#3: Setelah Tiga Tahun – Menyaksikan Sedih

Aku rasa, aku masuk di jenjang kampus dengan nilai dan pemahaman yang terbentuk lewat bacaan, obrolan kawan, syuro’, majelis, dan sebagainya. Ada beberapa prinsip yang kupegang erat dalam menghadapi lika-liku kehidupan khas 20an beserta pergumulan emosi di dalamnya.

Dulu, aku jarang bisa memahami mengapa seseorang bisa berubah jadi sangat menyedihkan ketika patah hati. Aku pernah marah karena gak habis pikir saat melihat seorang teman begitu nelangsa diputusin pacarnya yang bikin dia kucel dan gak bersemangat. Aku cuma bisa melongo lebar ketika ditunjukkin temen guratan bekas silet di tangannya karena dia nggak kuat dengan sikap pacarnya dan permasalahan di keluarganya, so se hurted herself. Atau saat seorang teman yang sangat stres karena merasa nggak cukup cantik jika dibandingkan dengan temen-temen pacarnya di FEB. Atau saat tahu model mencintai dalam diam ala-ala aktivis dakwah. Hellowh. Plis banget. Gitu pikirku pas itu.

Aku gak paham. Blas.

Lalu semakin kesini, semakin aku mulai mengerti bahwa kita akan selalu diuji dengan hal-hal yang kita cintai dan perjuangkan. Everyone is fighting a hard battle that we know nothing about, kata Plato. Tugas kita sebagai manusia yang cepat atau lambat akan diuji pula dengan kadar yang berbeda adalah mendengar, menimpali jika diperlukan, dan menyemangati. Hidup ini keras, cenderung kejam. Aku perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kesedihannya sendiri dan kewajiban kita adalah minimal bersikap baik dan tidak merepotkan.

Kesedihan yang baru-baru ini kualami adalah semacam sedih yang bolong.

Itu terjadi saat kamu bangun di pagi hari dan merasa ada satu sudut hati bagian nggak tau yang mana bolong. Ada harapan yang pernah dipupuk, tapi kemudian layu setelah memberanikan diri untuk connecting the dots lalu sampai pada satu simpulan.

Maka disitulah aku pagi ini, bangun tidur sambil meringis karena masih membawa sedih sisa kemarin, ritual sebelum tidur tidak berhasil, memaafkan diri sendiri belum selesai.

Ketika belum habis mengidentifikasi jenis emosi apakah ini– sehingga aku tahu cara menghadapinya, aku didatangi lagi sebuah sedih yang lumayan bikin cenut-cenut ulu hati, aku jadi merasa tidak berdaya karena tidak memiliki apapun untuk dibuat perisai. Aku merasa tidak aman. Hei, dan anehnya, perasaan sedih seperti ini aku pelihara dengan baik. Aku semacam menganggap ini sebuah seni menjadi manusia; ada rasa kehilangan, kecewa, marah yang tak tahu pada apa atau siapa, juga lemah yang sayangnya hal ini sangat mengangguku sebagai seseorang yang tidak punya banyak waktu tersisa.

Mungkin ini teguran dari Allah yang melihatku abai terhadap-Nya.
Dan sungguh, ada hikmah dari semua yang terjadi. Pada titik ini, aku berusaha keras mencari hikmahnya, sembari bertanya sana sini sambil memastikan sedih sedang aman di tempatnya, tidak muncul di depan umum.

Tempat berpulang segala emosi, termasuk sedih, adalah Allah. Dan lihatlah, janji-Nya untuk selalu ada dan mendengar racauan tidak jelas hamba yang tadi sok-sokan bisa menghadapi sendiri ini. Ia selalu ada disana, dalam jarak yang lebih dekat dari urat nadi, akan selalu menerima segalanya yang kita bawa– prasangka, pertanyaan retoris, dan hal-hal buruk lainnya.

Maka yang seharusnya manusia lakukan adalah meletakkan semuanya. Meletakkan segala perangkat perasaan hati pada pemilik-Nya. Mencoba meresapi pasrah dan kepercayaan bulat pada Allah, bahwa ia sebagai Dzat Yang Membolak Balik Hati akan menyelesaikan urusan-urusan ini. Tuntas.

Ada hal yang aku belum tahu sedang dipersiapkan-Nya. Tugasku selanjutnya sebenarnya mudah saja, melanjutkan perjalanan. Sedih biar aman berada di tempatnya. Tanpa perlu harus kuperhatikan dalam-dalam.

Aku telah menyerahkannya pada Sebaik-Baik Wakil.

‘ala kulli hal, Alhamdulillah.

Selfie

Oknum T : *nunjukin tweet seorang ustadz tentang Selfie* Menurutmu?

Hm. Dear T, Aku mungkin akan fokus pada pendapat mengenai fenomena selfie-nya saja, bukan ke Ustadznya, kenapa? karena paknya itu temennya Ustadz Salim. (Lho?) Ya biar nggak logical fallacy number one: ad hominem. 

Selfie.
Aku kayaknya sering selfie. Kamu mungkin akan menemukan banyak fotoku di hape kawan-kawan dekatku. Aku tidak akan menolak jika kamu ajak selfie maupun grufie. Tapi memang, aku jarang masang foto selfie di akun media sosial sendiri.

Kenapa? Uhm, sesungguhnya ini cerita yang panjang…………………..
Singkat cerita, dulu aku percaya, muslimah sejati adalah mereka yang memajang foto bunga atau pemandangan atau kutipan Alqur’an di foto profil mereka. Tetapi, semakin kemari, aku kemudian menyadari bahwa menjadi muslimah itu lebih dari itu. Aku kemudian memilih untuk tidak memasang foto karena aku…. merasa cukup percaya diri.
Aku kadang kepingin banget masang satu foto yang.. tampak bagus. Tapi, di detik yang hampir sama, muncul pertanyaan yang bikin mempertimbangkan lagi… posting foto elok gini buat apa ya? Biar apa ya? …

Apa bener cuma buat jadi identitas akun? .. atau biar bisa jadi referensi? Biar bisa dipertimbangkan bahwa aku cocok dan harus banget dijadikan teman bergaul? atau cukup memenuhi kriteria fisik sebagai calon istri? ….

T, sepertinya, aku nggak membutuhkan persetujuan masyarakat bahwa diriku ini, si Anisah Fathiroh, adalah sosok yang cantik, maniez, ngehits, atau mirip finalis ASEAN Top Model— dan kudu banget dijadikan teman bergaul. Aku percaya bahwa teman-teman tetap mau nggumbul denganku meski hanya dengan foto profil yang begitu. Lain soal kalau ada orang lain yang masang foto selfienya bareng aku. Itu udah bukan urusanku sih.
Jadi aku pribadi lebih milih foto-foto yang artisitik gitu (setidaknya menurutku :v) atau foto bareng-bareng. Ini pilihanku, tidak menutup kemungkinan ada orang lain di luar sana yang punya alasan lain. Ya tidak masalah.

Di sisi lain, ada tesis bikinan dosen yang pernah ku-review waktu ujian, (maaf banget, cuma nemu abstraknya) yang relevan sama fenomena selfie ini. Yang intinya bilang, ada beberapa muslimah yang di facebooknya nggak majang foto dan tidak menggunakan nama asli, sesungguhnya sedang berupaya menunjukkan kepada publik tentang siapa dirinya– identitasnya. Ada hal-hal yang ia sematkan dan ia ingin publik percaya tentang konsepsi seorang muslimah: taat, patuh kepada perintah agama, dan tentu saja menjaga aurat.

 … as a face with Islamic Make Up, Facebook can become a laboratory of self-creating for its users, as a result, those informants can reflect their Islamic identity creatively and symbolically through code switching process, as a make-up. Therefore, Facebook, through all writings produced by those informants, can finally be concluded as a media that can make mystification of the discourse of Islam women.

Hal-hal mengenai tidak memajang foto selfie sebenarnya bisa melahirkan takabbur yang lain, “Noh, gini lhoh berperilaku yang bener sebagai muslimah tuh. Gini lho seharusnya menjaga aurat itu. Gak bener semua tuh cewek-cewek selfie.”

Semoga aku dijauhkan dari lintasan pikiran seperti itu. Jadi apapun pilihan sikap terhadap sesuatu, harus tetap hati-hati, waspada sejak dalam pikiran.

Erhm… Itu sih. Wallahu a’lam bisshawab.

Pertanyaan dan Jawaban

“Tugas saya adalah membuat kalian resah setelah keluar dari kelas ini.”

Pak Listiyono Santoso, dosen filsafat di pertemuan pertama.

ha.. ha…. ha……

Tiba-tiba aku ingat kata-kata ini, setelah beberapa lama. Aku nggak resah yang gimana gitu sih. Cuma jadi sering mengumpulkan pertanyaan. Nggak hanya dari kelas filsafat tok, tapi dari  hal-hal yang terjadi di setiap harinya. Habis dateng acara apa, habis denger cerita apa. Terus timbul pertanyaan. Kok gitu ya? Masak gitu sih? Semacam gagal paham.

Alhamdulillah, biasanya terjawab-jawab sendiri dengan sederhana. Sambil ngobrol-ngobrol atau mendengar cerita orang-orang.

Tapi yang paling sering memukauku adalah ketika kepala sangat berisik tentang suatu hal, penuh pertanyaan dan pinginnya dapet penjelasan, tau-taunya menemukan jawaban sempurnanya saat membaca suatu ayat di Al-Qur’an.

Pas, lugas, dan menenangkan.