Anak Perempuan

Kuntum bunga harum semerbak, dan rezekinya telah dijamin Allah.

Begitulah bunyi senandung Rasulullah saat menggendong bayi Fathimah di depan para sahabat. Di masa awal kenabian, masyarakat saat itu dikenal sangat barbar terhadap perempuan, menganggap perempuan kaum kelas terbawah dan lemah, anak perempuan dianggap suatu hal yang tidak membanggakan, menjadi aib keluarga.

Kita juga mendengar cerita tentang Umar bin Khattab yang sebelum hijrah, pernah tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya.

Sedang Rasulullah saat itu dengan bangga menggendong bayi Fathimah di depan umum,  sumringah, bahkan dengan senandung yang merdu. Suatu hal yang tidak lazim dilakukan di jaman itu. 

Islam datang dengan begitu mengagumkan, yah. 

Islam menjadi agama pembebas, meluruhkan batas-batas fisik identitas manusia termasuk jenis kelamin,  menjadi satu poin yang hanya Allah saja yang bisa melihat dengan jernih: ketakwaan. 

Jadi, aku masih sering sedih jika mendengar ada seseorang yang lebih menginginkan anak laki-laki daripada perempuan. Kemudian menyesali kelahiran anak perempuan lalu dengan cerobohnya menyalahkan ibunya. Hadeh. 

Gak paham. Wong sing nentuin itu bayi jadi perempuan atau laki-laki iku sperma njenengan, Pak. Kalau nggak percaya, monggo kroscek kepada Bidan atau dokter di sekitar. Njaluk tulung.

Loh kok jadi emosi. Wk.

Di sisi lain, membesarkan anak perempuan kayaknya menantang. Entah mengapa, ketika di pameran buku,  aku lebih sering melihat buku dan kitab-kitab yang membahas cara membesarkan anak perempuan daripada laki-laki. Seperti, para ulama itu sudah mewanti-wanti kalau jadi orangtua yang punya anak perempuan, harus punya ilmu-ilmu khusus. Sungguh spesyal anak wedhok ini. 

Yha, sebagai warga dunia, semoga kita menjadi orang dewasa yang baik terhadap anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, anak tetangga, ponakan, anak jalanan, anak ketemu di mall, maupun anak sendiri. Ekhem.

Ingat,  kalau mau punya anak sendiri, yha harus menikah dulu.  Lol.

Advertisements

One thought on “Anak Perempuan

  1. moslemmuda November 23, 2016 / 1:03 AM

    Paragraf-paragraf awal I was like:”iki tulisan kayake wuapik.”
    Lah sampe tengah-tengah kok jadi emosi. wqwq.
    Apalagi kalimat terakhir!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s