D+2 Dramatic Discussion 

Besok hari Selasa. 
Waktuku bertemu Pak Victor, seorang religius yang suka menyanyi dan senang bercerita, Ruri– dokter gigi muda fans Arashi band Jepang yang sebenarnya tidak suka jadi dokter gigi–menunggu akhir bulan ini untuk interview beasiswa researcher-nya di Jepang, juga Fariz, anak muda yang tengah merintis bisnis fashion idealis dan terbatas–old fashion denim.

November, hampir tepat satu tahun aku ada di tempat ini. Banyak hal terjadi, ada yang menyenangkan, ada yang.. biasa aja. Pernah jengah setengah mati, ingin pergi besoknya, namun bertahan karena masih ingin menyimak kuliah manajemen gratis dari ibu-ibu humble yang kebetulan jadi petinggi sebuah kampus ekonomi. Pernah ingin menangis, saat orang-orang di depanku bercerita tentang mimpinya yang tengah ia perjuangkan, dan faktanya adalah aku bertugas membantu mewujudkannya. Mimpi yang mimpiku juga.  

Seperti kamu membuat jembatan pendek, memastikannya kuat untuk dilewati. Setelah selesai, kamu mundur, mempersilakan yang lain lewat terlebih dahulu. Dan kamu menatap mereka dengan rasa yang bercampur aduk. Mereka menoleh, mengucapkan terima kasih dengan tulus. 

I can’t even name it.  But, it might be happiness–in a new form i haven’t recognized. 

And in the same time, I try to always remember that it’s all because of Him. He let me do it.  No, it’s not because of me, but it’s all over Him. 

Thank you Allah for choosing me. Give me ridha and your barakah. That’s all what i ask. 

Before a dramatic discussion I had with my beloved one, I passed many ups and downs all by myself, bumped into strange places in Jakarta, stuck in many early and late flights. 

Allah has guided me to decide. I dont know what gonna be happened later, but I just believe that good things will come. Maybe it’s not easy, but..  i think it’ll be worth to dream and fight for.  

I might have hestitation in the future, or dissapointed, or feel so damn tired. 

But yeah, i’ve burnt the bridge. I know my reason, I’ll train myself to embrace any hows. 

Bismillah.  

Advertisements
D+2 Dramatic Discussion 

Perihal Ingin Kita

Aku janji,

akan ada masa kita akan menertawai kekhilafan kita– aku yang akhirnya menemukan polamu dan kau yang akhirnya mengetahui keinginan Allah pada doa-doamu. 

Aku janji, aku akan mengantarmu pada masa dimana tak ada lagi kerisauan tentang hal-hal esok,  doamu terjawab dengan cara yang luar biasa indah. 

Aku janji, kau akan menghabiskan masamu dengan bahagia dan lega.  Kau akan ketahui ternyata kekhawatiranmu tidak terbukti, bahwa kesabaranmu berbuah manis sekali.  

Bahwa aku tidak apa-apa. Tidak berada di situasi merisaukan yang kautakuti.  

Aku bahagia dengan makna yang awalnya terlalu abstrak untukmu, tapi kau kemudian jelas mengetahui, aku bahagia. 

Dan kau tak risau. Dan kau aman.  

Aku mencintaimu, terima kasih sudah menjagaku dengan doa-doamu.  

Perihal Ingin Kita

Petunjuk dari Jakarta

Aku sudah sering ke Jakarta.

Sejak SMA, mulai dari alasan dulin–main, mengantar ibu survey studio Mamah dan Aa–wkk, nonton Ustadz (tapi ternyata acara dibatalkan H-1 karena sebuah aksi terjadi), sampai tes atau wawancara sesuatu.

Saat pertama kali, aku berangkat dengan penuh prasangka terhadap kota ini. Jakarta bagiku bersinonim dengan jarak sosial, egoisme, tak acuh, polusi, korupsi….  dan hal negatif lainnya. Saat itu, dengan mobil yang terjebak macet, aku melihat seorang pengendara motor yang terserempet, namun yang nyerempet kabur aja.  

Kamu pasti udah lihat iklan Meikarta? Lol. Nha. Kira-kira yang kurasakan tentang Jakarta mirip  yang dilihat adik itu.  (Ew iki kok aku promosi?  – -)

Namun, berbeda dengan minggu lalu.  

Aku berangkat dengan hati yang luar biasa biru, gembuk, dan siap ambyar kapanpun. Banyak pertanyaan dan keresahan yang kubawa, erat kugenggam di sepanjang kereta yang berjalan ke barat. Ini perjalanan solo– ke Jakarta — kesekianku, dan rasanya berbeda.

Qodarullah, Allah mempertemukanku dengan banyak manusia, menyimak kisah, dan seperti sengaja melibatkanku dalam alur pikiran mereka. Titik-titik yang acak di otakku, perlahan terhubung dan menemukan garis konstalasinya. Walau samar,  kurasa aku bisa sedikit membaca utuh. Saat kembali dari perjumpaan dengan manusia-manusia luar biasa yang Allah pilih itu, aku berusaha untuk merapihkan memori pertemuan itu di otak. Menyimpannya rapi– yha dengan analogi sederhanaku, kunamai foldernya: Untuk di Ingat – Memoar dari Jakarta. Wkk. 

Walau belum terjawab semua, tapi aku cukup senang. Mungkin Allah sedang memberi petunjuk lewat mereka, dan sungguh aku bersyukur menyadari kemungkinan itu.

Salah satu dari mereka, di sebuah DM Instagram pernah memberitahuku sebuah lagu yang keren sekali. Katanya lagu itu akan mengingatkan kita untuk menelaah lagi alasan kita bangun setiap hari: memilih untuk menjaga idealisme atau meninggalkannya di meja lalu bersiap pergi menembus kemacetan jalan raya.

Kamu harus cek lagunya disini.

Petunjuk dari Jakarta

Teruntuk 

Aku mengenal seseorang yang sangat baik. Ia terkenal karena kebaikannya menolong teman, adik, dan biasa jadi mediator di berbagai permasalahan , dipercaya mengambil keputusan,  penengah pertengkaran, dan juga pembangun jembatan di keluarganya. Ia dikenal pula dengan keluasan ilmunya dan kesediaannya berbagi cara melihat dunia.

Setiap bicara dan berkomunikasi dengannya, aku selalu dibuat wow dengan kompleksitas yang ia miliki. Ia begitu kuat, namun disaat yang persis sama, tampak bisa runtuh saat itu juga.

Katanya, ia percaya padaku.

Ia percaya dengan hal-hal abstrak dan bising di kepalaku. Sungguh aku bukannya sok kritis– kurasa ia hanya ingin membuatku merasa lebih baik. Namun, entah mengapa aku mudah saja menerima hal itu. Dengan orang lain, mungkin aku nyengir dan bilang, “Eh, tidak usah repot-repot. Aku bisa melakukannya kok tanpa validasi darimu.” 

Berbeda dengannya. Sudah kuanggap ia bersungguh-sungguh mengutarakannya. Dan kalaupun tidak, yah.. Aku tetap harus berterima kasih, karena ia meluangkan waktu untuk mendengarku, menunggu penjelasan yang sepotong dan ambigu, bahkan sempat menagihnya. Seperti mozaik pikiran recehku itu hal yang penting saja. 

Pun kalau ia hanya melaksanakan tugas menjadi orang baik, aku tetap harus berterima kasih. Karena melakukan rutinitas menjadi orang baik di zaman yang seperti saat ini itu pasti melelahkan.

Terima kasih ya sudah mencatatku di daftar orang yang harus disapa dan ditanya-tanya.

Darinya, aku mengerti bahwa sometimes we are clueless about ourselves. We don’t know we have this particular side of us. It took our energy, flesh to bone. Well, I might never neglect it. Aside of the mess it made, it is quirky, perplexing, and at the same time, it’s heart-warming. 

I embrace its existance.

Kuharap ia selalu baik-baik saja. Ah, ia akan selalu baik-baik saja. Dia punya Allah.

So again, thank you! It’s been really nice to meet you.

Teruntuk 

Percaya 

Ada sebuah tweet dari James Breakwall yang muncul di timeline twitterku. Disukai oleh Ika Natassa dan Mbak Vinci.

Isinya begini:

Percaya.

Aku ingat saat kelas 2 SD.

Mungkin aku dirasa cukup pintar dan aktif saat itu sehingga aku terpilih sebagai ketua kelas perempuan pertama dari seluruh angkatan. Mungkin juga ditambah sifat yang bossy dan intimidating-ku saat itu. Aku bossy dan intimidate karena tidak ingin dianggap lemah. Well.. saat SD, aku dibully habis-habisan, bertahun-tahun sampai lulus SD karena aku anak perempuan yang badannya tinggi dan cukup disegani (bahaha karena ketua kelas). Aku disebut jerapah, tiang listrik, sutet, dsb.

Ghils. Hahat ugha kalo dipikir-pikir anak SD jaman itu. I adore my self of being so strong. Lol.

Saat itu kelas bahasa Inggris dan aku lupa bawa buku. Entah karena tertinggal atau apa… Intinya aku lupa. Sampainya di sekolah, guru bahasa Inggris–yang merupakan salah satu mata pelajaran yang kusukai, memarahiku habis-habisan di depan kelas. Harga diri sebagai ketua kelasku hancur berkeping-keping hanya karena buku yang tertinggal. Kecemerlanganku mengingat kosakata-kosakata dan kesregepanku menjawab pertanyaan-pertanyaan di kelas seperti tak ada artinya.

Sejak saat itu, aku benci bahasa Inggris. Titik.

Bahkan, setelahnya aku pernah nekat membolos kelas bahasa Inggris karena menyadari LKSku tertukar dengan milik mas Arif (warna covernya sama).

Bayangkan, kelas 2 SD, semata tidak ingin berkonfrontasi lagi dengan Ibu guru bahasa Inggris, akhirnya memutuskan bolos. Wakakakakakkaka.  Ngarang cerita ke ayah dan ibu kepala sekolah juga saat itu. Luwar biyaza.

Sampai di awal SMP, ayahku getol ingin aku bisa bahasa Inggris. He might see my buried potential and wanted to unleash it. Lul. Aku manut saja, semata tawadhu. Wk. Lalu hadirlah brosur fotokopian kursus bahasa Inggris yang letaknya di perumahan belakang pasar di rumah kami.

Kesanalah aku. Sampai beberapa bulan, aku sama sekali tidak menemukan keasyikan belajar bahasa Inggris. Datang dan pergi. Tak serius ingin bisa, hanya penggugur kewajiban.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan-nya. Guru baru.

Mr. Irfan Rifai.

Mas-mas baru lulus kuliah, kulitnya sawo matang dengan kacamata tipis serta senyumnya yang mengembang menyapa kami semua di kelas. Pada awalnya aku seperti yang lain, biasa aja. Tak ada yang menarik.

Dia suka sekali tersenyum dan mendekati kami satu persatu. Mengecek, menanyakan langsung, dan mengajak kami ngobrol tentang materi dan relasinya dengan yang kami alami.

Dia mengamati setiap ucapan kami, walau berantakan– yang aku tahu temanku salah, tapi herannya ia selalu bilang: very good! bagus sekali, tapi kurang tepat…

Ketika aku yang ia hampiri, dia melakukan hal yang sama, mengucapkan hal-hal yang membuatku bersemangat bahkan ketika aku berusaha mengacuhkan dan menjawab sekenanya dengan sengaja. Yet he didnt give up on me, even he praised me. “Thank you very much for trying, Anisah!” katanya.

Lah? …

Aku merasa dihargai dan dipercaya. Ia mengapresiasi hal-hal sederhana yang aku dan teman-teman lakukan saat belajar bahasa Inggris. Sejak bertemu dengannya, kami– aku mungkin, jadi semangat sekali kalau lihat apapun yang pakai bahasa Inggris. Aku pede, nggak takut salah.

Saat SMP, masuk SMAN 15, dan masuk Unair, aku selalu menyempatkan diri mengiriminya email. Menceritakan kegalauanku semua dalam bahasa Inggris. Dan disetiap surat itu, aku selalu meragukan ingatannya padaku. Namun ia selalu berkata.

Of course I do remember you! You are  Anisah the smartest, most active, and tallest girl in our class! Hehehe. And now your english is getting more impressive. Only spot minor mistakes. Keep improving, girl!”

Terharu, padahal saat kubaca lagi email-emailku, iku akeh sing salah. . …

Ia juga mendukungku masuk Sastra Inggris, ambil linguistics (tapi gak tak ambil linguisticsnya, sir. wakaka), dan melanjutkan kuliah keluar negeri sepertinya, menempuh S2 dan S3 di Leeds, Inggris. Sekarang, beliau jadi dosen favorit di Universitas Adi Buana, Surabaya.

“I believe you can do that.”

Padanya, aku memahami esensi menjadi seorang pendidik: ia mempercayai anak didiknya. Ia memantik percaya diri dan rasa penasaran mereka terhadap ilmu pengetahuan.

Itu yang juga sedang berusaha kulakukan saat ini.

_____

Percaya.

Betapa magisnya kata itu terdengar. Ia begitu hangat, masuk dan menyalakan lagi semangat yang redup dan hampir mati. Sekuat dan seindependen apapun diri manusia, kurasa kita ingin dipercayai. Diserahi segepok percaya saat sedang ragu, rasanya seperti hilang separuh beban di pundak. 

Aku percaya kamu bisa. 

Mendengarnya seperti menemukan oase. Ia sejuk dan membuat hati jadi lembut. Ia seperti animasi ritmis dari manusia– yang melewati beberapa prose perubahan, sampai menjadi superhero yang siap melawan musuh. 

Mungkin beberapa kali kita seringkali ragu, mencurigai ucapan itu keluar hanya sekadar basa-basi, formalitas, atau penyemangat semu. Tak ada yang istimewa. 

Tapi pada akhirnya, kita mungkin luluh juga. Berpikir bahwa sekalipun tidak dengan hati, menyampaikannya pun butuh usaha. Just cherish that anyway. 

Jadi, terima kasih.

Terima kasih sudah mempercayaiku bulat, melebihi percayaku pada diri sendiri. Terima kasih sudah mengingatkan saat aku lupa.

Terima kasih. Semoga Allah meridhoi.

Percaya 

Sore Ini

Sekitar dua jam lalu, ada suara ritmis menghantam genting di dekat kamarku.  Sebentar saja, mungkin 15 detik.

Gerimis sebentar.

Dari momen sekejap itu, aroma tanah sudah menyeruak, menari meriah di hidung dan pikiranku. Aku sudah coba untuk tidak terbawa suasana biru, tapi gagal.

Aku berada di kilas balik yang cepat. Sepuluh tahun lalu sekitar kelas 2 SMP, aku pulang sekolah dan tertahan di pangkalan bemo ketika hujan turun. Aroma khas hujan yang entah apa itu buatku penasaran. Keesokan harinya kucari tahu namanya. Petrichor. Sebuah reaksi kimia dari tanah dan air hujan.

Aku juga masih ingat, saat itu pukul 16.00 di tahun 2011, hujan turun pelan sekali. Orang-orang berteduh, beberapa menembus hujan, mungkin tidak ingin ditinggal antar-jemput. Aku duduk berselonjor di selasar Masjid Ad-Dakwah. Entah mengapa, saat itu aku kelelahan karena merasa harus menjaga banyak hal dari orang-orang yang telah kujinakkan.

Langit sore itu, mirip seperti sore ini.

Time flies.

Ada banyak hal yang terjadi, tiba-tiba aku berusia 23 tahun dan dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang– jika tidak berhati-hati, akan menjebakku menjadi orang dewasa seperti di buku The Little Prince.

Pilihan yang menjelma pagi yang kesiangan, menuntutku untuk terburu-buru dan tidak peduli dengan indahnya bunga Angsana yang gugur satu-satu di perempatan lampu merah.

Pfft.

Yah, mungkin aku hanya sedang meromantisasi beban dan perasaan insecure saja.

1350737417234

Sore Ini

Cikurai dan Hal-hal yang Menyertainya

“Pertama kali naik gunung? Ke Cikurai? Berani-beraninya…” 

Begitulah respon warganung (pendaki gunung.red) yang kujumpai di sepanjang jalur pendakian Gunung Cikurai. 

Kujawab meringis. “Ehe. Doakan ya..”

Mereka menatapku dengan sorot tidak percaya…. pendaki amat newbie dengan perlengkapan yang juga B aja, bersepatu lari warna tosca, memakai rok…. “Itu nggak papa pakai rok? Siapa yang ajak kesini?”

“Rok bukanla penghalang. Wkk… Eh, yang ajak itu tuh, *tunjuk mas Arif*” 

“Gila Gila. Ngawurrr.” Kata mereka. 

Yah, perjalanan menuju negeri di atas awan resmi dimulai.

——

Mendaki gunung awalnya adalah mimpiku sejak kuliah. Bukan karena demam film 5cm, namun karena……. aku mengenal beberapa pendaki perempuan yang kunilai cukup strong, mandiri, dan berkharisma. Mbak Endita, kakak kelasku di Libels, dan Intan, anak UI di acara JWC. Intan malah ukhti dengan segala definisi kasat mata: rok panjang dengan kerudung lebar sebawah pinggang. Dengar cerita dia tentang gunung-gunung dan apa yang ia temui dan alami, sungguh buatku penasaran. Apa iya? 

Aku sudah berencana mendaki gunung Merbabu dan Merapi bersama Intan di tahun 2015, namun.. yha. apa daya. Tidak jadi karena hujan dan yha tentu saja ijin orang tua. Wk. 

Sudah tidak terhitung berapa kali aku mengatur ulang jadwal, mengontak teman-teman (yang ada mbak-mbaknya) untuk naik gunung… mana aja, sampai menabung beli sandal gunung, namun selalu semua berakhir buntu. Heu. Sampai aku berpikir.. ya Allah kudu harus punya suami dulu ta baru Kau bisa ijinkan aku naik gegunungan.. . . .

Lulz. 

Ada yang bilang, naik gunung mengajarkanmu untuk mengenal dirimu sendiri. Membuatmu lebih memahami karakter orang yang pergi bersamamu.

Kurasa aku bisa jawab.

Jawabannya…. Ya.

Dan lebih dari itu. Wkk. 

Aku jadi tahu bahwa aku ini ternyata penakut. Aku tidak se-tatag (kuat, mental baja.red) yang kupikir sebelumnya. 

Di tahun 2013, Aku pernah ke Pulau Sempu dengan hutan belantara serta tanah liat karena hujannya, bapak guide memujiku sebagai satu-satunya perempuan di gumbulan AIESEC yang berstamina penuh, pemberani, dan tatag.” 

 Iya aja, pas itu lagi galau. Wkk. Jadi kuluapkan semua galau pada alam. Ea.

Aku tidak melakukan survey tentang Cikuray sebelumnya kecuali Mas Arif yang rutin ngeshare foto di puncak Cikuray dan medannya. Leh uga.

Bismillah. 

Dengan kemiringan tanah 45 derajat sampai 90 derajat selama 5 jam pendakian.. Aku bersyukur masih bisa sampai di pos 6.

Di pos 1 menuju pos 2, sungguh aku sudah mau menyerah. Bahkan sempat berpikir cara apa yang paling logis dan elegan agar aku bisa menghentikan perjalanan ini tanpa merugikan siapapun. Kurasa aku hampir menyetujui pikiran yang bilang, “Nez, kamu baru pertama kali naik gunung, they will understand if you decide to stop. You’ve perfomed well so far.”

But, I didn’t..

 Kurasa karena setelahnya aku buru-buru membongkar direktori motivasi internal dalam kepalaku dengan sporadis. Dzikir, membayangkan pohon-pohon yang berkomunikasi, ranting dan daun yang bergesekan dan itu cara mereka mengingat Allah, membayangkan ada kehidupan mikroorganisme di serat pohon yang kupegang, membayangkan menceritakan kisah ini pada ponakan dan anak-anak… 

Istighfar, sebut nama Allah. He will definetely help you. 

Oke, aku sudah dikasih banyak sekali kemudahan– izin ayah-ibu, dukungan mbak-e yang ternyat mendukungku cuti di hari Sabtu yang padat, serta persiapan-persiapan lain yang dimudahkan. 

Kurasa Allah akan memberitahu sesuatu nanti. Allah has made it for me– up to this point. Do I really have to give up? 

Maka, dengan beban carier 40liter di punggung, aku meneruskan perjalanan yang bahkan belum separuhnya itu dengan… terseok-seok. 

Yang penting jalan.. 

Manjat sana sini, benerin rok yang nyangkut di akar dan ranting-ranting (salah pilih bahan rok euy), berpegang apapun– pohon, ranting, akar agar aku tidak limbung dan jatuh ke bawah. 

Yang penting berprogress..

I was the slowest hiker. Aku ada di paling belakang barisan. Paling terakhir, dan ketika dapat waktu istirahat, langsung menjatuhkan diri ke bumi– kata Mas Arif kayak orang pingsan. 

Mas Arif? Yha tentu saja dia di belakangku. Beberapa kali menasihatiku nasihat yang tidak perlu, “Nafas jangan dari mulut, Mah– Ammah.red—, dari hidung.” “Capek itu mindset, Mah. Ayo cepet. Ini seperti ketika menghadapi masalah dalam hidup, Mah. Kita harus terus majuu.. Ayo, Amah.”

Sampai aku tyda tahan dan bilang padanya. 

“Udah, duluan aja.”

Sejak saat itu, dia tak pernah lagi meributiku. Wk.

Yahh, singkat cerita, ternyata aku tidak se-tatag itu. 

Sehingga, sampaiku di puncak Cikuray dengan awan yang terasa sedekat jangkauan tangan, sungguh bukan suatu hal yang sangat kubanggakan. Yang ada malah rasa malu. 

Ini semua karena Allah yang mengizinkan. Kemampuan ini dari Allah. 

Allah masih mengizinkanmu menggapai mimpi yang kau nantikan bertahun-tahun– walau sebelumnya kau berulang kali ingin menyerah.  

Malu. Allah baik sekali. 

Di kelilingi awan dan kuatnya angin menusuk tulang, aku mengingat lagi mimpi-mimpiku, kemudian berdoa agar Allah memberi kekuatan untuk bertahan dari ragu yang kubuat sendiri.  

Bahwa semua keberhasilan adalah bonus. Akumulasi ragu, ingin menyerah, optimis, husnudzon, menguat-nguatkan diri, membentuk-bentuk adonan positif di kepala, dan keyakinan bahwa Allah-pasti-akan-kasih-kekuatan, terus silih berganti di pikiranku saat mendaki. 

Dua kali tangisku jebol, diam-diam tentu saja, nggak kuat. Sungguh ingin menyalahkan Mas Arif yang mengajakku naik gunung semenantang ini– bahkan untuk yang profesional. Namun, ya itu tadi, perasaan itu berkelindan dengan perasaan positif lainnya. 

Allah telah menjadi sebaik-baik pengatur. Allah sudah membawamu sejauh ini, Ia pasti bantu. Pasti.

Dan kurasa aku siap untuk naik gunung lagi. 

Jadi kapan kita kemana? 

Cikurai dan Hal-hal yang Menyertainya