Menangis dan Percaya Diri

Aku ini orangnya ternyata lumayan insecure-an.

Tentu hal itu bukanlah hal unik, karena sependek pengetahuanku, setiap manusia memiliki gejala ini. Maksudku, insecurity adalah salah satu perasaan mental yang secara alamiah terjadi jika manusia berhadapan dengan situasi atau kondisi tertentu. Hanya kadarnya berbeda-beda, tergantung cara manusia menyikapinya.

Seingatku, saat masih sendiri aku memang sering merasa insecure, tidak pede dengan kemampuan, merasa kecil, merasa si ini itu lebih keren pencapaian ambis khas mahasiswanya, tapi kurasa aku selalu punya defense mechanism-ku sendiri. Aku hampir selalu bisa menenangkan diri, mempuk-puk diri sendiri ketika kalah atau gagal, meng-embrace-nya dengan penuh empati. Perasaan negatif itu jarang bercokol lama.

Lalu ketika memasuki fase hidup selanjutnya dan membina hubungan yang intens dengan suami dan anak, aku merasa perasaan insecure ini jadi lebih sering muncul. Nah loh.

Aku merasa terus ingin divalidasi. Merasa ingin terus diyakinkan bahwa apa yang kulakukan itu berarti, bahwa aku cukup, bahwa aku begini begitu. Alhamdulillah, aku dianugerahi suami yang mengerti akan kebutuhanku, walau kemampuanku mengkomunikasikannya masih  dibenahi sana sini. 

Ketika aku membawa hal ini ke atas meja pikirku, lalu mengamatinya diatas mikroskop, kutemukan akar masalahnya. Berbagai sumber pengasuhan baik di series Netflix, buku parenting dan hubungan dari timur dan barat, serta para ahli yang murah hati membagikan ilmunya di sosial media, salah satu alasan mengapa aku haus validasi adalah berawal dari tangisan saat menjadi anak-anak.

Saat balita, ketika aku menangis karena alasan apapun, aku sering dibiarkan oleh para pengasuhku, sampai akhirnya capek sendiri dan diam.

Literally dibiarkan. Tidak dimarahi, di-sshht shht, apalagi ditenangkan.

Menurut sumber-sumber yang kubaca, menangis adalah cara satu-satunya bagi bayi untuk mengkomunikasikan kebutuhannya, sebelum akhirnya bisa berbicara. Untuk anak yang sudah berbicarapun, akan ada masa dimana ia meledak (tantrum) karena ia masih dalam tahap tidak tahu bagaimana harus meregulasi emosi.

Dunia ini asing bagi seorang anak, penuh dengan ketidaknyamanan. Begitu pula dengan perasaan-perasaan yang baru muncul di hatinya. Sedih, kecewa, merasa sendiri, marah. Gerombolan emosi itu muncul dan kadang hatinya terasa terlalu penuh untuk merasakan emosi-emosi baru itu. Ketika anak dibiarkan saja menangis saat dirinya membutuhkan apapun itu, ia akan merasa tidak aman dan kehilangan percaya pada dunia di sekelilingnya. Termasuk dengan orang-orang disekitarnya.

Aku ingat dulu sering dipanggil cengeng, karena memang aku dulu suka sekali menangis. Kakak laki-lakiku suka menjahiliku yang iseng beneran iseng pingin buat aku nangis aja. wkwkwk. Tapi aku juga tidak ingat orangtuaku berusaha memperingatkan masku itu, atau menenangkanku. Kami bagai anjing dan kucing. Aku ingat aku sering nangis dan kebiasaan itu baru berhenti ketika ia akhirnya jadi anak SMP dan mondok di luar kota. Aku umur 8 tahun.

Memiliki bayi yang sedang aktif-aktifnya eksplor dan mulai memiliki keinginan yang harus dipenuhi saat itu juga menjadi tantangan yang sangat… mengujiku. Sekuat tenaga aku berusaha menenangkannya, atau jika stamina dan batin sudah lelah sekali tapi masih stabil, aku ikut menemaninya menangis. Kalau sudah tidak stabil, panggil ayahnya. Huhu.

Membesarkan Langit sembari memaafkan luka pengasuhan masa kecil jadi tantangan buatku. Untuk menerima bahwa aku hari ini adalah aku dengan tangisan-tangisan yang diabaikan itu. Keterbatasan informasi pengasuhan dan kesibukan bisa jadi alasan mengapa orangtua tidak sengaja melakukan hal itu. Terlepas dari itu semua, sungguh ayah ibuku adalah orangtua luarbiasa, darinya aku diwariskan berbagai kemewahan berpikir tentang iman juga kehidupan.

Saat ini, aku hanya tidak ingin hal yang sama terjadi pada Langit. Dengannya, aku berkomitmen dalam hati untuk selalu merespon setiap tangisannya dengan cepat, untuk selalu menemaninya melewati badai emosinya kelak, membantunya berkenalan dengan emosi-emosi baru. Memeluknya saat ia merasa dunia terasa tidak aman. Aku ingin ia tumbuh dengan langkah yang tegap dan berani, tetap percaya penuh pada pilihan yang ia ambil. Dan ketika membina hubungan, ia akan menjadi suami dan ayah yang pembelajar. Mencintai keluarga dalam dekapan yang hangat, bukan menyesakkan.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: