Perjalanan

diambil oleh Afina Raida Vinci
diambil oleh Afina Raida Vinci di Monumen Proklamasi, Menteng
Dan wanita berjilbab merah muda itu entah lelah atau menyerah, yang pasti senyum tak tampak merekah di wajah. Sudahlah. Baiklah.
Itu senyum menunggu, menanti perjalanan berikutnya.
– Komentar Oknum G dan Oknum M.
Advertisements
Perjalanan

Aku pikir kita tak benar-benar berpisah. Sementara dirimu bertambah sibuk mengurus ummat di sekitarmu, aku mungkin baru sampai pada memperbaiki diriku dan sibuk merindu.. Menelaah kembali mimpi-mimpi besar kita.

Pada akhirnya aku mengerti kita tetap pada bangunan peradaban yang sama. Yang pondasi awalnya dimulai dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa. Yang dibangun perlahan bersama tekad dan keyakinan.

Yang berbeda kini adalah.. Kita terasa jauh.. Sebab sedang membangun pilar demi pilar yg membuktikan konsistensi kita.

Kali ini aku merasa hujan membasahi bangunan yang kita upayakan ini, dengan barokah-Nya. Jadi.. Sempatkan ya untuk berdoa, bukan untuk kita saja. Tapi juga bangunan ini. Semoga pondasinya tidak terkikis zaman.

– Meutia Mega

Aku pernah begitu takjub dengan kebaikan Allah yang telah menyesatkanku di suatu tempat. Di tempat itu, aku yang dulu suka bersungut-sungut, labil, tidak tenang, tidak paham esensi, perlahan mulai mengkonstruksi lagi hal-hal mengenai niat, tujuan, dan pandangan. Aku melakukan itu semua tanpa merasa sedang didorong-dorong atau ditarik-tarik. Aku duduk, memandang sekeliling, mengamati gerak tangan dan mimik wajah mereka, melakukan sesekali penilaian, menimbang sambil terus mencari tahu. Beberapa saat kemudian, dalam waktu yang cukup lama, kuputuskan untuk meletakkan sekeping hati disitu. Ah, untuk urusan ini, aku juga tidak punya kuasa. Lagi-lagi Allah.

Duh, aku memang belum melakukan apa-apa untuk tempat itu.

Semoga Allah beri aku kesempatan.

Aside

Orang tua kepada Anak

Terberat dari orang tua adalah melepas anak untuk menjadi dirinya sendiri

Makin membesar anak, makin menipis lucunya, makin menebal persoalannya

Aku rela pada penderitaanku tapi tak rela pada penderitaan anak anakku. Itulah kelemahanku

Di dalam diri anak terdapat harapanku. Inilah yang memberatkan hidupnya karena harapanku bukan harapannya

Anak anak selalu menjadi anak kecil di mata orang tuanya, dan inilah yang membuat anak tak sabar ingin segera menjadi dewasa

Orang tua ingin anaknya bahagia dengan cara mengganggu kebahagiaannya

Anak sering menolak diajak diskusi orang tua. Maka diskusi sering kuganti doa

Anak sibuk kuliah saja sudah membuatku sepi. Apalagi kelak ia bekerja dan berkeluarga. Aku lepas dari keluarga, anakku lepas dariku

Orang tua sering meminta anaknya terbang tinggi sekaligus memintanya untuk terbang dekat dekat saja”

– Tweet lama @Prie_GS

Hatiku kayak habis lewat jeglongan.

Orang tua kepada Anak

Santiago pada Manolin

Aku tak boleh berpikir omong kosong, pikirnya. Keberuntungan adalah suatu hal yang datang dalam banyak bentuk dan siapa yang akan mengenalinya?
Aku akan mengambil beberapa terlebih dahulu– dalam bentuk apapun– dan membayar yang mereka minta. Kuharap aku dapat melihat kilauan cahaya, pikirnya.
Aku berharap terlalu banyak, tetapi itulah yang kuharapkan untuk saat ini.
Ia berusaha menenangkan diri sendiri dari sakit yang dirasakannya. Ia tahu bahwa ia belum mati,
Laut sangat luas dan perahuku sangat kecil, membuatnya sulit ditemukan. Lelaki tua itu berpikir betapa menyenangkan berbicara kepada seseorang tidak seperti berbicara hanya kepada diri sendiri dan laut.
‘Aku merindukanmu.’

dalam The Old Man and The Sea. Hm, aku lupa mencatat ini ada di halaman berapa.

Santiago pada Manolin

Facebook dan Bang Tere

Kata siapa? Kata siapa sih kalau kita hanya ditakdirkan ada di situ2 saja, tidak bisa kemana2, entah karena keterbatasan, entah karena memang sudah nasib, maka kita tidak bisa melakukan hal hebat? Tentu saja bisa. Lihatlah si pohon kelapa di pinggir pantai itu. Dia tidak bisa terbang, tidak bisa berenang, tapi buah2 miliknya melanglang buana kemana2, lebih jauh dibanding si burung pipit dan si penyu. Kita bisa melakukan hal yang sama persis. Kebaikan kita, entah itu melalui tulisan, bantuan, pertolongan, dsbgnya, bisa menyentuh sudut2 dunia. Dan hei, hari ini, dunia toh sudah tersambung begitu rupa oleh teknologi, maka sungguh lebih canggih lagi kesempatan petualangan “buah2 kebaikan” milik kita.

Demikianlah. Mari kita kirim “buah2 kebaikan” tersebut kemana2.

Alasan ber-facebook setelah sempat beberapa lama nggak menjamahnya (sampe lupa password dan gak tau ada yang iseng ngirimi gambar aneh-aneh) adalah terpaksa. Terpaksa karena di facebooklah orang-orang suka berkumpul,– masih suka berkumpul dan saling info-menginfoi hal-hal penting terkait perkuliahan, amanah, dsb. Hm, bahkan rapat komunal disana, terlepas dari efektif-tidak efektifnya.

Darwis Tere-liye ini cuma ada di facebook. Beliaunya gak bikin akun lain kayak twitter atau blog. Dan ditengah keragaman facebook seperti status aktivis-aktivis,  portal berita dengan judul provokatif, sampai yang susah dibaca, post-post bang Tere ini seperti vespa. Unik dan kedatangannya ditunggu-tunggu untuk diperhatikan. Hehehe.

Menyenangkan m/

Quote