#1 Setelah Tiga Tahun – Arus Manusia

Hampir seminggu lagi, aku resmi jadi angkatan tertua di kampus. Menjadi angkatan mahasiswa yang dulu kuanggap (beneran terlihat) tua dengan tugas dan kewajiban yang jauh berbeda dengan mahasiswa semester satu. Aku tergerak untuk menulis supaya.. aku sadar dan paham eksistensi, juga sebagai kaca.

Beberapa tahun ini, aku diberi Allah kesempatan bertemu dengan orang-orang yang beragam. Berbeda latar belakang, prinsip hidup, keyakinan, sampai gaya hidup. Jika boleh menoleh sebentar ke belakang, lewat kaca spion yang berwujud foto-foto dan racau di buku-buku agenda lampau, aku selalu dibuat terkaget-kaget dengan takdir. Aku pernah merasa begitu tidak berguna dan buang-buang waktu ketika ngobrol tentang band-band indie, apdet artis korea, atau tongkrongan gaul saat awal perkuliahan. Ritme pergaulan yang jauh berbeda dengan SMA, lumayan bikin kaget dan capek. Ditambah dengan bertepuk sebelah tangannya semangatku terhadap sebuah medan, aku menghadapi situasi yang lumayan lucu.

Kesempatan-kesempatan itu membuatku diam-diam mencari tempat yang lebih jauh, aku memberanikan diri tenggelam dalam diskusi dan buku-buku asing. Hal-hal yang kupercaya dalam-dalam, seperti dipertaruhkan. Berhadapan dengan beragamnya sikap dan antipati, aku merasa…. beruntung.

Keputusan-keputusan personal mulai dari “mengapa nggak pernah pakai celana sih Nezh, kenapa kerudungmu modelnya begitu-begitu aja Nezh, kenapa betah jomblo 20 tahun Nezh,” dan “Emang beneran kita gak boleh pelihara anjing?” “kenapa babi masih diharamin, kan sekarang di perut babi udah bisa diatur gak ada cacing pitanya.” sampai “Ngapain sih itu Palestin dibela, Hamas tuh teroris.” “Kenapa kamu agamanya Islam Nez?” “Nez, kata Nietzche agama itu hasil pikiran manusia semata biar dunia nggak chaos. Bagaimana menurutmu?”

Aku dituntut untuk lebih banyak belajar, memahami hakikat dan hal-hal esensial tentang apa yang kupercaya. Aku masih sering merasa sedih ketika mengingat saat dulu tidak bisa menyampaikan hal-hal dengan baik. Hal itu berefek pada keinginan untuk terus belajar tentang Islam selagi masih ada nafas.

Semoga Allah perkenankan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s