“Be Your Self” itu Membingungkan


‘Jadilah dirimu sendiri’ itu jelasnya kayak gimana, seh?

Maksudnya.. kita kan setiap hari ketemu orang, terlibat pembicaraan seru yang kental sekali subyektifnya, mengamati perilaku mereka, membaca dan mendengar pendapat-pendapat dari televisi, blog-blog, kultwit, bahkan lirik musik.

Hal itu dikuatkan dengan sebuah teori yang pernah kita pelajari di kelas, pembentuk kepribadian itu pertama keluarga, teman sebaya, media, dan.. sekolah. Ini semua yang akan menjadikan kita manusia seperti apa.

Gimana kalau misalnya siswa SMA bernama Syamsyul sudah merasa yakin dan percaya bahwa dia itu supel, semua orang selalu merasa senang bersamanya, candaanya khas dan suka tersenyum lebar.

Lalu dia lihat si Dekisugi temannya nggak suka cewawa’an, keren ketika presentasi, beraura, solusinya jitu dan nggak grusa-grusu. Oke, Syamsyul berpikir Dekisugi bisa dicontoh.

Lalu ketika dia mencoba seperti itu, orang-orang di sekitarnya jadi bingung.

“Ini bukan kamu yang biasanya.”

“Iya, kamu terlihat berusaha keras menjadi seperti itu”

“Udahlah.. daripada jadi orang lain, kan capek. Just be yourself

Nah, ini membingungkan. Memang salah ketika si Syamsyul berusaha lebih cool? Bukannya tadi sudah disepakati dari awal bahwa pembentuk kepribadian adalah empat hal itu? Dan Syamsyul hanya sedang berada di proses itu.

Jadi.. What’s the point of ‘Be Your Self’?

Btw, post ini lama-lama terasa seperti soal cerita Sosiologi UNAS.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s