima, tahan banting, vokal, fearless, dan cepat. Kita harus menjadi yang terbaik, terbesar, tercepat, termegah, terluarbiasa.

Sungguh, aku ingin kita selalu ingat bahwa tak ada salahnya untuk mengambil posisi selain dibawah sorot lampu, untuk tidak menjadi yang terpandang, untuk memperbaiki dari belakang panggung. Atau untuk memilih menjauh dari kerumunan, melakukan hal lain yang telah baik-baik pikirkan, untuk memiliki konsep diri yang lebih sederhana.

Sulit untuk sederhana mengurai rasa yang berakumulasi. Beberapa dari kita suka sekali bermewah-mewahan dalam merasakan. Mendekorasi hati dengan berbagai pernik, merah hati saat sedang bahagia atau abu-abu dan biru saat sedang sedih.

Sederhanalah dalam merasakan, pesan teman di suatu hari. Peluk kehadirannya, dan disaat yang sama, lepaskan ia.

Sehingga kita punya ruang untuk mengamati dan memahami bahwa kita adalah manusia biasa yang terus belajar.

Mimpi kita tentang masa depan, keluarga yang kita idamkan, negara yang lebih layak diwariskan, harus kita letakkan jauh tinggi disana.

Namun, pemaknaan kita terhadap caranya, sangat boleh berbeda. Sederhanakan, sehingga kita tidak meninggi jika ditinggikan, atau merasa rendah saat direndahkan. Ingat bahwa semua hal terjadi adalah proses yang sarat pesan dan padat hikmah, memang sengaja Allah pilihkan. Cara-Nya mencintai hamba.

Remember that Allah loves you. Do remember.

Berangkat dari keyakinan itu, atas apapun hal yang terjadi pada kita, kita merdeka memilih apa yang kita pikir dan rasakan.

Toh, hidup kita yang memberi arti. Semoga selalu dalam petunjuk-Nya.

Sesederhana itu.

Sederhana

Di Pedalaman

“Ibu Guru!”

Aku lupa, mungkin aku sudah sampaikan padamu tentang keinginanku mengumpulkan banyak cerita saat berada di ujung negeri ini. Tentang anak-anak bermata jeli, berlari ingin masuk ke kelas, berebut duduk di depan karena tidak ingin melewatkan pelajaran bahasa Indonesia tentang berekspresi dengan membaca puisi.

Atau saat aku sedang pusing mengutuk kebodohan diri saat tidak juga pandai memahami birokrasi, mengintegrasi pengetahuanku dengan situasi langsung, atau mengajak bicara anak-anak dan orangtua mereka dengan bahasa lokal yang tegas nan melodis.

Aku ingin ceritakan padamu, tentang mimpi-mimpi yang perlaha mulai berani dilantangkan, sampai langit kelas mereka goyah, menembus lurus tegak mengetuk langit dalam doa-doa yang diyakini bulat-bulat.

Atau cerita saat kami berpetualang ke sumber suara ombak, perjalanan menerobos belukar hutan yang jauh dan bahaya, aku yang hampir menyerah, namun anak-anak melarangku, lalu berebut ingin meringankan beban pundakku. Dan dengan sisa harga diri yang kupunya, aku menyeret kaki sampai akhirnya kami menemui ujung pantai. Tercengang beberapa detik sampai akhirnya kita berlari, meninggalkan lelah di tempat yang jauh.

Tempat dimana aku mungkin jatuh cinta pada negeri ini, kemudian serta merta berjanji akan melakukan apapun untuk terbukanya kesempatan mereka merayakan pendidikan dengan suka cita. Semakin percaya bahwa pendidikan adalah memanusiakan manusia, meninggikan adab dan mengamalkan ilmu untuk melipatkan kebaikan.

Dan kesemuanya, adalah perjalanan yang mungkin selamanya jadi mimpi yang rapi tersimpan di toples kaca dalam diri.

Kadang-kadang kutengok, kulihat dan kubersihkan. Sambil agak menyeka air di ujung mata dan berdoa kepada Yang Maha Penyimak Rencana untuk mengabulkannya dengan cara-cara tak terduga.

Di Pedalaman