Gapapa, Ibu

Aku terhenyak pertama kali ketika mendengar Langit bilang kata itu, “Gapapa, Ibu.” saat kami bermain badminton ala-ala dengan raket yang diganti mangkuk plastik, setelah insiden tantrum sebelumnya. Ia bilang itu saat lemparanku meleset, dan aku berkomentar “Yaaahhhhhh… “

“Gapapa, Bu..”

Terpana, lalu sedetik kemudian aku menanggapi, “Iya Langit, kita coba lagi yaa..”

Aku tidak ingat kapan pernah mengajarinya secara khusus tentang menerima kesalahan atau saat gagal melakukan sesuatu (jatuh dari mobil mainan, meleset saat melempar, menumpahkan minuman/makanan saat mencoba mengambilnya dari meja, dll) sebagai sesuatu yang wajar dan bisa kita perbaiki setelahnya.

Hari ini aku lelah sekali. Tangki cintaku dalam kondisi menuju minus tapi seringkali diuji dengan perilaku Langit yang menantang, tantrum, misalnya. Tantrum menuju dua tahun sekarang minimal sekali sehari. Proses sapih yang di depan mata juga cukup menguras hati dan pikiranku. Anak ini makin di-sounding makin sering frekuensi nempel nya.

Dari semua meltdown Langit hari ini, aku mencatat respon-responku sangat bervariasi. Ingin aku fokus pada 40% respon yang sangat aku hindari tapi aku lakukan.

Ketika dia begitu keukeuh dengan keinginannya untuk bermain di playground siang bolong panas kentang dan bermain air selang menyiram tanaman, aku sebenarnya sadar bahwa fitrah belajarnya tengah bekerja. Tapi aku lelah, aku tidak mau mengikuti mainnya dengan sedikit conscious bahwa aku tidak boleh kalah darinya, dia belum makan siang dan sekarang waktunya makan siang.

Aku seharusnya menahan urat lelahku sejenak dan memberinya sedikit kesempatan untuk melepas rasa penasarannya, sambil terus memberi tahunya tentang jadwal hari ini.

But I didn’t.

Aku menarik tangannya, melepas paksa cengkraman tangannya dari selang lalu menggendongnya paksa, oh tak lupa “Langit sekarang waktunya makan!” yang seperti desisan berefek mendidih di kepala. Tantrum semakin bertambah dengan trigger baru yaitu tidak mau dilepas sandalnya masuk rumah.

Siangku terasa lama dengan tangisan Langit sebagai background serta pikiran-pikiran buruk dan logika belajar parenting yang saling kejar-mengejar. Tapi satu hal yang mencolok di pikiranku adalah aku harus menyelamatkan diriku, aku harus ambil time-out. Kalau tidak, mungkin aku akan melakukan hal yang jauh membuatku menyesal nantinya.

Aku bilang, “Langit ibu sedang marah juga dan sekarang ibu mau ambil wudhu.” Lalu aku tinggalkan dia di depan kamar mandi.

This journey is hard, but also beautiful.

Di momen-momen Langit secara mengagumkan bilang “Gapapa Ibu,” saat kami bermain setelahnya, seperti guyuran air untukku yang sedang terdistrak perasaan gagal menjaga emosi, merasa bersalah, dan merasa buruk setelah menerka-nerka berapa persen sinaps otaknya terputus karena ketidaksabaranku.

We make mistakes too in parenting. We sometimes lose our patience. It is okay. Tidak apa-apa. Besok kita perbaiki.

Langit, terima kasih sudah mengingatkan Ibu :’)

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: