Di Masjid Dekat Rumah

Selepas subuh, Ayah pulang dengan air muka yang tampak janggal. 

“Tadi di masjid diceritakan Pak Basofi, Abah Ja’i, semalam marah-marah, nduding (nunjuk-nunjuk) Pak Heru karena bilang kalau NU itu munafik dan moderat bujukan, soalnya membubarkan pengajian Ustadz Basalamah.”

Ah, persoalan itu. 

Beberapa tahun ini, ada isu menarik yang dibahas di rumah oleh Ayah dan Ibuku tentang Masjid Baiturrohim, masjid di kampung kami. 

Tiada lain tiada bukan adalah tentang perbedaan. Mulai dari qunut-nggak qunut, pakai bismillah-tidak dengan pakai bismillah waktu shalat, sampai dengan perilaku jamaah yang mudah menuduh ini dan itu terhadap jamaah lain yang memiliki pemahaman berbeda. 

Ayahku dibesarkan di Ampel dengan kultur Nadhliyin yang sangat kental. Ibu lahir di Cianjur yang juga berbasis NU. Kami anak-anaknya disekolahkan dan di dipondokkan (ke uali aku *cry) di tempat NU, dengan mata pelajaran Aswaja, kitab kuning, lengkap dengan kebiasaan diba’an, qunut saat subuh, dll, dll. 

Ayah ibuku bertemu di sebuah organisasi bernama PII alias Pelajar Islam Indonesia yang heterogen pemahaman agamanya. Ada yang Muhammadiyah, NU, persis, dll dll,  yang versi mereka, membuat mereka terbiasa dengan perbedaan pandangan dalam berislam. 

Hidup di masyarakat (dan ambil peran aktif di tengah-tengahnya), perbedaan itu jadi makanan sehari-hari. Aku mengikuti cerita-cerita Ayah Ibuku tentang Masjid Kampung kami, tentang Pak Ini suka tiba-tiba memotong pembicaraan orang lain dan bilang, “bid’ah itu, nggak sesuai syariat Rasulullah.”, Pak Itu yang membawa isu khalifah islam di setiap komentarnya, Pak Anu yang suka menyebar undangan kajian ustadznya dan mendorong orang lain ikut, tapi ketika ustadz bukan dari golongannya yang mengisi di masjid, dia tidak pernah ikut. 

Dan masih banyak lagi. 

Aku lumayan senang berada di keluarga yang amat terbuka dengan diskusi dan bersedia mendengar. Ayah Ibu, menurutku adalah contoh, bahwa nanti ketika di masyarakat, aku harus bersikap tengah-tengah, menguasai teknik berkomunikasi dengan orang dari berbagai pemahaman ilmu yang berbeda, selalu siap jadi pendengar sekaligus penjembatan, dan menularkan semangat mencari ilmu— dari siapapun.

Karena umat Islam sekarang butuh lebih banyak pemersatu, kebersatuan Islam dengan segala coraknya ini harus jadi cita-cita kita. 

Dan mimpi besar itu bisa dimulai dari masjid yang paling dekat rumahmu. 

Yha, tapi sulit memang untuk berdiskusi dengan banyak kepala yang sudah merasa paling kaffah dan benar dalam menjalankan Islam. Apalagi kalau kita masih penduduk baru di kawasan itu, butuh strategi dakwah kultural, dan sepertinya waktunya cukup panjang (yha, sekali lagi perlu diingat bahwa usaha ini tidak dilandasi oleh perasaan bahwa cara kita adalah yang paling tepat dan benar).

Coba tunjukkan lewat akhlaq atau perangai kita, kayak Rasulullah waktu di Makkah dan Madinah.

Karena salah satu dakwah yang terbaik itu teladan. Akhlak. 

Kepada Is.  

Entah apa kau akan menyebutku, yang jelas ceritamu tentang desa sebelah yang semakin ramai dikunjungi orang karena sungai berbatu-batu disana dijadikan tempat arung jeram favorit orang kota, sama sekali tak membuatku tertarik. 

Aku tidak menyukai desa yang tenteram ini kemudian bising oleh mobil-mobil yang minta lahan parkir sehingga kita harus mengeringkan petak-petak sawah untuk digagahi mobil bernopol antah berantah itu. Tidak juga dengan wajah-wajah sok penasaran yang mungkin akan melihatku sebagai manusia langka dengan peringai primitif dan diminta foto dengan pose memegang bambu. Janga lupa dengan sampah-sampah asing yang tidak pernah kita temui akan nyangkut di kali depan rumah kita.  

Ingin apa sih kita ini?  Keuntungan buat desa?  Bumdes (badan usaha milik desa) yang menghasilkan 2 milyar pertahun?

Ah. 

Aku pusing Is membayangkannya.

Is, sungguh kau boleh memarahiku. Menganggapku kolot dan berpikiran pendek, tidak seperti Kang Agus yang visioner, pandai bicara sehingga wakil bupati mau datang dan menanamkan investasinya di desa ini. Belum lagi tentang ia sedang sibuk mempersiapkan presentasi di depan presiden bulan depan, tentang proyek masa depan desa ini, katanya  

Is, tapi aku serius. Semoga kau masih mau memikirkannya kembali.  

Jika kau masih ingin mendengarku, aku akan bilang, untuk orang sepertiku, aku hanya butuh tempat yang tidak bising. Ada surau sederhana, tapi bisa menampung banyak anak mengaji sore. Aku bersedia jadi muadzin tetap, 5 kali sehari. 

Aku lebih baik diganggu suara anak-anak yang merajuk ingin dibacakan buku. Rumah beralas tanah kita akan penuh anak-anak yang datang silih berganti membaca buku. Kau bisa ceritakan kisah-kisah heroik Salman Alfarisi, Khalid bin Walid, sampai Pangeran Diponegoro, atau Jenderal Sudirman yang dipapah saat memimpin perang gerilya. Jangan lupa suara dramatis itu. 

Ah, tapi berangan-angan seperti ini, kau paling akan menganggapku egois dan mau enaknya sendiri, tidak memikirkan kemaslahatan masyarakat desa.

Katamu aku tidak solutif. Kau mungkin sudah banyak bergaul dengan orang dari universitas-universitas, mereka akan bilang kalau orang sepertiku ini adalah penghambat internal kemajuan desa. Aku statis. Kau jadi ikut-ikut mereka, ingin hidup yang dinamis. 

Mimpiku sederhana, Is.  

Aku hanya ingin aku, kamu, beserta anak-anak yang berpergian jauh melewati ruang dan waktu dari buku yang mereka baca di rumah kita, sambil mengaji, menghafal kalam Ilahi.

Maafkan aku yang berkeinginan sesederhana ini, Is.

Tapi, semua terserah padamu.  

Tentang Tangis dan Jembatan 

Selama kurang lebih sebulan di tempat ini, sudah ada empat orang menangis di depanku. Benang air mata itu jatuh dan dengan malu-malu mereka menyekanya. Sekilas meminta maaf dan menghapus dengan tissu atau ujung jari, lalu terdiam beberapa saat. 

Pertama ada seorang dokter jiwa keturunan Cina yang tampak sangat pendiam. Darinya, aku tahu perspektifnya tentang #aksi212, Ahok, sampai cerita tentang keluarganya atau perjuangannya bersekolah spesialis dan betapa susah mendapat gelar spesialis hanya karena dirinya bermata sipit dan berkulit putih.  

Sampai kemudian, ia bercerita tentang orangtua yang selalu mendukung rencana dan mimpinya menjadi dokter di tengah keluarga yang kesemuanya adalah pebisnis toko kelontong serba ada di Pabean. Suaranya mengecil saat bercerita bahwa ayah beliau,  empat bulan lalu, meninggal. Ia menyesal karena merasa belum bisa membahagiakan ayahnya.  

Kedua, ada seorang perempuan yang ingin menjadi plant breeder, sebuah profesi agrikultur tentang bagaimana membuat lahan pertanian menjadi lebih produktif lewat persilangan-persilangan tanaman… Yha kira-kira begitu. 

Setelah cukup jenuh dengan soal-soal, aku kemudian mengajaknya bicara tentang dirinya. Kemudian tetiba setitik air mata jatuh. Ia tergelak kaget karena menangis lalu tanpa bisa dihentikan, air matanya jatuh seperti air bah. 

Saat itu ia bercerita tentang orang tuanya. Keinginannya untuk membanggakan orang tua.

Di lain hari, ada seorang ibu berbadan kurus, kecil, serta keriput di wajahnya menunjukkan kesenjaan usianya. Setelah kami duduk berhadapan, barulah kutau beliau adalah salah satu profesor bidang pendidikan Biologi yang sangat rendah hati. Setelah perbincangan singkat, sampailah pada ceritanya tentang anak perempuannya yang sedang berkuliah di Birmingham.  

Di tengah-tengah, bibirnya bergetar menahan tangis, sampai kemudian jatuhlah air mata itu. “Sorry, Miss. Saya memang cengeng.” sambil mencari-cari tissue dalam tasnya.  

Di setiap telpon, anak perempuannya ini selalu menangis, berkata bahwa sangat sulit bertahan di kampus itu. Essaynya selalu mendapat nilai 50, mendapat banyak sekali koreksi, sangat berbeda dengan nilai-nilai S1-nya di Unair. 

Belum lagi kondisi saat musim dingin. “I pity her. Saya..  kasihan. Tapi saya selalu memotivasi dia untuk bertahan. Saya nggak boleh nangis juga waktu dia nangis.” 

Dan yang terbaru, mahasiswa semester 4 yang sudah 2 bulan tidak pernah muncul, menangis deras tidak bisa berhenti selama 10 menit karena bercerita tentang kekecewaan ayahnya padanya.  

“Papa itu kecewa dua kali, Mbak. Saat SMA aku masuk  IPS dan saat aku nggak keterima di jurusan ekonomi kampus manapun terus malah masuk bahasa.” 

“Kata Papa waktu aku cerita pingin ikut seleksi PPAN, ‘Kamu tuh bisa apa. Emang bisa kamu kepilih? Wong dari jurusan bahasa.'”

Diam sejenak, dengan sesunggukan, ia melanjutkan. “Sering papa kayak gitu, Mbak. Tiap hari aku harus ngadepin. Aku gak ngerti kudu gimana lagi sama rencana-rencanaku.”

Topik tentang orangtua jadi alasan kita lebih mudah menangis. Dengan bertahun-tahun kehidupan yang kita alami, kebersamaan orangtua dan seluk beluk prosesnya yang kadang begini begitu, buat kita sulit membendung rasa. Rasa apapun. Memang rumit, sesederhana itu. 

Ini sebulan lebih 11 hari.

Disini aku menyimak bagaimana manusia-manusia asing tiba-tiba datang dan percaya aku bisa jadi jembatan untuk tujuan dan mimpi-mimpi mereka.

Aku merasa mimpi mereka jadi mimpiku juga. Aku cari cara, ikut waswas, dan bekerja keras membangun jembatan agar cukup kokoh untuk dilewati. Ya, walau peranku tidak semegah kontraktor atau siapa membangun jembatannya. Mungkin lebih tepat, aku ikut serta membangun jembatannya, menyiapkan kerangka.

Dan di proses itu, aku berkesempatan menyaksikan dari dekat bagaimana segala harap, cemas, lega, sampai jenuh muncul. Menjadi koleksi pengalamanku. 

‘ala kulli hal, Alhamdulillah.  

Untuk Kuingat: Menikah 

Tulisan ini ditulis di tengah keramaian pikiran tentang beberapa cerita mengenai fenomena pernikahan dewasa ini. Bukan, bukan tentang baper menunggu mas jodoh yang belum datang, galaw karena postingan cepetnikahsekarangjuga oleh oknum, pesta pernikahan si anu yang bertema rustic wedding, atau si ini yang moro-moro sebar foto di kwade. Bukan.

Tulisan ini adalah pengingat untuk diriku. 

Akhir-akhir ini aku ditemukan dengan cerita-cerita sedih tentang pernikahan. Mulai dari kesedihan seorang istri yang dimadu dan kesulitannya mengelola cemburu, istri yang banting tulang mencari nafkah utama, sampai istri yang disia-siakan suaminya karena perselingkuhan berawal dari Facebook. 

Wow.

Kurasa yang seperti itu hanya kudengar dan kubaca di sinetron atau novel. Namun ternyata hal-hal itu benar ada, dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari dan dialami langsung oleh orang-orang yang kutemui 

Perlakuan suami (bahkan yang paham agama) terhadap istri yang tidak menyenangkan, penyalahgunaan ayat-ayat AlQuran demi memenuhi keinginan suami, pembagian peran domestik yang ditolak mentah oleh suami, sampai putusnya komunikasi antar pasangan dan tertutupnya keran diskusi karena hilangnya percaya.   

Dan masih banyak persoalan khas rumah tangga yang entah mengapa— sekarang jadi terdengar sangat real dan dekat. 

Menikah adalah syariat, Allah sendiri yang perintahkan. Ia merupakan ibadah terlama, terjenuh, tersulit bagi manusia karena bernilai separuh agama. Menikah adalah satu dari tiga kejadian yang mengguncang arsy, ada keberlanjutan sejarah dan peradaban disana.

Jika dijauhkan lagi, menikah berarti memilih samudera baru (jika tidak boleh menyebut permasalahan baru) untuk diarungi– berdua. Mari membayangkan saat-saat menghabiskan waktu dengan orang yang itu lagi itu lagi dan tentu saja berbeda karakter. Belum lagi permasalahan dari sana sini tentang kultur dan ekspektasi keluarga besar, finansial, kepuasan pribadi, mimpi dan target yang mau tidak mau harus dikompromi, dan yang terpenting: mendidik anak. 

Ditambah lagi, cita-cita untuk menjadikan pernikahan sebagai arena aplikasi ilmu dan dinamo dalam menyebarkan lebih banyak kebermanfaatan bagi sekitar, menjadikan keluarga sebagai tempat terbaik anak dalam menemukan dirinya dan menentukan sendiri peran yang ia ambil sebagai hamba Allah.  

Masya Allah. Beuh. Sungguh…. wow. 

Tidak seperti setahun dua tahun lalu, sekarang aku sudah tidak lagi baper ngomongin nikah dengan seperangkat romantisme yang dibawanya. Aku membicarakan pernikahan dengan serius dan selalu tertarik mencari tahu bagaimana orang-orang melalui permasalahan di pernikahan, baik menurut para ahli di buku, atau pengalaman langsung. Because, yeah, marriage is not always about romantic and sweet things. 

Menikah itu sulit. Berat. Menyeramkan. 

Allah memang Maha Adil. Dengan ibadah seserius ini, pahala yang diberikan pun begitu besar. Sungguh aku ingin terus meyakinkan diriku bahwa aku telah mempunyai uswah terbaik sepanjang masa. Seorang suami sekaligus ayah, beserta seperangkat teladan dalam berumah tangga dengan istri-istrinya. Kesediaan beliau mendengar istrinya yang cemburu, upaya-upaya menjaga perasaan Aisyah yang sayurnya asin, kesadaran untuk memenuhi kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya. Jangan lupa juga tentang bagaimana Rasul mendidik anak-anak di sekitarnya sehingga menjadi generasi yang warbiyasa tangguh ruhiyah, jasad, dan pikirannya.  

Sungguh, hikmah dari Rasulullah itu lebih dari cukup dan akan selalu relevan di sepanjang zaman. Selalu. 

Tidak ada kata terlambat untuk belajar— lebih serius, lebih matang, lebih terencana. 

Tidak ada, Nezh. 

Turbulensi 

Bagaimana ini? 

Menulis kata rindu padahal baru dua menit kita berpisah, aku takut membuatmu takut. 

Bagaimana ini?

Aku ingin dekat, sedekat tanah dengan petrichor. Aku ingin di sebelahmu, berjarak pun tak masalah. Yang penting aku bisa melihatmu, menyimakmu entah muraja’ah atau berpidato dengan angin dengan siluet subuh yang membuatku jatuh cinta, dan darinya aku akan tersenyum mengetahui akan punya bekal menjalani hari. 

Aku rindu padamu, 

rindu sampai sesak aku menahannya. Padahal kita baru bertemu, aku masih bisa mengingat wangi tawa kita sore itu. Tidak paham aku tentang manfaat, makna, atau kehadiranku. Aku juga tak ingin pusing mengkalkulasi kedatanganku, mengira sejauh mana aku cukup membuatmu senang. Kau tak butuh aku, lagipula. 

Tapi, aku ingin ikut. Dengan apapun yang kubawa untukmu, terimalah. Aku tak ingin memintamu menahanku disini, rasanya berlebihan dan akan membuatku malu sendiri.

Aku ingin di dekatmu. Karena bersamamu, aku patah hati, ingin menyerah,  jatuh cinta, patah hati, ingin menyerah,  dan jatuh cinta lagi.

Tapi aku ingin bersamamu. Kan kuupayakan untuk datang dengan perbekalan diri yang selalu lebih baik. Dan izinkan aku ikut pergi bersamamu, menjadi saksi bagaimana kau mengajak bicara hati manusia-manusia muda. 

Sama seperti saat kau memulai bincang denganku dulu, di selasar masjid Ad-Dakwah, menyentuh entah sisi hati yang mana. 

Aku ingin tahu bagaimana keajaiban tentang cita-cita bisa kita formulasi bersama apapun yang kita bawa.

Sungguh aku tak ingin banyak menyimpan harap, tapi, semoga kita selalu ingat bahwa Allah tidak akan menyiakan upaya-upaya kita. Tidak akan.  

Atas kesadaran ini, semoga membuat kita– aku sabar saat membersamaimu. Atas kesadaran itu, aku akan selalu ingat betapa baiknya Allah mempertemukan aku denganmu. 

Surabaya, 20 Desember 2016.

Teruntuk dakwah sekolah, Uswah Student Center.  

Menunda: Sebuah Pengingat

Waktu menunjukkan pukul 00.25 saat aku menulis ini 

Hidup begitu hiruk pikuk akhir-akhir ini. Menyadari bahwa konsekuensi atas sikap kita terhadap sesuatu seakan bisa detik ini juga dipertanggungjawabkan, membuatku merinding.

Malam ini aku jadi paham betul konsekuensi berat dari perbuatan syetanawi: menunda. 

Aku tidak sekeren temanku Niswah dalam mempersiapkan suatu hal yang ia anggap penting. Niswah, adalah orang yang bahkan sebelum pendaftaran LPDP dibuka– tidak hanya berkas normal seperti ijazah, surat rekomendasi, dll–juga sudah menyiapkan sederet desain esai berbagai topik. Berbagai topik. Jauh sebelum pendaftarannya dibuka.  

Beberapa orang yang kepo, sangat kepo, sangat peduli, atau benar-benar peduli padaku, menanyakan tentang rencana setelah kuliah.  Kebanyakan selalu kujawab dengan selayaknya fresh-graduatr, tapi karena beberapa dari mereka kurasa tulus peduli, dengan malu-malu kujawab: Aku ingin ikut seleksi Indonesia Mengajar.  

“Beuuuuh, keren.. ” biasanya respon mereka. 

Namun sejujurnya, aku selalu bingung jika dibilang keren oleh siapapun, baik yang basa-basi atau serius.

Apa yang keren dari seorang prokrasinator ulung nan profesional sepertiku?  Sangat congkak dalam melihat peristiwa, “Ah, aku masih punya waktu.”

Dan lihatlah aku kini, menemui adzab Allah atas kesombonganku mempermainkan waktu. 

Aplikasi Indonesia Mengajarku yang kusiapkan dan kucicil sedikit sedikit dari hari pertama pendaftaran– dan terbengkalai sampai H-2, tiba-tiba bermasalah. Tidak bisa dikirim tepat di detik-detik akhir. Menjadi percuma. Selesai. 

Mau coba peruntungan lewat lapor ke email pengaduan dan darisana berharap diberi kesempatan satu kali lagi? 

Ckck. (((((Kesempatan))))))

Perih yang kurasa amat berbeda dengan perih yang dirasa Niswah saat ia gagal di tahap terakhir LPDP-nya. Perihku terasa kosong, tidak bermakna, dan memalukan. 

Penyesalanku berlipat. Because I didn’t even try. 

Niswah akan dengan bangga bercerita pada anaknya, “Dulu Ibu sudah pontang panting untuk kuliah S2, menyiapkan ini dan itu, sampai belajar IELTS sampai 9 bulan.”

Sedangkan apa yang bisa dibanggakan anakku di masa depan dengan Ibu sepertiku? “Nak, dulu Ibu pingin banget ngajar di pedalaman, puingin ikut Indonesia Mengajar. Eh gagal karena…. Ibu nunda terus menyelesaikan aplikasinya. Banyak kerjaan sih, Nak. Susah bagi waktu. Waktu di detik-detik terakhir pendaftaran..  tiba-tiba website-nya ngelag. Tidak terkirim.”

Sangat nggilani. 

Kurasa, tahun ini adalah satu satunya kesempatan yang kupunya. Aku pikir, ada rencana lain yang harus diikhtiarkan. Menikah (well, aku akan tahu siapa nanti yang berani mengorbankan hidupnya untuk menjadi kawan hidup Nezha the clumsiest woman ever lived), melanjutkan studi, atau mengembangkan jaringan perpustakaan. Tapi… ya, mari kita lihat lagi tahun depan.  

Menjadi guru dan warga di tempat -tempat jauh sudah jadi mimpiku sejak lama.

Dan aku masih sangat sedih memikirkan bahwa aku mungkin melewatkan kesempatan menjadi Pengajar Muda tahun ini. Sangat sedih. 

Menulis postingan  ini seperti mengabadikan kebodohanku. 

Kurasa tidak apa. Harus malah. Aku perlu menyelematkan diriku sendiri dari kebodohan yang bisa saja terulang di masa depan dengan memberinya pengingat yang abadi, tulisan.  

Semoga ini yang terakhir. Semoga para pembaca (diriku sendiri? /sad.)  bisa mendapat pelajaran dari kesalahanku. Tidak akan melakukan hal yang sama sepertiku, tidak lagi menunda kesempatan dalam mewujudkan mimpi. Barang sedetikpun. Benar berjuang sampai habis, sampai sejauh mungkin, sampai Allah paham betul bahwa kamu sedang berjuang sebegitu kerasnya.

Segera cek, kapan universitas idamanmu membuka pendaftarannya, walau masih 6 bulan lagi, mulai kerjakan persyaratan yang bisa dilakukan saat ini, seperti Niswah.

Periksa, daftarlah jadwal-jadwal seleksi beasiswa itu, tempel di dinding. Jika masih sering lupa, bilang sahabatmu untuk njendul kepalamu kalau kamu terlalu mbulet dalam melihat prioritas hidup. Suruh ia jadi pengingatmu.  

Segera sampaikan pada walinya, jika istikharah semakin meyakinkanmu bahwa orang ini adalah penyempurna agamamu.

Kesempatan itu manis, kamu harus cicipi rasanya berusaha keras. 

Apapun hasilnya.  

Because at least, you try, right?