“Alhamdulillah, Mbaak”


Di suatu isya setelah buka puasa, aku menggonceng adik-adik baru kenal yang kuajak pulang bareng, semata sejalan dan yha kenapa tidak.

Di perjalanan, ternyata kami membicarakan hal-hal tentang diri masing-masing: kegagalannya di SBMPTN, kesibukannya di sekolah, keinginannya untuk bersekolah jauh dari rumah– karena ia lelah menjadi “terkenal” di Surabaya. Ia yang Amanah, ia yang semua-pasti-beres, Ia yang the-yes-girl. Ia ingin pindah ke tempat dimana ia bisa lebih jadi penyimak, pengamat, tanpa banyak dikenali. Me-reset ulang konsepsi tentang diri.

She, in some ways, reminds me of myself. Then I eventually agree that she has unlocked my password.

But, i think i need to revise it: she’s way better: in controlling her expectation, widening her acceptance, in seeing Allah’s plan for her, in husnudzon of Allah’s decision over all her efforts.

I remember the time in 2012, how gloomy i was. It took months– a year maybe, for me to finally accept my fate. I was craving for an answer, i dealt with my dissapointment, arrogance, and question. I didn’t really prepare myself to be in Surabaya and tbh, I didn’t really care about my murobbi’s implied sayin that DS is in its critical points.

That time.

And here I am. Tears streaming down, adoring my sister’s husnudzon towards Allah’s plan for her, her relief about bigger possibility to be in Surabaya– and join us. She might hold the grief, she might be tired of trying, yet she never loses her belief.

I learn a lot from her. In dakwah, in widening acceptance, in having a faith in Him.

In embracing life.

Terima kasih ya, Hila.

H+3 KKN Bersamamu

Tulisan ini dibuat dengan pelan-pelan, sambil meresapi obrolan lama di grup yang namanya entah kenapa belum ada yang mengganti, sambil merunut lagi awal mula kami bersebelas bertemu lalu merasakan ini itu, mengalami berbagai hal di sebuah tempat yang asing. Kampus kami menyebutnya Kuliah Kerja Nyata, dengan tambahan Belajar Bersama Masyarakat, ke-53.

Tulisan ini dibuat untuk mengkristalkan kenangan-kenangan selama 25 hari agar mereka abadi dan rapi tersimpan. Tidak semburat, berantakan, lalu hilang. Karena, akui saja, kita (apalagi aku) ini orangnya mudah lupa. Nantinya, foto-foto 10 GB itu mungkin akan tertumpuk dengan foto-foto magang, wisudaan, perpisahan angkatan, jurusan, dan momen hidup berkesan lainnya. Obrolan di grup mungkin terganti dengan grup lain yang lebih mendesak. Tapi, kita harus bersyukur dalam-dalam, karena sedemikian rupa Allah mengatur otak dan hati manusia untuk mampu menyimpan cerita dan kenangan indah dalam ruang-ruang di dalamnya.

Dan dengan menulislah caraku mengingat kalian, mengabadikan kita.

Sedari awal, ide tentang segerombol mahasiswa yang mengabdikan dirinya di masyakarat selama kurun waktu tertentu, menurutku adalah sebuah ide yang keren. Terlepas dari Tri Dharma perguruan tinggi tentang pengabdian masyarakat dan konsep kebermanfaatan, menurutku, model KKN yang mana kamu mengasingkan diri dari internet, keempukan kasur, daerah yang familiar, dan segala kenyamanan itu sangat penting untuk dikerjakan dengan semangat. KKN adalah tempat yang tepat untuk merenung ke dalam diri, merefleksikan, menelaah ulang tentang segalanya. Tentang diri, tentang hidup, realitas, mimpi-mimpi, juga tentang Tuhan.

IMG_2543 (1).JPG
Hari kedua, keliling desa dulu. (dari atas: Tyok, Aman, Iqbal, Nezha, Yunita, Susi, Melisa, Intan, Mbak Firtha, Ninda, Fafay)

Maka disinilah kami.
Dengan berbagai jenis pikiran dan sifat, berkumpul di sebuah rumah beralas tanah milik Bu Nur di Desa Kweden, Nganjuk. Menemui kebiasaan satu sama lain dan terbiasa karenanya. Mengompromi kentut, menerimanya sebagai suatu hal yang awalnya— “eh maaf ya, bau gak?..” lalu semakin lama, tawa yang keras dan panjang jadi respon kami. Suara mendengkur subuh hari di luar kamar cewek dan Melisa yang berkata, “Mas Iqbal, Mas Aman, Tyok, bangoooon, bangoooon.” lalu tiga laki-laki berusia 20-an awal itu bergeliut di sleeping bag mereka, berjuang melawan syetan yang mengencingi kuping untuk bangun dan mendirikan sholat subuh di masjid. Kemudian dilanjutkan dengan secangkir Energen yang diseruput di teras. Pagi dimulai dengan satu-dua warga yang lewat dan kami sapa sembari mengantre mandi untuk sebuah program kerja di sekolah atau Karang Taruna.

Rangkaian itu seperti sebuah seremonial pagi yang akan selalu aku rindukan.

KKN ini bisa kita sebut sebagai sebuah perjalanan bersama, dengan starting point yang berbeda, kita diharuskan untuk menyelesaikan perjalanan ini. Belajar sebanyak-banyaknya, menemukan sebanyak-banyaknya, juga membuat cerita sebaik-baiknya.

Erick Weiner, dalam bukunya The Geography of Bliss, mengatakan bahwa sekalipun dua orang melakukan sebuah perjalanan dengan tujuan yang sama, perjalanan itu akan bermakna beda bagi setiap orangnya. Begitu pula perjalanan 25 hari di Kweden ini.

Dari kebersamaan ini, ada yang kemudian menemukan jawaban atas kerisauan khas mahasiswa akhir tentang kehidupan pasca kampusnya. Jawaban yang sedikit demi sedikit ia dapat setelah berinteraksi dengan teman-teman KKN lain lewat sharing dadakan di rumah Bu Nur, lewat obrolan dengan warga saat silaturahmi, dan lewat pengalaman jauh dari orang tuanya sendiri untuk pertama kali. Jawaban bahwa, khoirunnas, anfa’uhum linnas–(sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya) adalah prinsip paling dasar yang harus ia pegang teguh. Ini adalah tentang cara pandang. Semoga cukup membuatnya tenang.

Ada yang (insya Allah) akan memakai kerudung setelah KKN berakhir. Dorongan itu datang dari Allah lewat aksi teman-teman perempuannya yang heboh dan lebay mencari kerudung saat mendengar suara motor datang (pertanda cowok-cowok akan masuk ke rumah). Ada juga yang mulai berikrar secara istiqomah memakai kerudung walau sedang di lapangan bermain voli. Semangat, Intan The CinTub Girl. Jilbab tidak akan pernah menghambat performamu :*

Ada yang ingin lebih rajin sholat berjamaah, yang punya banyak stok cerita tentang sistem bobrok sebuah kampus, bisnis solar dan dupanya serta segudang pengalaman hidup yang beragam di usianya yang 21 tahun. Berbicara dengannya, semakin membuatku yakin bahwa kita perlu untuk menyiapkan telinga kapanpun, karena tidak semua pengalaman bisa kita alami secara langsung. Lewat berbagilah hikmah dan pelajaran itu dapat sampai. Ada juga yang berikrar berhenti merokok dan menurunkan berat badan sampai 70 kg lewat freelatics. Di hari terakhir KKN, ia menjanjikan saat wisuda nanti, beratnya akan benar turun menjadi 70 kg, “Engkuk pas wisuda, aku tak nggowo timbangan!” Kordes Iqbal yang luar biasa. Atau yang suara ngajinya meliuk bagai Imam di murottal-murottal dan juga jago nyanyi. Setiap katanya bernada. Ia sering mengeluhkan beban menyandang almamater SMA-nya yang cukup tersohor di negeri ini. “Saya malu tiap ketemu masyarakat.” lol. Dengan kondisi awal tidak ada siapapun yang mengenal siapa ia sebelumnya– orang ini kemudian ingin menjadi lebih baik. Awalnya ia dikenal misterius, namun lama-kelamaan, ealah, podo ae. Wkk. Feels like home, yha Man.

KKN juga membuat kita melakukan hal-hal yang awalnya kita ragu bisa lakukan. Memasak, misalnya. Yunita bilang, dia nggak pernah menyentuh dapur selama di rumah. Ia cuma tinggal makan dan kembali lagi ke kamar. Namun, siapa sangka, di KKN, dia bertransformasi menjadi The Cooking Mama yang memimpin dapur dan mendelagasikan tugas memotong bawang, menumis, menakar bumbu, menggoreng, sampai mencuci sayur, kepada bawahan-bawahannya. Hasilnya? Tidak mengecewakan. Malah bisa dikategorikan enak. Luar biasa ya potensi manusia. Wkk. Belum lagi rencana untuk mendirikan usaha bertajuk Yunus Crispy– kepanjangan Yunita dan Susi. Menjual jamur crispy di tengah Kampus B dan Kampus C. Terdengar ganjil, memang.

Hal terbaik yang pernah terjadi di kehidupan manusia bagiku adalah berada dalam sebuah lingkungan yang mempersilakanmu menjadi dirimu sendiri, namun juga mendukungmu untuk menjadi lebih baik dari yang kamu bisa sekarang. Bersama orang-orang yang mengapresiasi keanehanmu dan melihat itu sebagai sesuatu yang luar biasa.

IMG_3239.JPG
Sedudo yeah. Anw, Iqbal kok nemu ae pose iku.

Ikatan yang semoga tidak berhenti sampai disini. Ikatan yang mempertemukan kami dengan sosok-sosok luar biasa di Desa Kweden sekaligus dengan keramahan warganya, kepolosan anak-anak SDnya, kelucuan Isna anak tetangga, juga suara hujannya. Desa sebagai sebuah tempat yang mengajarimu banyak hal, memintamu untuk tidak serta merta menerapkan ilmu tanpa menyesuaikannya dengan adat dan kebiasaan setempat. Tempat ini memberi lebih dari yang kami bayangkan. Kweden membuatku merasa… tersanjung dengan hampir setiap aspek masyarakatnya. Desa ini mungkin statis, tapi ia hidup dan berdenyut dengan caranya sendiri.

Sapaan warganya setiap bertemu kami, adik-adik satu sekolah yang menyambut kedatangan kami dengan antre meminta tanda tangan (hng…..), juga keindahan alamnya. Sawah membentang, pagi yang sarat oksigen, ayam-ayam yang sering mampir ke rumah, suara sungai, juga pohon rambutan yang menggantung malas di hampir setiap rumah tiba-tiba menjadi suatu hal yang mewah. Memang benar, wujud bahagia memang tidak rumit dan banyak atraksi.

Walau dengan segala keterbatasan kelompok kami, 25 hari telah terlewati. Walau kurang disana-disini, kesulitan dan hambatan bisa kami atasi. Mulai dari sakit yang bergantian, HP kordes yang hilang, wangi melati semerbak di malam hari, main pembunuh-pembunuhan, mengarungi Nganjuk kota mencari JNE untuk mengirim berkas demi keperluan sponsor setelah seharian ngurusin anak satu sekolah (tos dulu, Fay :’), sampai menghadapi protes warga. Mungkin diam-diam, 11 manusia ini sudah bersepakat untuk menikmati setiap proses belajar ini bersama-sama dan memutuskan untuk menerima kenangan keluarga baru ini secara lengkap; senang-sedihnya, mangkel-ngakaknya, kecewa-puasnya, semuanya.

Aku harus bersyukur sekali lagi.

Adakah yang lebih baik dari mengenal kalian?

IMG_3191

Bersama Bu Nur 🙂

30 Juni, Pukul 11.45

Lihat, aku disini menahan kantuk-luar biasa. Kelas ini nyaman sekali. Bersih, suasana tenang, adem.

Tapi aku tidak boleh tidur. Nanti ketahuan peserta dan pengawas yang lain. Hm… tapi lebih takutan ketahuan peserta sih. Aku tahu banget perasaan murid pas ngelihat guru di depan berjuang menahan kantuk pas jaga ujian; guru mencoba menyeimbangkan posisi tegak biar gak oleng, melawan gravitasi untuk tidak menjatuhkan kepala di meja. Badannya jadinya terhuyung-huyung bagai layangan, lalu sedetik kemudian tersadar dan sok-sok tegak lagi mengawasi peserta ujian. Itu menggelikan.

Iya, tanggal 30 Juni 2013 aku jadi pengawas ujian Seleksi Masuk Universitas Indonesia.

Kuulangi, pe-nga-was.

Setelah sebelumnya membacakan tata tertib, membagi lembar jawaban, membagi soal ujian secara zigzag, mencocokkan wajah di KTP, kartu peserta dengan wajah asli, sampai mengisi berlembar-lembar berita acara, sekarang aku nganggur. Menahan kantuk, masih ada 45 menit tersisa.

Iseng, aku mengamati wajah mereka satu persatu. Hooo, yang itu tegang, yang ini ambek angop-angop. Apa ya yang mereka pikirkan? Kok soale beda ya sama di bimbel? sampai, “Wih alhamdulillah gampang! papa-mama, insya Allah aku keterima…”

Apa mereka mematri semangat ‘UI, aku datang’ di setiap soal? Apa mereka juga, ketika bosan, suka nggambar-ngambar makara di kertas soal? Apa mereka juga nulis percakapan imajiner di sisi-sisi kertas?

Jadi seperti ini rasanya.
Aku tetap bisa melakukannya dengan tenang, si hatipun juga.
Meskipun semalam gak sengaja nonton video BEM mereka yang waw abis, baca tulisan mahasiswa UI yang keren juga, di ece Mbak Masy tadi pagi, ‘lho, kok gak jadi peserta?’, aku baik-baik saja. Gak lebay, gak ngejleb seperti yang dulu kukira ketika berhubungan dengan sesuatu apapun tentangnya.

Aku takjub juga dengan ketidak-apa-apaan ini. Ada di meja pengawas ujian SIMAK UI, setahun lalu, sama sekali nggak pernah terpikir. Sama sekali.
Aku suka saja dengan cara-cara Allah memberiku pemahaman. Nyelempit-nyelempit 🙂

pengawas, haha.
pengawas, haha.

Repost : Tentang Terlambat

Aku datang telat (lagi)

untuk ke 4 kalinya di semester ini
yang tak heranin, dari telat yang pertama ke sesudahnya, kenapa aku nggak pernah ngambil pelajaran.
waktu telat yang pertama, aku cuma ngguyu-ngguyu ae karena yang nggak bisa masuk gerbang libels karena di gembok dari dalam itu ada bejibun, kaya ngantri tol.
yang kedua biasa ae, bersyukur karena hari itu ngga ada PR atau ulangan
tapi pagi ini.. karena sumpek masuk-masukin buku, uang masjid, hape, quran rukuh headset, kertas2 ke dalam tas. dan harus naik-turun tangga karena ngambil barang yang kelupaan di kamar.. belum lagi lampu merah dan orang nyebrang yang terjadi secara berurutan menambah lama waktuku di jalan.
telat ini seperti hukuman langsung. karena telat solat subuh.
aku juga ngga tau nasib ulangan basa inggris dan akuntansi..
dan baru kali ini aku pulang ke rumah dalam keadaan nangis gara-gara telat, nyesel…
kemarin (30/8) aku juga nyaris telat. benar-benar nyaris.
motorku berhasil menembus gerbang khas alcatraz libels sedetik sebelum pak Herman mau menutup gerbang.
aku beruntung sekali. andaikan sedetik tadi itu tak lama-lamain di jalan, pasti kemaren aku juga telat.
ternyata, satu detik itu sangat berharga. Aku ngga mau jadi orang yang rugi..

mulai hari ini dan seterusnya, aku akan berangkat sejam sebelum bel bunyi!

~~~

Postingan dua tahun lalu, waktu menyesal terlambat masuk sekolah. (saat itu kebijakannya yang terlambat dihitung absen)

Aku pernah berjanji, dan melanggarnya. Ini adalah hal yang makin lama makin serius, dan menyedihkan. Sungguh tidak berprigolongan darah A yang baik.

Kepada Ninoi, teruslah memarahiku ketika aku datang kelas terlambat. Mbak Didi juga, bully ae habis-habisan kalau telat njemput buat rapat atau isps. Aku kadang butuh diketok yang kuweras biar sadar.

Kepada diri, maluo. Ini sudah bisa disebut korupsi, tahu.

Kalo kata Ica, your mother-in-laws are everywhere. #kemudianhening

Ingin Pandai Berpuisi

Aku ingin membuat puisi.
semerdu milik rangga, sejenius Chairil, sesulitdilupakan Syumandjaya.

Aku ingin membuat puisi.
yang membuatmu memejamkan mata dan tertawa. Imajimu bergerak, hatimu naik turun tidak karuan.
Membaca puisiku seperti sedang jatuh cinta kepada suara hujan.

Aku ingin membuat puisi.
yg melumat habis jinggamu, mendatangkan pelangimu.
Sampai kau lupa caranya bersedih.

Perhatikan rimaku,
Ingat-ingat diksiku.
Aku sedang bercerita ttg seorang pengembara yang diberi wahyu.

Anggap saja dia itu kamu.
Karena, ya. Aku sedang berpuisi tentang kamu.

catatan : semoga kamu tidak mual.