Turbulensi 

Bagaimana ini? 

Menulis kata rindu padahal baru dua menit kita berpisah, aku takut membuatmu takut. 

Bagaimana ini?

Aku ingin dekat, sedekat tanah dengan petrichor. Aku ingin di sebelahmu, berjarak pun tak masalah. Yang penting aku bisa melihatmu, menyimakmu entah muraja’ah atau berpidato dengan angin dengan siluet subuh yang membuatku jatuh cinta, dan darinya aku akan tersenyum mengetahui akan punya bekal menjalani hari. 

Aku rindu padamu, 

rindu sampai sesak aku menahannya. Padahal kita baru bertemu, aku masih bisa mengingat wangi tawa kita sore itu. Tidak paham aku tentang manfaat, makna, atau kehadiranku. Aku juga tak ingin pusing mengkalkulasi kedatanganku, mengira sejauh mana aku cukup membuatmu senang. Kau tak butuh aku, lagipula. 

Tapi, aku ingin ikut. Dengan apapun yang kubawa untukmu, terimalah. Aku tak ingin memintamu menahanku disini, rasanya berlebihan dan akan membuatku malu sendiri.

Aku ingin di dekatmu. Karena bersamamu, aku patah hati, ingin menyerah,  jatuh cinta, patah hati, ingin menyerah,  dan jatuh cinta lagi.

Tapi aku ingin bersamamu. Kan kuupayakan untuk datang dengan perbekalan diri yang selalu lebih baik. Dan izinkan aku ikut pergi bersamamu, menjadi saksi bagaimana kau mengajak bicara hati manusia-manusia muda. 

Sama seperti saat kau memulai bincang denganku dulu, di selasar masjid Ad-Dakwah, menyentuh entah sisi hati yang mana. 

Aku ingin tahu bagaimana keajaiban tentang cita-cita bisa kita formulasi bersama apapun yang kita bawa.

Sungguh aku tak ingin banyak menyimpan harap, tapi, semoga kita selalu ingat bahwa Allah tidak akan menyiakan upaya-upaya kita. Tidak akan.  

Atas kesadaran ini, semoga membuat kita– aku sabar saat membersamaimu. Atas kesadaran itu, aku akan selalu ingat betapa baiknya Allah mempertemukan aku denganmu. 

Surabaya, 20 Desember 2016.

Teruntuk dakwah sekolah, Uswah Student Center.  

Silakan

Silakan, Nak.

Silakan pilih baju kesukaanmu. Mau pakai baju kuning, pink, hijau, biru, hitam. Terserah. Mau nanti main gulung-gulung di lapangan, lakukan. Asal tahu sendiri risikomu yah, karena bisa saja kamu kena jebakan (kotoran kucing.red) yang nanti menempel di daun kupingmu. Pokoknya aku sudah kasih tahu di awal. Tenang, aku tidak akan malu berjalan denganmu. Hm… Paling pura-pura tidak kenal sebentar kalau bertemu tetangga. Tidak lama kok, setelah tetangga itu menghilang, kita akan jadi anak dan ibu lagi.

Xixi, becanda ko.

Monggo.

Kamu mau berperan apa di permainan. Jadi robot, jadi walikota, jadi monster, jadi kuda pun tidak masalah. Asal bermainnya dengan baik, memberi kesempatan semuanya untuk tampil. Tidak harus kamu yang jadi pahlawannya. Bahkan kalau kamu memilih berubah jadi penonton yang bertepuk tangan demi hidupnya semangat teman-temanmu setelah berantakan karena ada satu yang menangis, Ibu tidak apa-apa.

Kalau kamu nanti setuju dengan ide menuntut ilmu di institusi-institusi, kemungkinan kamu akan dipertemukan oleh banyak  kesempatan mendapat panggung dan merasakan sensasi-sensasi baru sebagai manusia yang berada di sebuah sistem. Jadi ketua, bendahara, sekertaris, medis, jadi sie konsumsi sama saja. Dimanapun tempatmu berada, merasalah bahwa kamu adalah bagian dari sebuah tubuh yang berjalan. Lakukan yang terbaik karena apapun posisimu, itu adalah tugas yang penting.

Hatimu harus jadi yang tercantik/terganteng diantara semua yang kamu miliki. Kamu tidak membutuhkan validasi teman-teman dalam memenuhi standar fana yang mereka buat. Kamu sudah agak mengetahui kekuatanmu kok.

Tidak apa, Nak kalau kamu tidak mendapat nilai A+, 100, 90, dll. Tapi, kalau hal itu masih merisaukanmu, toh kita punya kesempatan berdiskusi lagi. Menemukan bersama apa yang sebenarnya jadi masalah. Yang penting kamu jujur, yang penting kamu melakukan yang terbaik. Allah Maha Melihat, kok. Yang kita cari itu keberkahan ilmu, kan. 

Kalau logika mimpimu berbeda dengan logika dunia, tidak apa. Toh yang kamu cari kebermanfaatan dan ridha-Nya toh. Kalau kamu terjatuh berkali-kali dalam mewujudkannya, aku insya Allah siap jadi pundak. Aku yakin kamu belajar banyak dalam proses ini. Yang penting, jangan pernah merasa kesuksesan kecil maupun besar versimu terjadi karena usahamu sendiri. Itu murni karena Allah yang izinkan.

Jika kamu khawatir aku ditanya-tanya tetangga tentang dirimu yang berbeda, tenang, aku sudah punya jawaban. Aku tetap akan menceritakan betapa bangganya aku memiliki anak yang tahu benar keinginannya dan memperjuangkannya. Aku menemani prosesmu. Walau masih sangat susah memahami dimensi pikirmu, aku percaya kau sedang merencanakan hal-hal baik. Jadi aku mendukungmu. Eh, tapi sedikit-sedikit, bolehlah yah aku memberi masukan.

Kalau kamu merasa jadi debu diantara silaunya penaklukkan di sekelilingmu, merasa suaramu habis diserap realitas, jadi buih karena penolakan-penolakan,  pulang saja. Pulang saja bertemu aku, aku tidak sabar bertemu semestaku. Kamu akan selalu diterima dengan tangan terbuka. 

Akumulasi

Tulisan ini mungkin adalah akumulasi dari perasaanku akhir-akhir ini. Tipikal tulisan yang membuatku isin dan ewww dewe di masa depan. Tapi, kurasa aku perlu menyelamatkan diriku sendiri dari ketidakwarasan yang berkelanjutkan.

So, I write. Bismillah.

Aku sedang berproses dalam sebuah mahakarya mahasiswa, skrispi. Beuh… Wkk.

Topik yang kukerjakan, cukup membuatku penasaran dengan hasilnya. Ditambah di bimbingan terakhir, untuk ukuran dosen yang mencela elegan saat sidang proposal dengan menekankan “your presentation was beyond my expectation. Itu tadi apa sih?” atau “*tertawa* kamu itu mahasiswa terragu-ragu yang pernah saya temui.” aku lumayan deg-degan sekaligus berbunga-bunga saat di sepanjang membolak-balik  bab 4ku beliau senyum-senyum bilang “udah bagus, saya suka.” sampai 5 kali.

Her mood was so good, I guess. Aku curiga, namun kuterima saja.

Mei mendekat, jika tidak ada aral melintang, aku akan berusia 22. Tua sekali. Status mahal mahasiswaku akan semakin mendekati uzurnya, dan dengan status mahal ini, banyak hal yang belum tercapai. Yha, mungkin aku perlu dinasihati untuk lebih tulus dan tangguh dalam menggapai mimpi. Maksudku, status sebagai manusia dan hamba Allah, kurasa lebih dari cukup untuk terus mewujudkan mimpi-mimpi macam mengotori passport dengan stempel-stempel, presentasi di depan orang-orang nonfamiliar tentang ide-ideku, menyesatkan diri di tengah antah berantah pepohonan gunung dan laut, belajar kepada kehidupan di masyarakat pedesaan serta anak-anaknya yang bermata jeli.

Namun, tidak bisa kupingkiri, ada fasilitas mahasiswa yang kurasa belum kumaksimalkan selama ini. Memanfaatkan titipan jutaan rupiah dari universitas untuk keluar negeri, misalnya, atau pakai student hour di resto-resto– lol, atau sekadar naik bus flash dari kampus B ke kampus C.

Jika dirunut beberapa tahun lalu, aku bisa saja mendaftar hal-hal yang kulakukan dan menyesali satu persatu hal yang tidak kumaksimalkan, well, tipis-tipis dengan muhasabah, re-evaluate.

Tetapi, dari semua penolakan atas aplikasi yang kukirim, ketidakmaksimalan dalam mengemban amanah, buku-buku yang belum terbaca, sampai kemangkelan terhadap diri sendiri karena kadang masih suka melihat prestasi-prestasi kasat mata orang lain, aku ingin mengingatkan diriku untuk terus sadar.

Sadar dengan hari ini, pagi ini, dengan segenap hal yang akan terjadi setelahnya. Sadar bahwa Allah baik sekali, tanpa peduli intensitas baca quranmu terdistraksi banyak hal, hafalanmu untup-untup, Ia tetap membiarkanmu bangun, bernapas lagi, dalam kehangatan keluarga dan iman.

Ketika berada di atas motor menuju suatu urusan, atau di tengah-tengah tumpukan jurnal, atau momen setelah mengetahui hal-hal diluar harapan, aku selalu teringat sebuah nasihat, berharap dan bergeraklah hanya kepada Allah. Di saat bersamaan, muncul sebuah fragmen, bahwa di detik yang sama, seseorang dari lauh mahfudz juga berjumpalitan berjuang dengan mimpi-mimpi dan ibadahnya.

Dear X, mari menyelesaikan diri kita masing-masing dengan bersemangat. Menyelesaikan ego masing-masing untuk kemudian, sampai entah kapan, Ia akan pertemukan kita. Semoga di saat itu, kita paham bahwa masing-masing jauh dari sempurna. Melakukan yang terbaik dari yang kita bisa untukmu untukku, kurasa cukup.

Pun kalau kita baru bertemu nanti di hadapan Allah, aku tidak apa-apa. Sungguh. Jadi jangan khawatir, mari terus berusaha. Capai boleh, tapi jangan lupa untuk bangun dan berjuang lagi. Semoga kita tidak kehilangan sabar. Heuheu.

Sekian, kuharap ini tidak termasuk galau yang sebuah artikel legit maksudkan.

N.B: Coba buka tautan ini dan ini. Sangat keren.

Pesan: Terima Kasih

Aku harus cepat menyampaikan sesuatu. Sebelum waktu tiba-tiba berpamitan, dan urung tuntas menyelesaikan janjinya.

Dengan segenap hati, aku ingin berterima kasih padamu,

karena telah– dengan agak ceroboh, mempercayaiku bulat-bulat.

Walau aku enggan berpanjang lebar, walau kupamit kau untuk sebuah tujuan asing dan tak familiar untukmu.

Terima kasih, karena telah menyerahkanku berlapis nasihat, gairah, dan mimpi. Yang darinya, aku melihat kau begitu tulus mengharapkanku… Tak ada yang lebih berharga dari diwarisi kemewahan berpikir seperti milikmu.

Terima kasih telah membuka pintu, dengan apapun yang kubawa. Satu-dua komentar gusar kurasa manusiawi. Tapi, sungguh. Terima kasih telah mempersilakanku masuk.

Terima kasih, karena telah bertanya kabarku, walau kau juga nampak compang-camping dikoyak lelah dan debu.

Terima kasih atas pembelaanmu terhadapku atas pekatnya ragu-ragu. Membuatku bisa menghela lebih lega.

Sungguh, aku jadi tidak butuh yang lain.

Dengan doamu, aku bisa jadi apapun.

Apapun.

#1 PesanUntukNezha : Berbicara

Aku ini bukan seorang pembicara yang baik.

Maksudku, aku sering sekali mendapati orang yang kucurhati menangkap lain dari apa yang sebenarnya kumaksudkan, hal itu cukup melelahkan; untuk menjelaskan lagi dengan memilah lain diksi agar maksudku dapat dipahami. Maka aku biasanya memilih untuk menyimpan pertanyaan dan resah yang muncul dalam diri di benak saja sampai menemukan waktu dan kalimat yang tepat untuk dapat diutarakan kepada pihak lain. Aku akan malu sendiri ketika orang lain ternyata nggak paham dengan apa yang kubicarakan. Kayak, “aku wes wani ngomong gini, tapi kon gak paham. deuh.” Semacam itu.

Di suatu siang bersama Oknum Msy yang sudah terkenal dengan kepiawaiannya ber-public speaking dan kebetulan adalah saudara jauhku, kami bercerita tentang kabar seseorang yang kami fans-in diam-diam dengan cara berbeda. Sampai pada momen ketika aku menemukan hal lucu bersifat personal yang kutimbang cukup layak diceritakan. Lalu.. akupun bercerita padanya dengan antusias.

Oknum Msy tertawa terbahak-bahak. Lalu hening.

“… Sek, terus iku lucune sebelah endi? Aku ngguyu karena caramu menyampaikan. Tapi aku nggak nemu kelucuan dalam ceritamu.”

Antusiasku jadi hilang seketika, lho yak apa se. yaitu.. Itu tadi yang lucu.

“Kamu itu secara delivery itu bagus banget, tapi untuk konten perlu latihan.”

……..

Krik..krik… krik…
Hal yang awalnya menyebalkan, tapi semakin lama kupikirkan semakin aku menyetujuinya.

Di lain sisi, aku dikenal sebagai seorang ekstrovert yang bisa menghangatkan suasana. Presentasi formal maupun nonformalku dinanti karena pasti isinya ada yang akan membuat audiens melepas kaku dan tertawa. Yang menariknya hal ini sering terpenuhi, aku cukup bisa membuat orang menerima maksudku, setidaknya itu menurut feedback teman-teman ketika selesai presentasi di sebuah materi kuliah.

Setelah kutelisik, ternyata ada perbedaan antara aku berbicara di depan publik dengan materi presentasi yang sudah kusiapkan, dengan aku berbicara secara personal kepada orang tentang suatu hal yang rahasia. Dua-duanya kuanggap penting dan butuh keberanian yang khusus.

Menjadi seorang pembicara, seperti halnya keahlian lain, adalah jam terbang. Semakin sering kita berbicara, semakin baik kita dalam menyampaikan. Ala bisa karena terbiasa.

Hal itu yang sangat jarang kuterapkan ketika berbicara tentang hal-hal tertentu dengan seseorang.

Aku tipikal pencerita yang egois, yang menginginkan lawan bicaraku segera mengerti maksudku dengan bahasa yang kupilih sendiri. Sekali aku diminta menjelaskan lagi, aku menyerah. Langsung berjanji bahwa aku tidak akan bercerita hal-hal seperti ini dan membuatnya repot mengartikan maksudku. Jadi dalam satu kondisi curhat, aku lebih sering ambil posisi jadi pendengar, dan lama-lama lebih sering diposisikan sebagai pendengar. Bukan suatu masalah, karena menurutku mendengarkan itu lebih mudah daripada menceritakan.

Dan aku menyadari, hal itu bukanlah hal yang baik.

Aku harus mulai memperjuangkan kata-kataku untuk dapat diterima dan dimengerti orang lain, self-motivating indeed the best of all time, cause in the end, it is only us who can save ourselves. Tapi sebagai manusia biasa, kita butuh jawaban yang kadang kita sudah tahu tapi hanya dapat manjur ketika orang lain yang mengucapkannya.

So here I am, scrolling over bunch of contacts, planning to select a trusted name and asking her to make time with me to help to listen to me explicating my thought over several critical things. My goal is not getting the right answer– I consider it as a bonus, my goal is making her understand what I feel and feeling my fear, my optimism, as well my inferiority, even in a different level. I do hope that I am not giving her any burden to do that._.

Hal ini memang membahayakan untuk masa depan. Untuk membentuk sebuah keluarga yang kuat, dibutuhkan komunikasi interpersonal yang baik dari suami terhadap istri, dan sebaliknya. Gimana mau jadi keluarga luar biasa jika aku terus begini……………….

Wahai, Calon Teman Ngobrol Sepanjang Hidup yang aku tidak tahu kita akan bertemu dimana dan kapan, tenang, aku sedang berusaha, akan kupastikan hal ini selesai secepat mungkin.

Eaa.

#3: Setelah Tiga Tahun – Menyaksikan Sedih

Aku rasa, aku masuk di jenjang kampus dengan nilai dan pemahaman yang terbentuk lewat bacaan, obrolan kawan, syuro’, majelis, dan sebagainya. Ada beberapa prinsip yang kupegang erat dalam menghadapi lika-liku kehidupan khas 20an beserta pergumulan emosi di dalamnya.

Dulu, aku jarang bisa memahami mengapa seseorang bisa berubah jadi sangat menyedihkan ketika patah hati. Aku pernah marah karena gak habis pikir saat melihat seorang teman begitu nelangsa diputusin pacarnya yang bikin dia kucel dan gak bersemangat. Aku cuma bisa melongo lebar ketika ditunjukkin temen guratan bekas silet di tangannya karena dia nggak kuat dengan sikap pacarnya dan permasalahan di keluarganya, so se hurted herself. Atau saat seorang teman yang sangat stres karena merasa nggak cukup cantik jika dibandingkan dengan temen-temen pacarnya di FEB. Atau saat tahu model mencintai dalam diam ala-ala aktivis dakwah. Hellowh. Plis banget. Gitu pikirku pas itu.

Aku gak paham. Blas.

Lalu semakin kesini, semakin aku mulai mengerti bahwa kita akan selalu diuji dengan hal-hal yang kita cintai dan perjuangkan. Everyone is fighting a hard battle that we know nothing about, kata Plato. Tugas kita sebagai manusia yang cepat atau lambat akan diuji pula dengan kadar yang berbeda adalah mendengar, menimpali jika diperlukan, dan menyemangati. Hidup ini keras, cenderung kejam. Aku perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kesedihannya sendiri dan kewajiban kita adalah minimal bersikap baik dan tidak merepotkan.

Kesedihan yang baru-baru ini kualami adalah semacam sedih yang bolong.

Itu terjadi saat kamu bangun di pagi hari dan merasa ada satu sudut hati bagian nggak tau yang mana bolong. Ada harapan yang pernah dipupuk, tapi kemudian layu setelah memberanikan diri untuk connecting the dots lalu sampai pada satu simpulan.

Maka disitulah aku pagi ini, bangun tidur sambil meringis karena masih membawa sedih sisa kemarin, ritual sebelum tidur tidak berhasil, memaafkan diri sendiri belum selesai.

Ketika belum habis mengidentifikasi jenis emosi apakah ini– sehingga aku tahu cara menghadapinya, aku didatangi lagi sebuah sedih yang lumayan bikin cenut-cenut ulu hati, aku jadi merasa tidak berdaya karena tidak memiliki apapun untuk dibuat perisai. Aku merasa tidak aman. Hei, dan anehnya, perasaan sedih seperti ini aku pelihara dengan baik. Aku semacam menganggap ini sebuah seni menjadi manusia; ada rasa kehilangan, kecewa, marah yang tak tahu pada apa atau siapa, juga lemah yang sayangnya hal ini sangat mengangguku sebagai seseorang yang tidak punya banyak waktu tersisa.

Mungkin ini teguran dari Allah yang melihatku abai terhadap-Nya.
Dan sungguh, ada hikmah dari semua yang terjadi. Pada titik ini, aku berusaha keras mencari hikmahnya, sembari bertanya sana sini sambil memastikan sedih sedang aman di tempatnya, tidak muncul di depan umum.

Tempat berpulang segala emosi, termasuk sedih, adalah Allah. Dan lihatlah, janji-Nya untuk selalu ada dan mendengar racauan tidak jelas hamba yang tadi sok-sokan bisa menghadapi sendiri ini. Ia selalu ada disana, dalam jarak yang lebih dekat dari urat nadi, akan selalu menerima segalanya yang kita bawa– prasangka, pertanyaan retoris, dan hal-hal buruk lainnya.

Maka yang seharusnya manusia lakukan adalah meletakkan semuanya. Meletakkan segala perangkat perasaan hati pada pemilik-Nya. Mencoba meresapi pasrah dan kepercayaan bulat pada Allah, bahwa ia sebagai Dzat Yang Membolak Balik Hati akan menyelesaikan urusan-urusan ini. Tuntas.

Ada hal yang aku belum tahu sedang dipersiapkan-Nya. Tugasku selanjutnya sebenarnya mudah saja, melanjutkan perjalanan. Sedih biar aman berada di tempatnya. Tanpa perlu harus kuperhatikan dalam-dalam.

Aku telah menyerahkannya pada Sebaik-Baik Wakil.

‘ala kulli hal, Alhamdulillah.

#2: Setelah Tiga Tahun – Menjadi Diri

Mendekati usia 20 tahun, permasalahan yang kudengar dan alami jadi lebih beragam dan bergeliut. Kesibukan khas organisasi-organisasi kampus, tugas-tugas, mimpi-mimpi yang sudah ditulis dan ingin segera direalisasikan, optimisme dan idealisme-idealisme yang dipupuk dalam-dalam jadi warna yang membuatku bersemangat hampir setiap hari.

Pencarian diri sendiri terus terjadi, bahkan sampai saat ini, semoga sampai nanti. Aku ingin terus memastikan bahwa aku sedang dalam proses pembejalaran yang dinamis, yang aku akan menemukan gairah luar biasaketika mengerjakannya, orang menyebutnya passion.

Aku mengambil mata kuliah dengan tema-tema yang dulu kutempel kesan macem-macem, ikut forum-forum diskusi, juga mencoba banyak hobi baru. Mulai dari typography karena melihat seniman dari Australia yang bikin kaligrafi ayat dan hadist yang keren banget, belajar desain walau tak pernah tampak indah hasilnya, knitting yang alhamdulillah jadi satu syal berwarna hijau ala-ala Slytherin, book binding yang aku sekarang sudah agak lupa caranya, bisnis rok yang sebenarnya menjanjikan yang sayangnya.. mutung karena terjebak retorika kehidupan, merelawankan diri di tempat-tempat bervisikan pendidikan luar sekolah, sampai menanam sayur mayur di halaman rumah.

Mengenali diri sendiri.
Aku juga pernah mengalami masa dimana orang-orang tampak lebih bersinar– yang membuatku harus menyipitkan mata melihat mereka, merasakan ketertekanan batin ketika mendengar kisah-kisah mereka, menyilaukan dengan sederet prestasi akademik dan non akademik, konferensi disana disini, beasiswa ini dan itu… silau men…

Lah, bukannya gitu bikin termotivasi?

Hm. Sayangnya, motivasi model begitu selalu membuatku semakin buruk. Aku jadi merasa tidak terlalu berharga dan nggak iso opo-opo karena perbandingan-perbandingan konyol yang kubuat dan tidak relevan itu. Hal itu kemudian berefek pada low-rating self, minder, ketakutan, inferiority feelings, dan sejenisnya. Menghadapi hal-hal seperti itu, sungguh merupakan pekerjaan yang melelahkan.

Mbak Hana, S.Kom, dalam sebuah tulisannya yang mengesankan beberapa tahun lalu, mengungkapkan bahwa ketika kita mengetahui apa yang kita ingini, mengenal baik diri sendiri, insya Allah kita tidak akan mudah diombang-ambing dengan pencapaian orang lain. Ketika kita mengenali dan bisa menggambarkan kelemahan, potensi, sekaligus tantangan yang dihadapi, insya Allah kita akan baik-baik saja. Baik-baik saja dengan kekurangan sekaligus kelebihan (yang mungkin sedang kita cari).

Bening Tirta dalam sebuah postingannya di instagram mengatakan bahwa,
“Kamu tidak perlu menjadi yang terbaik. Kamu cuma perlu untuk memulai untuk mewujudkan ide dan mimpi-mimpimu.”

Keberanian untuk mewujudkan ide dan mimpilah yang  menurutku harus dimiliki. Keberanian itu termanifestasi dalam rencana dan aksi-aksi nyata dengan tolak ukur serta indikator yang kita sendiri buat. Sehingga, ketika melihat orang lain dengan sederet prestasinnya, yang muncul bukanlah perasaan bahwa apalah-arti-diri-remahan-peyek-ikan-teri ini. Bukan itu, tetapi lebih pada keingintahuan kita bagaimana mereka melawan diri sendiri dan kemudian berjuang mewujudkan ide-idenya. Persepsi seperti apakah yang menjadi perisai dan siap dengan segala goncangan dari luar. Hats off.

Keberanian adalah bukti iman, kata Adri Suyanto. Maka setiap kita membutuhkan stok berani, selalu ingat bahwa Allahlah yang akan menjaminkan kita kekuatan. Ia-lah sumbernya. Ia-lah yang akan memberi kemudahan. Keyakinan seperti itulah yang harus kugigit erat. Tak ada daya dan kekuatan kecuali datangnya dari Allah. Karena Allah, maka beranilah! :’3

Ide-ide baik, semoga selalu jadi solusi permasalahan yang kita semua hadapi. Keberanian dan kemauan untuk terus belajarlah menurutku caranya. Dan segala hal itu, semoga  merupakan langkah-langkah menuju ridho Rabb.

Jika kembali ke pertanyaan awal.. Aku akan sampai pada kesimpulan ini: kamu tak akan mengenali dirimu, sebelum kamu mengenal Allah.
Solusinya selalu seterang dan sesimpel ini: kenali Allah dan Rasul-Nya lebih dalam lagi, maka akan semakin jelas kamu melangkah. Dan sampai hampir dini hari ini, aku meyakini bahwa jati diri sebagai hamba Allah adalah pilihan sekaligus takdir yang terus aku syukuri.

Semoga Allah jaga selalu..