Pencarian Bidan Amani di Jakarta

Sebelum post ini, aku pernah cerita tentang proses kelahiran seperti apa yang aku inginkan. Aku memimpikan kelahiran anak pertamaku yang minim trauma (tidak ada teriak-teriak seperti di film-film), minim intervensi medis (tidak dijahit, please), dan tentu saja berkesan. Yang dari proses itu kamu jadi kangen ingin hamil dan melahirkan lagi, (e gimana gimana).

Alasanku dulu belajar lebih jauh dan melakukan riset mendalam tentang hamil dan melahirkan adalah karena.. ya… memberdayakan diri. Sebagai ibu, kita berhak memilih langkah-langkah persalinan yang terbaik untuk kita dan anak kita. Dan tentu saja pengambilan keputusan itu dilandasi dengan pengetahuan, karena kata bude Yessi, knowledge is power!

Persalinan normal, alami, minim intervensi, dan menyenangkan ini jadi cita-cita terdekatku. Dalam sebuah penelitian, disebutkan bahwa bayi yang lahir dengan jalan alami akan memiliki imun yang lebih kuat daripada bayi yang lahir lewat jalan lain. Pemulihan ibu melahirkan normal pervaginam juga akan lebih cepat daripada yang operasi. Belum lagi ‘sisa’ kesakitan yang awet sampai bertahun-tahun setelahnya. Oh, bukan. Aku bukan anti SC dan menganggap SC adalah lebih buruk daripada pervaginam. Memang ada situasi dimana seorang Ibu terpaksa harus menjalani prosedur medis ini demi maslahat yang lebih baik untuk diri dan bayinya. For those who do know what they choose, it’s great. Going caesarian birth doesn’t make mothers– less mothers, after all.

Tapi memang, aku dan hampir seluruh ibu di dunia ini kurasa memimpikan persalinan yang menyenangkan, dan selama itu bisa diikhtiarkan, aku akan mengikhtiarkan. Mulai dari pikiran/mindset sejak awal kehamilan, olah fisik (hamil dan melahirkan itu fase yang amat-amat melelahkan, jadi memang badan harus dikondisikan untuk siap dengan jihad panjang itu), termasuk memperhatikan makanan yang kita konsumsi selama hamil. Terkadang kita hanya perlu niat yang kuat dan melawan kemageran dalam mewujudkan ini. Hasrat rebahan saja saat hamil sungguh kuat, tapi ya harus dilawan. (Tapi tetap melihat kondisi ibu hamil ya). Oh, dan tentu saja berharap sambil berdoa Allah akan memudahkan semua. And He will.

Perubahan rencana persalinan di usia kehamilan 33 minggu ini cukup membuatku galau. Awalnya aku sudah haqqul yaqin akan melahirkan di Sidoarjo, di sebuah klinik bersalin Papilio Natural birth Center dengan bidan baik hati bernama Bidan Wina. Bisa dibilang ini tempat persalinan impianku semenjak sebelum menikah (haha) karena review orang-orang yang kukenal tentang pengalaman melahirkan di Papilio yang sangat membahagiakan. Bidan Wina adalah Bidan Amani (akan kujelaskan habis gini) dan sati visi lah denganku dan suami. Selain itu, fasilitas disana sangat dreamy untuk ibu-ibu baru dan sulit ditemukan di RS-RS bersalin di Surabaya. Ibu melahirkan diperlakukan seperti ratu ._. dipijat, diafirmasi positif, dikasih makanan enak-enak sesuai request, gak digupuhi, wkwk. Sangat recommended.

Amani Birth, dalam akun Facebook resminya,

… sebuah filosofi untuk mempercayai desain Allah yang sempurna terhadap tubuh seorang wanita dan sebuah program untuk mengedukasi wanita tentang bagaimana tubuh mereka bekerja selama waktu yang diberkahi yaitu waktu kehamilan, persalinan, melahirkan, dan awal menjadi ibu.

Kamu bisa mengulik lebih jauh birth story ibu-ibu di seluruh dunia yang didampingi oleh dokter, bidan, maupun doula (pendamping kelahiran) yang berprinsip Amani. Dalam praktiknya, proses persalinan kemungkinan besar akan diiringi dengan kalimat-kalimat thayyibah, alunan murottal alquran, makanan-makanan sunnah, sambil teknik persalinan Maryam. Lagi, ini semua kembali ke nilai/values yang dipegang ayah dan ibu ya. Karena mungkin ada calon ayah-ibu yang sedari awal sudah sreg dengan alunan musik klasik, atau alunan musik relaksasi hypnobirthing.

Singkat cerita, karena satu dan lain hal, aku dan suami akhirnya memutuskan untuk bersalin di Jakarta, sesuai domisili kami saat ini. Tantangannya adalah… mencari provider yang satu visi, seperti di Papilio.

Pencarian lewat Google kutelusuri, mencoba berbagai kata kunci; Bidan Amani Jakarta Selatan, dll, dsb. Bertanya sana dan sini, namun hari berganti, tak kunjung menemukan yang pas. Sebentar, ini Jakarta lho. Masak nggak ada? Ohya, aku menghindari rumah sakit, karena… stigma rumah sakit dan dokter kok masih terasa menyeramkan bagiku, mungkin ada hubungannya sama abortus (keguguran) pertamaku ya.

Alhamdulillah, senior SMA-ku Mbak Endita menyebutkan beberapa nama Bidan yang pro gentle birth di Jabodetabek, tapi belum tentu bersertifikat Amani. Ini jadi tugasku untuk mengulik lebih jauh.

  1. Rumah Bersalin Anny Rahardjo

Jl. H. Taiman No.1, RT.3/RW.10, Kelurahan Gedong, Kec. Ps. Rebo, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13760

Hampir 40 tahun, Eyang Anny (panggilan akrabnya) menjadi bidan dan mendampingi ribuan bahkan mungkin puluh ribuan proses persalinan. Tempat praktiknya di Pasar Rebo, sekitar 7 kilo dari tempat kami di Pasar Minggu. Walau berbentuk klinik, tapi lumayan homey lha, jadi ada 2 tempat terpisah yang saling berhadapan. Yang satu untuk bersalin dan kamar-kamarnya, yang kedua untuk pendaftaran, kontrol, pijat dan spa bayi.

Kami disambut oleh Ibu-ibu yang saat itu bertugas sebagai bidan. Penjelasannya cukup informatif dan bersahabat walau di beberapa bagian aku agak kurang sreg karena radak ngegas. Usut punya usut, ybs orang Surabaya sama sepertiku. Mungkin darah areknya melompat-ketika ketemu bolone. Ea.

Alhamdulillah saat itu hanya ada 1 orang yang kontrol, sehingga aku tidak perlu menunggu terlalu lama. Kesan pertama bertemu Eyang Anny: seperti eyang sendiri. Sangat mengayomi dan kerut-kerut wajahnya seperti jadi saksi kelahiran ribuan generasi. Sangar. Walau senior gitu, aku melihat banyak piagam dan sertifikat yang beliau upayakan, salah satunya AMANI. Artinya, sekalipun senior, bidan Anny tidak menutup dari perkembangan ilmu kebidanan dan persalinan. Persyaratan wajib dan utama yang kusematkan pada provider, seperti persalinan alami tanpa intervensi medis, rooming-in, IMD, penundaan pemotongan plasenta, cek, cek, cek, cek. Aman. Tinggal sreg-tidaknya dengan bidan yang menangani. Jadi kalau di Eyang Anny, bukan beliau yang memegang persalinan karena usia yang sudah 67, tapi bidan-bidan terbaiknya, beliau mendampingi dari awal persalinan sampai akhir. Biaya? Agak sedikit lebih mahal daripada Papilio, tapi fasilitas diluar wajib (persalinan dan kamar) yang didapat seperti: post-partum massage, facial, pijat laktasi, serta komitmen mereka untuk tidak memulangkan ibu sebelum ASI-nya keluar dan memastikan ayah bisa memandikan bayinya, menurutku harga segitu sangat worth it.

2. Bidan Erie Marjoko

Kampung Utan Jaya No. 46, RT. 8/4, Jl. Raya Citayam, Rw. Panjang, Kec. Bojong Gede, Kota Depok, Jawa Barat 16920

Bidan Erie adalah bidan gumbulan gentle-birth nya Bidan Yesie, wkk. Bedanya, beliau lebih… islami. Wkk. Postingannya sangat positif dan selalu menyelipkan keyakinan kepada pertolongan dari Allah. Banyak bidan pro gentle birth tapi tetap menerapkan prinsip-prinsip dasar ketuhanan itu, salah satunya bidan Erie di Citayam dan bidan Desi di Bekasi. Bidan Erie sudah sering mendapat klien artis-artis. Wkk. Dengan bidan Erie, aku belum sempat berkunjung ke tempatnya di Citayam, Depok karena kendala waktu dan jarak. Namun berdasar informasi yang kuhimpun, tempat bersalinnya seperti rumah, tidak ada kesan medisnya sama sekali wkk. Tapi untuk mencapai RB ini, disarankan untuk memakai kendaraan umum atau motor, karena lokasinya cukup masuk ke dalam.

Biaya? Nah, cukup sulit menemukan price-list Bidan Erie di Internet, tapi aku nemu juga. Wkk. Dan cukup waw masya Allah biayanya.

3. Bidan Desi

Jl. K. H. Muchtar Tabrani No.37, RT.003/RW.003, Perwira, Kec. Bekasi Utara, Kota Bks, Jawa Barat 17124

Bidan terakhir yang direkomendasikan Mbak Endita. Berlokasi di Bekasi, 7 kilo dari stasiun Bekasi, Bidan Desi cukup terkenal karena selain (jelas) pro normal dan sudah menangani banyak kasus VBAC, sungsang, terlilit tali pusar dll, beliau juga menerapkan prinsip-prinspi AMANI dalam persalinan. Afirmasi positif, suasana yang mendukung, semuanya sangat membuat nyaman. Ngomongnya lembut dan sabar banget, sering buka Q&A di Instagram.

Nah, biaya persalinan disini yang aku belum temukan.

Ohya, ketiga bidan itu tidak melakukan USG ya, jadi mereka bekerja sama dengan dokter sevisi dan punya jadwal periksa di rumah bersalin itu. Nah, sayangnya sejauh pengamatanku belum ada Obgyn perempuan di 3 tempat itu. Tapi bagi yang keberatan, kamu bisa USG di tempat lain kok.

Sekali lagi, semua pencarian ini adalah ikhtiar untuk mendpatkan pengalaman jihad persalinan yang semoga semakin menambah keimanan. Aku cukup getol disini karena pengalaman persalinan berkaitan erat dengan fase menyusui dan pengasuhan di tahun-tahun berikutnya. Baby blues, PPD, bisa sedikit dihindarkan ketika trauma saat melahirkan sudah diminimalisasi. Pengalaman melahirkan bukan hanya milik ibu dan bayi yang merekam di alam bawah sadarnya (berpengaruh dari ketenangan, rewel, dll, dsb), juga kepada suami, orang tua, dan teman-teman yang diceritakan birth-story-nya. Ingin sekali aku kelak bercerita bahwa melahirkan itu tidak semenyeramkan itu kok.

Yah, semoga Allah meridhoi upaya-upaya kita.

Sedikit tentang Gentle Birth

Sejak sebelum menikah dan punya anak, aku sudah bercita-cita yang cukup spesifik tentang proses melahirkan: tidak mau dijahit. .. …

Eh, tapi apakah bisa?

Kehamilan, menyusui, dan semua hal tentang 1000 hari pertama manusia di dunia adalah bab-bab yang tak pernah kupelajari secara detail dan serius saat belum menikah.  Aku lebih tertarik isu-isu parenting atau pernikahan (uhui). Satu, karena belum tertarik dan terasa tidak relevan dengan situasiku yang saat itu single, free, dan loncat-loncat (membayangkan diri kepayahan mengandung calon manusia di perut selama 9 bulan itu….. seram), dua, karena… ya terlalu teknis saja. Tidak aplikatif.

Sampailah aku menikah, dan langsung dipercayai Allah satu janin. Wow. Turbulensi emosi dan fisik menerpa di minggu-minggu awal. Secara garis besar, aku sudah punya gambaran tentang proses lahiran yang seperti apa yang kumau, itu berbekal info dari kanan-kiri saja sih. Qadarullah, Allah belum menakdirkanku untuk menjadi rumah bagi janin kecil itu. Semoga kita berjumpa di surga ya, Kakak..

Beberapa bulan kemudian, testpack bergaris dua samar. Mulai saat itu, aku lebih serius menekuni proses kehamilan ini. Mulai dari baca-baca artikel di BidanKita, babycenter.uk, sampai asianparenting.id.

Gentle Birth itu apa sih?

Intinya itu adalah sebuah filosofi melahirkan dengan tenang, nyaman, dan minim trauma. Proses melahirkan adalah proses yang alami dan unik, Allah sudah menciptakan tubuh perempuan untuk mampu mengemban tugas peradaban ini. Sebenarnya ini metode lama dengan nama baru.

Yang paling kugarisbawahi adalah melahirkan minim trauma. Mengingat diriku adalah wanita yang gampang trauma medis, wkk, baik secara psikis maupun fisik (aku punya bakat keloid– sehingga luka dalam selalu menimbulkan bekas yang tidak bisa hilang di kulit). Semakin mendalami Gentle Birth, aku semakin disadarkan bahwa melahirkan sambil senyum-senyum itu bisa banget! Selama ini kita selalu lihat di scene film atau cerita orang-orang, gimana mereka melahirkan sambil teriak-teriak kesakitan, tapi ternyata hal-hal itu bisa dihindari, dengan Gentle Birth ini.

Kuncinya, menurut Bidan Yessi, ada tiga:

  1. Berdayakan diri

Ini jadi kunci paling penting. BELAJAR. Knowledge is power. Ya walau tidak seintens mahasiswa kebidanan atau spesialis obgin, minimal hal-hal terkait kehamilan dan persalinan deh. Mulai dari menjawab pertanyaan diri tentang kenapa sih harus gentle birth sampai ciri-ciri perkembangan janin di trimester kesatu sampai ketiga. Di TM 1, pusing-mual-susah makan jadi cobaan sehari-hari, di TM 2– galau nunggu dede bayi nendang-nendang, di TM 3 mulai susah tidur, gampang gerah, beugah sepanjang waktu wkk. Menyadari bahwa tubuh kita (ari-ari, plasenta, air ketuban, uterus, rahim) semua sedang bekerja sama melakukan tugas menjaga calon pemimpin bangsa itu sungguh… luar biasa. Sehingga keluhan-keluhan itu bisa kita maknai sebagai mekanisme alami tubuh kita dalam penjagaan bayi yang dikandung.

Termasuk mengetahui tanda-tanda persalinan, Karena terkadang intervensi-intervensi medis saat menjelang persalinan itu tidak perlu dan karena kita yo-yo aja (karena nggak ngerti sama apa yang sedang terjadi). Mulai dari membedakan kontraksi palsu, mengatasi ketuban pecah dini, mengenal proses induksi..

Banyak ya… wkk. Semua harus dipelajari tuk menghindari diri dan bayi kita dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

2. Menguasai nafas

Ini juga sih. Kunci dari melahirkan tenang adalah nafas yang dikontrol. Saat kontraksi (gelombang cinta) datang, itu katanya kan.. sakit pol ya, nah itu diatasi dengan mengatur teknik pernapasan. Lagi, semua proses kontraksi itu dimaknai sebagai mekanisme alami perempuan yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah. Kita mengingat lagi bahwa semakin sering kontraksi, semakin dekat kita dengan pertemuan dengan dede bayi, semakin besar pula pahala jihadnya. Kemudian mengejan dengan teknik belly birthing, atau napas perut. Teknik ini sangat membantu dalam kelahiran dede bayi. Hal-hal terkait nafas ini, harus dilatih dan dibiasakan setiap hari sebelum kelahiran, minimal di tiga bulan akhir kehamilan. Tidak bisa ujug-ujug muncul saat hari H.

Sugestiku pada bayi: Dek, nanti ibu napas perut sekali aja, kamu langsung keluar ya. Hehe

3. Menemukan provider yang sevisi

Melahirkan membutuhkan support system yang baik. Ibarat kerja sama, keluarga termasuk suami, orangtua, dan juga tenaga kesehatan yang membantu proses kelahiran bersatu padu membantu kelahiran generasi penerus ini. Wkkk. Alhamdulillah, semenjak kuliah aku mendapat cerita melahirkan yang sangat positif dari Mbak Dhia. Beliau bilang, melahirkan anak ketiganya ini sungguh berkesan. Dia merasa nyaman, aman, dan sangat dimanusiakan, lebih dari sekadar gentle birth biasa. Nama kliniknya  Papilio Natural Birth Clinic, di Sidoarjo. Banyak dari pasien-pasiennya dibuat ketagihan untuk hamil dan melahirkan lagi (setidaknya itu yang kubaca dari komentar-komentar mereka) bonus bebas jahitan lagi!! Wow mimpiku..

Saat melakukan riset di klinik ini, aku semakin dibuat kesengsem dengan prinsip-prinsip Islaminya. Mulai dari murottal yang diputar, mindset iman tentang kelahiran, keyakinan akan pertolongan Allah. Keren deh. Lalu aku tahu bahwa Bidan Wina adalah penekun Amani Birth juga. Itu, gentle birth Islami dan Syari gitu.

Nah, menemukan provider/ tenaga kesehatan yang pro alami ini susah-susah gampang. Tetapi banyak cara, bisa dengan melakukan touring ke rumah sakit-rumah sakit, menyiapkan daftar pertanyaan untuk ditanyakan, melihat kondisi ruangan, atau riset ke orang-orang yang pernah melahirkan disana. Untuk plan A, aku mantap di Papilio, untuk plan B, insya Allah RSI Jemursari. Karena pengalaman Mbak Erma dan mbak-mbak yang kutahu, RSI Jemur sudah punya sistem yang pro-alami. Termasuk nakes yang ramah (wow ini sangat penting untuk membuat Ibu nyaman) sampai inisiasi menyusui dini (IMD).  Tinggal pilih Obgyn yang bekepribadian ramah atau irit bicara. Wk.

Yah, segitu saja info dariku yang 2 bulan lagi insya Allah melahirkan. Semoga bermanfaat.