Refleksi Kesekian

Kalau dibaca-baca, blog ini terasa sangat gloomy ya. Wkk. Nezha ibu ibu emo.

Petang ini aku memakaikan baju pada Langit sambil menangis. Langit menatapku ngantuk, tapi masih tersenyum sambil kucek-kucek mata, membiarkanku memasang popok, kaus dalam dan piyamanya. Ia mengamatiku lagi, matanya ngantuk sekali.

15 menit sebelumnya, proses makan malamnya harus terhenti di tengah karena Langit yang ngantuk dan sedang mengunyah makanan, tiba-tiba menengadahkan kepala sambil nangis. Sontak potongan ayamnya masuk langsung ke tenggorokan dan tersedaklah ia. Segera kuberi minum, tapi malah membuatnya kesulitan bernapas. Wajahnya sampai membiru. Terjadi beberapa detik, tapi terasa sangat lama. Alhamdulillah, setelah kutepuk-tepuk pungungnya dengan keras, Langit bisa bernapas kembali dengan normal. Sambil terus kugendong, air mata mengucur dari mataku.

Hal itu adalah satu dari sekian banyak momenku bersama Langit yang membuatku sedih. Kadang dalam waktu yang cukup lama karena aku sibuk menyalahkan diri sendiri sampai puas, baru kemudian mengambil pelajaran untuk diingat.

Tersedaknya Langit, atau apapun hal yang membuatku panik (ditandai dengan Langit yang menangis melengking sampai tidak ada suara dan melungker-melungker sampai kayang) selalu kuhubung-hubungkan dengan apa yang sudah kulakulan sebelumnya. Apa karena aku salah kasih makan? Apa karena aku ngungkep ayamnya pake bumbu instan? Apa karena aku bobonya kelamaan? Apa karena aku terlalu mager nemenin dia main?

Apa karena aku salah di bagian ini, itu? In this parenting issue, aku adalah pengkritik utama pada diriku. Terlebih dalam hal tumbuh kembang. Being critics for ourselves is sometimes tricky. Kadang terlalu keras sama diri sendiri, lupa kalau memang jadi ortu tuh emang proses, belajar yang pasti ada salah-salahnya. Nggak ada yang namanya ibu sempurna.

Well, Langit doesnt need a perfect mom. He needs a mother who can show him that it is okay to make mistakes, as long as you learn from it. Besok-besok, kalo Langit udah ngantuk bangett dan mau tidur, let him sleep. Disaat itu, dia mungkin lebih butuh tidur daripada makan. Lupakan sehari saja teori tentang jam makan, penuhi dulu kebutuhan utamanya yang ia sudah tunjukkan. Langit yang paling tau apa yang dia butuhkan. Dia selalu kasih tanda kan?

Semangatt ibuuu. Kemampuanmu move-on cepat dan mengambil hikmah sudah meningkat lumayan. So proud of youu. 💘

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: