Senja

Kita semua punya senja.
Senja yang selalu menunggu ketika seharian lelah berjaga. Senja yang bagi banyak orang adalah kekuatan abadi.
Tapi ini berbeda.
Seperti senja yang disandera mendung. Ia, yang lantunannya melembut sedetik kemudian tertawa.
Sebenarnya apa yang kau rasakan?
Dedahan dan reranting beradu untuk memperindah senja. Cantik sekali.
Tapi menurutmu mereka berisik. Menganggu konsentrasi.
Memiliki senja yang sendu itu bukan pilihanmu.
Menyalahkan semestapun rasanya kurang ajar.
Aku yang kemudian mahfum ketika mereka menuntun kita untuk memikirkan senja yang tiba-tiba wafat.
Kau hanya diam. Bingung memvisualisasikannya di pikiran.
Karena kau mati rasa. Karena kau sudah terlalu sering menabur kapur untuk mengurangi segala hal yang memerihkan.
Hingga kau tak lagi mampu membedakan mana kangen, sayang, tulus maupun kecewa.
Aku ingat ketika kau akhirnya berjanji. Tak akan menjelma menjadi senja yang memilukan.
Kau ingin jadi senja yang cerah dan mendamaikan.. karena tak ingin mengecewakan anak-anak sore yang membanggakanmu.

Tidak seperti senja yang khilaf dalam menilaimu.

Be strong .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s