Future Project : Ayunan

Katanya, mainan ayunan selama satu jam dapat membakar 1000 kalori.

Ah, sempurna.

c6b504c688875d004d47f4c5d19463fd

dapet foto dari sini

Di Surabaya, sepertinya sudah nggak ada tempat yang pas untuk naruh beginian kecuali di kompleks-kompleks mahal di Surabaya Barat, itupun suasananya indah secara buatan. Nggak alami. Di taman-taman kota ada sih, tapi ya nggak enak, masa anak-anak itu nungguin aku yang sebesar ini mainan ayunan selama satu jam? Sepertinya foto-foto ayunan itu diambil di deket pantai, di desa-desa, dan pegunungan, bukan di kota besar yang hectic seperti Jakarta atau Surabaya.

Lebih seru lagi kalo ayunannya nggantung di pohon oak. Oke, sebutkan tempat di Surabaya yang ada pohon oaknya? ….

Jadi alternatifnya, kalau harus nantinya, harus, terpaksa, tinggal di kota besar :

1. Rumah nanti di deket taman kota, biar pagi buta habis subuh bisa mainan, sehingga nggak merasa terpressing dengan tatapan tidak sabar anak-anak kecil dan ibunya yang antre pingin main ayunan juga.

2. Bikin sendiri. kalo nanti nggak punya halaman, bisa diatur nanti ayunannya di deket tempat jemuran.

Ohya, foto-foto ayunan yang keren lainnya ada disini

#Misi Ladang Sangar

Suka membandingkan diri dengan orang lain yang lebih sukses, pintar, bijaksana, sholihah, lembut, dan keren itu baik atau tidak?

Ada dua pilihan jawaban dan dua-duanya sama-sama bisa diterima.

Baik, karena dengan memiliki role model belajar, kita akan terpacu dan bersemangat untuk melebihi si keren tadi, at least, menyamainya. Ada beberapa orang yang membutuhkan ini  untuk bisa bergerak dan melakukan hal-hal yang berguna. Dengan membandingkan, kita jadi tahu sudah sejauh mana kita, sudah segimana usaha kita untuk menjadi orang yang keren.

Tidak baik, karena ketika terlalu sibuk menyesuaikan kebiasaan luar biasa, kita jadi lupa rasanya menjadi diri sendiri. Kita lupa bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menjadi keren. Karena seperti yang kita pahami, setiap orang memiliki ladang sangar nya masing-masing. Jadi master di bidang itu.

Lalu kalau pertanyaanya aku nggak tau ladang sangarku… gimana?

Mungkin itu gunanya belajar. Cobain semua ladang, jangan terburu-buru menjudge membosankan, nggak seru, angel, atau nggak aku banget. Habis gitu, coba dikonsisteni, kalau setelah diajalani rasanya seru dan “eeengh!”, mungkin itu ladang sangarmu.

Dengan menyebut nama Allah, mungudh m/

Tentang Self-dialog dan Misi

Waktu ikutan School of Public Speaking yang diadain SKIPPER sama Indosat tempo hari, aku mencatat banyak sekali poin penting yang disampaikan Bapak Pembicara. Mostly menjawab tentang “Mengapa kita perlu jadi public speaker yang andal.”

Beliau bilang, untuk bisa tampil di depan banyak orang dan agar pesan kebaikan kita tersampaikan,  kita perlu melakukan self dialog. Dengan self-dialog itu kita akan bisa memahami diri kita lebih baik, memaafkan kelemahan diri dan berdamai dengan perasaan. Diharapkan, dengan hati yang plong, kita akan mampu men-deliver pesan kebaikan lewat lisan kita kepada audiens.

Self dialog nggak hanya baik dilakukan ketika akan menghadapi massa yang besar atau formal, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Aku sudah mencoba satu kali, sangat ampuh. Saat itu kondisinya aku sedang merasa, ehm, soro-dewean, mblayu dewean, pegel dewean.

Lalu aku membagi diriku menjadi dua bagian; pendengar dan pencerita (konsep seperti ini pernah disampaikan pula oleh Ninoi). Aku menjadi teman bagi diriku sendiri.

Setelah beberapa kali menulis pertanyaan tentang perasaan saat itu, aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang ternyata sangat dangkal dan emosional. Aku bisa menenangkannya. Aku ajak diriku berdialog dengan perasaan dan pikiran. Dan alhamdulillah berhasil.

It feels good, even until now.

Nah, untuk membuat produktif menulis, beberapa hari sekali aku berencana akan memposting tentang pertanyaan dari yang menarik sampai nggak penting, yang disana aku akan coba menjawab sendiri. Ohya, Kalian kalau mau juga bisa membantu menjawab pertanyaan itu dari sisi kalian.

😀

semoga misi ini nggak mutung dan bermanfaat, ya.

Amin.