Seandainya Sahabatku dari Luar Angkasa

Seandainya sahabatku dari luar angkasa

Apa yang terjadi.. oh mungkinkah?

Sejenak bintang utara bermain dengan air
Mengitari planet saturnus bersama-sama.

Kata-kata yang indah, tidaklah perlu
Sungguh menyenangkan hati
Hingga waktupun terlupakan

Planet venus yang indah 
Seperti dari emas
Tempat yang paling indah yang pernah kau antar.

Mojako OST.  Kamu harus dengarkan lagunya. 

Advertisements
Seandainya Sahabatku dari Luar Angkasa

The Invitation

It doesn’t interest me what you do for a living. I want to know what you ache for and if you dare to dream of meeting your heart’s longing.

It doesn’t interest me how old you are. I want to know if you will risk looking like a fool for love, for your dream, for the adventure of being alive.

It doesn’t interest me what planets are squaring your moon. I want to know if you have touched the center of your own sorrow, if you have been opened by life’s betrayals or have become shriveled and closed from fear of further pain.

I want to know if you can sit with pain, mine or your own, without moving to hide it, or fade it, or fix it.

I want to know if you can be with joy, mine or your own; if you can dance with wildness and let the ecstasy fill you to the tips of your fingers and toes without cautioning us to be careful, be realistic, remember the limitations of being human.

It doesn’t interest me if the story you are telling me is true. I want to know if you can disappoint another to be true to yourself. If you can bear the accusation of betrayal and not betray your own soul. If you can be faithless and therefore trustworthy.

I want to know if you can see Beauty even when it is not pretty every day. And if you can source your own life from its presence.

I want to know if you can live with failure, yours and mine, and still stand at the edge of the lake and shout to the silver of the full moon, ‘Yes.’

It doesn’t interest me to know where you live or how much money you have. I want to know if you can get up after the night of grief and despair, weary and bruised to the bone and do what needs to be done to feed the children.

It doesn’t interest me who you know or how you came to be here. I want to know if you will stand in the center of the fire with me and not shrink back.

It doesn’t interest me where or what or with whom you have studied. I want to know what sustains you from the inside when all else falls away.

I want to know if you can be alone with yourself and if you truly like the company you keep in the empty moments.

– Orian Mountain Dreamer (1999)

The Invitation

Anak-anak di Kabaca

Bismillahirrahmanirrahim.

Kemarin aku terharu sekali. Akhirnya aku menjejakkan kaki di Kafe Baca Ceria. Tempatnya di Jalan Wisma Penjaringan Sari E-7, dekat dari rumahku. Yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai Kafe Baca Ceria silakan menghampiri situs resminya di sini.

Yang membuat terharu salah satunya adalah tempat ini sangat dekat dengan Sekolah Dasar. Berarti akan ada banyak…. anak-anak. Pertama kali berjalan menuju rak-raknya yang masih berantakan buku-buku, aku merasa melayang. Bukan karena Mbak Eci yang menyambutku dengan manis, tetapi tempat ini membuatku merasa sedikit lebih dekat dengan….. anu, mimpiku. Aku berkeinginan membuat tempat yang seperti ini di tempat yang….. jauh.

Semua terasa nyata. Mendengar bagaimana awal cerita Mbak Eci mencuatkan ide di facebook, respon kawan-kawannya, cerita tentang orang-orang luar biasa yang rela saja menyerahkan buku berkardus-kardus untuk Kabaca, atau tentang anggota-anggota Kabaca yang (memang) kebanyakan anak-anak SD Penjaringan Sari.

Wow.

Di awal kedatanganku sebagai volunteer jaga Kabaca, aku deg-degan. Malah sempat berdoa, “Ya Allah….. semoga hari ini nggak ada pengunjung.” sehingga aku akan lebih meresapi kehadiranku di ruang ini, bersama buku-buku yang kutemui saat masih SD, melunasi hasrat membaca masa kecil yang terenggut oleh minimnya akses terhadap buku.

Hujan turun, lumayan deras. Aku bersyukur diam-diam. Kayaknya bener nggak ada pengunjung.

Aku kembali menekuri buku lalu dikejutkan oleh suara.

“ASSALAMU’ALAIKUM!”

Aduh. “Eh, iya.. Wa’alaikumsalam….”
Pengunjung pertamaku adalah anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun yang memakai jas hujan lengkap. Dengan senyum cerah ia melepas satu persatu jas hujannya.

“Kakak namanya siapa?”

Eh? tadi dia menanyakan namaku? Lalu aku menyebutkan nama, masih meraba-raba situasi. Itu.. benar anak SD. Ia tampak sangat menguasai tempat ini. Setelah merapihkan jas hujan, meletakkan tas dan sepatu dengan cekatan, ia lalu meloncat ke rak, mencari buku yang sudah tahu persis dimana.

Ia membuka buku tipis mirip majalah berjudul “Pembuatan Kopi” dan dengan cepat tenggelam dalam halaman-halamannya.

Aku… masih terpaku mengamatinya. Wow…

Bukan kali pertama aku berhubungan dengan anak-anak. Aku punya 5 keponakan balita, dan beberapa kali berhubungan langsung dengan anak-anak SD  lewat Kelas Matahari. Namun kali ini rasanya berbeda.

Namanya David. Kelas 3 SD. Memang sering mampir Kabaca untuk baca, main kartu, atau sekadar ngiup nunggu jemputan. David sangat ramah.

Tak lama kemudian, muncul satu anak laki-laki lagi.
Deg….

Dengan santai ia meletakkan payung dan melepas sepatunya yang basah dan memasuki teras Kabaca. Aku sudah memasang senyum ceria dan ber-hai akrab, lalu dia….. hanya melirikku dan langsung bergabung bersama David yang seru membaca.

Oh–Okay.
Namanya Gusde.

Berinteraksi dengan anak-anak awalnya adalah hal yang selalu kuhindari. Aku bukan tipikal orang yang bisa bertahan dengan anak-anak dengan segala kelakuan mereka yang… tidak bisa ditebak.

Mungkin sejak punya keponakan, perasaan abai, menghindar, cuek. dan sejenisnya terhadap anak-anak perlahan terkikis. Aku justru menikmati kekagetan yang disebabkan tingkah laku tak terduga mereka. Ditambah dengan pengetahuan sekadarnya tentang kejahatan terhadap anak-anak mulai dari sistem pendidikan, orang tua yang sibuk, negara yang tidak ramah anak, aku kemudian berjanji untuk menjadi warga dunia yang baik hati. Warga dunia yang mempersilakan manusia-manusia kecil ini untuk merasa aman menjadi anak-anak– bagian penting dari dunia yang kita tinggali. Percaya bulat bahwa dalam pikiran mereka tersembunyi semesta yang mewah dan menakjubkan.

Rasanya aku akan selalu begitu. Mengamati (bayi) dan anak-anak dengan.. deg-degan dan sedikit haru. Membayangkan hal-hal ajaib sedang terjadi bersamaan dalam kepala mereka.

Di Kabaca, aku juga mulai mengenali pola pertemanan anak SD. Selalu tampak siapa yang ingin menguasai teman yang lain, yang curang saat bermain, yang sedang siwakan, atau yang sedang bisik-bisik ngerasani.

Lalu apa yang dilakukan warga dunia saat menyaksikan langsung fenomena-fenomena tersebut?
Mengamati saja. Duh :””
Iya, aku masih khawatir dengan ucapan yang kutujukan pada mereka adalah ucapan yang nuturi banget.

Masih perlu belajar dari Suhu Meutia.

Bersemangat, Warga dunia!

Anak-anak di Kabaca

belakangan saya sudah sangat jarang membayangkan memiliki tuhan yang punya kuasa besar, akan murka jika hal yang tak ia sukai malah jadi..

rutinitas hambanya, intinya seisi alam semesta ialah yang bersimaharaja. tuhan yang menakjubkan tetapi sekaligus menakutkan.

hari hari ini saya lebih membayangkan tuhan sebagaimana layaknya ibu. mamaknya alam semesta. inangnya manusia. induk yang penuh kasih.

pada yang tuhan yang demikian inilah saya bisa membayangkan cinta dan bergetar di dalam bayangan itu.

durhakalah sekuat apapun kalian bisa pada ibu. bantahlah sesering yang kalian mau pada mamak. tutuplah telinga atas nasihatnya…

sekuat yang kalian bisa. mungkin kita pernah mendengar ibu yang mengutuk anaknya jadi batu dengan menangis tersedu sedu kepada tuhan…

yang kita tak pernah tahu, saat anaknya menjadi batu, ibu pasti lebih keras tangisnya agar anakny seperti semula ketimbang tangis yg pertama

begitu pun, lakukanlah maksiat sesering yang kalian bisa, lontarkanlah kalimat yang tak menganggapnya ada sekuat yang kalian bisa…

lalu jika pada suatu ketika kita lelah. menghimpun jari menyimpuhkan kaki di bumi sambil berurai air mata sepenuh hati meminta ampun…

dengan cinta jenis ini, entahkan tuhan, entahkan ibu, melihat kita seolah tak pernah melakukan salah, siap membantu apa yang kita butuh…

cinta jenis ini adalah cinta yang melapangkan sekaligus menghangatkan.

lalu pada kamis yang baik ini, saya berharap tiap tiap kita dianugerahi cinta jenis ini di dalam hati, dalam laku, dalam lisan.

selamat belajar mencintai sebagaimana ibu dan tuhan. selamat merawat akal sehat 😉

Untuk kesekian kalinya, tweet-tweet @muhammadakhyar ini begitu mengesankan.
Aku selalu membaca kicauannya dengan beragam ekspresi; kadang kaget dan terbahak-bahak sangking nggak habis pikir– kok iso tuwepak ngunu, kadang sambil tercenung– nggak mudeng, kadang sampai…. gini, netes susah berhenti.
Sangar wong iki.

Mbak Vinc, kamu sama dia aja Mbak Vinc.

Aside

Hape.

Waktu muda dulu (:v), saat SMA, aku punya teman yang selalu setia menemani sampai kelas 12 awal. Setelah googling dengan keysearch “hape nexian yang mirip blackberry”, aku menemukan gambar yang paling mendekati dengan rupa temanku itu. Ini.

Gaul kali.
Gaul kali.

Ini hape hadiah dari kakak cewek yang di Bandung sekitar empat tahun lalu.

Awalnya dia berjanji akan membelikan BlackBerry dari gaji pertamanya. Sebagai anak SMA awal yang saat itu merasa keeksisan perlu dikukuhkan lewat hape-hape, aku senang sekali. Sampai akhirnya dia memberikan aku hape itu. Aku seperti dihempas ombak mengetahui bahwa BlackBerry yang dia maksud adalah BlackBerry-BlackBerryan. Ditambah lagi, beberapa hari setelahnya aku mengetahui kenyataan bahwa hape itu bukan dibeli dari gaji pertamanya, tapi hadiah undian doorprize jalan sehat di kantornya. Baiklah…

Meskipun begitu, hape ini memorable sekali. Ia menemani hari-hari dan menyimak cerita-ceritaku dengan tabah. Saat membukanya lagi di tahun 2013, aku wow sendiri dengan isinya. SMS-SMS, playlist yang berisi lagu-lagu di masa awal keukhtian (baca : lagu-lagu Snada dan Gradasi), tulisan yang tersimpan di draft SMS yang tak sempat ditulis di buku, sampai video-video yang kuputar saat sedang suntuk, masih tersimpan dengan baik.

Lalu ada video ini.

Aku ingat, video ini jadi healer dari pengangnya kehidupan sekolah yang penuh dengan tekanan dan tuntutan. Huahaha. Tersimpan dengan baik di hape nexian yang pernah mengguncang kelas karena bunyi alarmnya– yang kata Tissa mirip speaker sunatan, saat jam pelajaran yang sunyi.

Hussh my darling, don’t fear my darling,

the lion sleeps tonight~

Nasib hape Nexy sekarang di tahun 2014, sepertinya.. sudah mati.  Ia tidak bisa ditolong lagi dengan batrai baru. Dijual juga… orang-orang pada nggak tega belinya (tutup batrai belakangnya pecah dan hilang, lalu ayahku me-lakbannya)

Jadi dia disini saja, di rak lemari. Beristirahat dengan tenang.

Dia teman perjalanan yang unik sekali. Aku rindu masa-masa bersamanya.

Aside