Healing Journey: A prolog.

Since being a mom, I think I’ve met the darkest version of me. The ugliest, the worst of Nezha. This is the thing that I always deny. Kenapa? Karena itu berarti hal-hal yang aku siapkan sebelumnya tentang pernikahan, tentang pengasuhan jadi terasa tidak berguna. Aku merasa tujuanku saat itu adalah agar dapat menjalani masa pernikahan dan pengasuhan dengan potensi konflik yang aman dan terprediksi.

Baru kusadari, ada satu hal basic yang tidak cukup kuketahui saat menjadi istri dan orangtua. Bauwa aku adalah bukan lagi Nezha yang sama. Aku kehilangan diriku yang dulu. Menjadi orangtua, terlebih ibu, aku sering dihadapkan situasi yang entah mengapa ingin membuatku kabur dari peran. Aku bangun tidur, dan menyadari akan ada hari yang panjang akan kulalui. Memikirkannya saja sudah berat.

Aku juga sering tiba-tiba nangis, tiba-tiba meledak, merasa nggak berdaya, merasa asing dan sendiri. Hal ini terjadi ketika aku berhadapan dengan situasi saat akumulasi lelah menemami Langit seharian ditambah ia yang tidak mau makan plus maunya hanya denganku, atau saat komunikasi dengan pasangan tidak baik, atau saat ada hal eksternal terkait orangtuaku, dalam hal ini ibuku, muncul.

Aku sadar itu adalah badai emosi yang harus dilewati, di depan Langit, saat sedang menangispun aku akan coba jelaskan, “Langit, ibu nangis karena ibu sedih. Sebentar ya.” Namun, setelah lewatpun, aku merasa itu bukanlah a good cry. I don’t feel any better. I feel that there’s something stuck, left hanging in the room of my chest.

Aku merasa masa baby bluesku sudah selesai (hal yang paling bisa menjelaskanku). Sampai akhirnya aku menemukan sebuah diskusi dua perempuan yang membawaku pada banyak penemuan tentang kondisiku yang sebenarnya. 5 stages of grieving Mom, oleh Damar Wijayanti dan Lolita.

Ternyata aku sedang berduka. Aku kehilangan diriku yang dulu. Hidupku berubah. Hal yang sudah kusiapkan sebelumnya, tapi tak benar aku paham apa artinya. Perubahan yang tak hanya tentang hormon dan bentuk fisik, tapi juga prioritas hidup, rutinitas (sekadar bisa makan dan mandi bener aja udah alhamdulillah) juga hubungan dengan pasangan yang berubah.

Sisi-sisi tersembunyipun perlahan muncul. I remember how I was parented, and I think that is the cause. Untuk sekadar mengakui bahwa hal ini valid saja aku enggan. Aku khawatir perenungan-perenungan itu akan membuatku tidak nyaman dan merasa bersalah.

But I think I need to do it. I need to heal myself. To dig deep down inside me.

It must be frightening, but it’s okay.

It is only a meeting with 5 years old of me. She’s a kid. She needs someone to pat herself. I’m more than ready to do that.

So let’s start our healing journey ya Anisah.

To Anisah

Halo, Anisah. Apa kabar kamu? Sudah minum susu Milo dengan 2 sdm gula belum? 😅

Aku Nezha. Entah sejak kapan aku enggan memperkenalkan diri dengan nama kita. Sungguh bukannya aku tidak suka, satu dan dua peristiwa menuntunku menjawab Nezha, jika ditanya nama. Semoga kamu berkenan.

Aku tidak benar-benar ingat hari-harimu saat itu. Apakah saat bangun pagi, kamu ditemui senyum segala penjuru, atau hanya suara berita SCTV dengan pembawa acara Alfito Deanova yang masih kurus. Aku ingin jadi orang pertama yang menyambutmu memulai pagi, mengucapkan, “Halo anak baik, tidurnya nyenyak semalam? Sudah baca doa belum?”

Anisah, banyak yang ingin kusampaikan padamu, tepat di manik mata. Pertama dan terpenting, aku sangat menyukaimu. Rambut keritingmu. Gigi kariesmu. Kulit hitammu. Aku bangga pada semangatmu saat menyusuri masjid, pura-pura detektif memecahkan kasus sendiri. Aku suka rasa penasaranmu. Aku suka saat kamu berpura-pura menjadi ibu yang sibuk mengantar anaknya sekolah dengan sepeda itu, sebuah skenario agar naik sepeda keliling perumahan lebih terasa bertujuan.

I’m truly sorry for those abandoned cries. That crying for help, for attention, or for anger and frustration that remained there, hanging and slowly vanished awkwardly. I am sorry that you have to find a way to calm yourself. Questioning whether you are a true drama queen or just simply a sad kid needs an assurance, and started believing that the former was the answer.

I am sorry that you have to hear those calls in all years of early school; tiang listrik, jerapah, ondo, sutet. I don’t know that it hurt you without you even realized it, but it made you walk while staring the floor, you didn’t want to be seen tall. Luckily, it made you brave to raise hand, in subjects, in class meeting.

I am sorry that you doubt yourself so much, that you forget you hold such sunshine in your smile. That you have power in your voice, swords in your hands to fight for those bullied friends who trust you.

I am sorry for the things that makes you feel unworthy. All those self-questions you secretly forget slowly reappeared, in more petrifying forms now. But it’s okay. I’ll handle it.

Thank you for everything. For every kindness, for your thrist in reading. Thank you that you didn’t mind wearing secondhand clothes. That sparkly shoes and bags worn by friends didn’t really bother you. Thank you for your understanding to your parents, your sisters, your brother. Thank you for making your friends smile and laugh. Some of them, they told me that they feel really happy to meet you. I’m so proud of you. You did a great job.

I like you so much. The world needs to know this fact.

You are loved, a lot.

Menemani Langit

Di usia Langit 10 bulan, waktu main bareng, sambil dia ngelihatin mainan atau bukunya, kadang aku suka bertanya-tanya dalam hati, kapan ya Langit bisa paham sama instruksi sederhana? Kapan ya dia ngeh binatang yang kutunjukkin ini namanya kucing, sapi, kuda….

Kadang kalau dipikir-pikir, pusing juga nungguin momen-momen itu terjadi. Apalagi dengan secara sadar atau tidak sadar membandingkan dengan anak-anak lain yang seumuran di sekitar Langit. Perasaan anak ini udah bisa masuk-masukin bola ke kotak, Langit kok malah bolanya kalo ga dimasukin mulut, dilempar-lempar yaa? 😭

Semakin kesini, semakin berupaya memahami apa yang sebenarnya terjadi sama Langit, semakin aku lebih bisa menerima. Aku ngerasain dampak positifnya ke diriku sendiri ketika coba membersamai Langit dengan lebih mindful. Jadi less-stress!

Alih-alih nyeruput susu UHT dari sedotan, Langit malah numpahin ke meja dan nunduklah dia, diseruput langsung dari meja.. Niru mpus, gais..

Sambil terus kuawasi dan selamantidak membahaakan, aku sekarang lebih ngikutin maunya dia. Saat makan maupun main. Termasuk nyeruput susu, air, maupun kuah langsung dari meja booster seat-nya. Kata dokter Adillah, Salah satu dokter spesialis anak yang fokus sama gangguan sensori dan makan, ada 1001 cara makanan bisa masuk ke mulut anak yang baru belajar makan. Termasuk lewat nyeruput langsung ke mulut. Jika hal ini aku tidak ingat, pastilah murka diriku melihat bayiku cosplay kucing minum air….. Dan semakin rusaklah atmosfer makan yang menyenangkan. Akan muncul trauma buat Langit dengan apapun yang berkaitan dengan makanan. Hm.

Di titik ini, aku merasa perkataan mbak Vidya, salah satu pegiat Montessori, sungguh benar adanya. Menuntut ilmu tentang pengasuhan adalah cara kita melindungi anak-anak kita dari hal-hal yang akan membahayakannya.

Setelah lebih paham dengan kebutuhan motorik kasar dan halus Langit, aku sekarang lebih santuy kalo Langit obok-obok mangkuk makannya waktu dia udah mulai kenyang. Dia sedang merasakan kuah soto yang masih hangat, dengan beberapa biji nasi di dalamnya. Aku biarkan dia nyendokin kuah ke mulutnya, mengingat bahwa ada koordinasi tangan dan mulut Langit yang bekerja sama untuk menerima suapan. Hal sederhana yang ternyata sulit lhoo untuk bayii. Yaa walau kadang lebih sering sendoknya nyampai mulut udah kosong karena udah tumpah duluan kena kaus kutangg (kostum Langit waktu makan selalu kaus kutangg karena kalau baju pusing bun mbersihinnya…)

Lantai jelas lebih lengket yha, harus siap beresin satu persatu remahan nasi, dan kuah-kuahnya yang dilempar-lempar kemana-mana oleh tuan muda. Tapi, dibanding dulu yang sampai nangis bombay mberesinnya, wkwk, karena membayangkan soronya nyiapin makan yang berakhir jadi rizki semut, sekarang aku lebih woles. Ini konsekuensi Langit belajar mandiri. Lantai kotor tinggal lap, bersihkan. Sambil terus ku-sounding tentang syukur bisa makan, dan membiarkannya melihatku dari kursi makannya konsisten membersihkan dibawahnya. Sungguh Langit sudah seperti raja pada bawahan. Mana kadang waktu lantai udah bersih, dilemparin lagi sama dia makanan yang dia pegang dari atas booster chair. Hm… Inhale.. Exhale..

Kenapa begitu Langit? Oohh membuktikan teori gravitasi ya? Ok.. Besok-besok Langit sendiri ya yang membereskan makanan Langit..

Tapi hari ini Langit mencatatkan beberapa pencapaian yang cukup mencengangkanku. Saat melepas baju untuk mandi, tangan kecilnya mengambil bajunya dari tanganku dan perlahan meletakkannya di keranjang baju kotor 😭 padahal nggak pernah ada yang sengaja ngajarin.

Juga saat ia mengacak-acak keju di lantai, sesaat ia pergi dan kembali dengan sehelai tissu yang ia gosokkan seadanya ke lantai 😭

Fitrah anak itu suka kebersihan, jika dia di biarkan makannya sendiri, lama-lama alarm tubuhnya akan memberi sinyal tidak nyaman. Sehingga dia akan tergerak membersihkan atau melakukan hal yang biasa orangtua lakukan. Disinilah menurutku peran ortu, memberi contoh.

Belum lagi ingatannya akan hal-hal dan situasi seperti cicak yang bersembunyi di balik pigura, pesawat yang melintas, kuah sup yang panas… Semua indranya tengah melesat pesat.

Perjalanan masih panjang, hati dan pikiranku akan terus cari cara, mencari tahu, mencari makna, dari setiap hal yang dilakukan guru kecilku. Aku ingin membersamai fitrahnya dengan hati yang lapang. Selapang-lapangnya Langit, tempat dimana kekuasaan Allah tunjukkan, kadang tampak jauh dan tidak terdefinisi, kadang sangat cerah dan seterang kertas putih. Hal-hal yang pula terjadi dalam diri anak kami, silih berganti.

Semoga Allah jaga kita ya, nak..

Tentang Hal yang Tidak Bisa Dikendalikan

Rasanya kita semua sepakat bahwa Ada hal yang terjadi di setiap detik kehidupan kita ini, dari sejak bangun tidur sampai tidur lagi, memicu beragam emosi. Hal paling pertama yang muncul pagi ini bagiku adalah, wow Langit nanti makannya mau nggak ya pake kuah soto kemarin? Nanti pak sayur jual kulit lumpia nggak ya? laba jual buku kemarin udah kecatet belum ya?

Belum lagi emosi yang munchl ketika siang, sore sampai malam. Baik yang positif maupun negatif. Kalau diurut, entah sudah berapa emosi yang sudah kukoleksi. Beberapa kemudian membuatku stress, sedih, dan galau.

Sampai hari ini, mengelola emosi terus jadi PR yang nggak pernah selesai. Kayak, aku udah ngerasa selesai, eh ada lagi. Ibarat lagi UAS, bab-nya sama, materi lebih menantang gitu lah, Bun.

Setelah membaca sebuah buku tentang prinsip filsafat stoic, aku yang awalnya agak memicingkan mata saat membaca (karena merasa topiknya aku udah paham wkk) jadi bisa lebih menerima beberapa hal yang dulu enggan kupahami utuh, karena…. rasanya tidak nyaman.

Tentang menerima bahwa memang kita tidak pernah bisa mengendalikan hal-hal diluar diri kita, termasuk opini, perasaan, dan pilihan orang lain.

Kurasa aku seringkali bercerita secara implisit dan eksplisit, secara anggun maupun blak-blakan (wkk) di blog atau di medium lain tentang betapa inginnya aku akan validasi, ucapan terima kasih, ucapan selamat dan semua yang bermakna. Aku mengharapkan orang-orang di sekitarku mengetahui bahasa cintaku, dan konsisten melakukannya untukku.

Aku tau, keinginan untuk dimengerti dan dicintai sesuai ekspektasi adalah hal lumrah bagi setiap orang, itu merupakan fitrah yang memang sudah ada semenjak kita bayi.

Di sisi lain, aku pernah berdiskusi seru dengan suamiku, seorang yang bernalar dan rasional nomor wahidku, wkwk tentang hal-hal diluar kendali yang ia coba ikhlaskan dalam hidup, saat itu tentang ekspektasi orang-orang terhadapnya yang diam-diam membuatku kagum sekaligus gemas. Kok bisa gitu sih?

Kusadari, tanganku mungkin terlalu kecil untuk mengendalikan pikiran-pikiran orang dan hal-hal diluar itu. Sungguh aku tidak bisa memaksa orang, siapapun itu untuk terus mempertahankan apa yang mereka rasakan terhadapku.

Yang bisa benar kulakukan adalah mengelola ekspektasi, memaknai fakta sekadar sebagai fakta, tidak menilainya berlebihan. Langit berat badannya irit, itu fakta. Aku bukan ibu yang baik. Itu judgement.

Dilanjut besok lagi. Langit mau nyusu.

A Footnote

I need to remember that I am worth of all dreams even it feels out of reach.

That it is fine to take other direction, to embrace all feelings while watching a little tiny human experience his first step on grass, or his first chew on pineapple.

I need to remember that those dreams wait me patiently. A very first thing to do is creating meaningful days. To be present and mindful, to keep on learning, in every way possible. To understand that this all leads to something bigger than me.

At the end of the day, what really calms me might this simple thought: I am glad that I dont give up.

Refleksi Kesekian

Kalau dibaca-baca, blog ini terasa sangat gloomy ya. Wkk. Nezha ibu ibu emo.

Petang ini aku memakaikan baju pada Langit sambil menangis. Langit menatapku ngantuk, tapi masih tersenyum sambil kucek-kucek mata, membiarkanku memasang popok, kaus dalam dan piyamanya. Ia mengamatiku lagi, matanya ngantuk sekali.

15 menit sebelumnya, proses makan malamnya harus terhenti di tengah karena Langit yang ngantuk dan sedang mengunyah makanan, tiba-tiba menengadahkan kepala sambil nangis. Sontak potongan ayamnya masuk langsung ke tenggorokan dan tersedaklah ia. Segera kuberi minum, tapi malah membuatnya kesulitan bernapas. Wajahnya sampai membiru. Terjadi beberapa detik, tapi terasa sangat lama. Alhamdulillah, setelah kutepuk-tepuk pungungnya dengan keras, Langit bisa bernapas kembali dengan normal. Sambil terus kugendong, air mata mengucur dari mataku.

Hal itu adalah satu dari sekian banyak momenku bersama Langit yang membuatku sedih. Kadang dalam waktu yang cukup lama karena aku sibuk menyalahkan diri sendiri sampai puas, baru kemudian mengambil pelajaran untuk diingat.

Tersedaknya Langit, atau apapun hal yang membuatku panik (ditandai dengan Langit yang menangis melengking sampai tidak ada suara dan melungker-melungker sampai kayang) selalu kuhubung-hubungkan dengan apa yang sudah kulakulan sebelumnya. Apa karena aku salah kasih makan? Apa karena aku ngungkep ayamnya pake bumbu instan? Apa karena aku bobonya kelamaan? Apa karena aku terlalu mager nemenin dia main?

Apa karena aku salah di bagian ini, itu? In this parenting issue, aku adalah pengkritik utama pada diriku. Terlebih dalam hal tumbuh kembang. Being critics for ourselves is sometimes tricky. Kadang terlalu keras sama diri sendiri, lupa kalau memang jadi ortu tuh emang proses, belajar yang pasti ada salah-salahnya. Nggak ada yang namanya ibu sempurna.

Well, Langit doesnt need a perfect mom. He needs a mother who can show him that it is okay to make mistakes, as long as you learn from it. Besok-besok, kalo Langit udah ngantuk bangett dan mau tidur, let him sleep. Disaat itu, dia mungkin lebih butuh tidur daripada makan. Lupakan sehari saja teori tentang jam makan, penuhi dulu kebutuhan utamanya yang ia sudah tunjukkan. Langit yang paling tau apa yang dia butuhkan. Dia selalu kasih tanda kan?

Semangatt ibuuu. Kemampuanmu move-on cepat dan mengambil hikmah sudah meningkat lumayan. So proud of youu. 💘

Menangis dan Percaya Diri

Aku ini orangnya ternyata lumayan insecure-an.

Tentu hal itu bukanlah hal unik, karena sependek pengetahuanku, setiap manusia memiliki gejala ini. Maksudku, insecurity adalah salah satu perasaan mental yang secara alamiah terjadi jika manusia berhadapan dengan situasi atau kondisi tertentu. Hanya kadarnya berbeda-beda, tergantung cara manusia menyikapinya.

Seingatku, saat masih sendiri aku memang sering merasa insecure, tidak pede dengan kemampuan, merasa kecil, merasa si ini itu lebih keren pencapaian ambis khas mahasiswanya, tapi kurasa aku selalu punya defense mechanism-ku sendiri. Aku hampir selalu bisa menenangkan diri, mempuk-puk diri sendiri ketika kalah atau gagal, meng-embrace-nya dengan penuh empati. Perasaan negatif itu jarang bercokol lama.

Lalu ketika memasuki fase hidup selanjutnya dan membina hubungan yang intens dengan suami dan anak, aku merasa perasaan insecure ini jadi lebih sering muncul. Nah loh.

Aku merasa terus ingin divalidasi. Merasa ingin terus diyakinkan bahwa apa yang kulakukan itu berarti, bahwa aku cukup, bahwa aku begini begitu. Alhamdulillah, aku dianugerahi suami yang mengerti akan kebutuhanku, walau kemampuanku mengkomunikasikannya masih  dibenahi sana sini. 

Ketika aku membawa hal ini ke atas meja pikirku, lalu mengamatinya diatas mikroskop, kutemukan akar masalahnya. Berbagai sumber pengasuhan baik di series Netflix, buku parenting dan hubungan dari timur dan barat, serta para ahli yang murah hati membagikan ilmunya di sosial media, salah satu alasan mengapa aku haus validasi adalah berawal dari tangisan saat menjadi anak-anak.

Saat balita, ketika aku menangis karena alasan apapun, aku sering dibiarkan oleh para pengasuhku, sampai akhirnya capek sendiri dan diam.

Literally dibiarkan. Tidak dimarahi, di-sshht shht, apalagi ditenangkan.

Menurut sumber-sumber yang kubaca, menangis adalah cara satu-satunya bagi bayi untuk mengkomunikasikan kebutuhannya, sebelum akhirnya bisa berbicara. Untuk anak yang sudah berbicarapun, akan ada masa dimana ia meledak (tantrum) karena ia masih dalam tahap tidak tahu bagaimana harus meregulasi emosi.

Dunia ini asing bagi seorang anak, penuh dengan ketidaknyamanan. Begitu pula dengan perasaan-perasaan yang baru muncul di hatinya. Sedih, kecewa, merasa sendiri, marah. Gerombolan emosi itu muncul dan kadang hatinya terasa terlalu penuh untuk merasakan emosi-emosi baru itu. Ketika anak dibiarkan saja menangis saat dirinya membutuhkan apapun itu, ia akan merasa tidak aman dan kehilangan percaya pada dunia di sekelilingnya. Termasuk dengan orang-orang disekitarnya.

Aku ingat dulu sering dipanggil cengeng, karena memang aku dulu suka sekali menangis. Kakak laki-lakiku suka menjahiliku yang iseng beneran iseng pingin buat aku nangis aja. wkwkwk. Tapi aku juga tidak ingat orangtuaku berusaha memperingatkan masku itu, atau menenangkanku. Kami bagai anjing dan kucing. Aku ingat aku sering nangis dan kebiasaan itu baru berhenti ketika ia akhirnya jadi anak SMP dan mondok di luar kota. Aku umur 8 tahun.

Memiliki bayi yang sedang aktif-aktifnya eksplor dan mulai memiliki keinginan yang harus dipenuhi saat itu juga menjadi tantangan yang sangat… mengujiku. Sekuat tenaga aku berusaha menenangkannya, atau jika stamina dan batin sudah lelah sekali tapi masih stabil, aku ikut menemaninya menangis. Kalau sudah tidak stabil, panggil ayahnya. Huhu.

Membesarkan Langit sembari memaafkan luka pengasuhan masa kecil jadi tantangan buatku. Untuk menerima bahwa aku hari ini adalah aku dengan tangisan-tangisan yang diabaikan itu. Keterbatasan informasi pengasuhan dan kesibukan bisa jadi alasan mengapa orangtua tidak sengaja melakukan hal itu. Terlepas dari itu semua, sungguh ayah ibuku adalah orangtua luarbiasa, darinya aku diwariskan berbagai kemewahan berpikir tentang iman juga kehidupan.

Saat ini, aku hanya tidak ingin hal yang sama terjadi pada Langit. Dengannya, aku berkomitmen dalam hati untuk selalu merespon setiap tangisannya dengan cepat, untuk selalu menemaninya melewati badai emosinya kelak, membantunya berkenalan dengan emosi-emosi baru. Memeluknya saat ia merasa dunia terasa tidak aman. Aku ingin ia tumbuh dengan langkah yang tegap dan berani, tetap percaya penuh pada pilihan yang ia ambil. Dan ketika membina hubungan, ia akan menjadi suami dan ayah yang pembelajar. Mencintai keluarga dalam dekapan yang hangat, bukan menyesakkan.

Perempuan

Beberapa kali dalam hidup, aku pernah bertanya-tanya kepada Allah (sambil sedikit kurang ajar mengeluh) tentang pengalamanku menjadi perempuan. Maksudku, selama ini kurasa aku adalah orang yang nrimoan. Tidak terlalu memusingkan takdir, tidak pernah benar-benar merenungkan apa itu eksistensialisme dengan begitu detil. Menjadi Islam, kurasa adalah sebuah privilase yang terusss dan tanpa ragu aku syukuri. Menjadi hamba dengan misi hidup, tak pernah aku ragu dan terusik untuk mempertanyakannya.

Namun tidak halnya menjadi perempuan. Kenapa ya Allah? 😅 Terlebih setelah melahirkan, dengan drama jahitan dan nifas yang lama berakhir, aku dihantui pertanyaan yang terdengar aneh, “mengapa harus aku ya Allah? mengapa sulit sekali?” Walau kuyakin betul, bukan itu akar permasalahannya. Ada andil hormon dan baby blues di dalamnya. Tapi tetap, pertanyaan itu muncul untuk pertama kalinya. Ia ada, benar hadir di ruang pikirku saat itu.

Dan setelah dengan lebih tenang kurenungkan, aku menyadari banyak keajaiban perempuan yang memang datang sepaket dengan kesulitannya.

Bayangkan, dari sejak baligh, seorang perempuan bisa mengeluarkan darah hingga berpuluh-puluh ml dari kemaluannya! Rahimnya terus bekerja. Dinding sel itu bergerak, mengendut, berkontraksi yang menyebabkan nyeri luar biasa, lalu luruh menjadi menstruasi. Ada perempuan yang mengalaminya hanya sehari, ada yang sampai tiga hari.

Tak perlu bercerita lagi tentang tubuh perempuan yang ringsek ketika mengandung. Rahim kecil kurang dari sekepalan tangan itu bisa melebar dan menjadi tempat inkubasi calon manusia penerus bumi! menjadi tempat paling aman, paling nyaman untuknya. Dengan begitu, ada sekitar 700 ruas tulang di badannya yang “mengalah”, memberi ruang pada janin itu agar bertumbuh dengan efek pegel-pegel di sekujur punggung dan pinggang. Setiap malam tidak bisa tidur. Apalagi yang nggak pernah olahraga 😅

Begitu pula menyusui. ASI secara ajaib terbentuk secara customized, kompisisinya mengikuti kebutuhan bayi. Bayi yang demam, ASI akan mentransformasi dirinya menjadi obat deman. Begitu pula kandungan ASI saat siang dan malam yang berbeda, ASI saat malam hari mengandung zat yang membuat bayi mengantuk.

Hm.. sejujurnya, semakin aku meneruskan tulisan ini, semakin aku takjub dengan pengalaman perempuan. Perempuan sungguh istimewa. Memang dibalik keajaiban-keajaiban biologis perempuan, bagiku pribadi walau selalu ada lelah dan jenuhnya, aku ingat bahwa semua kesulitan itu ada karena Izin Allah.

Dengan menyadari itu, semoga perasaan yang tentram akan muncul. Tenang bu, organ-organ itu sedang mematuhi perintah Allah. Mungkin akN membuatmu sakit, bertumpuk-tumpuk, tapi ingat sekali lagi.. Allah mengizinkannya. Dan berdasar hal yang memang dan terus kamu percaya, allah tidak akan sekalipun luput dari hamba-Nya. Dengan kesabaran yang bisa kamu tambah sedikitt lagi, semoga Allah akan membalasnya dengan berlipat pahala, menggugurkan dosa-dosa.

Terima Kasih

Boleh nggak sih berterima kasih pada diri sendiri? Wkk. Sebuah pertanyaan yang menurutku agak aneh. Sebagai ibu yang punya rutinitas sekaligus keresahan, moodswing, dan ekspektasi-ekspektasi, di akhir hari dimana bayi akhirnya tertidur, dapur bersih, seharusnya aku berada di waktu yang paling nyaman untuk menemui lagi “aku”.  Tapi kadang, ada malam yang kuakhiri dengan pikiran yang masih mengganjal, masih enggan dikeluarkan.

Aku ingin segera melompat dari Ibu menjadi Nezha. Dengan cara apapun, membaca dan membalas chat-chat yang belum terbuka, mengerjakan tugas komunitas, memperbarui konten jualan buku, sampai scrolling socmed, online shop atau nonton.

Aku jarang benar-benar memikirkan bagaimana hari ini berjalan. Hari bersama bayi tidak pernah sederhana, kadang segalanya terasa mudah, kadang sulit luar biasa. Kadang bertanya-tanya, apakah aku bisa izin satu hari saja? Wk. Tapi memikirkan hal itu selalu buatku merasa bersalah. Kok tega mikir begitu. Wong Langit ini masih butuh kamu di dunia yang masih asing ini kok.

You are now someone’s universe.

That sentence really flatters me, but also sometimes, burdens me.

Alasan lainku enggan mengevaluasi perasaan hari ini adalah aku takut menemukan bahwa seharian aku diliputi rasa bersalah, perasaan kurang baik melakukan hal ini dan itu. That I’m not enough.

Aku takut menyadari bahwa itu bukan lagi perasaan, tapi memang       benar adanya.

Sulit untuk sekadar mengapresiasi diri dengan sederet kutipan self-love itu. Sulit untuk melakukan hal yang memang sangat kubutuhkan. Apresiasi diri.

Sungguh masih banyak PR yang harus kukerjakan. I need to choose my battle wisely, one by one. So maybe the first thing is… emotional management? Which really related to  the feeling of fulfillment.

I think I really need to say this:

Terima kasih Nezha, sudah bangun setiap malam untuk menyusui Langit. Terima kasih sudah memeluk Langit dengan hangat. Terima kasih untuk keseruan bermain bersama

Terima kasih sudah berusaha semampumu. Terima kasih sudah bersedia memperbaiki kesalahan. Terima kasih sudah menahan diri. Terima kasih untuk terus selalu belajar. Terima kasih sudah bertahan.

Perjalanan masih panjang. You are not alone. Never even in a second. Please believe that you are loved, a lot.

Akhir Pekan

Ini hari Jumat. Saat yang tepat untuk membuat rencana akhir pekan setelah sebelumnya lelah menjalani pekerjaan kantor dan rumah. Kamu bisa mulai dengan aktivitas pagi. Mau lari? Atau main skipping? Atau sekadar naik motor dan berkeliling sekitar sambil merasakan udara dingin dan sakralnya matahari pagi?

Setelahnya kamu bisa berisitirahat sebentar, lalu menghubungi temanmu untuk bertemu. Mungkin kamu ingat dan ingin tahu pendapat temanmu tentang kacaunya negara hari ini, sambil diselingi ceracau tentang film/seri Netflix terbaru, kalau mood sudah bagus, bisa juga kalian bertukar cerita tipis tentang kelelahan menjadi peran masing-masing. Ini kan yang kamu tunggu-tunggu. Kamu adalah bagian dari 0,001% populasi manusia yang bisa mengeluh tanpa benar terdengar seperti mengeluh. Tapi kalau kamu hal itu terlalu sulit dilakukan, kamu bisa mengeluh saja. Temanmu tidak akan melabelmu kok, tidak di depan wajahmu.

Hehe.

Jangan lupa menelpon orangtuamu. Mereka mungkin rindu, tapi tidak bilang. Kamupun sebenarnya begitu, tapi tidak tahu.

Dari hari Rabu kamu bertanya-tanya tentang sendu yang tiba-tiba. Kuberi tahu, itu rindu yang menjelma jadi doa Ibu. Dalam doanya mungkin kau dimintakan ini dan itu.

Bekal untuk menantang dunia sudah kau genggam. Tinggal mandi dan menyiap-nyiapkan diri dan tinju.

Sudah menelpon? Bagus.

Mari kita pikirkan cara lain agar akhir pekanmu ini lebih menyenangkan.

Apalagi ya yang bisa kau lakukan?

Kalau kamu benar-benar bosan dengan segala rutinitas khas akhir pekan itu, benar-benar tidak ada film atau drama Korea yang ingin kamu tuntaskan, benar-benar malas sekadar berolahraga ringan, kamu bisa coba masuk ke dalam ruang pikirku. Yang nomor 19 ya. Disitu kamu akan melihat banyak model perasaan yang jadi artefak dan dipamerkan. Beberapa bisa kamu sentuh, beberapa hanya bisa kamu lihat dalam jarak. Ada yang mungkin menarik hatimu, ada yang buruk luar biasa. Bisa kamu tanyakan mengapa.

Aku tidak sedang berupaya jadi seniman. Tapi aku tidak punya cara lain.

Kamu bisa tanyakan padaku yang ingin kamu tahu artinya. Karena mungkin ada satu yang bercerita tentang kamu. Tentang kita.

Mungkin yang di dekat tanganmu, mungkin yang di ujung ruangan nomor 19, disorot lampu.