Gapapa, Ibu

Aku terhenyak pertama kali ketika mendengar Langit bilang kata itu, “Gapapa, Ibu.” saat kami bermain badminton ala-ala dengan raket yang diganti mangkuk plastik, setelah insiden tantrum sebelumnya. Ia bilang itu saat lemparanku meleset, dan aku berkomentar “Yaaahhhhhh… “

“Gapapa, Bu..”

Terpana, lalu sedetik kemudian aku menanggapi, “Iya Langit, kita coba lagi yaa..”

Aku tidak ingat kapan pernah mengajarinya secara khusus tentang menerima kesalahan atau saat gagal melakukan sesuatu (jatuh dari mobil mainan, meleset saat melempar, menumpahkan minuman/makanan saat mencoba mengambilnya dari meja, dll) sebagai sesuatu yang wajar dan bisa kita perbaiki setelahnya.

Hari ini aku lelah sekali. Tangki cintaku dalam kondisi menuju minus tapi seringkali diuji dengan perilaku Langit yang menantang, tantrum, misalnya. Tantrum menuju dua tahun sekarang minimal sekali sehari. Proses sapih yang di depan mata juga cukup menguras hati dan pikiranku. Anak ini makin di-sounding makin sering frekuensi nempel nya.

Dari semua meltdown Langit hari ini, aku mencatat respon-responku sangat bervariasi. Ingin aku fokus pada 40% respon yang sangat aku hindari tapi aku lakukan.

Ketika dia begitu keukeuh dengan keinginannya untuk bermain di playground siang bolong panas kentang dan bermain air selang menyiram tanaman, aku sebenarnya sadar bahwa fitrah belajarnya tengah bekerja. Tapi aku lelah, aku tidak mau mengikuti mainnya dengan sedikit conscious bahwa aku tidak boleh kalah darinya, dia belum makan siang dan sekarang waktunya makan siang.

Aku seharusnya menahan urat lelahku sejenak dan memberinya sedikit kesempatan untuk melepas rasa penasarannya, sambil terus memberi tahunya tentang jadwal hari ini.

But I didn’t.

Aku menarik tangannya, melepas paksa cengkraman tangannya dari selang lalu menggendongnya paksa, oh tak lupa “Langit sekarang waktunya makan!” yang seperti desisan berefek mendidih di kepala. Tantrum semakin bertambah dengan trigger baru yaitu tidak mau dilepas sandalnya masuk rumah.

Siangku terasa lama dengan tangisan Langit sebagai background serta pikiran-pikiran buruk dan logika belajar parenting yang saling kejar-mengejar. Tapi satu hal yang mencolok di pikiranku adalah aku harus menyelamatkan diriku, aku harus ambil time-out. Kalau tidak, mungkin aku akan melakukan hal yang jauh membuatku menyesal nantinya.

Aku bilang, “Langit ibu sedang marah juga dan sekarang ibu mau ambil wudhu.” Lalu aku tinggalkan dia di depan kamar mandi.

This journey is hard, but also beautiful.

Di momen-momen Langit secara mengagumkan bilang “Gapapa Ibu,” saat kami bermain setelahnya, seperti guyuran air untukku yang sedang terdistrak perasaan gagal menjaga emosi, merasa bersalah, dan merasa buruk setelah menerka-nerka berapa persen sinaps otaknya terputus karena ketidaksabaranku.

We make mistakes too in parenting. We sometimes lose our patience. It is okay. Tidak apa-apa. Besok kita perbaiki.

Langit, terima kasih sudah mengingatkan Ibu :’)

Dear Langit

Months after your presence in this whole new world, I kinda obliviate some uneasy memories related to your birth. And no, that was not your fault, or my fault. We two had difficult journey. But thank Allah, now we– or I, can talk about it in just daily tone. I guess I am a master of story telling about my delivery.

And I still remember vividly how difficult it was to connect to you by heart. I just thought that I need to follow the script written for me– loving you. It was scary at times, but I am glad that I didn’t give up finding out.
Some say that it is only the brave who can love, so I hush my fear little by little. I tried to find out what actually happened to you, to me.
Along the way, I know that I have this little kid inside me who craves for attention and love. This little kid was hiding when I feel great or useful– well, when I did something that I think good, or when I learn those parenting lectures. But in my mind, she came up spontaneously in the middle of my presentation. Just like that annoying friend you considered a rival, testing you some questions that you don’t know the answer. It’s kinda hard to acknowledge that you have this impostor relationship syndrome to build an assertive communication to your spouse and child. I find it funny to realize that self-love— which I thought I confidently own before these new roles come—- now is confusing to define. It all leads to a question, who am I really? And I am still on that journey to find and love my new version. To remember the pounding heart feeling comes alive again, in me. Everyday I try to fill my cups of love. In every way possible.

But you know what, it is so easy to love you. It is so easy to remember all the details of your face. That you have a really smooth eyebrows, that when you smile widely, your eyes shaped a crescent, that I don’t know whether it’s a pair of dimples or just chubby cheeks you have, i’ll wait few more years
to confirm.

It is so easy to love you, and by the time, I am surely sure that I love you so much, that I want to scream it on the top of the mountain. It’s an overwhelmed beautiful feeling I’ve ever known. I love you this big and no one has ever seen this big.

I love you in a point that I am afraid I make mistakes in loving you. But I’ll love you anyway. Previously I’ve learnt that it is perfectly fine to feel lost in this whole journey of loving. That it is okay to admit mistakes and go on.

That somehow such intense emotion or misunderstanding is a wave, not the ocean. It’s a cloud, not the sky.
I can’t wait to listen to all your stories. I am going to be your number one fan, before anyone else.




Menemani Langit

Di usia Langit 10 bulan, waktu main bareng, sambil dia ngelihatin mainan atau bukunya, kadang aku suka bertanya-tanya dalam hati, kapan ya Langit bisa paham sama instruksi sederhana? Kapan ya dia ngeh binatang yang kutunjukkin ini namanya kucing, sapi, kuda….

Kadang kalau dipikir-pikir, pusing juga nungguin momen-momen itu terjadi. Apalagi dengan secara sadar atau tidak sadar membandingkan dengan anak-anak lain yang seumuran di sekitar Langit. Perasaan anak ini udah bisa masuk-masukin bola ke kotak, Langit kok malah bolanya kalo ga dimasukin mulut, dilempar-lempar yaa? 😭

Semakin kesini, semakin berupaya memahami apa yang sebenarnya terjadi sama Langit, semakin aku lebih bisa menerima. Aku ngerasain dampak positifnya ke diriku sendiri ketika coba membersamai Langit dengan lebih mindful. Jadi less-stress!

Alih-alih nyeruput susu UHT dari sedotan, Langit malah numpahin ke meja dan nunduklah dia, diseruput langsung dari meja.. Niru mpus, gais..

Sambil terus kuawasi dan selamantidak membahaakan, aku sekarang lebih ngikutin maunya dia. Saat makan maupun main. Termasuk nyeruput susu, air, maupun kuah langsung dari meja booster seat-nya. Kata dokter Adillah, Salah satu dokter spesialis anak yang fokus sama gangguan sensori dan makan, ada 1001 cara makanan bisa masuk ke mulut anak yang baru belajar makan. Termasuk lewat nyeruput langsung ke mulut. Jika hal ini aku tidak ingat, pastilah murka diriku melihat bayiku cosplay kucing minum air….. Dan semakin rusaklah atmosfer makan yang menyenangkan. Akan muncul trauma buat Langit dengan apapun yang berkaitan dengan makanan. Hm.

Di titik ini, aku merasa perkataan mbak Vidya, salah satu pegiat Montessori, sungguh benar adanya. Menuntut ilmu tentang pengasuhan adalah cara kita melindungi anak-anak kita dari hal-hal yang akan membahayakannya.

Setelah lebih paham dengan kebutuhan motorik kasar dan halus Langit, aku sekarang lebih santuy kalo Langit obok-obok mangkuk makannya waktu dia udah mulai kenyang. Dia sedang merasakan kuah soto yang masih hangat, dengan beberapa biji nasi di dalamnya. Aku biarkan dia nyendokin kuah ke mulutnya, mengingat bahwa ada koordinasi tangan dan mulut Langit yang bekerja sama untuk menerima suapan. Hal sederhana yang ternyata sulit lhoo untuk bayii. Yaa walau kadang lebih sering sendoknya nyampai mulut udah kosong karena udah tumpah duluan kena kaus kutangg (kostum Langit waktu makan selalu kaus kutangg karena kalau baju pusing bun mbersihinnya…)

Lantai jelas lebih lengket yha, harus siap beresin satu persatu remahan nasi, dan kuah-kuahnya yang dilempar-lempar kemana-mana oleh tuan muda. Tapi, dibanding dulu yang sampai nangis bombay mberesinnya, wkwk, karena membayangkan soronya nyiapin makan yang berakhir jadi rizki semut, sekarang aku lebih woles. Ini konsekuensi Langit belajar mandiri. Lantai kotor tinggal lap, bersihkan. Sambil terus ku-sounding tentang syukur bisa makan, dan membiarkannya melihatku dari kursi makannya konsisten membersihkan dibawahnya. Sungguh Langit sudah seperti raja pada bawahan. Mana kadang waktu lantai udah bersih, dilemparin lagi sama dia makanan yang dia pegang dari atas booster chair. Hm… Inhale.. Exhale..

Kenapa begitu Langit? Oohh membuktikan teori gravitasi ya? Ok.. Besok-besok Langit sendiri ya yang membereskan makanan Langit..

Tapi hari ini Langit mencatatkan beberapa pencapaian yang cukup mencengangkanku. Saat melepas baju untuk mandi, tangan kecilnya mengambil bajunya dari tanganku dan perlahan meletakkannya di keranjang baju kotor 😭 padahal nggak pernah ada yang sengaja ngajarin.

Juga saat ia mengacak-acak keju di lantai, sesaat ia pergi dan kembali dengan sehelai tissu yang ia gosokkan seadanya ke lantai 😭

Fitrah anak itu suka kebersihan, jika dia di biarkan makannya sendiri, lama-lama alarm tubuhnya akan memberi sinyal tidak nyaman. Sehingga dia akan tergerak membersihkan atau melakukan hal yang biasa orangtua lakukan. Disinilah menurutku peran ortu, memberi contoh.

Belum lagi ingatannya akan hal-hal dan situasi seperti cicak yang bersembunyi di balik pigura, pesawat yang melintas, kuah sup yang panas… Semua indranya tengah melesat pesat.

Perjalanan masih panjang, hati dan pikiranku akan terus cari cara, mencari tahu, mencari makna, dari setiap hal yang dilakukan guru kecilku. Aku ingin membersamai fitrahnya dengan hati yang lapang. Selapang-lapangnya Langit, tempat dimana kekuasaan Allah tunjukkan, kadang tampak jauh dan tidak terdefinisi, kadang sangat cerah dan seterang kertas putih. Hal-hal yang pula terjadi dalam diri anak kami, silih berganti.

Semoga Allah jaga kita ya, nak..

Catatan Pukul 2.

Beberapa hari ini pola tidur Langit berubah. Setiap akan tidur, ia akan menangis dan hanya ingin digendong. Hari-hari pertama masih OK, aku merasa percaya diri dan mencoba memahami perubahan alami bayi yang masuk 3 bulan.

Namun hari ini berbeda, entah kenapa segalanya jadi terasa berat. Selain karena Langit yang memang berat (6 sekian kilo), sembari mengayun-ayunnya dengan latar suara tangisnya, pikiran-pikiran lalu lalang di kepalaku. Mulai daru merasa aku tidak mampu, merasa akan kehabisan tenaga di tengah-tengah, sampai merasa waktu berdetak sangat pelan.

Di tengah-tengah waktu yang happy dan fun (tentu bukan mau tidur 😂) aku perlahan menatapnya yang bersemangat babbling, kuanggap ia bicara padaku…

“Ibu, semangat yaa nemenin akuu. Ibu pasti bisa! Ibu nggak sendiri kok, Allah nemenin ibu, mengamati Ibu, Allah pasti akan menguatkan Ibu. Ibu jangan menyerah ya, insya allah aku kayak gini nggak lama. Ibu sabar sebentar yaaa. Ibu semangaat, aku percaya sama Ibu.”

Menganggap Langit sedang mengapresiasi dan menyemangatiku membuatku merasa lebih baik. Aku ingat lagi, tiga hal yang kurasa akan jadi mantra untuk diingat di saat-saat lelah: Pertama, Langit adalah amanah yang Allah percayakan. Kedua, masa-masa ini akan berakhir– aku akan menceritakan hari ini di masa depan dengan senyum dan lega, Ketiga, Allah adalah sebaik-baiknya pengamat. Allah menyimak, Ia yang amanahi, ia pula yang pasti akan memampukanku.

Semoga Allah berkenan menerima dan mencatatnya sebagai ibadah, walau kadang akunya yang serrrriiing compang-camping dalam amanah ini.

Semangat, Ibu.

Kamis, 5 Maret 2020

i think this is the worst of all.

semoga Allah mengampuniku, atas segala hal yang ia berikan padaku namun tak aku syukuri dan manfaatkan. waktu luang, kesempatan menjadi istri dan ibu. hari kesekian saat sendiri dengan lantai yang lengket, kamar mandi yang bermasalah, kamar yang berantakan, daun katuk yang bereda di lantai dapur, makanan sisa 2 hari lalu yang belum dibuang, sampah yang penuh, baju yang belum dicuci, keset dan sandal yang harus disikat, Langit yang menangis dan kesal belum disusui sampai tertidur dan mengantuk, lemari yang berantakan, belum mandi, belum solat dhuhur, melewatkan shalat malam, dhuha, telat shalat subuh (dan mulai merasa biasa saja), tidak pintar finansial, tidak berbakat apapun, tidak fokus, berantakan.

Kasihan sekali jadi Langit. Kasihan yang jadi suamiku.

Postingan2 tentang motherhood membuatku sedikit lebih baik tapi setelah keluar dari sana, dan menemui lagi apa yang kurasakan, sulit ya.

Tapi mungkin aku yang terlalu mengglorifikasi baby blues, atau terlalu terpengaruh omongan luar, atau apa saja.

Aku harap Langit juga menyayangiku, walau ia akhir-akhir ini sulit ditenangkan, aku harap ia melihatku berusaha menjadi Ibu yang baik. Aku harap ia menyampaikannya padaku. Aku tau ini tidak baik, aku tahu ini semua seharusnya bisa kukontrol, but sometimes it’s just overwhelming. It doesnt explode, i think it will never, it just there and loaded.

And here I am trying to hug them all, but my arms are small. I cant cope such things. Im maybe limiting my potential or stuffs, but wait… do I have such thing?

I hope allah forgive me.

 

I know I have to remind myself about all shits i’ve told people and written here. I found myself damn scary after smiling widely to neighbor and mom in law in vidcall, cause right after that, I wail silently. It’s confusing, it hurts, it saddens me more. I ew myself. I should remember Allah. I think all of this mess starts from todays missing tahajud and subuh. I told Allah yesterday that I want to be better in this and that, I asked Allah to accompany me in thia huge gigantic task and transition,

but I missed everything in the next day. I am such a mess. Perfectly mess. It’s been validated by everything around me. Maybe. But who knows?

but i hope Langit is okay, Langit is happy with me. So with tears and running nose, I kept talking to him cheerfully. I rock him while looking in the mirror, and i found me. I hope it’s okay. I hope he will forget this mess. He will, right son?

I will delete this post.

Dengan Seseorang

 Be with someone who can embrace your quirks.

Itu adalah kutipan yang sering mampir di lini masa beberapa dari kita, baik di tumblr, maupun caption Instagram. Dengan dimaksudkan untuk menyinggung perkara persahabatan atau romansa antara laki-laki perempuan dan jadi dasar atas keinginan kita untuk dimengerti, diterima dengan sederhana dan apa adanya.

Baiklah, sampai disini, kutipan itu sungguh terdengar unyu dan dreamy.

Disclaimer, seperti halnya orang lain, aku menyadari aku memiliki banyak lapisan. Dan aku selalu memilih akan menunjukkan sisi apa kepada siapa. Tapi karena udah kadung nulis, ya nulis aja lha yha. Aku ingin merefleksikan kutipan dreamy tapi bener diatas dengan situasi terkiniku yang sedang menganu pernikahan. Izinkan aku menambah satu poin lagi tentang hal yang terpenting;

Be someone who adores your weirdness and pushes you to be better person.

Pertama, aku nggak tahu suamiku itu… beneran adore my weirdness atau ngempet-ngempet kemangkelannya ketika menghadapi kebodohan-kebodohanku secara live, di 3 bulan pernikahan kami. Beberapa kali kulihat dia geleng-geleng, menggumam entah apa, dan beristighfar.  Ada pula respon tambahan berupa ketawa (ini melegakan, berarti dia mungkin memaklumi) ada juga jutek yang tidak sedap (urhm, ini dia sedang ngempet kesal). Sekali lagi, aku juga belum mendapat kepastian apakah ia benar nyaman dengan keanehanku yang sudah diwanti teman-temanku padanya sebelum menikah, baik dalam kelakuan sehari-hari, saat travelling, maupun saat bingung dan terdesak. Weirdness yang tidak selalu lucu, kadang juga bisa berkembang jadi ngeselin dan bikin emosi. #istrihausvalidasi.

Push you to be better person.

Poin kedua ini cukup penting. Ini jadi hal yang diidamkan ketika bersatu dengan seseorang kan? Dan dengan mantap kujawab, ya. Kurasa, dengannya, aku menjadi lebih baik. Banyak aspek dalam hidup yang bisa jadi indikatornya; bisa dari segi ibadah jadi lebih deket sama Allah. Kalau kasus kami, mungkin untuk kuantitas memang perlu diistiqomahkan, tapi darinya, aku jadi berdoa lebih khusyuk, meminta supaya kami diberi Allah kesempatan untuk mengenal-Nya lebih dalam lewat terwujudnya mimpi-mimpi kami sampai meminta supaya Allah meridhoi upaya-upaya kami menjalankan peran suami-istri. Dulu, sebelum menikah, aku mengganti redaksi doa jodoh’ku dengan mendoakan calon suami yang entah dimana dan bertemu kapan untuk dimudahkan urusan-urusannya, dikuatkan langkah-langkahnya, dan diridhoi upaya-upayanya. Saat ini, dengan suami yang jadi jawaban doaku dulu, aku jadi lebih mantap gitu dalam berdoa. Kurasa, hal kecil seperti ini yang bisa jadi parameter sederhana bahwa dengannya, ya, aku merasa bertumbuh menjadi seseorang yang lebih khusyuk dalam meminta. Hehe.

Dari segi pengembangan diri, bersama orang yang tepat, kita akan jadi lebih produktif dan mungkin menemukan potensi-potensi baru. Pertama kali merantau, dengan uang dari suami, aku cukup deg-degan dan kebingungan dalam mengelola duit yang bukan kudapat sendiri itu, yha tentu saja PR dalam bab ini masih banyak. Selain itu, aku juga terharu dengan kebisaanku mengolah masakan. Kadang agak terintimidasi juga sih menunggu respon suami saat suapan pertama mencoba, wkwk, tapi aku sangat menikmati proses memasak ini. Yha, walau nggak jago-jago amat.

Ia juga orang pertama yang mengingatkanku dengan cukup ngejleb (dengan caranya) tentang mimpiku yang tertunda itu. Sekolah lagi, ehe.

Tentang ini, mungkin butuh satu postingan baru untuk menjelaskan kemajumunduranku dalam mewujudkan mimpi S2 itu. Tapi, yang buatku nyess dan kemudian bersyukur adalah, dia mengingatkanku lagi tentang aku di beberapa tahun lalu. Dia, sebagai seorang senior idola rujukan semua juniornya yang galau dan butuh masukan, sempat menyimak kegelisahanku, kebingunganku, juga optimismeku tentang mengapa harus melanjutkan pendidikan. Salah satu alasan ia memilihku untuk dinikahi diantara segerombol mbak-mbak lain adalah karena, katanya, ia tertarik dengan mimpi-mimpi dan semangatku dalam mewujudkannya. Ia ingin ambil bagian, jadi suporter paling depan.

Dan beberapa saat kemudian setelah menikah, ketika kusampaikan kegamanganku dengan rencana itu, dengan sabar ia mendengarkan, walau kurasa dia agak kaget (atau sudah menerima) yha ternyata aku bisa juga sampai di titik mempertanyakan kembali tentang rencana-rencana itu. “Oh my God, tyydaaaac. kok istriqu tida lagi sekeren dan seambisius saat dulu belum meniqa“— Well… Nggak sih, itu bayanganku aja. Dia nggak sealay itu, luwwwls.

Tapi aku sungguh bersyukur, aku tidak merasa mengerdil ketika menyampaikannya. Respon mas-mas ini sungguh biasa aja, seperti yang kuceritakan itu hal yang memang kadang terjadi saat kita ingin mencapai sesuatu, memang suatu hal yang normal gitu. Ia mengingatkan hal terpenting dari semua itu; bahwa semua ini bukanlah tentang tercapainya mimpi, but it’s all about embracing the beauty of process. It’s all about giving a try on it. To give the best memories to tell to the children in the future. Hei, your parents are warrior. They dream with bismillah, and give the best ikhtiar on it, and let Allah finish the result.

Alhamdulillah, my husband does it. He reminds me, he supports me when I’m ready. Dia memberi feedback yang kubutuhkan. Karena sebenarnya aku mengira ia akan menumpahkan kekecewaannya gitu. Dia memberiku waktu untuk menelaah kembali, sembari mengingatkan bahwa ia selalu disitu, siap membantu dalam wujud apapun.

Jadi kalo boleh ditambahin frasanya, be with someone who accepts (embracing or adoring is such a strong and difficult word, let’s just lower our expectation, accepting is enough) madness (because weirdness is shallow, you might be weird, super ugly, disappointing in every bits, all at once.), and give you approppiate feed-backs in the right moment. Wkk.

Selamat 3 bulan, suamiku. Semoga Allah ridho atas kita.

 

Mengapa Menikah? (1)

Ini adalah pertanyaan paling basis yang seharusnya selesai terjawab bagi siapapun yang berkehendak menikah. Jelas dan tuntas.

Value atau prinsip-prinsip yamg dipercaya masing-masing orang terhadap pernikahan itu berbeda-beda. Ini yang bagiku menarik, bahasan tentang pernikahan sering kujumpai bahkan sejak aku sek semester 2.

“He, kon kapan nyusul?” saat mampir kondangan senior.

“Ihir. Ndang nikah.”

Menikah jadi seperti solusi permasalahan dunia. Pusing tugas, nikah. Galau skripsi, nikah. Naksir orang, namun hampa karena belum atau tyada bisa memiliki, jadi tetap memelihara bayangan tentang nikah dan yang enak-enaknya. Bahasan jadi seputar itu-itu aja. Ditambah, beberapa pihak yang berkontribusi memupuk angan-angan warga muda. Menerbangkan khayalan tentang indahnya jatuh cinta, namun tidak dengan persiapan-persiapan jatuh atau bertanggung jawab atasnya.

Menikah tampak menyenangkan, a dreamy place– where a never ending happiness happens.

Jadi, mengapa kamu menikah?

Salah seorang temanku yang saat ini memutuskan tidak akan menikah bilang, dua orang yang jatuh cinta, satu frekuensi dan satu visi tidak melulu kok harus disahkan di depan agama dan negara. Baginya, menikah toh hanya jadi legalitas tinggal hidup satu atap (biar tyda digrebek warga). Pingin punya anak? Masih banyak anak terlantar yang butuh dibesarkan dengan cinta juga. Belum lagi ketika ia menyinggung tentang ‘kejahatan pasangan yang menikah kepada anak-anak mereka kelak’ karena telah sengaja “menghadirkan” insan tidak berdosa untuk hidup dan bertahan di dunia yang keras oleh ketidakadilan manusia-manusia dewasa ini, korupsi yang sistemik, dunia yang sesak, persediaan air yang semakin menipis, dan udara yang semakin tercemar.

Well. Membicarakan pernikahan dari sudut pandang itu mungkin butuh diskusi dan satu postingan utuh yang lebih panjang. Singkatnya, aku tidak sepakat dengan pendapat-pendapat itu. Walau aku fully aware dengan kompleksnya problematika dunia saat ini, aku tetap ingin menikah.

Di sisi lain, jika kita mau membuka mata lebih lebar, mendengar lebih peka, akan banyak lho kita temui kisah-kisah pilu tentang pernikahan. Yang tidak siap dengan perbedaan antara sebelum dan sesudah pernikahan, innerchild yang belum tuntas, dianugerahi anak spesial, orang ketiga dari masa lalu yang tiba-tiba muncul, masalah finansial, belum lagi perselisihan dengan keluarga pasangan, perasaan jenuh dan bosan…. dan lainnya. Banyak banget. 😅

Jadi, mengapa menikah?

Kembali kugarisbawahi. Apa nilai yang kita percaya?

Sejak awal, aku percaya bahwa menikah adalah sarana.
Ia ibarat mobil yang membawaku ke tujuan penciptaan manusia: beribadah. Visi hidupku. Visi dunia dan akhiratku.

Menikah adalah sarana beribadah menuju pertemuan dengan Allah di surga dengan mulia.

Dengan mengenali visi diri dan tujuan penciptaan, maka alasan kenapa menikah jadi terang diucapkan.

Ketika memiliki visi hidup, mengenali diri lebih baik, akan lebih mudah bagiku dalam memanfaatkan waktu dan Allah akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang bervisi sama, berfrekuensi satu.

Idealnya, menikah akan menambah dinamo baru untuk saling mendukung dalam bertumbuh dan menggapai cita-cita. Mimpi pribadi yang jadi mimpi bersama.

Sungguh aku sangat menyadari, dengan berbedanya karakterku dengan suami, akan ada friksi kecil sampai besar yang akan muncul. Dari tiap hal yang kami berdua lakukan, baik dalam support untuk aktivitas masing-masing, penyusunan mimpi jangka panjang keluarga hingga pekerjaan rumah tangga, kami ingin lakukan dalam bingkai bertumbuh, fastabiqul khairat. Melakukan apapun sedari awal diniatkan untuk menjemput ridha dan berkah-Nya.

Jadi…

Kalau kamu, mengapa menikah?