Pantas

Beberapa kita sering mendapat nasihat– entah dari ustadz, teman, senior, motivator tentang melihat diri sebelum bermimpi. Kita digiring untuk punya berbaris-baris mimpi, sampai 100 atau lebih kalau bisa, lalu menempelkannya di dinding-dinding kamar. Doa.  

Beberapa saat kemudian, banyak orang mengingatkan tentang keberpantasan. Tentu saja, pertanyaan mengapa menjadi sama pentingnya. Nomor satu malah.  

Mengapa Allah harus mengabulkan doa dan mimpi-mimpi itu? Buat apa?   

Punya mimpi-mimpi itu, kamu sudah pantas belum mendapatkannya? Dengan tercapainya mimpi-mimpi itu, akankah membuatmu menjadi hamba yang lebih baik–atau malah sombong dan merasa kesuksesan itu hasil kerja keras diri sendiri?  

Memantaskan diri. 

Saat ingin memulai bisnis, kamu sudah berguru ke berapa pakar dan CEO? Sudah survey market belum? Ingin punya istri seanu Fatimah, sudah sekualitas Ali belum? Sudah belajar jadi orangtua dan pasangan belum? Sudah menguasai skill-skill dasar kehidupan (baik untuk suami maupun istri) dalam mengolah makanan, menjahit, mengganti lampu, manajemen laundry, dll?  Sudah selesai dengan ego pribadi? Sudah siap belum untuk percaya penuh dan mengomunikasikan pikiran kepada orang itu?

Lul. 

Belum lagi jika ingin sekolah lagi.

Semuanya penuh usaha-usaha. Harapan apapun seharusnya selalu diikuti dengan berkaca yang intens. Sudah layak belum? 

Memantaskan diri kemudian menjadi upaya yang paling masuk akal dilakukan dalam menunggu keputusan-Nya. Terhadap apapun. 

Mungkin termasuk dengan mengharap Lailatul Qodar.  

Hadirnya malam terbaik dari seribu bulan ini kok agak membuatku sedih. Bagai pungguk merindukan bulan jadi peribahasa yang kenak pol. 

Apakah pantas? Ibadah Ramadannya segini-segini aja di 20 harinya, tilawah banyak tertinggal, diganti banyak cek sosial media, baca quran mudah mengantuk. 

Lah terus mengharap Lailatul Qadar. .. Berani-beraninya. 
Jauh. Surga terasa sangat jauh. 

Tapi karena perasaan tak pantas itulah, seharusnya aku dan kamu tidak menyerah. Karena Allah, hebatnya, tetap akan menerima kita dengan apapun yang kita bawa. Apapun. 

Katakanlah, wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka sendiri, Janganlah kalian putus asa terhadap rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa, sungguh Dialah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az Zumar : 53)

Tiba-tiba daftar keinginan yang panjang dan lebar itu jadi tidak terlalu urgent disampaikan di awal. Semua doa dimulai dengan menyemogakan harap akan berkumpul dengan nama-nama yang harum itu, takut dengan hilangnya iman dan sia-sianya amal tanpa ridho-Nya, dan cinta yang compang-camping. 

Jadi..

Semangat ya! :’) 

Semoga kita diberi waktu sampai di hari terakhir Ramadan.

Harta

Kalau menurut OST sinetron tahun 2000an awal, Keluarga Cemara, harta yang paling berharga adalah keluarga, puisi yang paling bermakna juga keluarga.

Kamu setuju?

Karena bervariasinya ragam manusia, definisi harta dari manusia satu dengan lainnya mungkin saja berbeda. Beberapa orang boleh berpendapat bahwa harta adalah hasil pekerjaan yang kasat mata, seperti rumah, simpanan di bank, emas-emasan, mobil-mobilan. Yang punya harta, ya orang kaya. Sebagian yang lain mungkin yakin bahwa harta adalah sesuatu yang kita miliki dan berusaha untuk kita lindungi. You even sacrifice your life to do so.

Sore menjelang berbuka puasa di sebuah rumah yang hangat oleh ukhuwah– beuh, aku mendapat satu poin yang cukup nganu di ruang hati dan pikirku. Mengingatkan kembali tentang hal penting yang harus jadi prioritas.

Iman.

Harta yang paling berharga itu iman. Bersyukur atasnya adalah mutlak.

Bahwa setipis apapun iman, yang ia bisa naik-turun-bergulung-gulung, salto, kita masih memilikinya. Dari setitik iman itu, ia menjaga kita dari berbagai macam hal; mulai dari mendzalimi orang lain, menjaga dari bertindak curang saat tidak ada yang melihat, melindungi dari ketakutan hanya karena sekadar melewati lorong yang katanya angker, sampai membuat kita lepas dari segala ketakutan akan masa depan.

Jika punya iman, kepercayaan dan keyakinan penuh pada Allah, kita akan aman.

Iman, sayangnya tidak semua orang memiliki. Bahkan sekelas Rasulullah aja tidak bisa membuat paman kesayangannya beriman. Iman adalah hak prerogatif Allah. Hidayah itu Allah yang paling berkuasa memberi atau mencabutnya dari diri manusia. Tak ada yang bisa manusia lakukan untuk menjaganya, selain berdoa.

Syukurku sekarang mungkin lebih sederhana lagi. Aku bersyukur masih bisa bersyukur. Itu bisa jadi tanda bahwa Allah masih mau memberiku remah-remah iman yang mahal harganya, yang pilihan Allah saja yang bisa memilikinya.

Karena pada akhirnya, iman adalah satu-satunya harta yang kita punya. Kita boleh tinggal cuma di sepetak tanah kontrakan, makan cuma nasi dan garam, atau persediaan uang bertahan hidup yang hanya cukup beberapa hari ke depan.

Selama kita punya iman di dada, rasanya semua akan baik-baik saja. Dari dari harta paling mahal dan berharga itu, kita akan menjaganya mati-matian.

Bismillah.  

The Random Blue #1

Malam ini aku baper pol. Baper banget. Galau nyel.

Aku sebenarnya sudah agak sedih saat mengetahui rencana kakakku yang membawa anak-anaknya bermain di sebuah mall besar di Surabaya Timur dengan lampu-lampu menawan dan sederet logo merk-merk ternama yang asing dan terdengar berkelas ditempel di dinding-dinding muka mall itu.

Seharusnya aku paham bahwa kita memang kekurangan ruang terbuka untuk anak-anak bermain. Maksudku, yang benar terbuka, yang tidak perlu masuk dengan diperiksa dulu isi tasmu dan melewati pramuniaga yang lelah bermanis-manis seharian.

Pukul 21.00, saat menuju pintu keluar, aku sengaja melambatkan jalan melewati sederet toko busana dengan manekin-manekin dingin berbagai pose. Mereka memakai baju baju yang ketika agak kuteliti, ternyata dilabeli harga seperti biaya SPP kuliah persemesterku.

*Glup.*

Aku sungguh tidak habis pikir, selembar kain penutup tubuh yang begitu tok bahkan bisa membuat seseorang merasa lebih percaya diri, lebih merasa hebat dan keren.

Aku lalu membayangkan, merek baju ini punya pabrik di negara-negara berkembang seperti India (dan Indonesia :”) lalu menggaji buruhnya dengan upah murah dan jam kerja yang diluar wajar.

Di sisi lain, produk ini laku keras. Digandrungi walau dengan harga selangit manapun. Dipakai dengan bangga.

Aku lalu mampir di sebuah gerai minuman dan memesan satu matcha latte tea milk– dan dibuat melongo dengan harga yang tertera: Rp.30.000 untuk beberapa kali sesap sampai gelas plastik itu kosong. Baiklah. 

Keluar dari mall, aku dihadang mobil-mobil mengkilap dengan kaca rapat tertutup yang buru-buru. Seperti tidak sabar mengantre keluar mall dan tancap gas di jalan raya. Aku jadi terpaksa harus menunggu sampai ada mobil yang bersedia mempersilakan warga proletar ini untuk menyeberang menuju tempat parkir di seberang sana.

Terasa kentara perbedaan di dalam dan di luar mall. Dua kondisi bertolak belakang. Nyaman dan bising, bersih dan berserakan sampah, sejuk ber-AC dan panas dengan pekat debu.

Dengan jarak beberapa meter dari trotoar, ada kakek penjual keripik menunggui jualannya yang masih banyak. Menatap lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang terburu-buru. Pukul 21.00, tampak lelah di guratan wajahnya.

Bapak itu menjual keripik dengan harga 10.000 saja untuk satu keresek.

10.000 saja, dan itu setara dengan senyum terima kasih bahagianya bapak ini karena dagangannya berkurang.

Sedangkan barusan aku merogoh Rp 30.000 untuk segelas matcha latte 10 kali sedot saja. Yang bahkan wadahnya jadi sampah yang tidak bisa diurai sampai 10.000 tahun. 

Kenyataan itu membuatku didera rasa bersalah sampai saat ini.

Well.. Aku merasa kenyang, dibodohi, sekaligus keji.

Deru suara motor dan klakson mobil di perjalananku pulang, jadi orkestra yang meluluhkan ruang pikirku. Ada begitu banyak ketidakadilan terjadi di beberapa meter setelah hidung kita, berdampingan dengan proyek kemajuan sebuah kota beserta manusia-manusia pentingnya.

Aku tetiba menciut ingin jadi debu saja. Tiba-tiba merasa insignifikan dan lemah.

Aku… bisa.. apa?….

Pintu-Pintu

Dari berpuluh tahun yang kuhidupi sebagai manusia, secara keberadaan, lima tahun terakhir aku merasa lebih ada. Lebih nyata. Agaknya aku menyetujui sedikit kata-kata Descartes. Aku merasa ada karena rasanya baru lima tahun ini aku berpikir keras tentang kehidupan setelah mati sekaligus berpikir bagaimana cara menjalani hidup sebelum mati.

Dengan sangat baiknya, Allah mempertemukanku dengan orang-orang yang bersedia membagiku sebuah refleksi maha penting tentang eksistensiku sebagai manusia. Sebagai hamba. Dalam proses mengenal diri sendiri itu, aku bersinggungan begitu rapat dengan mimpi komunal orang-orang bersuara teduh. Mari mengejar surga di pintu ini. Surga adalah obat bagi kaki-kaki yang lelah. Karena di Surgalah hamba akan menuntaskan rindunya pada Khalik.  Janji-janji Allah terbayar sudah. Di Surgalah, hamba akan berharap dapat duduk sedipan dengan Rosulullah. Pertemuan-pertemuan itu adalah motivasi untuk terus bergerak melangkah, memaksimalkan waktu, berpayah-payah melawan nafsu yang kadang suka selangkah dan berlangkah-langkah lari di depan kita.

Bersama mereka aku mengenal senyum dan cipika cipiki unik itu. Dari mereka aku mengenal ragam-ragam potensi kebaikan manusia yang ternyata bisa kita temui dimana saja. Bahwa untuk dapat memasuki pintu surga, diperlukan kunci dengan gerigi. Iman adalah kunci, amal adalah geriginya. Dan hal itu mutlak menjadi usaha kita sendiri untuk membentuk gerigi kunci yang mana, yang akhirnya bisa membuka pintu itu.

Dan kita bisa membentuk gerigi itu dari usaha apapun- hanya dengan izin-Nya.

Di sisi lain, aku selalu ketakutan jika Allah tidak akan pernah menerima amalan-amalan itu. Jika Ia menemukan setitik bangga dan congkak di sudut usaha itu. Jika Ia menemukan sombong di penerimaanku saat mengikuti majelis-majelis ilmu. Jika Ia mengetahui bahwa gerigi-gerigi yang kubentuk itu hanya sekadar untuk mendapat penerimaan manusia. Jika ia menemukan aku yang gelisah saat orang lain tidak melihat usahaku.

Aku takut Allah tidak ridho.

Pintu-pintu itu akan tetap tertutup rapat. Tak sudi menerimaku.

 

 

Belum Menikah

Di sebuah grup Whatsapp yang aku menjadi silent reader di dalamnya, tiba-tiba terdapat sebuah jarkoman yang membuat ulu hatiku sedikit remuk. Jarkoman itu berisi tentang tafsiran ayat alquran maupun hadist tentang bahayanya menjadi perempuan yang belum menikah. penjelasan itu terbagi atas poin-poin dengan berbagai emoticon Whatsapp di akhir kalimatnya. Katanya, perempuan, daripada lama melajang lebih baik rela dimadu, daripada kegatelan lebih baik dimadu

Aku sedih sekali.

Selain sedih karena anggapan cetak tentang poligami sebagai solusi perempuan agar tidak semakin kegatelan, kurasa, beberapa orang di luar sana masih sering terlintas pemikiran seperti itu ketika melihat perempuan berusia matang yang belum menikah. Iba, kasihan, dan segala prasangka yang sembarangan kita berikan pada perempuan itu. Menatapnya, mencari-cari kira-kira persoalan fisik manakah yang membuatnya sulit mencari jodoh.

Akhir-akhir ini sering pula mendengarkan nasihat begitu.
“Orang tua itu nggak peduli anak perempuannya punya karir tinggi atau menjabat posisi ini itu. Itu tidak penting. Yang lebih meresahkan orang tua adalah belum tertunainya tugas menikahkan anak perempuan.”

Hufht.

Begini, kita nggak pernah tahu persis keadaan orang lain, serius deh.

Kita nggak pernah benar-benar tahu kesulitan rupa apa yang dia alami, yang ia pelajari,  yang ia hadapi setiap hari. Kita nggak pernah tahu lama dan dalamnya ia berdoa di sepertiga malam memohon kekuatan dari Allah untuk dapat terus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dan adik-adiknya yang belum selesai sekolah. Kita nggak pernah tahu seberapa tekunnya ia berdoa untuk segera dipertemukan dengan jodohnya sembari ia mengisi hari-hari dengan memperbanyak belajar agama, mulai ikut kelas menghafal quran, dan berkontribusi disini disitu.

Muslimah yang sedang memperbaiki diri dengan terus belajar dan belum menikah, apa boleh dicela sebagai perempuan… gatel? Tidak bisa menjaga diri? Pengganggu rumah tangga orang lain?

I mean,… what?
Seriously, people.

Kita tidak pernah tahu, mungkin Allah tengah mempersiapkan untuk perempuan-perempuan ini jodoh yang sepadan, yang terbaik dari semua versi manusia. Proses menunggu dan menahan rindu ini bukan tidak mungkin jadi lahan pahala sabar yang bertubi-tubi untuk mereka, mungkin jauh lebih subur daripada orang-orang yang beranggapan aneh-aneh tentang muslimah ini.

Kita tak pernah tahu. Allah yang paling tahu.

Anak Perempuan

Kuntum bunga harum semerbak, dan rezekinya telah dijamin Allah.

Begitulah bunyi senandung Rasulullah saat menggendong bayi Fathimah di depan sahabat. Di masa awal kenabian, masyarakat saat itu dikenal sangat barbar terhadap perempuan, menganggap perempuan kaum kelas terbawah dan lemah, anak perempuan dianggap suatu hal yang tidak penting membanggakan, menjadi aib keluarga.

Kita juga mendengar cerita tentang Umar bin Khattab yang sebelum hijrah, pernah tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya.

Sedang Rasulullah menggendong bayi Fathimah di depan mereka dengan bangga,  sumringah, bahkan dengan senandung yang merdu. Suatu hal yang tidak lazim dilakukan di jaman itu. 

Islam datang dengan begitu mengagumkan. Islam adalah agama pembebas, meluruhkan batas-batas fisik identitas manusia, apalagi jenis kelamin,  menjadi satu poin yang hanya Allah saja yang bisa melihat dengan jernih: ketakwaan.

Jadi, aku masih sering sedih jika mendengar ada seseorang yang lebih menginginkan anak laki-laki daripada perempuan. Kemudian menyesali kelahiran anak perempuan lalu dengan cerobohnya menyalahkan ibunya.  What?

Gak paham. Wong sing nentuin itu bayi jadi perempuan atau laki-laki iku sperma Njenengan Pak. Kalau nggak percaya, monggo kroscek kepada Bidan atau dokter di sekitar. Njaluk tulung.

Loh kok jadi emosi. Wkk. 

Yang jelas,  membesarkan anak perempuan kayaknya lebih menantang. Entah mengapa, ketika di pameran buku,  aku lebih sering melihat buku dan kitab-kitab yang membahas cara membesarkan anak perempuan daripada laki-laki. Sungguh spesyal anak wedok ini. 

Semoga kita semua menjadi warga dunia yang baik terhadap anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan. Anak tetangga, ponakan,  maupun anak sendiri. Ingat,  kalau mau punya anak, harus menikah dulu. 

Lol. 

A Bizarre Thought of Being Someone’s Mom

Tadi sore aku melihat keponakan termudaku, Ashima, merangkak menuju kulkas dengan lamat dan mantap. Kuperhatikan lekat-lekat caranya memegang ujung kulkas, mengamati tutup galon (lalu mengulumnya serta merta), dan menjaga keseimbangannya dari jauh. Mahluk mungil itu begitu aktif, matanya bulat berbinar ketika melihat apapun (apapun.) dan entah mengapa tampak begitu luar biasa. Kombinasi sifatnya menakjubkan, melatih kesabaran orang dewasa di sekelilingnya. Dan ia terus bertumbuh.

Lalu aku tiba-tiba disergap haru yang kuat dan asing.

Jika aku ditakdirkan menikah dan memiliki anak, akan… menjadi orang dewasa macam apa aku? Layakkah manusia sepertiku dengan karakteristik serta kebiasaan yang… begini… mendapat amanah maha berat seperti bertanggung jawab atas satu nyawa manusia beserta seperangkat keajaiban di kepalanya? Memenuhi fitrahnya sebagai hamba Allah? Menjaga tanpa melukainya?

Layakkah aku?
Motivasi ini yang lebih membuatku terceples sampai pusing dan juga mendorongku untuk melakukan yang lebih dari saat ini.

Somehow it is because of you, I am ending up regretting my wasted time of crumbling over these… things. It is because of you, I am learning how to be… at least a good person for you — even I am still figuring out how to be a good daughter. Thinking of you indeed bring me to the feeling of being in a hot air balloon. Overwhelmed feeling, like.. “whoa! whoa!” yet it is scary as hell.

It is because of you, I regain my energy.
I even challenge myself to be lost in the jungle. So that I’ll survive. Then my name will be on the newspaper and museum. “Me, as The One Who Survives in the Jungle.” So that, finally I have a grass of bravery to be proud of — in front of you. You gonna hear me tell you proudly: Yes kid, I am that-person-who-survives. Cool, eh?

You deserve to be accompanied by a great survivor, the one who knows how to read a map and compass — you probably lost in the future, but you will always know the way to our home — the one who recites you a funny story out loud in the dark of jungle, so that you’ll feel you are not alone, because there is a voice with you. The one who makes you realizes that the universe lies in every little thing that people ignore. The one who brings you to the most outstanding journey of  lost and found in glorifying Allah.
The one who shows you how wonderful it is, to be a strong believer.

You deserve to have a very cool friend.
I hope I deserve to be that friend.

Berpikir tentang keniscahyaan menjadi seorang ibulah yang jauh membuatku lebih bersemangat untuk memperbaiki diri. Bi idznillah.

I love you this big. No one has ever seen this big. Still not really sure how this feeling works, but.. I’ll absolutely try.