Belajar dari Ibrahim

Ustadz Salim A. Fillah pernah berkisah di salah satu tulisannya yang sangat berkesan lalu bertahun-tahun kemudian kuingat dan kusyukuri. Tentang Nabi Ibrahim.

IdulAdha adalah perayaan tentang mengingat ketaatan dan cinta seorang hamba pada Allah melebihi cintanya pada keluarga– anak dan istrinya. Sungguh episode sejarah yang tiap tokohnya membawa hikmah untuk dihayati berabad-abad setelahnya.

Mulai dari penantian bertahun-tahun Ibrahim akan hadirnya seorang anak– lalu diuji dengan perintah mengorbankan anaknya, hingga hubungan ayah-anak yang sangat diplomatis,

“Bagaimana menurutmu Ismail tentang mimpiku ini?”

“Jika ini perintah Allah, lalu kan Ayah.” Kata Ismail.

Lalu Hajar yang “ditinggal” Nabi Ibrahim dengan Ismail bayi, tapi ia percaya Allah akan menolongnya maka ia terus berlari dari bukit Shafa ke Marwa, semata menunjukkan kesungguhannya berusaha.

Dalam menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim bukannya mudah melakukannya. Ia bahkan menutup matanya, beberapa riwayat lain ia menolehkan kepalanya– toh Nabi Ibrahim adalah ayah, ia manusia dengan segenap perasaan tidak teganya menyembelih anak yang ia idam-idamkan.

Namun, karena ini perintah Allah, maka ia lakukan. Dan ia melakukannya dengan kepala yang menoleh.

Sebuah gestur yang sangat dalam untukku. Setelah kurenungi, menjalani perintah Allah, menjalani kehidupan yang penuh tantangan, kita diperbolehkan kok untuk menunjukkan rasa sedih kita. Kita boleh menangis saat menjalani peran kehidupan terasa lelahnya, kita boleh menangis ketika menit demi menit terasa begitu berat dilalui, kita boleh melakukkannya.

Tidak ada yang pernah menjanjikan kita kehidupan yang lebih indah daripada sebelum-sebelumnya. Tidak ada yang pernah bisa menjamin bahwa rencana-rencana itu akan terlaksana.

When you feel you are in a long never seemed ended tunnel, remember to keep on going. As long as you know you are in the right path. Allah never sleeps.

Bahwa dunia adalah tempat kita merasa sedih. Bahwa kesenangan abadi hanyalah ketika sudah tuntas menunaikan tujuan penciptaan kita dengan sebaik-baiknya. Bahwa tempat yang di dalamnya abadi rasa aman, rasa tentram, adalah di Surga.

Ya Allah, semoga Engkau terima.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: