Fokus di Satu Objek

‘Harga satu obatnya berapa?’

‘Rp 250.000. Saya harus minum obat itu sehari minimal 4x’

‘Jadi… sehari satu juta. Kalau dihitung, sebulan mencapai 30 juta ya…’

‘Iya.. Kadang saya tanya sama dokter. Dok, saya kayak gini mau sampai kapan?

terus dokternya jawab :

‘Ya.. sampai bosen.”

Obrolan Andy F. Noya dengan narasumbernya tentang komunitas sepeda yang berjuang untuk membantu para penderita leukimia baik dari moril dan materiil sore ini cukup bikin badan menegang.

30 juta perbulan.

Nominal itu bagi sebagian orang sangat banyak. Jumlah yang sangat banyak itu amat dibutuhkan mereka para penderita kanker untuk mengurangi sakit yang diderita. Mengurangi sakit saja, karena obat itu tidak bersifat menyembuhkan.

Nonton acara begituan itu memang butuh mental bagus. Karena nonton, membaca, hadir, di acara-acara seperti itu bagiku kadang akan menjadi ajang penghakiman diri sendiri. After tastenya jelas ; diri akan merasa tidak berguna, belum melakukan apa-apa, dan onfire hanya di situasi tertentu saja. Meskipun itu semua sedikit-sedikit dibarengi perasaan yang lebih melegakan seperti bersyukur, termotivasi dan lain-lain.

Dan di post ini, aku akan mengedepankan sisi yang sedikit-sedikit itu.

Mungkin ketika kita sedang ngamuk-ngamuk, merasa kurang sana-sini karena keperluan sekolah ditalangi uang saku karena uang bulanan belum turun, sumpek buku tahunan, klewas-klewes belajar, masih menyempatkan diri membaca-youtubing Korea-Korea an, daydreaming dan segala hal gak berguna lainnya.. kita perlu diam sejenak.

Coba mengangkat tangan dan mengamati tangan sampai kulit terasa transparan.  Sehingga kita bisa melihat dan merasakan dengan jelas darah mengalir begitu lancarnya (‘darah baik-baik aja’ sebulan harganya 30juta), merasakan jantung terus berdetak memompa, kaki masih bisa menjejak tanah, merasakan ngeresnya lantai kamar, kita bisa berdiri sambil presentasi di depan kelas, bisa lari dari tempat parkir ke kelas, sepatu masih terlihat pas dipakai di kaki yang  nggak ada cacatnya. Belum lagi mata, bibir, telinga, dan otak yang insyaAllah masih bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Apa saja. Fokus pada satu objek dan bayangkan betapa berharganya ia dalam hidup kita. Betapa berharganya meja ini, betapa berharganya kepala ini, jemari ini. Dan betapa berharganya orang-orang itu.

Singkatnya, masak kita masih ‘tega’ klewas-klewes dengan segala hal menakjubkan di sekitar kita. Masak mau berterima kasih dengan cara seperti itu?

Kalau sudah jujur, InsyaAllah.. syukur yang gantikan semua kejemuan dan kemalasan, semangat baru pun datang.

Atau malah nangis, karena lagi-lagi merasa nggak berguna dan belum melakukan apa-apa.

Advertisements
Fokus di Satu Objek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s