Percaya 

Ada sebuah tweet dari James Breakwall yang muncul di timeline twitterku. Disukai oleh Ika Natassa dan Mbak Vinci.

Isinya begini:

Percaya.

Aku ingat saat kelas 2 SD.

Mungkin aku dirasa cukup pintar dan aktif saat itu sehingga aku terpilih sebagai ketua kelas perempuan pertama dari seluruh angkatan. Mungkin juga ditambah sifat yang bossy dan intimidating-ku saat itu. Aku bossy dan intimidate karena tidak ingin dianggap lemah. Well.. saat SD, aku dibully habis-habisan, bertahun-tahun sampai lulus SD karena aku anak perempuan yang badannya tinggi dan cukup disegani (bahaha karena ketua kelas). Aku disebut jerapah, tiang listrik, sutet, dsb.

Ghils. Hahat ugha kalo dipikir-pikir anak SD jaman itu. I adore my self of being so strong. Lol.

Saat itu kelas bahasa Inggris dan aku lupa bawa buku. Entah karena tertinggal atau apa… Intinya aku lupa. Sampainya di sekolah, guru bahasa Inggris–yang merupakan salah satu mata pelajaran yang kusukai, memarahiku habis-habisan di depan kelas. Harga diri sebagai ketua kelasku hancur berkeping-keping hanya karena buku yang tertinggal. Kecemerlanganku mengingat kosakata-kosakata dan kesregepanku menjawab pertanyaan-pertanyaan di kelas seperti tak ada artinya.

Sejak saat itu, aku benci bahasa Inggris. Titik.

Bahkan, setelahnya aku pernah nekat membolos kelas bahasa Inggris karena menyadari LKSku tertukar dengan milik mas Arif (warna covernya sama).

Bayangkan, kelas 2 SD, semata tidak ingin berkonfrontasi lagi dengan Ibu guru bahasa Inggris, akhirnya memutuskan bolos. Wakakakakakkaka.  Ngarang cerita ke ayah dan ibu kepala sekolah juga saat itu. Luwar biyaza.

Sampai di awal SMP, ayahku getol ingin aku bisa bahasa Inggris. He might see my buried potential and wanted to unleash it. Lul. Aku manut saja, semata tawadhu. Wk. Lalu hadirlah brosur fotokopian kursus bahasa Inggris yang letaknya di perumahan belakang pasar di rumah kami.

Kesanalah aku. Sampai beberapa bulan, aku sama sekali tidak menemukan keasyikan belajar bahasa Inggris. Datang dan pergi. Tak serius ingin bisa, hanya penggugur kewajiban.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan-nya. Guru baru.

Mr. Irfan Rifai.

Mas-mas baru lulus kuliah, kulitnya sawo matang dengan kacamata tipis serta senyumnya yang mengembang menyapa kami semua di kelas. Pada awalnya aku seperti yang lain, biasa aja. Tak ada yang menarik.

Dia suka sekali tersenyum dan mendekati kami satu persatu. Mengecek, menanyakan langsung, dan mengajak kami ngobrol tentang materi dan relasinya dengan yang kami alami.

Dia mengamati setiap ucapan kami, walau berantakan– yang aku tahu temanku salah, tapi herannya ia selalu bilang: very good! bagus sekali, tapi kurang tepat…

Ketika aku yang ia hampiri, dia melakukan hal yang sama, mengucapkan hal-hal yang membuatku bersemangat bahkan ketika aku berusaha mengacuhkan dan menjawab sekenanya dengan sengaja. Yet he didnt give up on me, even he praised me. “Thank you very much for trying, Anisah!” katanya.

Lah? …

Aku merasa dihargai dan dipercaya. Ia mengapresiasi hal-hal sederhana yang aku dan teman-teman lakukan saat belajar bahasa Inggris. Sejak bertemu dengannya, kami– aku mungkin, jadi semangat sekali kalau lihat apapun yang pakai bahasa Inggris. Aku pede, nggak takut salah.

Saat SMP, masuk SMAN 15, dan masuk Unair, aku selalu menyempatkan diri mengiriminya email. Menceritakan kegalauanku semua dalam bahasa Inggris. Dan disetiap surat itu, aku selalu meragukan ingatannya padaku. Namun ia selalu berkata.

Of course I do remember you! You are  Anisah the smartest, most active, and tallest girl in our class! Hehehe. And now your english is getting more impressive. Only spot minor mistakes. Keep improving, girl!”

Terharu, padahal saat kubaca lagi email-emailku, iku akeh sing salah. . …

Ia juga mendukungku masuk Sastra Inggris, ambil linguistics (tapi gak tak ambil linguisticsnya, sir. wakaka), dan melanjutkan kuliah keluar negeri sepertinya, menempuh S2 dan S3 di Leeds, Inggris. Sekarang, beliau jadi dosen favorit di Universitas Adi Buana, Surabaya.

“I believe you can do that.”

Padanya, aku memahami esensi menjadi seorang pendidik: ia mempercayai anak didiknya. Ia memantik percaya diri dan rasa penasaran mereka terhadap ilmu pengetahuan.

Itu yang juga sedang berusaha kulakukan saat ini.

_____

Percaya.

Betapa magisnya kata itu terdengar. Ia begitu hangat, masuk dan menyalakan lagi semangat yang redup dan hampir mati. Sekuat dan seindependen apapun diri manusia, kurasa kita ingin dipercayai. Diserahi segepok percaya saat sedang ragu, rasanya seperti hilang separuh beban di pundak. 

Aku percaya kamu bisa. 

Mendengarnya seperti menemukan oase. Ia sejuk dan membuat hati jadi lembut. Ia seperti animasi ritmis dari manusia– yang melewati beberapa prose perubahan, sampai menjadi superhero yang siap melawan musuh. 

Mungkin beberapa kali kita seringkali ragu, mencurigai ucapan itu keluar hanya sekadar basa-basi, formalitas, atau penyemangat semu. Tak ada yang istimewa. 

Tapi pada akhirnya, kita mungkin luluh juga. Berpikir bahwa sekalipun tidak dengan hati, menyampaikannya pun butuh usaha. Just cherish that anyway. 

Jadi, terima kasih.

Terima kasih sudah mempercayaiku bulat, melebihi percayaku pada diri sendiri. Terima kasih sudah mengingatkan saat aku lupa.

Terima kasih. Semoga Allah meridhoi.

Advertisements
Percaya 

Mungkin

Erick Weiner, in his book “Geography of Bliss” uttered that even when two people are travelling together, each of them owns her or his own journey. Personally. 

I’d say yes. 

Ini hari kedua, besok pagi sebelum subuh, aku harus sudah self-check out dari apartemen mura meriya namun sangat rekomended— thx Airbnb– untuk mengejar kereta ekspress paling pagi untuk ke bandara dan pulang, kembali ke Surabaya.

Dan aku– cukup sedih.

Sungguh bukan karena Niswah gagal mengambil foto instagramebel dari kameranya (aku ga nguruz foto2an sakjane…), atau karena aku jatuh cinta dengan tempat-tempat di Malaysia (tetap #visitindonesia yha, gais) atau nyaman dengan transportasi massa yang memang jauh-jauh-jauh lebih baik dari yang pernah kutahu di Surabaya bahkan Jakarta.

Bukan itu.

Dari dua hari yang singkat ini, kurasa aku menemukan mozaik diriku, yang usang sampai yang baru. Dengung bahasa Mandarin di MRT, turis-turis berbagai negara di tiap sudut kota, obrolan kampus dan kehidupan di Malaysia oleh Niswah dan mas-masnya yang hilang dan timbul di telingaku– di tengah-tengah itu semua selalu muncul satu kesadaran:

You’re away from home, you’re doing what you wanna do.

Yet, I wasn’t scared, even a bit. I found myself  brave and fine. And it amazed me. 

Anw, kamu jangan percaya jika aku bilang aku ini adalah orang yang menyukai tantangan. Waktu kamu pernah dengar aku bilang gitu, mungkin aku tidak sungguh-sungguh, mungkin aku cuma ingin membuat kesan yang menarik untuk kamu tahu.

Tapi, sungguh aku penasaran dengan bagaimana Allah menggeser batas diriku, hingga tak ada yang bisa kulakukan selain berani jalan dan yakin dengan pertolongan-Nya. Dan disaat yang sama terkaget-kaget dengan betapa baiknya Ia yang masih mau memberiku petunjuk lewat kesadaran semacam itu. Padahal aku masih celemotan dosa.

Hingga aku menyimpulkan, mungkin aku sudah siap. Mungkin aku sudah bisa. Mungkin aku harus memperjuangkan diriku lebih keras lagi. Mungkin aku harus pergi lebih jauh.

Semua masih berupa kemungkinan– yang dari semua kemungkinan itu, aku harus bersabar. Sabar yang lebih-lebih. Sabar dalam mengelola ekspektasi dan prasangka baik kepada Rabb Sang Maha Perencana. Nah, kalau yang ini, sebenar-benarnya tantangan untukku.

Dan di ujung safar ini, aku ingin diriku untuk terus ingat bahwa perjalanan dekat dan jauh– sendiri atau riuh itu bukanlah untuk membuktikan diri, ingin dirindukan, kaboorr, atau yang lain.

Tapi untuk menambal-mempertebal keimanan pada Allah dan mengumpulkan cerita nyata untuk diceritakan ke anak-anak sendiri– atau orang lain.

Bismillah ya, sis.

Mungkin

Racau

Selamat wisuda, semoga ilmunya bermanfaat.

Momen wisuda sudah selesai minggu lalu. Hingar-bingarnya masih bisa kudengar lewat ucapan selamat yang mampir di comment section Instagram dan masih terasa euforianya di timeline media sosial teman-teman yang ramai mengunggah foto bertoga mereka, belum bisa move-on.

Selesai wisuda berarti harus terbiasanya kita dengan cecaran pertanyaan masyarakat dekat, baru dekat, maupun jauh. Tentang apa saja; kerja, S2, menikah dan keputusan-keputusan khas manusia dewasa lainnya. Pandangan dan nasihat-nasihat yang entah mengapa membuatku merasa tidak lebih dari aset yang harus siap diserap dalam bursa ketenagakerjaan. Wkk.

Aku merasa menghadapi pascakampus dengan cukup percaya diri. Meyakini baik-baik rencana yang sudah kupersiapkan. Akan begini, begitu, seperti ini, seperti itu. Walau penuh onak duri dan perlu menebalkan telinga dan kulit, Insya Allah siap kuperjuangkan.

Pfft.

Apa sih berjuang itu?

“Kamu akan tahu sendiri nanti, Nezh. Semoga selalu dikelilingi orang-orang yang mendukungmu, membuatmu tak perlu banyak berkompromi.” Pesan seorang leluhur.

Sebelum aku tersesat di renungku sendiri dan tidak bisa kembali, aku harus diam dan mencari keseimbangan. Mengamati. Melihat pantulan kaca.

Walau berdiri tegak, aku melihat lutut yang bergetar. Mata sembab. Tangan tremor yang sedang menggenggam entah apa.

“Hati-hati, semoga Allah selalu menemani.

Racau

Tunggu dan Pindah

Beberapa dari kita, aku salah satunya, suka sekali menghitung hari. Melihat tanggal dan membayangkan apa yang terjadi di tanggal ini bulan lalu atau dua bulan lalu. Apa yang terjadi di hari yang sama minggu lalu atau dua minggu lalu. Dan mengingatnya sudah cukup membuat hari terasa lebih baik. Seperti seharian aku mengulum sebuah permen hasil kristalisasi kenangan hal-hal membahagiakan, yang telah kukoleksi dan kupilah-pilah.

Hari ini tanggal 12 Februari.

Aku mengingat baik sebulan lalu aku berangkat meninggalkan orang tua dalam waktu cukup lama dengan berbekal bismillah, menyiapkan diri untuk 25 hari yang aku belum tahu rupa dan rasanya seperti apa. Membuat cara pandang baru bahwa jika memang nantinya tugas universitas ini tidak sesuai harapanku—baik teman satu kelompok atau kondisi lapangan, aku akan memakai alasan ini-itu untuk bertahan. Dan, ya, akhirnya aku berangkat dengan bersemangat dan sedikit was-was. 12 Januari adalah tanggal dimulainya KKN yang menjadi salah satu pengalaman terbaik yang kumiliki.

Aku juga masih ingat, betapa seriusnya aku mengecek tanggal setelah  workcamp Jepara usai dua tahun lalu. Seminggu kemarin, jam segini, aku masih di Donorejo, bersama teman-teman UI dan Undip juga Emak, berlatih saman dan membuat klepon. Lalu aku tergerak untuk membaca lagi personal notes yang ditulis kawan-kawan untukku.

Begitu terus, sampai aku kelelahan melihat ke belakang dan menyadari mungkin yang lainnya sudah lama pergi dan bergegas ke tempat lainnya, melanjutkan hidup. Menyelesaikan tugas yang lain.

Kata Mbak Gio dalam blognya, ibarat menyeberang, manusia memang selalu berpindah dari pijakan satu ke pijakan lainnya. Berpindah dari pengalaman sedih ke pengalaman bahagia. Pembelajaran satu ke pembelajaran lainnya. Bertemu, namun diharuskan siap ketika waktunya berpisah. Berpindah, dari momen hidup satu ke momen hidup selanjutnya. Menghadapi tantangan klasik yang seperti wajib untuk dirasakan tiap-tiap orang yang tinggal di sebuah sistem yang sama.

Menunggu UNAS dengan segala persiapan belajar dari bangun sampai tidur lagi, masuk universitas, ditunggu dengan skripsi lalu wisuda. Yang ternyata sama sekali bukan akhir, tapi awal dari tantangan yang sebenarnya.

Pernikahan yang selama ini dongeng percayai sebagai akhir gerbang penderitaan juga akun-akun motivasi teguhkan sebagai obat dari resah kesendirian dan galau romantis dengan sebuah kalimat manis, “a happily ever after.” Bahagia-selamanya, ternyata pada kenyataannya, pernikahan adalah fase menuju gerbang ke kehidupan yang lebih sulit lagi. Lebih pelik lagi.

Manusia akan mencari berbagai cara untuk tetap merasa baik dan bahagia. Perasaan baik itu dirasa perlu untuk bekal menghadapi momen hidup yang tidak membahagiakan.

Di sela momen satu ke momen lainnya, ada proses tunggu yang di dalamnya beberapa manusia memilih untuk menonton donlotan drama korea—sebagai sebuah pelarian dari realitas yang biasa-biasa saja. Menyaksikan drama korea dan segala suguhan media adalah upaya untuk “pergi sejenak” dan merasakan sebuah pseudo-feeling tentang bahagia. Beberapa juga membentuk-bentuk kebahagiaan palsu lewat media sosial. Orang lain di ruang maya yang sama, kemudian mulai memakai standar-standar dalam mengukur  bahagia mereka.

Semoga bahagia selalu bisa ditemui di setiap ingatan tentang kepasrahan. Ikhlas yang akan terus dilatih lewat penerimaan bahwa kepada Allah-lah muara tujuan. Perpindahan dan penantian kita semoga benar berlabuh pada-Nya.

Selamat menunggu momen baru hidup dengan kesadaran utuh. Selamat menemukan.

Tunggu dan Pindah

Teruntuk

Berlarilah.

Berlari bersama senja, sampai tenggorokanmu sakit seperti menelan duri-duri, sampai suaramu habis, sampai kakimu kebas, sampai kau kepayahan mengeluarkan suara. Gerak-gerak badan dan pikiranmu, pastikan akan selalu berlayar jauh dan hanya akan pulang dengan oleh-oleh cerita; tentang tanah yang asing, tentang perihnya sendiri, tentang ketakutanmu, tentang kepercayaanmu yang bulat akan pertolongan-Nya.

Aku akan mendengarkanmu, sampai tuntas. Menunggumu ketika kau menghela nafas karena perih di dada, atau tersedak saking bahagianya.

Jika kita berkesempatan mencicipi dinginnya salju, akan kupastikan kau selalu aman dan hangat. Dalam jarak sedekapan, tak boleh ada yang merisaukanmu. Sedingin apapun rupa hidup nanti, jangan berhenti bergerak. Bergerak akan membuatmu hangat—dan tidak mati kedinginan.

Amati lamat-lamat daun-daun yang gugur, yang mengingatkanmu tentang kerelaan paripurna. Inti kesadaran bahwa kita tak pernah benar-benar memiliki sesuatu. Kehilangan adalah niscahya.

Gugur dari pohon adalah keputusan yang disadari penuh oleh dedaunan, jatuh bagi mereka adalah menjalani takdir yang telah digariskan Tuhan. Maka, jika kau harus jatuh, nantinya, jatuhlah dengan pertimbangan. Resapi bahwa kejatuhanmu akan membawamu pada bangun yang lebih kuat.

Terpantul-pantul. Membacanya,membuat keinginan untuk curi tidur jadi hilang. Diserbu pertanyaan yang menyodok-nyodok, berakhir panas di ujung mata:

Apa aku layak?

Teruntuk

Penuh dengan Aku.

Akhir-akhir ini aku sering berpikir tentang nasib orang-orang yang menghabiskan waktunya bersamaku, tentang bagaimana mereka nanti bisa menghadapiku… yang begini. Kemudian aku disergap rasa bersalah. Kasihan mereka.

Hari ini, seperti sebuah jawaban, seseorang yang kuhormati berkata, “Kamu luar biasa, Nezh. Luar biasa ragu-ragu.” katanya.

Kami tidak pernah menghabiskan waktu bersama secara personal, bertukar pikiran tentang sebuah film dengan isu tertentu, atau saling bertanya tentang hobi masing-masing. Biasanya, dengan kriteria begitu, tentu saja aku akan mengabaikan omongannya, terkikik sambil lalu, dan menolak repot-repot membantahnya.

But I just can not do that.

Ucapannya menggema di ruang pikirku. Membuatku tercengang, bertanya-tanya, mengerutkan kening, men-scan otak.

Apa iya?

Aku kemudian disergap kesadaran . Jangan-jangan memang iya. Jangan-jangan, memang aku adalah orang yang membingungkan, merepotkan orang-orang di sekitar. Selama ini aku saja yang selalu berdalih tentang keakuanku yang ogah repot membuat orang-orang percaya dengan apa yang kujelaskan. Sedari awal aku yang menolak mengerti.

Dan membiarkan orang lain terkena getahnya.

Aku membayangkan nasibku dan nasib orang-orang terdekatku jika mereka mengambil keputusan penting membersamaiku. Menyusun hipotesa ini itu berdasar hari ini, aku lalu bergidik ngeri. Bukan tidak mungkin, aku akan berubah menjadi menyeramkan, menjadi alasan mereka terluka dan bersedih. Aku sudah lama mengabaikan harapan-harapan yang orang semat padaku, maksudku, kurasa aku tidak perlu susah payah mengejar standar-standar irelevan yang orang beri padaku.

Tapi, mungkin aku memang harus dipatahkan. Supaya aku tidak penuh dengan diriku sendiri. Meredefinisi keakuan.

Mungkin, harapan-harapan orang lain itu adalah lem yang kubutuhkan saat aku patah, jadi remah dan serbuk, siap hilang bersama debu.

Eh, Jangan hilang, jangan…

Dan dari kesedihan ecek-ecek ini, yang paling menggetarkan adalah ketika mengetahui bahwa Allah mengetahui. Menyimakku baik-baik. Menunggu reaksiku.

 

Penuh dengan Aku.

The Free Soul

Halo.

Kalau tidak salah, saat sedih, kamu suka melihat langit ya? Yang dari sana, kau akan merasa terhubung dengan kampung halaman. Dirimu yang merasa jadi remah, terasa terkumpul. Utuh lagi.

Dan dari sudut itu, aku menatapmu penuh kekaguman.

Aku ingin punya banyak waktu yang seperti itu. Menyaksikanmu berceracau dengan diksi-diksi tak lazim, kadang memarahi entah siapa, kadang tertawa, kadang memejamkan mata, diam seperti menyimak angin berorkestra.

Ini pencarian jiwa, katamu.

Hidup, kata orang-orang adalah tentang mempertahankan diri se-lama mungkin. Beberapa orang  merasa kehidupan harus dicapai dengan berlari sendiri.

Kuakui, aku baik dalam memilin daun ranting jadi pita kepang dan membaca rasi, dan dengan berbesar hati pula aku menyampaikan, di sisi lain aku buruk dalam bercerita. Aku juga tidak terlalu baik dalam berlari.

Tapi untuk bertahan, kata mereka, kita harus pandai berlari. Berlari sampai kaki kebas, berlari yang entah ujungnya dimana.

Halo,

Dengan keadaan yang tetiba biru begini, aku mau mengikuti caramu. Duduk di tanah sambil melihat langit dan membayangkan rindu-rindu akan terlunaskan di tempat yang dijanjikan di kampung halaman.

Oh, aku juga menemukan kombinasi hati yang menghangat dan kepala yang mendingin.

Ini pencarian jiwa yang merdeka. The free soul. Lagi-lagi aku menyetujuimu penuh.

The Free Soul