Dear Langit

Months after your presence in this whole new world, I kinda obliviate some uneasy memories related to your birth. And no, that was not your fault, or my fault. We two had difficult journey. But thank Allah, now we– or I, can talk about it in just daily tone. I guess I am a master of story telling about my delivery.

And I still remember vividly how difficult it was to connect to you by heart. I just thought that I need to follow the script written for me– loving you. It was scary at times, but I am glad that I didn’t give up finding out.
Some say that it is only the brave who can love, so I hush my fear little by little. I tried to find out what actually happened to you, to me.
Along the way, I know that I have this little kid inside me who craves for attention and love. This little kid was hiding when I feel great or useful– well, when I did something that I think good, or when I learn those parenting lectures. But in my mind, she came up spontaneously in the middle of my presentation. Just like that annoying friend you considered a rival, testing you some questions that you don’t know the answer. It’s kinda hard to acknowledge that you have this impostor relationship syndrome to build an assertive communication to your spouse and child. I find it funny to realize that self-love— which I thought I confidently own before these new roles come—- now is confusing to define. It all leads to a question, who am I really? And I am still on that journey to find and love my new version. To remember the pounding heart feeling comes alive again, in me. Everyday I try to fill my cups of love. In every way possible.

But you know what, it is so easy to love you. It is so easy to remember all the details of your face. That you have a really smooth eyebrows, that when you smile widely, your eyes shaped a crescent, that I don’t know whether it’s a pair of dimples or just chubby cheeks you have, i’ll wait few more years
to confirm.

It is so easy to love you, and by the time, I am surely sure that I love you so much, that I want to scream it on the top of the mountain. It’s an overwhelmed beautiful feeling I’ve ever known. I love you this big and no one has ever seen this big.

I love you in a point that I am afraid I make mistakes in loving you. But I’ll love you anyway. Previously I’ve learnt that it is perfectly fine to feel lost in this whole journey of loving. That it is okay to admit mistakes and go on.

That somehow such intense emotion or misunderstanding is a wave, not the ocean. It’s a cloud, not the sky.
I can’t wait to listen to all your stories. I am going to be your number one fan, before anyone else.




Menemani Langit

Di usia Langit 10 bulan, waktu main bareng, sambil dia ngelihatin mainan atau bukunya, kadang aku suka bertanya-tanya dalam hati, kapan ya Langit bisa paham sama instruksi sederhana? Kapan ya dia ngeh binatang yang kutunjukkin ini namanya kucing, sapi, kuda….

Kadang kalau dipikir-pikir, pusing juga nungguin momen-momen itu terjadi. Apalagi dengan secara sadar atau tidak sadar membandingkan dengan anak-anak lain yang seumuran di sekitar Langit. Perasaan anak ini udah bisa masuk-masukin bola ke kotak, Langit kok malah bolanya kalo ga dimasukin mulut, dilempar-lempar yaa? 😭

Semakin kesini, semakin berupaya memahami apa yang sebenarnya terjadi sama Langit, semakin aku lebih bisa menerima. Aku ngerasain dampak positifnya ke diriku sendiri ketika coba membersamai Langit dengan lebih mindful. Jadi less-stress!

Alih-alih nyeruput susu UHT dari sedotan, Langit malah numpahin ke meja dan nunduklah dia, diseruput langsung dari meja.. Niru mpus, gais..

Sambil terus kuawasi dan selamantidak membahaakan, aku sekarang lebih ngikutin maunya dia. Saat makan maupun main. Termasuk nyeruput susu, air, maupun kuah langsung dari meja booster seat-nya. Kata dokter Adillah, Salah satu dokter spesialis anak yang fokus sama gangguan sensori dan makan, ada 1001 cara makanan bisa masuk ke mulut anak yang baru belajar makan. Termasuk lewat nyeruput langsung ke mulut. Jika hal ini aku tidak ingat, pastilah murka diriku melihat bayiku cosplay kucing minum air….. Dan semakin rusaklah atmosfer makan yang menyenangkan. Akan muncul trauma buat Langit dengan apapun yang berkaitan dengan makanan. Hm.

Di titik ini, aku merasa perkataan mbak Vidya, salah satu pegiat Montessori, sungguh benar adanya. Menuntut ilmu tentang pengasuhan adalah cara kita melindungi anak-anak kita dari hal-hal yang akan membahayakannya.

Setelah lebih paham dengan kebutuhan motorik kasar dan halus Langit, aku sekarang lebih santuy kalo Langit obok-obok mangkuk makannya waktu dia udah mulai kenyang. Dia sedang merasakan kuah soto yang masih hangat, dengan beberapa biji nasi di dalamnya. Aku biarkan dia nyendokin kuah ke mulutnya, mengingat bahwa ada koordinasi tangan dan mulut Langit yang bekerja sama untuk menerima suapan. Hal sederhana yang ternyata sulit lhoo untuk bayii. Yaa walau kadang lebih sering sendoknya nyampai mulut udah kosong karena udah tumpah duluan kena kaus kutangg (kostum Langit waktu makan selalu kaus kutangg karena kalau baju pusing bun mbersihinnya…)

Lantai jelas lebih lengket yha, harus siap beresin satu persatu remahan nasi, dan kuah-kuahnya yang dilempar-lempar kemana-mana oleh tuan muda. Tapi, dibanding dulu yang sampai nangis bombay mberesinnya, wkwk, karena membayangkan soronya nyiapin makan yang berakhir jadi rizki semut, sekarang aku lebih woles. Ini konsekuensi Langit belajar mandiri. Lantai kotor tinggal lap, bersihkan. Sambil terus ku-sounding tentang syukur bisa makan, dan membiarkannya melihatku dari kursi makannya konsisten membersihkan dibawahnya. Sungguh Langit sudah seperti raja pada bawahan. Mana kadang waktu lantai udah bersih, dilemparin lagi sama dia makanan yang dia pegang dari atas booster chair. Hm… Inhale.. Exhale..

Kenapa begitu Langit? Oohh membuktikan teori gravitasi ya? Ok.. Besok-besok Langit sendiri ya yang membereskan makanan Langit..

Tapi hari ini Langit mencatatkan beberapa pencapaian yang cukup mencengangkanku. Saat melepas baju untuk mandi, tangan kecilnya mengambil bajunya dari tanganku dan perlahan meletakkannya di keranjang baju kotor 😭 padahal nggak pernah ada yang sengaja ngajarin.

Juga saat ia mengacak-acak keju di lantai, sesaat ia pergi dan kembali dengan sehelai tissu yang ia gosokkan seadanya ke lantai 😭

Fitrah anak itu suka kebersihan, jika dia di biarkan makannya sendiri, lama-lama alarm tubuhnya akan memberi sinyal tidak nyaman. Sehingga dia akan tergerak membersihkan atau melakukan hal yang biasa orangtua lakukan. Disinilah menurutku peran ortu, memberi contoh.

Belum lagi ingatannya akan hal-hal dan situasi seperti cicak yang bersembunyi di balik pigura, pesawat yang melintas, kuah sup yang panas… Semua indranya tengah melesat pesat.

Perjalanan masih panjang, hati dan pikiranku akan terus cari cara, mencari tahu, mencari makna, dari setiap hal yang dilakukan guru kecilku. Aku ingin membersamai fitrahnya dengan hati yang lapang. Selapang-lapangnya Langit, tempat dimana kekuasaan Allah tunjukkan, kadang tampak jauh dan tidak terdefinisi, kadang sangat cerah dan seterang kertas putih. Hal-hal yang pula terjadi dalam diri anak kami, silih berganti.

Semoga Allah jaga kita ya, nak..

Catatan Pukul 2.

Beberapa hari ini pola tidur Langit berubah. Setiap akan tidur, ia akan menangis dan hanya ingin digendong. Hari-hari pertama masih OK, aku merasa percaya diri dan mencoba memahami perubahan alami bayi yang masuk 3 bulan.

Namun hari ini berbeda, entah kenapa segalanya jadi terasa berat. Selain karena Langit yang memang berat (6 sekian kilo), sembari mengayun-ayunnya dengan latar suara tangisnya, pikiran-pikiran lalu lalang di kepalaku. Mulai daru merasa aku tidak mampu, merasa akan kehabisan tenaga di tengah-tengah, sampai merasa waktu berdetak sangat pelan.

Di tengah-tengah waktu yang happy dan fun (tentu bukan mau tidur 😂) aku perlahan menatapnya yang bersemangat babbling, kuanggap ia bicara padaku…

“Ibu, semangat yaa nemenin akuu. Ibu pasti bisa! Ibu nggak sendiri kok, Allah nemenin ibu, mengamati Ibu, Allah pasti akan menguatkan Ibu. Ibu jangan menyerah ya, insya allah aku kayak gini nggak lama. Ibu sabar sebentar yaaa. Ibu semangaat, aku percaya sama Ibu.”

Menganggap Langit sedang mengapresiasi dan menyemangatiku membuatku merasa lebih baik. Aku ingat lagi, tiga hal yang kurasa akan jadi mantra untuk diingat di saat-saat lelah: Pertama, Langit adalah amanah yang Allah percayakan. Kedua, masa-masa ini akan berakhir– aku akan menceritakan hari ini di masa depan dengan senyum dan lega, Ketiga, Allah adalah sebaik-baiknya pengamat. Allah menyimak, Ia yang amanahi, ia pula yang pasti akan memampukanku.

Semoga Allah berkenan menerima dan mencatatnya sebagai ibadah, walau kadang akunya yang serrrriiing compang-camping dalam amanah ini.

Semangat, Ibu.