Menuntut Ilmu 

Di suatu pagi. Aku menemukan ayahku membaca buku warna biru dengan serius. 

“Ini buku bahasa Arabmu ta, Amah?”

“Hoo..  iya Jid. Kenapa?

Ayahku melihat sampulnya,

“Hm. Ini lho ketoro banget. Dari semua hadist, kok ngambil hadist yang ini di taruh di muqaddimah.”

Aku melongok, cari tau.

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

“Apa tu Jid?”

” Ya, itu. Setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu masuk neraka.”

” Hm… “

“Kullu disini artinya ndak seluruhnya, sebagian. Tapi hadist jni sering diarahkan ke kita, karena sering mengada-adakan yang di zaman nabi nggak ada. Yasinan dibilang bid’ah. Tahlilan,  bid’ah… lah padahal motor dan mobil juga jaman nabi gak ada..”

“Hm…”

Denger Ayahku bilang gitu, saat itu juga aku jadi memikirkan ganti tempat belajar. Demi menjaga keridhoan ortu.  bahahahah. 

“Terus yak opo, Jid? Ganti tempat aja ta aku? Mumpung jek satu pertemuan.

“Lho ya jangan. Tetep aja.”

“Ha? “

“Wong nabi saja menyuruh kita nuntut ilmu sampai ke Negeri Cina yang jelas-jelas nggak Islam kok, lah apalagi ini sama sesama muslim sendiri.”

Aku ketip-ketip.

“Belajar itu dari mana saja, orang dari latar belakang mana saja. Wong ini saudara sendiri. Ya walau kita sendiri sering diilokin bid’ah sama beberapa dari mereka. Nggak papa. Tetap belajar disana.”

**

Such a beautiful respond of my father. This is why I respect him wholeheartedly.

Aku tahu banget apa yang ayahku saksikan di masjid dekat rumah setiap harinya. Misal ayah melarangku belajar di tempat yang ia anggap tidak sesuai dengan “kultur” kami, aku juga siap saja.

Tapi ayah tidak begitu.

Sungguh berbeda dengan apa yang sering aku dan kamu saksikan di web-web resmi atau tokoh-tokoh yang mengatasnamakan NU. Kadang malas juga mengaku bahwa aku lahir besar dan dididik dengan cara NU, jika selama ini pengetahuan orang-orang tentang NU yha yang mereka liat dan baca di sosmed, atau seringnya nggumbul dengan NU yang begitu. Wkwk.

Jujur saja aku bahkan ayahku juga suka jengah kok dengan kelakuan-kelakuan itu.

Ah, tapi aku sudah punya teladan yang sangat dekat kan. Ayahku. Karena beliau, perilaku orang lain jadi tidak relevan lagi.

He’s the one whom I look up to.

Advertisements

3 thoughts on “Menuntut Ilmu 

    • nezhafath May 16, 2017 / 2:53 AM

      ini kenapa tulisannya pas di tengah-tengah moro moro jadi ganti font ya pak?

      • moslemmuda May 17, 2017 / 7:00 AM

        abis copas teks arab kullu bid’atin mbak. klo di reader sih gak berubah, di tampilan blognya yg berubah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s