Di Pedalaman

“Ibu Guru!”

Aku lupa, mungkin aku sudah sampaikan padamu tentang keinginanku mengumpulkan banyak cerita saat berada di ujung negeri ini. Tentang anak-anak bermata jeli, berlari ingin masuk ke kelas, berebut duduk di depan karena tidak ingin melewatkan pelajaran bahasa Indonesia tentang berekspresi dengan membaca puisi.

Atau saat aku sedang pusing mengutuk kebodohan diri saat tidak juga pandai memahami birokrasi, mengintegrasi pengetahuanku dengan situasi langsung, atau mengajak bicara anak-anak dan orangtua mereka dengan bahasa lokal yang tegas nan melodis.

Aku ingin ceritakan padamu, tentang mimpi-mimpi yang perlaha mulai berani dilantangkan, sampai langit kelas mereka goyah, menembus lurus tegak mengetuk langit dalam doa-doa yang diyakini bulat-bulat.

Atau cerita saat kami berpetualang ke sumber suara ombak, perjalanan menerobos belukar hutan yang jauh dan bahaya, aku yang hampir menyerah, namun anak-anak melarangku, lalu berebut ingin meringankan beban pundakku. Dan dengan sisa harga diri yang kupunya, aku menyeret kaki sampai akhirnya kami menemui ujung pantai. Tercengang beberapa detik sampai akhirnya kita berlari, meninggalkan lelah di tempat yang jauh.

Tempat dimana aku mungkin jatuh cinta pada negeri ini, kemudian serta merta berjanji akan melakukan apapun untuk terbukanya kesempatan mereka merayakan pendidikan dengan suka cita. Semakin percaya bahwa pendidikan adalah memanusiakan manusia, meninggikan adab dan mengamalkan ilmu untuk melipatkan kebaikan.

Dan kesemuanya, adalah perjalanan yang mungkin selamanya jadi mimpi yang rapi tersimpan di toples kaca dalam diri.

Kadang-kadang kutengok, kulihat dan kubersihkan. Sambil agak menyeka air di ujung mata dan berdoa kepada Yang Maha Penyimak Rencana untuk mengabulkannya dengan cara-cara tak terduga.

Advertisements
Di Pedalaman

Pernah Jadi Anggota Paskib

Di setiap tanggal 17 Agustus, yang merupakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, aku, yang saat itu berusia 10 tahun selalu duduk memeluk lutut di depan televisi. Dari pukul 08.00 – 10.00, total aku menguasai teve sederhana itu. Aku yang berkuasa mengganti channel dari satu ke yang lainnya, mencari layar terbersih, suara terjernih.

Ya, Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang rutin ada di televisi tiap tahun adalah yang kutunggu-tunggu.
Dadaku selalu bergetar ketika terdengan suara marching band menderu, aba-aba pemimpin upacara, dan gerakan serempak tanpa cela para TNI AL, TNI AD, dan TNI AU ketika menerima aba-aba. Megah sekali.
Tapi sebenarnya bukan itu yang aku nantikan.
Momen ketika hatiku jumpalitan tak karuan adalah ketika memasuki prosesi pengibaran bendera. Amboi, lihatlah pleton berseragam putih-putih itu! Pasukan pengibar bendera pusaka !
Gagah, aura memancar dari wajah mereka, langkah tegap yang memukau, formasi sempurna, potongan rambut yang mirip tentara pria dan wanita, derap sepatu fantofel mereka membuat bulu kuduk bocah 10 tahun itu—aku– meremang.
Mereka bukan sembarang siswa. Mereka siswa terpilih dari beratus-ratus siswa SMA di Indonesia!
Sejak saat itu menjadi pasibraka adalah cita-cita keduaku setelah menjadi presiden.
lima tahun kemudian, aku berdiri di situ, di halaman depan SMA-ku, menjadi satu dari sekian anggota Paskib.
Aku semakin bersemangat menjadi Paskibraka, tak peduli ketat, sulit, dan kecilnya kemungkinan untuk menjadi kenyataan. Aku tetap bersemangat meskipun pengalaman PBB-ku minim. Aku sadar, cita-citaku bukanlah hal yang mudah, tidak instan, butuh perjuangan, butuh keteguhan hati, butuh pengorbanan. Dan semua itu akan aku mulai dari ekskul kecil ini, ini adalah langkah awalnya.
Aku mencintai kegiatanku. Aku mencintai cita-citaku. Meskipun orangtua ku tidak setuju, tapi aku akan membuktikan kepada mereka! Itu tekadku.
_______
Semakin waktu berjalan, semakin banyak pemahaman dan ilmu yang kuserap, semakin aku mengerti. Ada begitu banyak halangan dari diriku dan sekitar
Sampai satu titik kesadaran, aku tak bisa.
Aku sadar aku tidak bisa maksimal. Sebagaimanapun usahaku.
Aku seperti berwarna merah di tempat berwarna kuning.
Tak ada kesempatan untukku. . Dan entah kenapa kesempatan satu-satunya untuk membuktikan pada orang tua tiba-tiba hilang, seperti sudah diatur sedemikian rupa.
Aku menyimpulkan, tak bisa lagi bersama orang-orang hebat disitu. Aku sedih sekali.
___
Aku mengecewakan satu orang disana, dulu aku pernah berjanji padanya akan melakukan apapun untuk bisa menjadi pleton hebat, aku pernah berjanji padanya akan maksimal dan tak lelah berlatih untuk PBB yang lebih baik. Dan aku pernah berjanji akan membuktikan padanya bahwa aku bisa menjadi wakil sekolah ke perlombaan PBB.
Dia kakak kelasku.
Sebentar, mengecewakan dia? Ralat, mungkin ia bukan kecewa, tetapi… benci.
Aku ingin menjelaskan betapa sulitnya untuk bertemu dan bicara akan hal ini. Tak tahukah ia bagaimana bentuk perasaanku ketika kulihat mereka berbaris rapi di lapangan?
Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Rasanya seperti bicara dalam air, sulit dan sesak sekali.
Aku tak tahu lagi bagaimana anggapan mereka terhadapku. Aku hanya ingin mereka tahu, betapa beratnya keputusan ini.
Maksudku, ini tentang cita cita masa kecilku! Aku sedang berusaha ikhlas, tak peduli lagi pikiran orang lain, ada banyak yang mereka tak tahu tentang aku. Terkadang sesuatu yang kau inginkan ternyata bukan yang terbaik menurut Allah, kan?

Tulisan hari ini di Facebook dari tahun 2010.

Ternyata aku ini anaknya GR-an, suka berasumsi dan hobi mengurusi kesan orang lain terhadap keputusan-keputusanku.

Padahal yha, bisa aja mbak mas paski saat itu malah bahagia ditinggalkan olehku, karena itu berarti  mereka nggak perlu kesulitan lagi dalam membuat barisan pleton yang lebih rapi dan cakep di lomba-lomba. Dalam pleton, kan yang tinggi harus di depan tuh, dan aku tinggi, jadi di depan dong. Karena kehadiranku, jadi agak ribet dan drama karena aku roknya maunya tetep panjang dan kerudungnya nggak dimasuk-masukin… Bingung juga menjelaskannya. Kalau nggak salah akhirnya aku mengambinghitamkan orangtuaku saat memutuskan keluar, “Gak diizinin lagi sama orang tua, Mas, Mbak…” Padahal, nggak gitu juga. Wkk.

Oh, dan kurasa aku menulis ingin jadi presiden itu biar terlihat keren saja.

Pernah Jadi Anggota Paskib

Ode untuk Oknum X

Ini pukul 23.25, menuju tengah malam. Seharusnya aku bersiap tidur, atau meneruskan baca buku Tasaro tentang Kashva dan Muhammad yang mengobrak-abrik hati, atau memutar surat yang baru kudonlot, atau dengar lagi materi Pak Faizal waktu IYC, atau… ya berusaha tidur gitu.

Sungguh aku tadi sudah mau tidur, kelesetan di depan TV, setelah ibu setengah jam lalu dengan ngantuk membawa bantal masuk ke kamar. Tinggal aku, TV yang memutar ILC membahas legalisasi KUHP LGBT, dan gawai ini.

Namun karena suatu hal, aku batal tidur.

Iseng ngecek Tumblr dan menemukan banyak postingan rindu dan perasaan dari orang-orang. Membacanya lagi, aku mesem, xixixixi.

Alhamdulillah.

Mungkin sudah lewat masanya, tidak rapuh dan berupaya memvalidasi hati dengan tulisan-tulisan orang. Beberapa malah ngeskip karena kurasa terlalu “uoposeh…..” heuheu. Terlalu mendayu.

Sampai hari ini, aku merasa baik-baik saja. Tidak risau perkara jodoh. Galauku ada karena tahun ini akan banyak kehilangan teman dekat yang menikah dan itu berarti mereka akan sibuk dengan dunia baru mereka… dan mungkin gak akan sedekat itu lagi denganku. Yha.

Di sisi lain, Insya Allah, Oknum X sekarang juga baik-baik saja, dia mungkin lagi menikmati hidupnya. Mencoba ini dan itu, gagal di ini, berhasil di itu, sedang berupaya menjaga hafalan dan ingatan untuk selalu pada jalan Allah di tengah retorika duniawi yang memintanya untuk belok sana sini. Menyampaikan doa keselamatan juga untukku.

Gak ngunu, a? Wkk.

Dear, Oknum X.

Nanti ceritain aku yo. Mari melanjutkan perjalanan masing-masing, semoga kita sabar untuk fokus di track kita sambil mempersiapkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi saat kita memutuskan bersama juga mimpi yang bisa kita berdua upayakan. Nanti share lha, yha. Raker gitu kita berdua. Tak kandani wakeh tentang iki dan iki. Aku pengen ero pandanganmu. Semangato. Eh, aku saiki lagi nyinaui sabar. Sabar angel yo dadakno, Mas? Sabar terhadap diri sendiri opo maneh.

Wes, pokok ati-ati di jalan. Ojok mampir-mampir. Wkk.

Sampai ketemu.

Ode untuk Oknum X

Mengingat

Sudah nonton Coco?

Coco, sebuah film Disney dan Pixar yang berhasil mengambil hati banyak orang di akhir tahun 2017, termasuk aku. Ini film tentang cita-cita dan keluarga dengan latar tempat dan kultur Meksiko yang kental, mulai dari musik sampai kepercayaan. Resmi jadi animasi favoritku setelah Inside Out. Lagunya yang berjudul ‘Remember Me’ terngiang-ngiang di telinga, mungkin karena beberapa waktu kemarin cukup bisa merelasikan dengan diri sendiri. Kamu bisa cek lagunya disini.

Ada banyak pertanyaan mengenai ingat-mengingat yang pernah kutelaah. Misal, mengapa terkadang kita mengingat begitu jelas rasa milkshake apa yang dipesan oleh teman kita 5 tahun lalu saat bertemu, daripada, dimana kita meletakkan hape setengah jam lalu. Atau, kita lebih ingat alasan si anu menganggap Harry Potter itu biasa-biasa aja daripada mengingat mengapa kita tidak boleh prokrasinasi. Atau, mengapa beberapa dari kita ingin sekali diingat orang lain.

Beberapa aku menemukan jawabannya di bab-bab awal sebuah buku berjudul How We Learn, ada juga yang kukira-kira saja. Seperti yang terakhir.

Ini cukup mengherankan.

Aku menemukan diriku terharu dan berkaca-kaca saat seorang teman mengucapkan terima kasih di skripsinya– what? aku jek diiling... Terharu saat ada orang lain bilang bahwa mereka mengingatku saat melihat ini atau itu. Kurasa, mungkin karena ada beberapa hal krusial terjadi di hidupku— pffft, aku jadi punya semacam upgraded feeling (kalo pakai istilah di film Inside Out, mungkin ini fase adulting. wahaha) yang membuatku lebih… gembuk hatinya dalam hal ingat-mengingat. Aku tiba-tiba jadi penasaran makna kehadiranku– menurut orang lain. Apa aku cukup berguna, apa aku ini teman yang baik, dsb.

Jika kutarik pada pertanyaan lebih basis lagi, aku ingin tahu sejauh mana aku diingat dan cukup berarti untuk dijadikan memori. Sungguh aku penasaran. Dengan kontemplasi diri dengan melihat-lihat sambil berasumsi disertai dengan paparan sosial media yang begitu masif, kerisauan sederhana itu berkembang menjadi hal yang cukup menganggu dan silly. Misal, aku jadi merasa sedih ketika temanku tidak bilang di IG story-nya bahwa aku adalah teman baiknya. Sederhananya, aku merasa tidak diingat dan tidak cukup berarti baginya. Pret. Bahaha. Well, selain itu aku juga jadi merasa bersalah dan tidak tulus.

Wkkwk.

Lalu, pelan-pelan aku menemukan polanya. Jika hal-hal seperti itu datang dan menyerang percaya diriku, aku akan buru-buru mengingat sebuah ayat pendek:

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah: 152)

Erhm, biasanya tambah galau karena jadi sadar dan rasa bersalah akan muncul berlipat. …. Tapi……. yah…. setidaknya hati jauh lebih adem, karena selalu merasa punya tempat kembali yang menerimamu apa ada-nya, dengan keadaan sempurna maupun compang-camping, yang mengerti kegelisahanmu tanpa harus dilantunkan dalam kata. Astaghfirullah, sudah cukup mewakili.

Aku bersyukur karena punya memori tentang email panjang Acer di tahun 2016, chat-chat Meutia, dan obrolan-obrolan dengan Pak Viktor, Bu Rovila, Rayzan, Ruri, Bu Farida.

Alhamdulillah. Cukup.
What’s more, Allah will never lose His sight on me, anyway.

Setelahnya, aku senyum lagi, siap menyapa lagi. Biasanya dengan hati yang lebih rela. Masa bodo, mau diinget atau enggak, yang penting menebar anuan cinta dengan caraku, Luls. Tetap hidup bersama dengan detil-detil memori tentang orang-orang yang semua sudah rapi di folder kepala berjudul: Orang-orang dan Hal Menarik tentang Mereka.

Maybe someday, someone will forget how wonderful they are, I’ll gladly remind them. I have that answer in my folder.

Semoga aku selalu peka. Wkkk.

Mengingat

Menutup Pintu

“Tutuplah pintu rumahmu, rapat-rapat.
Aku akan segera datang mengetuknya.
Seusai perjalanan panjang ini – setelah kugenapi
nubuat ini – kukira akan sampai juga saatku untuk kembali.
Tutuplah pintu rumahmu, sedemikian rapat.
Kuncikanlah. Agar dapat kupaksakan hasratku menuju-Mu.”

– Sapardi Djoko Damono.

 

Quote

9 Best Things in 2017

I bump into many postings about people’s best moments in their 2017. Here is the cool thing: I am totally okay with that. Bahaha. No longer feel pressured and urged to share the same thing to prove that I was also doing something cool last year. Xixi. The only one worth compared is my old-self version. I might do the same, but, I share it here in my own blog instead. In attempt to crystalize the learned things into candies and bring them in my pocket to face more adventures in 2018.

Here we go.

  1. I hiked my first mountain in September.
    Masya Allah. A clear memory I had, celebrating my hesitation and excitement on the back of Cikuray mountain. Beautiful night sky, slept in small tent with two adorable women, got to know my brother way better– and his office mates. But I say it’s true that the best thing about hiking is not about the beautiful views, really, it’s about ourself– how we decide, think, and who we really are. We, the three of us; me, my bro, and the marshall Bapa Budi finally chose to stop and prayed Subuh instead continuing our sunrise hunting on the top of mountain. I learned that maybe having sunrise surrounded by stunningly magical carpet of clouds is one of our ultimate goals, but, Allah should come very first. I was just relieved because it also meant some minutes to take a rest after panting in every step, lol.
    I nearly gave up in my second pos, planned to do some fake fainting :’D. Cikuray is crazy mountain for beginners, dummy hikers….. like me. It’s because of its longitude, challenging track, no water resources, you name it. There was a battle I had inside of me. To give up or not, and I’m grateful the later won. I’ve written things about Cikuray experience here.
  2. I decided to not continuing my selection process of something.
    Even it costs many things. Times, money on return tickets (and a missed flight, too), energy, some painful weeps and sobbings, I’m grateful that Allah guided me to choose for myself. I know my reason and the consequences. There are many things to deal with after and it takes maybe forever. Like someone said, it may be a sad-but-challenged situation for me. I’ll just need to make sure that I stick around with Allah. My biggest fear now is when I’m away from Him, when He then just let me go with my own messy decision.
  3. Pinarak Moco: Second library is open!
    I met Bu Wati, Nadya, and Kusna. People with incredible personality wandering around my 2017. Bu Wati, a humble pre-school teacher, along with her husband manage our little library in Jawuh. Letting little readers come to her house until after Isya everyday, keeping the books safe, and encouraging parents nearby to send their children to read books in Jawuh Moco. Haru :’ also Nadya, an energic highschooler and her ForPan Nganjuk for their supports in Pinarak Moco. Last but not least, having Iqbal and Melisa. I’m beyond grateful for Iqbal’s endless question, “Nezh, kapan nak Kweden mane” amidst his tight schedule in his activities, his endurance while driving Surabaya-Nganjuk for countless hours this year, his way of approaching locals (Pak Mudin, Mas Arif…. whom I could never bear with. Wkk..)  and also Melisa, as the one who always spares her time to join us. She can do other things, but she chose to stay and devote herself in this project. They are beautiful.. I hope Allah will accept our deeds and shower us His blessing in every situation.
  4. Forgiving myself
    It’s a job I need to do on daily basis. 2017 is my third year of forgiving myself for being…. stupid. It is painfully funny. Wahaha. But it’s okay, everything happens for a reason, eh? Indeed it gives me a brand new perspective about many things. So, I really cherish my attemps of forgiving myself and saying it’s okay– reassuring myself that I have finished a chapter  in catalogue of my life journey. 2017 is the year when I finally forgive myself. And in 2018, I am ready to fight for people who fight for me. 🙂
  5. Had my first time as a speaker
    It’s amazing, terrifying, exhausting,….. all at once. I enjoyed the rehearsal session with Ms Laili, widening the why– it’s not only delivering the materials but also the passion. Beforehand, due something I needed to finish in office, I stuck in traffic jam . . ….. and finally got to the room 5 minutes before my time. Lel. Surprisingly, the feedback was cool. I’d do more in the future. Ehe. Maybe.
  6. My first antalogy was born
    It’s a very little step that I shouldn’t count as best moment. But, involving myself– even a tiny part in #KataAyah project was very meaningful to me. Both as a daughters who recalled memory of dad’s saying and as a future parent. Beside, it’s little step of making my own book. Ea. Bismillahh..
  7. Travelling to Malaysia with Niswah
    I built a lot of self-dialog through this travel. I carved memories from places I visited, dialects I heard, people I encountered in MRT. Answering questions I’ve been keeping for long time about…. life. It’s kind of spiritual journey. I wrote that experience here.
  8. Join a superdynamic team in TAF English
    When I listened to my friends babbling about how jerk their bosses are, how tired they are of working every single day– without really grasping the idea why they’re doing that job, I am happy I am here.. From the very beginning, I never call myself working, yea. .. frankly I hate that word. It really… sounds so grown ups or adult stuffs. Lel. Being adult is totally boring because they will only be happy with visible and material things. #longlivelittleprince. I’m there to study, to learn and grow myself– and yeah, being paid while doing that is additional plus. I meet my wonderful students. I have enriched my definition of teaching, educating, growing someone’s confidence. I also learn about bussines. Aside of it, I also take a part in growing this organization strategically, creating cool and beneficial projects, not only for business but wider than that. I enjoy the process really much. Its values harmonize with mine.
  9. I have been trying my best to be a better person.
    First, for my self, for not giving up easily on telling people the things that distract me. Even I still have some hesitation in myself, and sometime a sudden grief because of some unnamed issues, I am relieved I always remember that Allah is near. I have Him, and it’s enough.

I know it. Bismillah :3 

9 Best Things in 2017

Kata-kata

Besok datang jam 6. Kamis lanjutin presentasi. Thank you ya miss. Sudah cari tahu informasi S2 Unair belum. Nez dia ngechat aku lagi. Hapemu di atas galon. Kon sing ngomong kok ga jadi sedih tapi lucu. Look, look, he RT my tweet. Jam 11 nanti ada pretest. Amah Nezha kamu kapan menikah kamarnya mau buat kita. Maaf mbak tanggal 17 saya ada PKL. I think now i’m at my lowest point of my life. Mboh carane yaopo. Syariah itu di proses. Dua minggu lagi selesai, hehe, bisa lah. Aku merasa sibuk sama dunia, pikiranku gak khusyuk, aku susah ngafalin surat-surat. Mungkin mba nheza bisa bantu memperbaiki. Kamu cerita sama Jid, biar nggak sesek kayak tadi. Kamu ngirim transcript lewat email ta. Miss ayo gae TK. Mungkin itu cara Allah memuliakan beliau. Kok iso ono wong koyok kon. Tugas kita nulis proposal, Allah tinggal ACC. Sad but challenged, then focus on the second part, being challenged. Maaf aku crito hal gak penting maneh. Bedakan dulu validasi sama butuh dukungan Nez. Mam Rov gak bisa kalau gak sama Nezha. Dek kita di masjid Alfalah ya, jam 18.30 dimulai insya Allah. Kalau meningkatkan internal motivation gimana ya. Congratulation if you’re graduating, we’d like to see your pics, please tag them up. Jam piro iki mah. Palestina bagaimana aku bisa melupakanmu iki buagus. I feel like I owe it them, but I dont know how to give it back.

I’m not good at telling stories, I am a messy eater, half the time I dont make sense and I know I frustrate you a lot, but I do adore you. 

Kata-kata