#2: Setelah Tiga Tahun – Menjadi Diri

Mendekati usia 20 tahun, permasalahan yang kudengar dan alami jadi lebih beragam dan bergeliut. Kesibukan khas organisasi-organisasi kampus, tugas-tugas, mimpi-mimpi yang sudah ditulis dan ingin segera direalisasikan, optimisme dan idealisme-idealisme yang dipupuk dalam-dalam jadi warna yang membuatku bersemangat hampir setiap hari.

Pencarian diri sendiri terus terjadi, bahkan sampai saat ini, semoga sampai nanti. Aku ingin terus memastikan bahwa aku sedang dalam proses pembejalaran yang dinamis, yang aku akan menemukan gairah luar biasaketika mengerjakannya, orang menyebutnya passion.

Aku mengambil mata kuliah dengan tema-tema yang dulu kutempel kesan macem-macem, ikut forum-forum diskusi, juga mencoba banyak hobi baru. Mulai dari typography karena melihat seniman dari Australia yang bikin kaligrafi ayat dan hadist yang keren banget, belajar desain walau tak pernah tampak indah hasilnya, knitting yang alhamdulillah jadi satu syal berwarna hijau ala-ala Slytherin, book binding yang aku sekarang sudah agak lupa caranya, bisnis rok yang sebenarnya menjanjikan yang sayangnya.. mutung karena terjebak retorika kehidupan, merelawankan diri di tempat-tempat bervisikan pendidikan luar sekolah, sampai menanam sayur mayur di halaman rumah.

Mengenali diri sendiri.
Aku juga pernah mengalami masa dimana orang-orang tampak lebih bersinar– yang membuatku harus menyipitkan mata melihat mereka, merasakan ketertekanan batin ketika mendengar kisah-kisah mereka, menyilaukan dengan sederet prestasi akademik dan non akademik, konferensi disana disini, beasiswa ini dan itu… silau men…

Lah, bukannya gitu bikin termotivasi?

Hm. Sayangnya, motivasi model begitu selalu membuatku semakin buruk. Aku jadi merasa tidak terlalu berharga dan nggak iso opo-opo karena perbandingan-perbandingan konyol yang kubuat dan tidak relevan itu. Hal itu kemudian berefek pada low-rating self, minder, ketakutan, inferiority feelings, dan sejenisnya. Menghadapi hal-hal seperti itu, sungguh merupakan pekerjaan yang melelahkan.

Mbak Hana, S.Kom, dalam sebuah tulisannya yang mengesankan beberapa tahun lalu, mengungkapkan bahwa ketika kita mengetahui apa yang kita ingini, mengenal baik diri sendiri, insya Allah kita tidak akan mudah diombang-ambing dengan pencapaian orang lain. Ketika kita mengenali dan bisa menggambarkan kelemahan, potensi, sekaligus tantangan yang dihadapi, insya Allah kita akan baik-baik saja. Baik-baik saja dengan kekurangan sekaligus kelebihan (yang mungkin sedang kita cari).

Bening Tirta dalam sebuah postingannya di instagram mengatakan bahwa,
“Kamu tidak perlu menjadi yang terbaik. Kamu cuma perlu untuk memulai untuk mewujudkan ide dan mimpi-mimpimu.”

Keberanian untuk mewujudkan ide dan mimpilah yang  menurutku harus dimiliki. Keberanian itu termanifestasi dalam rencana dan aksi-aksi nyata dengan tolak ukur serta indikator yang kita sendiri buat. Sehingga, ketika melihat orang lain dengan sederet prestasinnya, yang muncul bukanlah perasaan bahwa apalah-arti-diri-remahan-peyek-ikan-teri ini. Bukan itu, tetapi lebih pada keingintahuan kita bagaimana mereka melawan diri sendiri dan kemudian berjuang mewujudkan ide-idenya. Persepsi seperti apakah yang menjadi perisai dan siap dengan segala goncangan dari luar. Hats off.

Keberanian adalah bukti iman, kata Adri Suyanto. Maka setiap kita membutuhkan stok berani, selalu ingat bahwa Allahlah yang akan menjaminkan kita kekuatan. Ia-lah sumbernya. Ia-lah yang akan memberi kemudahan. Keyakinan seperti itulah yang harus kugigit erat. Tak ada daya dan kekuatan kecuali datangnya dari Allah. Karena Allah, maka beranilah! :’3

Ide-ide baik, semoga selalu jadi solusi permasalahan yang kita semua hadapi. Keberanian dan kemauan untuk terus belajarlah menurutku caranya. Dan segala hal itu, semoga  merupakan langkah-langkah menuju ridho Rabb.

Jika kembali ke pertanyaan awal.. Aku akan sampai pada kesimpulan ini: kamu tak akan mengenali dirimu, sebelum kamu mengenal Allah.
Solusinya selalu seterang dan sesimpel ini: kenali Allah dan Rasul-Nya lebih dalam lagi, maka akan semakin jelas kamu melangkah. Dan sampai hampir dini hari ini, aku meyakini bahwa jati diri sebagai hamba Allah adalah pilihan sekaligus takdir yang terus aku syukuri.

Semoga Allah jaga selalu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s