Sendiri

Mari menyendiri. Di mana saja. Tidak harus di bawah naungan bintang atau matahari senja. Kamu bisa menyendiri di atas meja kamarmu, kantormu, bahkan di tengah pasar malam atau bandara yang ramai.

Menyendiri, kata seseorang, adalah keahlianku. Aku tampak tampan saat melakukannya. Katanya aku menyendiri seperti konduktor yang menundukkan suara semesta (deru motor, klakson mobil, suara peluit tukang parkir, suara ondel-ondel) berorkestra membantu mengkhusyukkan konser kesendirianku yang gegap gempita.

Tentu saja bukan keahlian yang bisa ditulis di Curriculum Vitae.

Menyendiri adalah cara cerdas menyelamatkan harga diri di ujung hari. Setidaknya aku bisa melakukan penawaran dalam diam, merayu agar kuterima saja kekalahan melawan hari ini dengan lapang dada.

Sendiri adalah awal mula dan akhir cerita. Bayi-bayi lahir, orang-orang meninggal dan dikubur, juga sendiri-sendiri. Tak ada yang bawa teman.

Sendiri adalah niscahya. Kelak aku akan tua dan ditinggalkan anak yang kubesarkan dengan cemas dan buku tentang luar angkasa. Mungkin aku akan menunggu kapan akhir pekan, kapan lebaran. Kesendirianku akan penuh riak doa dan cinta. Entahlah, rencana hari tua seharusnya tidak sejanggal ini untuk diceritakan.

Bulan selalu sendiri. Dan dia baik-baik saja.

Dear Langit

Months after your presence in this whole new world, I kinda obliviate some uneasy memories related to your birth. And no, that was not your fault, or my fault. We two had difficult journey. But thank Allah, now we– or I, can talk about it in just daily tone. I guess I am a master of story telling about my delivery.

And I still remember vividly how difficult it was to connect to you by heart. I just thought that I need to follow the script written for me– loving you. It was scary at times, but I am glad that I didn’t give up finding out.
Some say that it is only the brave who can love, so I hush my fear little by little. I tried to find out what actually happened to you, to me.
Along the way, I know that I have this little kid inside me who craves for attention and love. This little kid was hiding when I feel great or useful– well, when I did something that I think good, or when I learn those parenting lectures. But in my mind, she came up spontaneously in the middle of my presentation. Just like that annoying friend you considered a rival, testing you some questions that you don’t know the answer. It’s kinda hard to acknowledge that you have this impostor relationship syndrome to build an assertive communication to your spouse and child. I find it funny to realize that self-love— which I thought I confidently own before these new roles come—- now is confusing to define. It all leads to a question, who am I really? And I am still on that journey to find and love my new version. To remember the pounding heart feeling comes alive again, in me. Everyday I try to fill my cups of love. In every way possible.

But you know what, it is so easy to love you. It is so easy to remember all the details of your face. That you have a really smooth eyebrows, that when you smile widely, your eyes shaped a crescent, that I don’t know whether it’s a pair of dimples or just chubby cheeks you have, i’ll wait few more years
to confirm.

It is so easy to love you, and by the time, I am surely sure that I love you so much, that I want to scream it on the top of the mountain. It’s an overwhelmed beautiful feeling I’ve ever known. I love you this big and no one has ever seen this big.

I love you in a point that I am afraid I make mistakes in loving you. But I’ll love you anyway. Previously I’ve learnt that it is perfectly fine to feel lost in this whole journey of loving. That it is okay to admit mistakes and go on.

That somehow such intense emotion or misunderstanding is a wave, not the ocean. It’s a cloud, not the sky.
I can’t wait to listen to all your stories. I am going to be your number one fan, before anyone else.




Sebuah Update

Ingin terus kuingat bahwa ujian setiap orang berbeda-beda. Dimanapun fase hidupnya.

Boleh dibilang, persiapan mpasi-ku cukup update, aku melakukan feeding rules seperti anjuran IDAI dan WHO. Aku menakar nutrisi anakku dengan presisi. Hasilnya, Langit tetap sulit makannya. Ketika di bulan ke 7 makan dan berat badannya sudah mulai melandai, pergi ke dokter menanyakan perihal ada apa, malah diceramahi tentang “kenapa kok vaksinnya nggak dilengkapi dengan yang ini ini dan ini?”

I feel attacked and right know I don’t need any secondary vaccine for my kids. And yes, it’s based on proper knowledge. That’s not what matter for now.

And yeah, BB Langit yang awalnya berstatus gizi baik jadi underweight. Pergilah kami ke dokter spesialis nutrisi dan metabolik, dr. Meta di Surabaya. Semua hidden disease yang ditakutkan tidak ada, hanya memang perlu booster susu padat kalori sambil terus sabar menemani Langit makan. Untuk mengejat ketertinggalan BB-nya.

Selang beberapa minggu, Langit menunjukkan minat makan yang jauh lebih baik. Dia minta makan, dia menghabiskan camilan, semua dengan porsi yang lebih banyak dari sebelum-sebelumnya. Dan baru saat itu aku melalui hari dengan perasaan yang sangat baik. Langit makan! Langit makan dengan baik, berarti kebutuhan nutrisi untuk otak serta pertumbuhan dan perkembangannya pun baik. Ini merupakan kewajiban dasar yang kuusahakan, Langit berhak akan hal itu.

Sampai di fase saat ini, berusia 18bulan ketika Langit mulai demam dan berlanjut tidak mau makan sampai berhari-hari, aku merenung lagi. Mencoba menelaah perasaan yang dulu menyergapku tiba-tiba. Fase sulit makan langit menguak semua trauma masa kecilku. Permasalahan sekecil Langit yang menumpahkan air untuk dimainkan bisa mentrigger emosiku sampai membuatku menyesal. He is not responsible to my unsolved inner problem.

Everyday I try to heal. Everyday I try to remember that this Langit situation doesn’t define me as Nezha, as a Mom. Everyday I try to reframe my own thoughts.

Ketika melihat anak lain tampak begitu lahap makan, tanpa drama, dengan sangat menyenangkan, aku mencoba memahami dengan lebih baik, bahwa everyone owns their own problem. Ada yang bermasalah dengan finansial rumah tangganya, ada yang bermasalah dengan keluarganya, ada yang struggling dengan pekerjaannya.

Allah memberikan pengalaman bersabar yang berbeda-beda pada hamba-Nya. Sesuai kadar yang cuma Allah yang paham kekuatan mereka. “Gitu aja kok bingung,” “Halah, gitu aja dibikin stress. Orang lain ada yang lebih parah dan buktinya mereka survive-survive aja?” Menjadi komentar yang sangat tidak empatik.

Jujur, aku pernah merasa “Ya Allah, masalahku anak suka makan aja kok ngeluhnya gini banget.” Sebuah denial yang justru memperburuk keadaan. M

My worries is around how if Langit’s 2 years golden age wouldn’t go as what it should be. Langit adalah amanah terbesarku saat ini. Adalah hak Langit untuk mendapat pengasuhan yang maksimal dari kami. Aku selalu membayangkan Langit akan menuntut di hadapan Allah tentang lalainya aku dalam membesarkannya. Aku tidak ingin begitu.

Aku harus selalu ingat untuk fokus pada hal-hal yang bisa aku kontrol saja. Hal di dalamnya termasuk persepsi, niat, dan upaya terbaik dalam mendampingi makan (dan hal apapun) dengan Langit.

Sisanya biar Langit dan Allah yang tentukan.

Semangat Ibu

Lonely Sweet Potato

I am a lonely sweet potato randomly goes to grocery store. Only to make myself less-lonely by meeting a woman who selectively picks her tangerines, or a toddler who screams for more snacks, or cashier– yes, it must be good to meet other people. It will fill up my energy.

But loneliness is a way to pamper yourself, right? Yes, I can do anything by myself! I can… Uhm… Listen to.. The radio, or maybe try walking and find that it is a bless to have neighbors who grow sunflower, and while walking, I can name random stray cat I meet with character from Harry Potter? Brilliant idea.

Yet I feel more lonely. Those all crowds and birds’ chirps along the walk validate my loneliness. Even all the plans are still in my thought.

I should keep a company, maybe. Maybe a cat? No, I am actually afraid of cats. Or… Someone? But wait, will he be okay with me? I mean, look, I am boring and awkward sweet potato. But maybe I can list all the possible small talks that might be interesting.

Okay. Well, um….

There must be something we could talk, right. They say, talk about the day? Oh. Okay, the day. Will it be rain? Is your laundry safe? … Think about something deeper! Deeper! So that he will not be bored.

Okay, what does rain remind you of?

But wait, how if he tells me about something that I don’t wanna hear, like, his past about his first love?

Change question! Okay, let my sweet potato brain think. Books! Talk about books, a history of humankind maybe? No no. I can be drown, I will later question my sanity by offering such suggestion.

So what topic I should bring to the table?

“Miss, it’s Rp 86.000.” Said the cashier.

Oh. Someone is really talking to me. I smile to her widely, it’s like my day is made.

I and he are still there in my thoughts, silently sit to each other. Maybe still compound something to talk. Maybe a debate about how terms “alone and lonely” are completely different, he might think that alone is better that lonely, in a way that alone contains mindfulness. I feel attacked and then I quickly defend myself by blabbering some sloppy arguments about how loneliness is actually human nature.

Or maybe it just end up with no talk at all.

Oh God, even in my thought, I feel a lot lonelier.

Masa-masa Depan

Bulan sedang terang-terangnya malam ini. Pada angkasa, manusia berhutang pada ilmu pengetahuan yang tidak terbatas. Misteri-misteri tentang masa depan seakan bagai sebuah tirai, menunggu untuk dibuka.

Memandangi bulan dengan detil dan dalam, aku teringat sebuah janji yang tercatat di sebuah riwayat. Bahwa orang-orang beriman akan pula melihat keindahan Allah di surga, langsung dan jelas, seperti malam ini.

Aku tak pandai berkata-kata. Kata-kataku miskin, kata-kataku seperti tak pernah bisa mewakili perasaan. Perasaanku bising, tapi akan kucoba memelankan volumenya, dan merangkainya dalam kalimat seadanya.

Aku ingin bersamamu, selamanya. Aku ingin melihat dunia denganmu, ke tempat-tempat dengan nama yang sulit, tersesat dengan artu hilang. Aku akan melihat wajahmu yang lelah sambil menahan kesal. Aku ingin kita menemukan makna-makna baru, bersama. Kita sedang dan akan selalu menjadi murid abadi dalam pernikahan dan kehidupan. 

Aku ingin menyaksikan mimpi-mimpi susah payah kaurangkai, satu persatu terjadi dan tidak terjadi. Aku ingin memelukmu dari belakang saat kau menggoncengku kelak  ketika sudah punya SIM. Melihat punggung yang dulunya kecil dan rapuh, menjadi punggung seorang pemuda yang kokoh. Aku ingin mendengar ceritamu tentang hal-hal yang kelak aku tak paham. Aku ingin meyakinkanmu bahwa kau bisa jadi apapun. Bi idznillah.

Aku ingin membersamaimu, selama-lamanya.

Masa depan adalah hal paling misteri dan tidak pernah bisa kita kendalikan. Keinginan-keinginanku hanyalah keinginan yang hanya bisa kutitipkan dengan sungguh-sungguh pada Rabbku.

Karena kadang aku lupa mengimani bahwa Ia akan menemani apapun yang akan terjadi nanti. Kadang aku lupa, pada akhirnya masing-masing kita akan sendiri. Aku ingin menyelesaikan misi-misi hidup ini dengan hati yang lapang. Sehingga ketika di tengah perjalanan, ketika mungkin tidak banyak hal yang telah kulakukan, setidaknya aku sedang dalam proses menjaga amanah dan menjalankan perintah-Nya dengan sebaik-baik upaya.

Ya Allah, kabulkanlah…

Good Day

What makes a day, good day?

A rose will say, “a little boy takes a really good care of me. Even I’m such a demanding creature in his little tiny planet. I mean, he can just leave me.”

A swarm of ants finds rice played by a toddler. His mom prepares him to do rice transferring from one bowl to another bowl, intended to stimulate his fine motor skill like what other mama do in Instagram. Yet, the almost two year boy throws all rice to all over the place. Indeed a really good day for ants.

A young writer might say, ” I got an idea of the first sentence of my novel!” It’s because of the quote by Carl Sagan she read in a random science trivia account on Twitter. “Somewhere, something incredible is waiting to be known.

Or.. It can be when lovers finally find a way to talk about what they really feel these days. I bet this is a really good one. They can sleep peacefully without assuming.

A friend will say a good day is cup of hot tea accompanying her late dinner while watching ongoing Korean drama.

A good day can also mean this. Accepting that today is not one of those good days. That it’s not comfortable new situation I am in. And to feel not really good about it, is okay. This acceptance really makes my day.

Rahim

Kepada rahim, seharusnya aku melepas topi dan menundukkan kepalaku, sesungguh-sungguhnya, padamu. Atas semua kerja keras menjadi wadah pengalaman biologisku terjadi.

Maaf untuk semua sakit yang kamu peluk sendirian, untuk pengabaianku, untuk sumpah serapahku. Maaf karena pernah marah dan menyesalimu.

Aku harusnya tahu, menjadimu tak pernah sederhana. Atas izin Allah, kau adalah pusat semesta perasaan dan fisikku. Kau warisan ibu dan nenekku, darimu kau juga menyimpan kehidupan untuk anak dan cucu perempuanku kelak. Aku harusnya paham betapa tak mudahnya menjadimu.

Terima kasih, rahim. Telah melakukan semuanya untukku. Terima kasih telah menyediakan tempat ternyaman untuk manusia kecil. Terima kasih untuk menstruasi setiap bulan. Aku sering lupa. Aku sering lupa bahwa kau telah begitu patuh pada perintah Allah, melakukan kerja-kerja berat itu.

Rahim adalah kasih sayang. Pada Rahim, aku mengingat Tuhanku. Pada Rahim, aku mengingat tujuan penciptaanku.

Terima kasih rahim, kau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu.

Teks dari 2015

Selamat pagi!

Moleskin-ku yang keren punya sebuah halaman kolom tentang fase-fase bulan di tahun 2015. Malam ini, tanggal 6 Juni, katanya bulan akan purnama. Penuh. Aktivitas moon-gazing, atau apapun namanya, mungkin bisa kamu rencanakan. Hm, jika kamu bertanya dan mengkritisi apa kegunaan memandang bulan selain membuat hati semakin mellow, akan kujawab; bulan bisa bikin kenyang. Kenyang.

Nanti malam, mungkin, kamu akan menyimak banyak tulisan atau kutipan tentang bulan itu. Ada yang cheesy, ada yang beneran enak kena di hati. Yang cheesy itu kalau varian red velvet bisa mencapai hampir Rp 100.000.

Ups. Itu terang bulan di wajan-wajan.

Tapi dari berpuluh fullmoon yang lalu, inginku tetap satu;

kita, memandang bulan dari bingkai jendela yang sama–

Halah-halah.

Ibu dan Tiga Anaknya di Jl. H. Samali

Sejak tinggal di Jakarta, aku sering kaget dengan pemandangan anak seusia keponakanku (7-10 tahun) yang bersama orangtuanya, di tengah terik matahari, berjalan mencari entah apa di tumpukan sampah warung-warung dan toko. Kadang kutemukan satu atau dua, bahkan bisa lebih di hari dan jam tertentu.

Semakin lama, pemandangan ini jadi semakin biasa untukku. Aku bahkan cenderung mengalihkan pandangan ketika menemukan mereka, karena tidak nyaman dengan perasaan ….. kasihan? Bersalah? Gusar? yang meliputiku berjam-jam setelahnya.

Sampai ketika di bulan Maret/April, saat pergi ke warung dengan Langit dalam gendonganku, anak laki-laki dengan rambut merah dan baju yang lusuh, memangkul karung berjalan melewatiku. Ia melihatku sekilasnya, tampak buru-buru. Berbelas meter di depannya, ada anak lebih kecil lagi, sedang mengambil aqua botol dari tempat sampah TK sebelah kontrakanku.

Mereka adalah kakak beradik, menemani ibunya yang juga menggendong bayi, sepertiku, memulung botol atau gelas bekas di sepanjang Jalan Samali, Pejaten, sampai Siaga. Ditotal bisa lebih dari 5 km.

Hatiku remuk.

Aku menangis saat itu juga. Aku teringat keponakan-keponakanku yang mungkin saat itu sedang makan dengan ayam kesukaaan mereka sambil menonton TV di rumah mereka yang berantakan dengan krayon, kertas-kertas gambar, atau mainan-mainan. Saat melihat Ibu yang menggendong bayi yang sepertinya sama usianya seperti Langit, aku teringat aku, seorang Ibu yang baru melahirkan, dengan segala perubahan fisik dan emosi, mungkin tidak punya pilihan lain selain membawa ketiga anaknya turun ke jalan.

Tentang pemulung yang membawa tiga anaknya mungkin sudah belasan atau puluhan tahun menjadi persoalan khas Kota besar di Indonesia, mungkin juga sudah lama jadi PR dinas sosial.

Privilase pengetahuan semakin membuatku sesak, tentang 1000 hari pertama bayi, nutrisi yang seharusnya mereka dapatkan, hak anak untuk bermain, merasa aman… Apakah anak-anak itu mendapatkannya? Belum lagi tentang kerentanan pergaulan jalanan sampai kriminalitas. Aku perih membayangkannya.

Saat menulis ini, aku tak benar-benar tahu harus berbuat apa. Apa yang sebenarnya mereka butuhkan? Apa bagi-bagi makanan tiap Jumat saja cukup? Apa aku juga harus memberikan mainan edukasi atau buku bacaan untuk anaknya? Apa perlu aku kontak kawan bidanku untuk kita buat edukasi untuk ibu-ibu yang membesarkan anak di jalanan? Mencari tahu komunitas yang bergerak di ranah itu?

Apa mungkin mereka hanya ingin perasaan aman? Aman dari hujan, panas? Aman dari keharusan mengumpulkan sekian rupiah untuk diserahkan pada pengepul? Aman dari sesama pemulung yang memalak?

Apa yang harus kulakukan? Apa aku bisa benar-benar melakukannya?

Merangkum Jokpin

Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung dalam kepalaku.

Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma.

Aku baru menyelesaikan buku puisi milik Joko Pinurbo alias Jokpin. Padanya aku seperti masuk dalam labirin-labirin perasaan. Asing dan familiar, dekat dan jauh. Gelap dan terang. Di dalamnya, aku merasa rela terjatuh, memantul, jatuh, memantul dalam trampolin raksasa. Langit yang memayungi jadi tidak jelas warnanya. Tapi dominan jingga.

Sambil melompat aku memetik satu demi satu kenangan, sambil mengusap airmatanya. Terkaget dengan suara dari celah langit, yang ternyata suara Ibu yang bertanya, “Sini Ibu bersihkan sambal dari baksomu.”

Pada kata-kata penyair itu, aku dituntun memungut keping-keping ingatan, yang kubiarkan diam di pinggir jalan. tentang menjadi pahlawan untuk diri sendiri, tentang menjadi kekasih orang-orang yang menjual kalender di malam tahun baru. Merasakan waktu rontok menjadi bantal tidur mereka. Atau saat seorang anak perempuan yang dibesarkan penuh kasih dan kemiskinan, merayu bulan agar tak enggan meminjamkan bajunya, untuk esok hari raya.

Salah satu halaman mencoba melucu, ia bilang, puisi lebih ampuh dari obat untuk menyembuhkan demam. Setuju, aku sangat setuju. Karena dalam hari yang sepanjang jalannya dipenuhi abu, aku ingin segera cuci kaki dan meraupkan kata-kata pada wajahku. Mengabadikannya diatas pipi dan kening. Dunia(ku) baik-baik saja. Pipiku segar karena puisi.

Pada penyair, mari lantunkan hormat sedalam-dalamnya. Pada kepiawainnya mengekalkan sejarah manusia beserta tingkah laku aneh dan merdunya, kesombongan gedung, kejahatan penguasa, abadi dalam kata-kata, hening sekaligus lantang. Mereka abadi dalam genggaman zaman, dekat menempel di saku hati juga celana.