Menutup Pintu

“Tutuplah pintu rumahmu, rapat-rapat.
Aku akan segera datang mengetuknya.
Seusai perjalanan panjang ini – setelah kugenapi
nubuat ini – kukira akan sampai juga saatku untuk kembali.
Tutuplah pintu rumahmu, sedemikian rapat.
Kuncikanlah. Agar dapat kupaksakan hasratku menuju-Mu.”

– Sapardi Djoko Damono.

 

The Invitation

It doesn’t interest me what you do for a living. I want to know what you ache for and if you dare to dream of meeting your heart’s longing.

It doesn’t interest me how old you are. I want to know if you will risk looking like a fool for love, for your dream, for the adventure of being alive.

It doesn’t interest me what planets are squaring your moon. I want to know if you have touched the center of your own sorrow, if you have been opened by life’s betrayals or have become shriveled and closed from fear of further pain.

I want to know if you can sit with pain, mine or your own, without moving to hide it, or fade it, or fix it.

I want to know if you can be with joy, mine or your own; if you can dance with wildness and let the ecstasy fill you to the tips of your fingers and toes without cautioning us to be careful, be realistic, remember the limitations of being human.

It doesn’t interest me if the story you are telling me is true. I want to know if you can disappoint another to be true to yourself. If you can bear the accusation of betrayal and not betray your own soul. If you can be faithless and therefore trustworthy.

I want to know if you can see Beauty even when it is not pretty every day. And if you can source your own life from its presence.

I want to know if you can live with failure, yours and mine, and still stand at the edge of the lake and shout to the silver of the full moon, ‘Yes.’

It doesn’t interest me to know where you live or how much money you have. I want to know if you can get up after the night of grief and despair, weary and bruised to the bone and do what needs to be done to feed the children.

It doesn’t interest me who you know or how you came to be here. I want to know if you will stand in the center of the fire with me and not shrink back.

It doesn’t interest me where or what or with whom you have studied. I want to know what sustains you from the inside when all else falls away.

I want to know if you can be alone with yourself and if you truly like the company you keep in the empty moments.

– Orian Mountain Dreamer (1999)

Kembang-Kembang Api dan Gula

Pada ketidaksempurnaan mengelola rasa,
ada mata yang darinya, kau seperti meneguk telaga

emoticon-emoticon acak yang darinya
kau bertemu kembang-kembang api, juga kembang gula

berupa sadar,
Allah begitu baik

Ia bahkan menutup bau-bau busuk dan membiarkan diri melenggang di tengah
kerumunan manusia, menerima ucapan-ucapan selamat, dan penghargaan
penghargaan.

“Aku senang kamu disini.”

Wow…
Formalitas atau tulus, bukan urusan penting. Menyampaikannya butuh usaha,
dan aku masih harus menahan haru, mengetahui ada orang-orang yang berusaha
melakukannya.

Sabda Allah yang dieja lamat-lamat, adalah transmisi, penghubung
tentang harapan dan rindu-rindu. Berdesak, memberi tahu bahwa

Ramadan adalah bulan kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

Dari di ruang pikiran yang pengang, campuran antara bising jalan Merr dan rencana-
rencana yang bertabrakan, berbicara pun harus berteriak.

“KAU BAIK-BAIK SAJA?”
“OH– YA, INSYA ALLAH.”

Memastikan saja. Alhamdulillah.

Dear Wanderer,

dear wanderer,
who packed a pair of shoes on a bottom of the big backpack and got them dirty in the next ten minutes,
what does rain look like there? is it a group of falling yarn or a swarm of beads coming from the sky?
from the gazing spot you made, could you recognize the brightest star of orion– rigel?

dear wanderer,
would you telling me the taste of silence in the most crowded place you visit,
could you differ your loudest thought and the giggle of a city?
tell me the color of sunset you see with the teary eyes, which trees that help you stand strong when your knees are shaking because of cold or anger or unbearable guilty?

your dreams are the time machine where I could probably mention how old your soul is.
oh dear wanderer, on a completely serious note,
i think that possibly maybe i am adoring you. this big.

Senin Misterius

Apa di luar masih hujan?

Aku sedang merasakan sesuatu yang hangat, namun asing. Mungkin ia adalah kawan lama hujan yang terpisah karena transmigrasi.

Tanyakan lagi padanya, sampai kapan aku harus menunggu disini? Kira-kira saja lah. Pilih: dua atau tiga minggu lagi?

Aku takut bosan. Aku takut tak cukup berani untuk sekadar bertahan.

Aku mewaspadai langit berlebihan, buru-buru membangun menara payung dengan memaksa rakun-rakun yang mengantuk membantuku. Ish, jahatnya.

Aku takut. Aku tak ingin di masa depan akan menatap hujan sambil memicing benci.

Karena sejauh ini dia adalah kawan yang lumayan pengertian. Aku masih ingin bercerita banyak padanya, tepat di manik mata, dengan dua kuping yang siaga menyimak.

Selalu kubayangkan suaranya halus berbisik, “tenang saja, sudah kusiapkan puisi.”

Dan aku senang dibuatnya. Selalu seperti itu, berulang-ulang.

Ingin Pandai Berpuisi

Aku ingin membuat puisi.
semerdu milik rangga, sejenius Chairil, sesulitdilupakan Syumandjaya.

Aku ingin membuat puisi.
yang membuatmu memejamkan mata dan tertawa. Imajimu bergerak, hatimu naik turun tidak karuan.
Membaca puisiku seperti sedang jatuh cinta kepada suara hujan.

Aku ingin membuat puisi.
yg melumat habis jinggamu, mendatangkan pelangimu.
Sampai kau lupa caranya bersedih.

Perhatikan rimaku,
Ingat-ingat diksiku.
Aku sedang bercerita ttg seorang pengembara yang diberi wahyu.

Anggap saja dia itu kamu.
Karena, ya. Aku sedang berpuisi tentang kamu.

catatan : semoga kamu tidak mual.