25 Detik Bersama Anak SMP yang Bersepeda

Di tiap pemberhentian lampu merah, aku paling suka memperhatikan anak berseragam baik yang bersepeda  atau bergoncengan motor. Mereka menarik. Biasanya, yang terbayang di kepalaku pertama adalah, “Wow, anak sekolah. Bersekolah. Menginvestasikan waktunya untuk berada di sebuah kelas….”

Hal-hal yang menempel padanya juga kuperhatikan, mulai dari tas yang dipakainya– mengira-ngira isinya, sampai raut wajahnya yang kepanasan dengan mata memicing untuk menghalang debu. Semua tentang anak sekolah terasa menarik. Sampai mungkin dia salting sendiri. “Lapo mbak-mbak iki mentelengi aku……………”

Sambil senyum-senyum, aku kemudian bertanya-tanya dalam hati, “Dia senang nggak ya dengan sekolahnya..”

Prasangka dan cerita-cerita yang kupunya mengenai dunia persekolahan memang tidak terlalu bagus. Jadi mungkin aku melihat anak-anak bersekolah dengan…. kasihan. Generalisasi yang ceroboh mungkin.

Dan ketika lampu hijau menyala, aku meninggalkannya dengan harapan yang agak-agak haru.

Semoga ia menyukai proses belajar di sekolahnya. Semoga pilihan untuk mencari ilmu dan mendapat pencerahan di bangku-bangku itu diberi keberkahan oleh-Nya. Membuatnya jatuh cinta dengan ilmu pengetahuan.

Harapan yang kurang lebih sama ketika melihat keponakanku berangkat ke TK-nya tiap pagi.

Doa yang selalu sama ketika aku berangkat ke menara gading berbiaya mahal bernama universitas di timur jawa dwipa.

#eaaa

Orang-orang di 2013.

Tahun kemarin, aku diberi kesempatan ketemu orang baru yang muhuwacem-muhuwacem. Dari yang membuatku melongo karena mengetahui ada orang-sekuat-sesangar-sekaligus-serapuh-itu sampai orang yang semenggebu-nggebu-sekaligus-sepesimis-itu.

Mengenal mereka, aku kemudian memaklumi kehebatan sekaligus kelemahan masing-masing manusia. Kedua manusia ini unik. Sungguhan deh, mengenal pribadi baru, menyimak kisah mereka, aku merasa beruntung sekali.

Banyak hal dari orang tipe pertama yang kemudian mengkristal dalam pikiranku dan mempengaruhi pandanganku dalam melihat jambu di atas meja. Aku digugah perlahan, ia mengetuk pelipisku pelan. Orang-orang seperti ini adalah orang yang sebenarnya bisa ditemui dimana saja. Hanya kita perlu berani untuk memulai pembicaraan dengannya. Dia ramah sih. Tapi biasanya dia adalah orang yang tidak living-in-the-moment, pikirannya berkelana kemana-mana. Pertama kali bertemu dengannya, kau mungkin akan mengernyitkan alis, kehidupan terasa berat sekali di wajahnya. Dia orang yang baik hati sekali, sangat ringan tangan. Untuk hal-hal seperti menimbun perasaan ego, tidak peduli, dan kejam pastinya bukan hal yang mudah, tapi dia bisa melakukannya.

Hati-hati tersesat dalam pikirannya, pesan seseorang. Maka aku memutuskan menyelami pikirannya sambil membawa kembang api dan peta. Hm, memang aku tidak mahir membaca peta, kadang aku tersesat, (tetapi aku tipe orang yang suka tersesat :v) Jika aku tersesat, maka akan kunyalakan kembang api ke langit, menunggu helikopter lewat. Prosentase berhasilnya hanya 15%, biasanya aku menemukan sendiri jejak pulang dari rimba pikirannya, sambil sibuk mengurutkan hal-hal apa saja yang kutemukan di tempat itu. Seru sekali.

Yang kedua, menyimak orang ini bercerita sambil menggerak-gerakkan tangan adalah hal yang menarik untuk orang melankolis sepertiku. Kata-katanya lugas, mulutnya penuh busa menyampaikan ide dan gagasan dengan logat keberaniannya yang kental. Orang ini tidak memiliki banyak teman, sayangnya. Teman-teman itu tidak kuat dengan busa mungkin ya. Aku bukan temannya, aku hanya seseorang yang kebetulan menyimak monolognya sambil lalu.

Kalau boleh menempelkan kesan, ia kusebut sebagai orang yang tulus. Kata Anies Baswedan, tulus adalah mereka yang dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang. Beeeuhh, unyu bets.

Mari doakan dua orang ini agar selalu dikuatkan dan selalu dalam lindunganNya. Aamiin.

“Ingin Kusumpah Kau, Aku, Kita.”

jepretanku.

habis cap tangan di kain kakaaaak

foto oleh Umarul Faruq

Minggu, 27 Oktober 2013. Hari itu terik sekali.
Jalan Gubernur Suryo, di depan Taman Apsari, sedang ramai. Ada 554 pelajar berseragam putih biru dan putih abu  membentuk barisan panjang yang rapi. Bendera merah-putih, bendera Forum OSIS Jatim, bendera Forum OSIS Nasional, bendera Forum Rohis Nusantara  berkibar di udara. Asisten-asisten korlap dengan sibuknya mengatur teman-temannya yang berada di barisan. Ada tiga siswa yang sepanjang acara berdiri di soundsystem di atas pick up yang mengucapkan kata-kata membanggakan dan membangkitkan semangat. Mereka berorasi dengan kharismatik sekali.

Melihat mereka dan ratusan siswa lainnya, aku semacam… terharu.

Dari sekian ratus anak itu, aku yakin motif mereka datang hari itu macam-macam. Mungkin banyak dari mereka yang nggak ngerti ini sebenernya acara apa dan ngapain, tapi tetap datang. Mereka bergabung bersama teman-teman OSIS dari penjuru Jawa Timur dan ikut  mengikuti rangkaian acara hari itu: membentangkan 85 meter bendera, cap tangan di kain putih, mendengarkan orasi-orasi, menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa  di depan gedung Grahadi, di salah satu ruas jalan teramai di Surabaya.

Kalau aku jadi mereka, awalnya mungkin aku akan jadi pelajar yang ikut-karena-disuruh-ketos, datang bukan dengan hati gitu. Tapi setelah sampai disana, rasanya aku akan menemukan semangatku perlahan muncul. Ternyata aku nggak sendirian, –kita nggak sendirian. Negeri ini anak mudanya semangat-semangat, dan peringatan Sumpah Pemuda mengingatkanku bahwa pemuda itu visioner dan pemberani sekali. Di tahun 1928, Indonesia belum lahir. Tapi, anak mudanya sudah bersedia menerima bahasa Indonesia yang saat itu masih asing — dibanding dengan bahasa Belanda dan bahasa Daerah– sebagai bahasa persatuan, sudah memplokamasikan diri sebagai satu bangsa yang merdeka dan berani menentukan nasib mereka sendiri.

Hari itu, hatiku pengap dengan optimisme.

Di tengah keriuhan akhir acara, (ngambil satu balon, nulis di sticky note disitu tentang harapan-harapan mereka untuk Indonesia) aku sempat membaca satu harapan, isinya kira-kira begini : Di tahun 2040, Indonesia akan menguasai dunia! :v menguasai dengan bijaksana dan sangar ya, Dik :3

Ah, dan ada puisi yang dibacakan dengan keren sekali oleh Inayah. Judulnya Sumpah.

Ingin kusumpah kau, aku

Kita, kami

Dengan sumpah yang sama. Yang menjadikan peluh dan airmata menjadi sejarah

Dengan sumpah yang sama. Yang menjadikan pekik perjuangan sesuatu yang pantas dikenang

Bukan sumpah yang kau berikan cuma-cuma pada kekasihmu (yang mungkin saat ini berada di sampingmu). Dengan mudah kau lupakan

Ingin kusumpah kau, aku

Kita, kami

Dengan sumpah yang sama. Yang menjadikan dada kita membusung bangga

Dengan sumpah yang sama. Yang menjadikan nama pemuda harum sepanjang masa

Bukan sumpah sampah yang kau berikan sebagai hadiah pertemanan

Ingin kusumpah kau, aku

Kita, kami

Dengan sumpah yang sama. Yang membuat darah revolusi meninggi melawan ketidakadilan

Dengan sumpah yang sama. Yang menjadikan para pemuda berani melawan tirani

Bukan sumpah yang kau berikan pada orangtuamu untuk kau langgar selanjutnya

Ingin kusumpah kau, aku

Kita, kami

Dengan sumpah yang sama. Darah yang sama. Airmata yang sama. Tanah yang sama

Yang menjadikan kau, aku, kita berdiri tegak disini sebagai pemuda Indonesia

Tapi!

Ingin kusumpahi kalian! Ingin kusumpahi kau! Ingin kusumpahi aku!

Karena dalam 85 tahun, dengan mudah kita, kami melupakan mereka

Sumpah yang ditahbiskan dengan darah, airmata, dan peluh

Sumpah yang kita, kami langgar karena kita tak lagi bangga menjadi bagiannya. Karena kita, kami malu menjadi bagiannya

Ingin kusumpahi kalian! Ingin kusumpahi kau! Ingin kusumpahi aku!

Karena 85 itu hanya peringatan. Ucapan. Mungkin selamatan.

Tak pernah dengan benar kita, kami mengucapkannya

Karena kita, kami lebih hafal lagu-lagu barat dan oriental

Dan kita lebih senang mendatangi kefanaan dari perjuangan

Ingin kusumpahi kalian! Ingin kusumpahi kau! Ingin kusumpahi aku!

Karena tak sedikitpun kita, kami berpeluh

Dan tak sedikitpun kita, kami membanggakan

Ingin kusumpah kau, aku, kita, kami

Dengan sumpah yang sama. Yang menjadikan kau, aku, kita pemuda Indonesia

Sumpah yang akan aku, kau jadikan peradaban

Sumpah yang akan kau, aku jadikan cita

Sumpah yang akan kau, aku jadikan Indonesia

Sumpah ini!

“Kami putra putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia

Kami putra putri Indonesia,  mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

Kami putra putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”

Surabaya, 27 Oktober 2013

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Hadiah Idul Adha

H-1 Idul adha,14 Oktober 2013. Pulang dari Rapid.

Karir profesionalku sebagai pengendara motor selama kurang lebih tujuh tahun ternoda. Sebaik-baik tupai melompat, akhirnya jatuh juga.

Pfft. Jadi begini rasanya. Lumayan….. traumatik.

Aku harus bermasker karena tidak mungkin muncul di tengah keramaian kampus dengan kondisi ‘berjenggot’ dan ‘berkumis’ serta bibir terlampau seksi seperti ini, tentu akan membuat orang-orang tercekat ketakutan dan tidak mau satu ruangan denganku. :v Sepertinya aku juga harus mengulang cerita yang aku sendiri cukup ngilu mengingatnya. Aku malas cerita, biar Acer atau Noi saja yang jadi jubir.

Mulai besok, aku harus belajar berkomunikasi lewat mata dan alis. Mengingat akan sangat sulit untuk mengartikulasikan kata dengan jelas seperti biasanya. Kubayangkan alisku akan bergerak-gerak saat berhadapan dengan orang-orang: mengiyakan, menolak, bertanya, menanggapi cerita. Aih pasti seru. Yang susah itu saat tertawa. Aku akan coba tertawa tanpa melibatkan bibir. Lewat mata dan alis saja.

Sungguh, Allah baik sekali. Aku tidak ditakdirkan untuk disambar kendaraan yang lebih besar dan tidak ada yang terlalu serius dari lukaku. Paling jalanku yang jadi agak patah-patah-misterius gitu. Alhamdulillah. Orang-orang rumah jadi unyu lagi, memijit-mijit, tidak mau aku banyak bergerak, dan berkata hal-hal yang menenangkan.

Aku juga jadi lebih khusyuk saat membaca ayat tentang perjuangan dalam perang. Sambil menatap luka yang cekot-cekot… kemudian berpikir… Cih, segini doang. Kalau mau mengeluh jadi malu sendiri. Kisah-kisah saudara seiman di belahan bumi lain maupun di negeri sendiri yang sedang mengalami bencana, sungguh lebih perih dari ini semua. Ini, gak ada apa-apanya.

Semoga kejadian ini tidak sampai menghambat tugas-tugas yang lain. Semoga aku cukup cerdas untuk menjadikan ini pelajaran berharga untuk lebih fokus dan hati-hati di jalan raya. Ah ya, dan mulai merealisasikan wacana untuk naik bemo lebih sering.

Kamu juga berhati-hati ya!

Di Akhir Hari

Beberapa hari ini aku sering menyesal di malam hari. Menyesal di sepanjang perjalanan pulang setelah seharian di luar rumah. Banyak hal yang terjadi hari itu, setelah kuingat lagi, terasa tidak baik. Seharusnya nggak-dan-harus kulakukan. Perasaan seperti itu adalah satu dari sekian perasaan yang membuat hati nganu banget.

Menyesal saat mengakhiri hari. Ugh, tidak keren.

Seharusnya tadi aku nggak usah ngomong gitu ke Oknum X, pasti hatinya sempat terluka. Seharusnya aku nggak sok-sokan gak ada waktu– jatah tilawahku masih banyak, seharusnya aku tadi bilang aja ke ibu tentang anu, seharusnya buku itu tak baca sampai habis, seharusnya tadi aku lebih berguna waktu rapat..

Semua itu diperparah dengan kesibukanku memikirkan apa yang orang pikirkan tentangku setelah kami berinteraksi. Apa aku tadi kekasaren? apa aku kecereweten? apa dia tadi nyaman sama aku?

Yang seperti itu, biasanya nggak terjawab. Di kepalaku, mereka berputar-putar anggun seperti carousel, pelan-pelan, ada musiknya. Dan aku, waktu memikirkan itu semua, maunya ndelik. Padahal itu nggak akan mengubah apapun. Malaikat sibuk mencatat, Allah sedang menyimak. Astaghfirullah……….

Maunya terbenam, aku malu.

Kalau kapan-kapan kamu pernah merasakan seperti yang kurasakan ini, aku punya beberapa tips. Pertama, berusahalah memaafkan dirimu sendiri. Melepaskan perasaan tidak enak itu dengan memakluminya. “Sudah, nggak papa. Nggak… hm… papa….” Susah ancen. Tapi dicoba saja.

Setelah itu, berusahalah lebih teliti dalam menyusun tindakan untuk selanjutnya: yang ini nggak boleh terulang, kalau ini boleh terulang, tapi kondisinya harus gini-gini-gini. Kalau belum tenang juga, makan gula. Maksudku, ambil air wudhu, lanjutkan tilawah. Ditadabburi. Kalau khawatir ketiduran, sambil dengerin murottal juga. Berdoalah untuk dapat diberi kesempatan esok hari untuk memperbaiki sedikit demi sedikit. (Haha, sebenarnya kalau mau menelisik lagi, akan panjang lagi galaunya; kata Buddha, the problem is we think we have time) : ))

Gak masalah, just pray anyway.

Semoga di hari-hari selanjutnya, akan lebih sering tidur dengan senyum mengembang. Khusnul khatimah dalam mengakhiri hari.

30 Juni, Pukul 11.45

Lihat, aku disini menahan kantuk-luar biasa. Kelas ini nyaman sekali. Bersih, suasana tenang, adem.

Tapi aku tidak boleh tidur. Nanti ketahuan peserta dan pengawas yang lain. Hm… tapi lebih takutan ketahuan peserta sih. Aku tahu banget perasaan murid pas ngelihat guru di depan berjuang menahan kantuk pas jaga ujian; guru mencoba menyeimbangkan posisi tegak biar gak oleng, melawan gravitasi untuk tidak menjatuhkan kepala di meja. Badannya jadinya terhuyung-huyung bagai layangan, lalu sedetik kemudian tersadar dan sok-sok tegak lagi mengawasi peserta ujian. Itu menggelikan.

Iya, tanggal 30 Juni 2013 aku jadi pengawas ujian Seleksi Masuk Universitas Indonesia.

Kuulangi, pe-nga-was.

Setelah sebelumnya membacakan tata tertib, membagi lembar jawaban, membagi soal ujian secara zigzag, mencocokkan wajah di KTP, kartu peserta dengan wajah asli, sampai mengisi berlembar-lembar berita acara, sekarang aku nganggur. Menahan kantuk, masih ada 45 menit tersisa.

Iseng, aku mengamati wajah mereka satu persatu. Hooo, yang itu tegang, yang ini ambek angop-angop. Apa ya yang mereka pikirkan? Kok soale beda ya sama di bimbel? sampai, “Wih alhamdulillah gampang! papa-mama, insya Allah aku keterima…”

Apa mereka mematri semangat ‘UI, aku datang’ di setiap soal? Apa mereka juga, ketika bosan, suka nggambar-ngambar makara di kertas soal? Apa mereka juga nulis percakapan imajiner di sisi-sisi kertas?

Jadi seperti ini rasanya.
Aku tetap bisa melakukannya dengan tenang, si hatipun juga.
Meskipun semalam gak sengaja nonton video BEM mereka yang waw abis, baca tulisan mahasiswa UI yang keren juga, di ece Mbak Masy tadi pagi, ‘lho, kok gak jadi peserta?’, aku baik-baik saja. Gak lebay, gak ngejleb seperti yang dulu kukira ketika berhubungan dengan sesuatu apapun tentangnya.

Aku takjub juga dengan ketidak-apa-apaan ini. Ada di meja pengawas ujian SIMAK UI, setahun lalu, sama sekali nggak pernah terpikir. Sama sekali.
Aku suka saja dengan cara-cara Allah memberiku pemahaman. Nyelempit-nyelempit 🙂

pengawas, haha.
pengawas, haha.

Repost : Tentang Terlambat

Aku datang telat (lagi)

untuk ke 4 kalinya di semester ini
yang tak heranin, dari telat yang pertama ke sesudahnya, kenapa aku nggak pernah ngambil pelajaran.
waktu telat yang pertama, aku cuma ngguyu-ngguyu ae karena yang nggak bisa masuk gerbang libels karena di gembok dari dalam itu ada bejibun, kaya ngantri tol.
yang kedua biasa ae, bersyukur karena hari itu ngga ada PR atau ulangan
tapi pagi ini.. karena sumpek masuk-masukin buku, uang masjid, hape, quran rukuh headset, kertas2 ke dalam tas. dan harus naik-turun tangga karena ngambil barang yang kelupaan di kamar.. belum lagi lampu merah dan orang nyebrang yang terjadi secara berurutan menambah lama waktuku di jalan.
telat ini seperti hukuman langsung. karena telat solat subuh.
aku juga ngga tau nasib ulangan basa inggris dan akuntansi..
dan baru kali ini aku pulang ke rumah dalam keadaan nangis gara-gara telat, nyesel…
kemarin (30/8) aku juga nyaris telat. benar-benar nyaris.
motorku berhasil menembus gerbang khas alcatraz libels sedetik sebelum pak Herman mau menutup gerbang.
aku beruntung sekali. andaikan sedetik tadi itu tak lama-lamain di jalan, pasti kemaren aku juga telat.
ternyata, satu detik itu sangat berharga. Aku ngga mau jadi orang yang rugi..

mulai hari ini dan seterusnya, aku akan berangkat sejam sebelum bel bunyi!

~~~

Postingan dua tahun lalu, waktu menyesal terlambat masuk sekolah. (saat itu kebijakannya yang terlambat dihitung absen)

Aku pernah berjanji, dan melanggarnya. Ini adalah hal yang makin lama makin serius, dan menyedihkan. Sungguh tidak berprigolongan darah A yang baik.

Kepada Ninoi, teruslah memarahiku ketika aku datang kelas terlambat. Mbak Didi juga, bully ae habis-habisan kalau telat njemput buat rapat atau isps. Aku kadang butuh diketok yang kuweras biar sadar.

Kepada diri, maluo. Ini sudah bisa disebut korupsi, tahu.

Kalo kata Ica, your mother-in-laws are everywhere. #kemudianhening