Ramadan Lalu dan Kini

Ramadan selalu memunculkan memori yang wangi. Aku ingat saat diri masih belasan tahun, sedang senang-senangnya mencari teman, memaknai pertemanan, memaknai diri, hidup, dan cita-cita.

Menuangkan harap pada malam-malam dan siangnya, berdoa supaya Allah mau mengabulkan doa-doa khas remajaku yang ingin menemui dunia di luar jendela Surabaya. Ingin masuk  UI ya Allah, ingin jadi anak BEM UI, ingin berdiri di bahu raksasa ya Allah~

Itu yang kuingat. Pencarian pada kawan-kawan yang sefrekuensi, yang juga ingin menjadi pahlawan di mimpi masing-masing, ingin membanggakan orangtua, ingin segera mendewasa. Mengajak mereka untuk menghabiskan malam-malam ganjil di Masjid, ada yang dengan mudah dapat izin, ada yang meminta maaf tidak bisa bergabung.

Merasa bisa i’tikaf jadi kemewahan yang saat itu kupikir– orang-orang tertentu saja yang sanggup.

Beberapa tahun setelahnya, i’tikaf keliling masjid kampus dan sekitar Surabaya pun jadi lebih mudah. Ramadanku padat aktivitas yang bermakna dan menguatkan yakinku bahwa Allah benar menciptakanku dengan satu maksud. Aku merasa berdaya menjadi hamba. Siang diisi tilawah, malam juga.

Tahun berganti, status dan peran bertambah, tentu Ramadan di masa setelah menikah dan punya anak, berbeda lagi. Mungkin bisa aku salahkan situasi yang tidak mendukungku atau mungkin aku yang memang terlena tidak menghidupkan detik-detiknya.

Rasanya ganjil dan jengah ketika tidak bisa tarawih dengan sempurna karena anak yang rewel, atau sekadar menyelesaikan tilawah sampai selesai 1 juz. Iri dengan mereka yang bisa mendapatkannya, tapi tidak dilakukan.

Subhanallahu wa bi hamdih, subhanallahil ‘adzim.

Di hari-hari terakhir Ramadan ini, aku mencoba mengais keberkahan Ramadan dengan tasbih yang banyak ustadz sampaikan, insya Allah bermakna dan sama berpahala seperti mereka yang penuh beribadah. Terus mencari tahu sampai paham bahwasanya Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Ia tak mungkin menyiakan hamba-Nya. Bahkan sekadar menyiapkan makanan berbuka, berniat i’tikaf walau hanya sala tarawih, Allah akan tetap mengganjarnya dengan sempurna.

Aku ingat nasihat Imam Omar Suleiman bahwa pada akhirnya, yang dinilai Allah adalah niat. Intention. Jika niat beribadah kita tulus mengharap ridho Allah, maka kualitas menjadi yang utama daripada kuantitas.

Indahnya agama ini adalah bahwa kita selalu punya kesempatan kedua, ketiga, keempat, untuk kembali. Bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan hambaNya, niat hamba-Nya, bahkan yang sekecil dzarrah.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: