Apa Kabar? 

Sungguh. Sejujurnya aku menahan diri untuk tidak ambyar menceritakan kehidupan pascakampus yang asik-ngeri-sedap-geli ini kepada mereka yang bertanya “Apa Kabar?”

Pertanyaan Apa Kabar, seharusnya bisa kujawab dengan merujuk pada jawaban ideal ala Pangeran Kecil, seperti biasanya.

Kujawab, Baik. Alhamdulillah. Allah masih berkenan membuat hatiku ber-kya-kya melihat bulan saat malam hari, atau, Alhamdulillah gula di rumahku rasanya masih manis dan butirnya gede-gede,  membuat sensasi mengunyah gula jadi semakin magis kraus-krausnya, atau.. .. Alhamdulillah, kabarku baik sekali karena hari ini aku masih bisa menghitung berapa kali ayahku bersin, suara bersinnya menandakan eksistensi sosok ayah di rumah.

Atau jawaban apa saja yang memang menunjukkan aku baik-baik saja, benar hidup dan menikmati tiap incinya dengan syukur.

Namun, ternyata tidak begitu-begitu amat.

Akhir-akhir ini, saat aku mengamati diri dan sekeliling, aku sadar memang sudah berada di kumpulan orang-orang dewasa yang serta merta menjawab pertanyaan “Apa Kabar?” dengan jawaban pendek, realistis, formal, dan cenderung kosong.

Merasa jawaban tentang sudah seleksi tahap akhir di perusahaan ini dan itu adalah jawaban terbaik, atau sudah bekerja di sini dan situ akan membuat perasaan menjadi lebih lega.

Aku agak kesulitan menemukan orang-orang yang berbicara tentang mimpi, harapan, dan idealisme dengan nada suara yang sama beraninya dengan dulu saat menyandang status mahasiswa.

Mimpi yang dipupuk saat kuliah, benar dikejar sekarang.

Beruntung, aku mengenal Bocil alias Atina dan Niswah. Dua orang yang selalu membuatku ber-wow dengan lantangnya suara mereka dalam bersetia pada mimpi-mimpi. Hasil mungkin masih jauh dari sukses, tapi kekeraskepalaan yang berbalut ragu, takut, sekaligus berani yang terpancar dari mereka itu benar memukauku. Aku selalu dibuat malu dan merasa harus mengubah sesuatu dalam diri. Wkk.  

Apa kabar?

Siang itu di bulan November di salah satu gedung di Gatot Subroto yang berkilau, aku mencoba lebih jujur melihat sisi lain dari proses yang kujalani. Sebenarnya agak geli membayangkan diri sebagai calon sekrup korporesyen yang begitu ingin diterima bekerja di tempat gawl ala ala itu. Dengan sisa-sisa jual mahal yang kumiliki, aku ingin menganggap diriku lebih dari itu. Indikatornya kubuat gampang: aku bisa melihat detil dan berbahagia atasnya. 

Setidaknya aku berhasil menganggap proses wawancara pekerjaan itu sebagai pengalaman luar biasa. Saat melihat orang-orang yang berlalu lalang di stasiun KRL, I saw the beauty in it.  People in Jakarta are in their state of trying, kalau kata Ika Natassa. Trying to get home, trying to get to work, trying to survive a little bit longer,  trying to leave…

Naik bus Transjakarta di sore yang mendung dengan titik-titik air hujan di jendela dan berbagai logat yang bercampur di udara,  adakah suasana yang lebih merdu menjelaskan kedinamisan kota sejuta harapan ini?

Di tengah gerombolan wajah yang takut-takut-cemas sebelum dipanggil untuk wawancara, aku memandang wajah mereka satu persatu, sambil tersenyum lalu bergumam dengan tulus, semangat ya teman-teman.

Apapun ikhtiar yang kita ambil, baik yang ingin terus menguji idealisme, menunggu takdir dengan mengusahakan semua pintu kesempatan, belajar di tempat yang dulu sempat disebut sarang kapitalisme dan kemudian sambil tertawa menyebut diri sebagai budak korporasi, semoga Allah terus menunjukkan kita tanda-tandaNya.

Semoga Allah menjadikan kita manusia yang rendah hati, tidak memandang pilihan diri sebagai jalan hidup terbaik sehingga menganggap jalan populer yang dipilih teman  lain tidak lebih baik dari miliknya, semoga kita terus menjadi insan yang selalu bersemangat belajar, tidak kehilangan diri di tengah pusaran pikiran materialistis khas kaum dewasa, dan tetap peka dengan situasi kondisi di sekeliling masyarakat yang kita hidup di tengah-tengahnya.

Aamiin.

Hidup beasiswa! Eh. Hidup Mahasiswa! 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s