Silakan

Silakan, Nak.

Silakan pilih baju kesukaanmu. Mau pakai baju kuning, pink, hijau, biru, hitam. Terserah. Mau nanti main gulung-gulung di lapangan, lakukan. Asal tahu sendiri risikomu yah, karena bisa saja kamu kena jebakan (kotoran kucing.red) yang nanti menempel di daun kupingmu. Pokoknya aku sudah kasih tahu di awal. Tenang, aku tidak akan malu berjalan denganmu. Hm… Paling pura-pura tidak kenal sebentar kalau bertemu tetangga. Tidak lama kok, setelah tetangga itu menghilang, kita akan jadi anak dan ibu lagi.

Xixi, becanda ko.

Monggo.

Kamu mau berperan apa di permainan. Jadi robot, jadi walikota, jadi monster, jadi kuda pun tidak masalah. Asal bermainnya dengan baik, memberi kesempatan semuanya untuk tampil. Tidak harus kamu yang jadi pahlawannya. Bahkan kalau kamu memilih berubah jadi penonton yang bertepuk tangan demi hidupnya semangat teman-temanmu setelah berantakan karena ada satu yang menangis, Ibu tidak apa-apa.

Kalau kamu nanti setuju dengan ide menuntut ilmu di institusi-institusi, kemungkinan kamu akan dipertemukan oleh banyak  kesempatan mendapat panggung dan merasakan sensasi-sensasi baru sebagai manusia yang berada di sebuah sistem. Jadi ketua, bendahara, sekertaris, medis, jadi sie konsumsi sama saja. Dimanapun tempatmu berada, merasalah bahwa kamu adalah bagian dari sebuah tubuh yang berjalan. Lakukan yang terbaik karena apapun posisimu, itu adalah tugas yang penting.

Hatimu harus jadi yang tercantik/terganteng diantara semua yang kamu miliki. Kamu tidak membutuhkan validasi teman-teman dalam memenuhi standar fana yang mereka buat. Kamu sudah agak mengetahui kekuatanmu kok.

Tidak apa, Nak kalau kamu tidak mendapat nilai A+, 100, 90, dll. Tapi, kalau hal itu masih merisaukanmu, toh kita punya kesempatan berdiskusi lagi. Menemukan bersama apa yang sebenarnya jadi masalah. Yang penting kamu jujur, yang penting kamu melakukan yang terbaik. Allah Maha Melihat, kok. Yang kita cari itu keberkahan ilmu, kan. 

Kalau logika mimpimu berbeda dengan logika dunia, tidak apa. Toh yang kamu cari kebermanfaatan dan ridha-Nya toh. Kalau kamu terjatuh berkali-kali dalam mewujudkannya, aku insya Allah siap jadi pundak. Aku yakin kamu belajar banyak dalam proses ini. Yang penting, jangan pernah merasa kesuksesan kecil maupun besar versimu terjadi karena usahamu sendiri. Itu murni karena Allah yang izinkan.

Jika kamu khawatir aku ditanya-tanya tetangga tentang dirimu yang berbeda, tenang, aku sudah punya jawaban. Aku tetap akan menceritakan betapa bangganya aku memiliki anak yang tahu benar keinginannya dan memperjuangkannya. Aku menemani prosesmu. Walau masih sangat susah memahami dimensi pikirmu, aku percaya kau sedang merencanakan hal-hal baik. Jadi aku mendukungmu. Eh, tapi sedikit-sedikit, bolehlah yah aku memberi masukan.

Kalau kamu merasa jadi debu diantara silaunya penaklukkan di sekelilingmu, merasa suaramu habis diserap realitas, jadi buih karena penolakan-penolakan,  pulang saja. Pulang saja bertemu aku, aku tidak sabar bertemu semestaku. Kamu akan selalu diterima dengan tangan terbuka. 

Dari Tu.

Kurasa kita sudah tidak punya muka untuk meminta maaf, apalagi menyampaikan janji-janji. Keduanya tak lagi membuat kita sadar– mungkin karena sangking seringnya diutarakan, mereka jadi kehilangan makna. Jadi begini usulku, bagaimana kalau kita berhenti ngotot melakukan dua usaha itu? Kita los saja, mengembalikan lagi semua pada Yang Memiliki Segalanya. Akan kuyakinkan kau, bahwa kau tak sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sendirian. Aku disini juga jumpalitan. Terperosok berulang kali, sama sepertimu. Tenang, ini merupakan proses yang memang harus dilewati. Toh akhirnya kita sama-sama sadar bahwa hal ini akan membawa kita lebih jauh dalam perenungan mengenai makna perjalanan masing-masing.  Duh, semoga kita cukup cerdas ya.

P.S : Hei, jangan sedih begitu. Aku tidak sedang marah kok…

Korespondensi di Awal Desember

Sore itu mendung. Di sebuah buku yang terbuka, ada tulisan yang bertanya,

‘Kau disini sebenarnya sedang apa?’

Pertanyaan esensial seperti ini kurasa penting untuk terus kau tanyakan padaku, kau ulang sampai aku harus meng-shhttmu dengan gusar. Agar pikiranku tetap lurus, paham hakikat, maklum dengan perbedaan cara memandang sebuah jambu di atas meja.

Apa yang sebenarnya coba kamu perjuangkan?

Tjih. Perjuangan mbelgedes. Kata itu terlalu tinggi, jangan dipakai. Karena di pantulan kaca, aku melihat manusia tanggung yang lututnya gemetaran sambil mengepalkan tangan, “Berjuang!”

Kontribusi? Kontribusi hakcuih. Ganti, coret, jangan gunakan kata itu. Mulai sekarang aku akan berlatih bicara dengan membungkukkan badan.

Tulis seseorang dengan cepat-cepat.

Membaca ini, aku mesem. Penakut sekali orang ini. Dia juga tidak konsisten dengan kata ganti aku dan kau. Beberapa saat kemudian, kucoba untuk memahami perasaannya lewat gerak tinta pulpennya, aku sedikit tahu 5% tentang graphology.

Setelah agak paham dengan maksudnya, kutulis dengan hati-hati di baris bawahnya:

Yang kauhadapi adalah pahatan es tinggi. Sudah tahu kan?

Maksudku… Kau serius?

Apa yang kaucoba buktikan? Kau punya apa sih?

Kok… Berani-beraninya.

Keesokan harinya, di lembaran buku yang terbuka, ada tulisan baru.

Aku hanya pegal sekaligus muak dengan keluhan yang kubuat sendiri. Kata-kata mungkin benar dapat menjadi racun. Hih, andai kamu denganku disini. Penjelasanku tidak akan seribet ini.
… tapi tidak apa sih, perhatikan aku dari jarak saja, tidak perlu dekat.
Kurasa itu lebih melegakan. Aku akan bebas dari perasaan harus tampil sebaik-baiknya.

Dari jauh saja. Setuju?

Setelah berpikir sekitar sebelas menit, aku membalas.

Nanti kau jadi alien. Aku tidak mau punya kawan alien.

Keesokan harinya, dia membalas.

Halah, aku tahu lagu favoritmu. Kau selalu berharap punya teman dari luar angkasa.

Aku mengaduh. Dia rasanya pernah mendengar aku bersenandung lagu Mojako.

Baiklah.

Kepada Pohon Gula

Kamu terasa asing.

Berada di depanmu, aku merasa seperti berada di pasar malam yang bangkrut. Keramaianmu tertinggal.

Kita seperti teman yang perlahan-lahan saling melupakan janji. Kita berpapasan, tapi tak ada yang terucap. Padahal kita sama-sama tahu, ada seribu, atau mungkin sejuta keramaian pikiran yang ingin kita bagi.

Kita terlalu bersitegang membuat persyaratan untuk keluar, kurasa itu baik, tapi seharusnya tidak membuat kita jadi awkward begini.

Ada sekitar seribu atau sejuta hal-hal remeh yang ingin kuceritakan, tapi selalu terantuk oleh hal-hal, yang ketika kau tahu, kau pasti marah-marah. “Hih, itu kan tidak relevan!” dan tetap pada akhirnya kusimpan saja cerita-cerita itu. Merasa tidak enak.

Rasanya aku perlu berdiam sejenak dulu, memikirkan nasib kita. Mengingat kembali tujuan dulu kita bertemu.

Dalam selang waktu ini, mari kita rebahan sambil lihat langit saja. November ini, sebuah foto yang dulu di share seseorang (aku lupa siapa) di facebook bilang akan ada hujan meteor. Mari kita tunggu dan nikmati.

56L4ONm

Surat dari Tahun 2053

Dear Nezha.

Selamat pagi. Apa kabarmu hari ini? Kalau aku tidak salah, tahun 2013 itu kamu umur 19 ya? Bagaimana kabar ayah dan ibu?

Pertama-tama, perkenalkan, aku juga Nezha.

Err…. Iya, Anisah Fathiroh. I’m your 59 years old- self. Kuharap kamu tidak merasa ter-pressing ketika membaca surat ini. Kamu ter-pressing atau takut? …

Jadi, ada teknologi bernama Past-mailing, kita bisa berkirim surat dengan seseorang dari masa lalu kita. Pembuatnya bukan ahli IT atau apa, ia adalah mantan profesor dan waktu muda pernah jadi pegawai kantor pos di Bandung. Dia orangnya agak pendiam dan misterius gitu, tipikal orang tua yang suka marah-marah dan bosan dengan kemajuan zaman, tapi dia bijaksana sekali. Karena ini masih trial, bukan tidak mungkin surat ini tidak akan pernah sampai. Tapi kucoba saja.

Aku menulis surat ini karena aku rindu padamu.

Disini pukul 3 pagi, aku sedang duduk di depan jendela besar, di luar bulan sedang purnama-purnamanya. Ya, 40 tahun mendatang kamu masih bisa melihat bulan, tentang ketakutan bulan yang benar dicuri oleh Gru-yang-lain, itu tidak terjadi.

Hei, apa kabar? Semoga baik-baik saja.

Kamu tahu, dua jam lalu aku menemukan buku berisi catatan-catatan, doodle-doodle, dan daftar mimpi-mimpimu di sebuah notes kuning yang konvensional sekali. Lalu aku tertawa. Tertawa yang penuh dengan arti gitu. Bagaimana kabar proyek-proyek itu? Seingatku kamu merevisi berulang kali, menghapus sambil menahan marah, menulis lagi penuh semangat, bertanya kesana kemari, kamu menulis sambil malu-malu, tak merasa pantas untuk sekadar menulis, kemudian kamu akhirnya berani juga, percaya.

Jika kamu bertanya bagaimana kabarku sekarang, maaf aku hanya bisa menjawab dengan senyuman penuh teka-teki. Haha. Aku punya banyak cerita, tentang petualangan-petualanganku–kita, tahap-tahap kehidupan yang dulu kaupersiapkan, hal-hal yang aku selalu coba pertahankan sekuatnya, isu-isu yang hangat sampai beberapa dekade, kabar saudara-saudara kita, amanah-amanah.. Urgh. banyak. Tapi aku belum bisa menceritakannya.

Oke, sebenarnya aku tidak punya banyak waktu, jadi biar kuberi tahu kau satu hal : Kekhawatiranmu tidak terbukti.

Jadi jangan terlalu cemas. Lakukan saja, Biarkan catatan itu menerobos, mendobrak, mengeluarkan diri dari kotak kecil membosankan lalu menyatu bersamamu. Keluarlah, terbang, melesat, rasakan tamparan udara. Kamu nggak butuh punya sayap, selendang ajaib, atau apalah itu. Kamu nggak mesti jadi dewi untuk melakukan itu semua. Kamu cuma butuh berani. Biar bumi yang jadi trampolin. Kalau sudah sampai masanya, akan kuceritakan semua. Lunas.

Ehm, Dan.. kamu sudah kumaafkan, sejak dulu.

Sudah ya, Si TigaSatu sudah memanggilku, kami mau sholat dulu~~~

Salam uwuwuwu,

Nezha yang sudah punya cucu.

Tugas-tugas Kita.

Tidak, kita belum selesai bercerita. Jangan dulu pergi.

Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Bagi, bagi padaku. Ijinkan aku membacamu, dan akan dengan senang hati kuijinkan pula kau membacaku. Sungguh aku berjanji akan mempercayaimu seutuhnya. Pikiranmu terlalu ramai. Ssshhtt-kan mereka, buat mereka tenang, bersenandungah barang sebait dua bait. Lagu “A home is where the heart is” cukup baik untuk pikiranmu.

Ada syarat untuk semuanya, selalu ada syarat untuk hal-hal mengenai melembutkan hati: kamu harus bersedia untuk dibaca. Terserah kamu mau menggunakan bahasa apa, hanya ijinkan aku untuk mempelajarinya, bertanya padamu tentang cara membacanya, apa seperti bahasa Mandarin? atau Swahili? Jelaskan padaku. Sudah kubilang kan, aku ingin mempelajarimu.

Setelah kamu tenang, aku tenang, kita akan masuk ke dalam perbincangan selanjutnya. Perbincangan mengenai rumah kedua kita.

Banyak hal yang ingin kusampaikan tentangnya. Tentang tempat yang dipilih Allah untukku mengenalmu. Tempat hangat yang sama-sama kita temukan pemahaman-pemahaman baru. Hei, kamu kenapa? sini pegang tanganku, rasakan ada kehangatan yang menjalar. Kita akan sama-sama menangkap bintang lewat tangan-tangan kecil kita. Dan yang paling mendebarkan adalah, kamu akan merasakan apa yang dulu kurasakan.

Ya, kita akan sama-sama merasakan perasaan manis itu.

Lalu ijinkan hatimu untuk melembut, ini kubagi kupu-kupuku. Dan nantinya, kita takkan butuh melihat empat-puluh-empat sunset, karena kita telah saling menjinakkan.

Bagaimana?

Day 31 : Jangan khawatir.

Jadi, bagaimana kabarmu disana? Aku disini… hm… insya Allah baik-baik saja. Kapan hari aku memang sempat sedih sih. Tapi, cuma sebentar. Jadi tidak perlu terlalu khawatir.

Aku menulis ini untuk meminta maaf. Maaf sekali. Karena beberapa waktu ini sering tidak menemanimu berjuang. Kamu yang tulus berjalan sambil melihat peta, eh aku malah belok-belok lihat topeng monyet. (Kamu tahu, topeng monyet jaman sekarang sudah bisa naik sepeda gunung. Cool, isn’t it?)

Eh, iya maaf. Aku kan sedang menyesal…

Kadang aku merasa sangat bersalah terhadapmu. Aku kok kayaknya nggak serius gini berniat jadi teman baikmu, padahal aku tahu, untuk menjadi teman baikmu sangat susah dan penuh tantangan. Ada syarat yang harus kupenuhi- it takes years. Tentang aku yang harus bersabar menunggu seleksi menjadi temanmu juga– aku tahu, sangat melelahkan. Karena menunggumu adalah menunggu keniscahyaan, nggak jelas, tapi pasti. Proses menunggu ini yang sangat rentan membuatku lengah, pegel, dan bosan. Hm, untuk meminimalisasi itu, aku akan lebih sering mengingat tujuan awalku. Caranya dengan menulis lebih banyak. Biasanya selalu ampuh.

Kumohon kamu tetap mau disana, menantiku. Proses menantimu mungkin lebih menyenangkan dariku. Meskipun melelahkan, akan kubuat proses ini menyenangkan juga. Aku sedang berupaya untuk kembali ke track yang benar. Ini, aku sudah pegang petaku dan siap berlari lagi. Jadi jangan terlalu khawatir.

Semoga tujuan kita akan tetap dan selalu sama.

Salam semangat,

Calon teman baikmu.