This.

Saya akui, Ujian Nasional memang kotor, kotor sekali. Tapi, selama kita belum mampu mengubah arah kebijakan, sebagai siswa tugas kita hanyalah membuktikan bahwa kita tidak termasuk dari praktik kotor kecurangan Ujian Nasional.

Karena terkadang lembaran terakhir suatu kisah bukanlah tentang pencapaian, melainkan tentang bagaimana kita mencapainya….

– Seseorang yang nggak aku kenal dan tidak sengaja kutemukan linknya di twitter.

Saya akui, Ujian Nasional memang kotor, kotor sekali. Tapi, selama kita belum mampu mengubah arah kebijakan, sebagai siswa tugas kita hanyalah membuktikan bahwa kita tidak termasuk dari praktik kotor kecurangan Ujian Nasional.

Karena terkadang lembaran terakhir suatu kisah bukanlah tentang pencapaian, melainkan tentang bagaimana kita mencapainya…. 

 – Seseorang yang nggak aku kenal dan tidak sengaja kutemukan linknya di twitter. 

 

Dengan menyebut nama tuhanmu. 

 

Saya akui, Ujian Nasional memang kotor, kotor sekali. Tapi, selama kita belum mampu mengubah arah kebijakan, sebagai siswa tugas kita hanyalah membuktikan bahwa kita tidak termasuk dari praktik kotor kecurangan Ujian Nasional.

Karena terkadang lembaran terakhir suatu kisah bukanlah tentang pencapaian, melainkan tentang bagaimana kita mencapainya….

 – Seseorang yang nggak aku kenal dan tidak sengaja kutemukan linknya di twitter.

Dengan menyebut nama tuhanmu.

“Be Your Self” itu Membingungkan


‘Jadilah dirimu sendiri’ itu jelasnya kayak gimana, seh?

Maksudnya.. kita kan setiap hari ketemu orang, terlibat pembicaraan seru yang kental sekali subyektifnya, mengamati perilaku mereka, membaca dan mendengar pendapat-pendapat dari televisi, blog-blog, kultwit, bahkan lirik musik.

Hal itu dikuatkan dengan sebuah teori yang pernah kita pelajari di kelas, pembentuk kepribadian itu pertama keluarga, teman sebaya, media, dan.. sekolah. Ini semua yang akan menjadikan kita manusia seperti apa.

Gimana kalau misalnya siswa SMA bernama Syamsyul sudah merasa yakin dan percaya bahwa dia itu supel, semua orang selalu merasa senang bersamanya, candaanya khas dan suka tersenyum lebar.

Lalu dia lihat si Dekisugi temannya nggak suka cewawa’an, keren ketika presentasi, beraura, solusinya jitu dan nggak grusa-grusu. Oke, Syamsyul berpikir Dekisugi bisa dicontoh.

Lalu ketika dia mencoba seperti itu, orang-orang di sekitarnya jadi bingung.

“Ini bukan kamu yang biasanya.”

“Iya, kamu terlihat berusaha keras menjadi seperti itu”

“Udahlah.. daripada jadi orang lain, kan capek. Just be yourself

Nah, ini membingungkan. Memang salah ketika si Syamsyul berusaha lebih cool? Bukannya tadi sudah disepakati dari awal bahwa pembentuk kepribadian adalah empat hal itu? Dan Syamsyul hanya sedang berada di proses itu.

Jadi.. What’s the point of ‘Be Your Self’?

Btw, post ini lama-lama terasa seperti soal cerita Sosiologi UNAS.

Fokus di Satu Objek

‘Harga satu obatnya berapa?’

‘Rp 250.000. Saya harus minum obat itu sehari minimal 4x’

‘Jadi… sehari satu juta. Kalau dihitung, sebulan mencapai 30 juta ya…’

‘Iya.. Kadang saya tanya sama dokter. Dok, saya kayak gini mau sampai kapan?

terus dokternya jawab :

‘Ya.. sampai bosen.”

Obrolan Andy F. Noya dengan narasumbernya tentang komunitas sepeda yang berjuang untuk membantu para penderita leukimia baik dari moril dan materiil sore ini cukup bikin badan menegang.

30 juta perbulan.

Nominal itu bagi sebagian orang sangat banyak. Jumlah yang sangat banyak itu amat dibutuhkan mereka para penderita kanker untuk mengurangi sakit yang diderita. Mengurangi sakit saja, karena obat itu tidak bersifat menyembuhkan.

Nonton acara begituan itu memang butuh mental bagus. Karena nonton, membaca, hadir, di acara-acara seperti itu bagiku kadang akan menjadi ajang penghakiman diri sendiri. After tastenya jelas ; diri akan merasa tidak berguna, belum melakukan apa-apa, dan onfire hanya di situasi tertentu saja. Meskipun itu semua sedikit-sedikit dibarengi perasaan yang lebih melegakan seperti bersyukur, termotivasi dan lain-lain.

Dan di post ini, aku akan mengedepankan sisi yang sedikit-sedikit itu.

Mungkin ketika kita sedang ngamuk-ngamuk, merasa kurang sana-sini karena keperluan sekolah ditalangi uang saku karena uang bulanan belum turun, sumpek buku tahunan, klewas-klewes belajar, masih menyempatkan diri membaca-youtubing Korea-Korea an, daydreaming dan segala hal gak berguna lainnya.. kita perlu diam sejenak.

Coba mengangkat tangan dan mengamati tangan sampai kulit terasa transparan.  Sehingga kita bisa melihat dan merasakan dengan jelas darah mengalir begitu lancarnya (‘darah baik-baik aja’ sebulan harganya 30juta), merasakan jantung terus berdetak memompa, kaki masih bisa menjejak tanah, merasakan ngeresnya lantai kamar, kita bisa berdiri sambil presentasi di depan kelas, bisa lari dari tempat parkir ke kelas, sepatu masih terlihat pas dipakai di kaki yang  nggak ada cacatnya. Belum lagi mata, bibir, telinga, dan otak yang insyaAllah masih bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Apa saja. Fokus pada satu objek dan bayangkan betapa berharganya ia dalam hidup kita. Betapa berharganya meja ini, betapa berharganya kepala ini, jemari ini. Dan betapa berharganya orang-orang itu.

Singkatnya, masak kita masih ‘tega’ klewas-klewes dengan segala hal menakjubkan di sekitar kita. Masak mau berterima kasih dengan cara seperti itu?

Kalau sudah jujur, InsyaAllah.. syukur yang gantikan semua kejemuan dan kemalasan, semangat baru pun datang.

Atau malah nangis, karena lagi-lagi merasa nggak berguna dan belum melakukan apa-apa.

Senja

Kita semua punya senja.
Senja yang selalu menunggu ketika seharian lelah berjaga. Senja yang bagi banyak orang adalah kekuatan abadi.
Tapi ini berbeda.
Seperti senja yang disandera mendung. Ia, yang lantunannya melembut sedetik kemudian tertawa.
Sebenarnya apa yang kau rasakan?
Dedahan dan reranting beradu untuk memperindah senja. Cantik sekali.
Tapi menurutmu mereka berisik. Menganggu konsentrasi.
Memiliki senja yang sendu itu bukan pilihanmu.
Menyalahkan semestapun rasanya kurang ajar.
Aku yang kemudian mahfum ketika mereka menuntun kita untuk memikirkan senja yang tiba-tiba wafat.
Kau hanya diam. Bingung memvisualisasikannya di pikiran.
Karena kau mati rasa. Karena kau sudah terlalu sering menabur kapur untuk mengurangi segala hal yang memerihkan.
Hingga kau tak lagi mampu membedakan mana kangen, sayang, tulus maupun kecewa.
Aku ingat ketika kau akhirnya berjanji. Tak akan menjelma menjadi senja yang memilukan.
Kau ingin jadi senja yang cerah dan mendamaikan.. karena tak ingin mengecewakan anak-anak sore yang membanggakanmu.

Tidak seperti senja yang khilaf dalam menilaimu.

Be strong .

My Sri Mulyani

Sambil lihat-lihat buku dan majalah edisi lama di rak sederhana lantai satu Plasa Marina, dia tiba-tiba memecah diam.

“Aku jadinya di Unair, Nezh.”

Aku kaget, beneran kaget. Mata membelalak sempurna, mulut ternganga. Berulang kali mengklarifikasi. Sumpah? Sumpah? Sumpah?

“Tadi malem udah ngomongin bareng sama bapak ibuku. Yaa.. Unair.”

Sampai akhirnya dia  cerita dengan berurutan, menjawab segala pertanyaan yang memenuhi otak, satu persatu. Aku mahfum sambil melongo.

Jadi dia mengisi pilihan undangannya di Unair. dengan nilai tertinggi, jauh diatas rata-rata. Dapat dipastikan dia bisa masuk. Kasarnya, keterlaluan kalo Unair nggak nerima siswa kayak dia.

Dia, adalah orang pertama yang kutemui begitu khusyuk dan tulus dalam belajar. Total. Melihatnya menjadi dewa abadi pun nggak heran lagi. Awalnya mengira dia adalah sosok yang akan membuat orang disekelilingnya nggak nyaman. Eh, ternyata enggak.

Dari kelas XI, dia udah bercerita kalau dia pingin banget masuk Ilmu Ekonomi UI. Sampai akhirnya aku tahu, kalo ternyata dia hafal nama alumni-alumni FE yang sekarang kita sering dengar namanya di televisi. Mulai dari menteri-menteri dari periode kapan, pejabat-pejabat BI sampai Afgan. Dia tahu sesuatu yang kami teman-temannya nggak terlalu ngeh. Dia selalu update tentang FE. Ah, pernah juga di suatu pagi dia dengan semangat nunjukin aku sebuah foto di hapenya.

“Nezh, aku punya foto Afgan pas lagi ospek!”

“Semangat Ilmu Ekonomi UI!” lanjutnya.

Dia suka Afgan, karena Afgan dulunya pernah jadi mahasiswa FE UI. Itu saja.

Gambaran tentang dia di UI dengan jakunnya begitu jelas di pikiranku.  Dia akan lebih banyak belajar, bertemu orang-orang baru, nggak lagi Study-oriented, bertemu bahkan berdiskusi dengan orang-orang yang dikaguminya. Membayangkannya saja aku ikut senang.

Ya, Kalau emang takdirku di UI, pasti adaaa aja jalannya. Mungkin nanti aku ikut Simak UI. hehehe

Aku ikutan sedih. Beberapa orang pasti paham sekali perasaannya. Masalah lama: ridho orang tua. Sekali lagi aku dibuat amazed dengan sifatnya yang… sangat patuh. Menurutku ini positif..

Semoga dimudahkan, Clar. Yang terbaik… Yang terbaik… InsyaAllah, Dia lihat semua doa setelah sholatmu yang luuuamaaa itu. Ikhtiar yang nggak kami lihat di kelas, Allah lihat.

Aku dukung kamu, secara pribadi.

Apapun, tetep semangat, My Next Sri Mulyani!

Sedikit tentang Februari

February is great.

Di bulan Februari banyak hal keren terjadi. Mulai dari ketemu orang-orang baru dan sangar di tanggal 4-5, kaget dan galau di tanggal 7-10, baca 7 Keajaiban Rezeki, baca Nasional.Is.Me nya Pandji di tanggal 14, sampai bikin blog baru di tanggal 17 (hm, menurutku ini keren)

Iya, tanggal 4-5 Februari 2012, Arek Suroboyo UI atau ASUI mengadakan acara Tryout dan Bedah Kampus. Tryoutnya, aku ketemu sama seorang teman baru ^^ Sangar-gonna be juga. She did LOA to me :)

“Hore! aku juga pingin UI, selamat berjuang teman sekampus!”

Yaa… meskipun tidak menutup kemungkinan Si Teman Baru ini bilang gitu cuma basa-basi sih… tapi diluar itu semua aku menyadari betapa berharganya hal-hal seperti ini. Menurutku itu seperti  Law of Attraction yang eksternal.

Selain itu, membuka file-file lama di laptop sepertinya harus dirutinkan. Karena banyak treasure tersimpan yang belum dijamah selama ini. Ternyata aku pernah download ebook-nya Pandji Pragiwaksono.

Nggak bisa berhenti sampai selesai di page terakhir. Di e-book itu, awalnya dijelaskan alasan-alasan yang akan membuka wawasan betapa potensialnya kita; Indonesia menjadi bangsa yang besar dan maju. Lewat cerita-cerita masa muda, kesempatan keliling Indonesia, opini-opini Pandji yang bisa bikin ‘ngeh’. Aku merekomendasikan ebook ini untuk dibaca oleh teman-teman yang skeptis dengan bangsa ini, yang nggak mau hidup di Indonesia setelah dewasa nanti.

Ya, belum tentu bisa berubah langsung jadi cinta sih, yaa.. minimal orang tersebut mengetahui. Kalo kata Pandji “We are what we know.” Intinya Mas Pandji ini ngasih tau kita, ‘Nih Indonesia tuh indah, hebat, dan butuh agent of change dari tiap bidang untuk bisa semakin hebat.’ Karena ebook ini persuatif, aku dengan sendirinya merasa tertantang untuk mengetahui lebih jauh, membuktikan dengan mata kepala sendiri tentang Indonesia, berpikir dan melakukan sesuatu, meresapi goresan Allah di belahan bumi pertiwi, menyaksikan harapan dan semangat di mata bening anak-anak di pelosok negeri. Indonesia membutuhkan kita.

Lumayan menginspirasi.

Eh, itu saja. Aku ditungguin Tissa di rumahnya. Tissa pingin masuk UI Komunikasi atau Fikom UNPAD. Doakan dia ya!

“….. Tapi jujur ae, aku emang bukan orang yang kayak.. apa? cinta Indonesia? yaaa whatever. Nasionalisme whatever itu….”

:)

Kenapa?

Melihatmu, seluruh perasaan campur aduk berjejalan memasuki rongga dada. Ini kenapa?

Gagal. Total.

Gagal membersamai, terlalu asyik dengan dunia sendiri, lupa ada berlian yang harus dijaga, ditemani. Harusnya aku bisa kayak mbak itu, harusnya aku bisa!

Tapi…… ini kenapa?

Hikmahnya, dengan ini aku harus masuk situ. Dan taun depan kita akan ketemu lagi, kita akan sama-sama lagi. Ketemu orang sangar-sangar lagi. Semesta kita akan sama, kau akan kupegang untuk kedua kalinya. Lebih kuat, lebih erat. Karena aku takkan membiarkan diriku merasa terpuruk di depanmu untuk kedua kalinya.

 

 

 

 

 

Annyeonghaseyooooo..

Ah, oke.

Jadi aku lagi ada di ‘rumah’ baru. Hm… sepertinya asik, juga banyak yang harus dijelajahi di site ini .-. Alasan meninggalkan blog lama adalah tidak lain tidak bukan karena lelah harus reset password TIAP login. Lelah. Lelah.

Itu alasan teknisnya, alasan  keduaaaaaaa… karena blog itu cupu. Entahlah, salah satunya too much promises to be productive tapi tidak terlaksana. Sedikit malu.

Di wordpress ini rasanya tiap empu blog  semacam (dituntut) dewasa dan kritis (ini hasil pengamatan) Karena link-link keren biasanya dateng dari blognya wordpress.  Semoga hal tersebut terbawa dalam tulisan-tulisan yang akan datang. Yaahh kalau memang harus menye-menye, yaa.. minimal menye-menye yang elegan lah.

Eh, itu saja.

Salam hangat.

Sangar- gonna be,

Nezha Fathiroh