Menuntut Ilmu 

Di suatu pagi. Aku menemukan ayahku membaca buku warna biru dengan serius. 

“Ini buku bahasa Arabmu ta, Amah?”

“Hoo..  iya Jid. Kenapa?

Ayahku melihat sampulnya, “Hm. Ini lho ketoro banget. Dari semua hadist, kok ngambil hadist yang ini di taruh di muqaddimah.”

Aku melongok, cari tau.

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

“Apa tu Jid?”

” Ya, itu. Setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu masuk neraka.”

” Hm… ”

“Kullu disini artinya ndak seluruhnya, sebagian. Tapi hadist Ini sering diarahkan ke kita, karena sering mengada-adakan yang di zaman nabi nggak ada. Yasinan dibilang bid’ah. Tahlilan,  bid’ah… lah padahal motor dan mobil juga jaman nabi gak ada..”

“Hm…”

Denger Ayahku bilang gitu, saat itu juga aku jadi memikirkan ganti tempat belajar. Demi menjaga keridhoan ortu.  Bahahahah.

“Terus yak opo, Jid? Ganti tempat aja ta aku? Mumpung jek satu pertemuan.”

“Lho ya jangan. Tetep aja.”

“Ha?”

“Wong nabi saja menyuruh kita nuntut ilmu sampai ke Negeri Cina yang jelas-jelas nggak Islam kok, lah apalagi ini sama sesama muslim sendiri.”

Aku ketip-ketip.

“Belajar itu dari mana saja, orang dari latar belakang mana saja. Wong ini saudara sendiri. Ya walau kita sendiri sering diilokin bid’ah sama beberapa dari mereka. Nggak papa. Tetap belajar disana.”

**

Such a beautiful respond of my father. This is why I respect him wholeheartedly.

Aku tahu banget apa yang ayahku saksikan di masjid dekat rumah setiap harinya. Misal ayah melarangku belajar di tempat yang ia anggap tidak sesuai dengan “kultur” kami, aku juga siap saja.

Tapi ayah tidak begitu.

Sungguh berbeda dengan apa yang sering aku dan kamu saksikan di web-web resmi atau tokoh-tokoh yang mengatasnamakan NU. Kadang malas juga mengaku bahwa aku lahir besar dan dididik dengan cara NU, jika selama ini pengetahuan orang-orang tentang NU yha yang mereka liat dan baca di sosmed, atau seringnya nggumbul dengan NU yang begitu. Wkwk.

Jujur saja aku bahkan ayahku juga suka jengah kok dengan kelakuan-kelakuan itu.

Ah, tapi aku sudah punya teladan yang sangat dekat kan. Ayahku. Karena beliau, perilaku orang lain jadi tidak relevan lagi.

He’s the one whom I look up to.

 

Advertisements
Menuntut Ilmu 

Sebagai Relawan

Entah sejak kapan aku melibatkan diri dalam kegiatan kerelawanan. Relawan rumah baca, relawan pengajar, relawan lingkungan, relawan masjid, sampai relawan dakwah. (beuh… kalo yang terakhir mah beda bahasan dan butuh satu postingan, /lul)

Sebagai manusia yang suka dengan debaran rasa asing seperti deg-degan di pertemuan pertama komunitas, bersemangat mendapat pengarahan, dan terlibat secara penuh pada kegiatan-kegiatan kerelawanan, aku bisa dengan berani menyampaikan bahwa kegiatan kerelawanan itu membuatku ketagihan.

Motifku yang pertama biasanya adalah coba-coba. Mencari tempat, spirit, dan ide komunitas seperti apa yang kurasa menarik dan membuatku jatuh cinta. Jika aku merasa nilai-nilai organisasi itu cocok, aku akan bertahan dan akan membagi waktuku untuk ada disana, jika tidak, aku akan pergi. Relawan kan?

Sampai akhirnya aku diberi kesempatan untuk berada dalam sebuah struktur kerelawanan, aku jadi merasakan secara langsung dampak kehilangan teman bergerak di sebuah kegiatan sukarela.

Relawan, seseorang yang datang dan merelakan waktu, pikir, tenaga, materi untuk sebuah tujuan. Karena ini sebuah kegiatan sukarela, maka orang-orang yang merasa memiliki ide dan spirit yang sama (dan mereka yang cuma coba-coba) juga akan berada di tempat itu dan melakukan aksi-aksi kebaikan.

Sayangnya, kerelawanan adalah sebuah konsep tanpa ikatan mengikat yang berarti. Sudah berapa kali kita dengar permasalahan klise khas komunitas yang mandek; volunteer-nya ilang-ilang atau “yang muncul itu-itu aja..”? dan kita memang tidak pernah bisa menuntut apapun dari perginya orang-orang itu.

Mereka relawan yang tak diikat oleh apapun.

Apa mungkin kita sampai harus mengubah nama “relawan”? Karena nama itu kurasa hanya tempelan dengan tugas tentatif yang bisa dijalankan atau dilupakan kapan saja. Membuat kita tidak merasa spesial dan kemudian lebih memilih pergi.

Berbicara tentang “komitmen”, beberapa dari kita mungkin akan bersegera menguap. Itu sebuah kata yang tidak pernah absen dibicarakan di setiap evaluasi sebuah kegiatan. Karena memang mungkin itu salah satu alasan untuk bertahan. Ada janji yang dibuat dengan diri sendiri, dan mengingkari janji  terhadap diri sendiri itu menyedihkan :’

Tipsku untuk kita-kita yang jenuh di sebuah kegiatan kerelawanan; segera komunikasikan keresahanmu dengan orang yang kamu percaya di kelompok itu, bisa jadi curhatanmu itu jadi evaluasi dan masukan yang luar biasa bagi kelompok itu. Mereka jadi menyadari pentingnya berbenah dengan sistem yang lebih baik. Coba cari tahu sudut pandangnya dan terimalah saran-sarannya. Perkuat silaturahmi antar satu dengan yang lain, kadang kamu merasa jenuh itu karena kamu cuma masih merasa asing dengan orang-orang itu. Ingat, tak kenal maka ta’aruf #uopo. Dan jangan lupa ingat kembali tujuanmu. Cek lagi niatmu…. :’

Berkomitmen terhadap pilihanmu sendiri dengan masa beberapa bulan aja kamu susah, apalagi berkomitmen setengah agama dan sepanjang hidup……….

Semoga selalu diberi petujuk. Semangat!

(Draft April 2015)

 

Sebagai Relawan

H+3 KKN Bersamamu

Tulisan ini dibuat dengan pelan-pelan, sambil meresapi obrolan lama di grup yang namanya entah kenapa belum ada yang mengganti, sambil merunut lagi awal mula kami bersebelas bertemu lalu merasakan ini itu, mengalami berbagai hal di sebuah tempat yang asing. Kampus kami menyebutnya Kuliah Kerja Nyata, dengan tambahan Belajar Bersama Masyarakat, ke-53.

Tulisan ini dibuat untuk mengkristalkan kenangan-kenangan selama 25 hari agar mereka abadi dan rapi tersimpan. Tidak semburat, berantakan, lalu hilang. Karena, akui saja, kita (apalagi aku) ini orangnya mudah lupa. Nantinya, foto-foto 10 GB itu mungkin akan tertumpuk dengan foto-foto magang, wisudaan, perpisahan angkatan, jurusan, dan momen hidup berkesan lainnya. Obrolan di grup mungkin terganti dengan grup lain yang lebih mendesak. Tapi, kita harus bersyukur dalam-dalam, karena sedemikian rupa Allah mengatur otak dan hati manusia untuk mampu menyimpan cerita dan kenangan indah dalam ruang-ruang di dalamnya.

Dan dengan menulislah caraku mengingat kalian, mengabadikan kita.

Sedari awal, ide tentang segerombol mahasiswa yang mengabdikan dirinya di masyakarat selama kurun waktu tertentu, menurutku adalah sebuah ide yang keren. Terlepas dari Tri Dharma perguruan tinggi tentang pengabdian masyarakat dan konsep kebermanfaatan, menurutku, model KKN yang mana kamu mengasingkan diri dari internet, keempukan kasur, daerah yang familiar, dan segala kenyamanan itu sangat penting untuk dikerjakan dengan semangat. KKN adalah tempat yang tepat untuk merenung ke dalam diri, merefleksikan, menelaah ulang tentang segalanya. Tentang diri, tentang hidup, realitas, mimpi-mimpi, juga tentang Tuhan.

IMG_2543 (1).JPG
Hari kedua, keliling desa dulu. (dari atas: Tyok, Aman, Iqbal, Nezha, Yunita, Susi, Melisa, Intan, Mbak Firtha, Ninda, Fafay)

Maka disinilah kami.
Dengan berbagai jenis pikiran dan sifat, berkumpul di sebuah rumah beralas tanah milik Bu Nur di Desa Kweden, Nganjuk. Menemui kebiasaan satu sama lain dan terbiasa karenanya. Mengompromi kentut, menerimanya sebagai suatu hal yang awalnya— “eh maaf ya, bau gak?..” lalu semakin lama, tawa yang keras dan panjang jadi respon kami. Suara mendengkur subuh hari di luar kamar cewek dan Melisa yang berkata, “Mas Iqbal, Mas Aman, Tyok, bangoooon, bangoooon.” lalu tiga laki-laki berusia 20-an awal itu bergeliut di sleeping bag mereka, berjuang melawan syetan yang mengencingi kuping untuk bangun dan mendirikan sholat subuh di masjid. Kemudian dilanjutkan dengan secangkir Energen yang diseruput di teras. Pagi dimulai dengan satu-dua warga yang lewat dan kami sapa sembari mengantre mandi untuk sebuah program kerja di sekolah atau Karang Taruna.

Rangkaian itu seperti sebuah seremonial pagi yang akan selalu aku rindukan.

KKN ini bisa kita sebut sebagai sebuah perjalanan bersama, dengan starting point yang berbeda, kita diharuskan untuk menyelesaikan perjalanan ini. Belajar sebanyak-banyaknya, menemukan sebanyak-banyaknya, juga membuat cerita sebaik-baiknya.

Erick Weiner, dalam bukunya The Geography of Bliss, mengatakan bahwa sekalipun dua orang melakukan sebuah perjalanan dengan tujuan yang sama, perjalanan itu akan bermakna beda bagi setiap orangnya. Begitu pula perjalanan 25 hari di Kweden ini.

Dari kebersamaan ini, ada yang kemudian menemukan jawaban atas kerisauan khas mahasiswa akhir tentang kehidupan pasca kampusnya. Jawaban yang sedikit demi sedikit ia dapat setelah berinteraksi dengan teman-teman KKN lain lewat sharing dadakan di rumah Bu Nur, lewat obrolan dengan warga saat silaturahmi, dan lewat pengalaman jauh dari orang tuanya sendiri untuk pertama kali. Jawaban bahwa, khoirunnas, anfa’uhum linnas–(sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya) adalah prinsip paling dasar yang harus ia pegang teguh. Ini adalah tentang cara pandang. Semoga cukup membuatnya tenang.

Ada yang (insya Allah) akan memakai kerudung setelah KKN berakhir. Dorongan itu datang dari Allah lewat aksi teman-teman perempuannya yang heboh dan lebay mencari kerudung saat mendengar suara motor datang (pertanda cowok-cowok akan masuk ke rumah). Ada juga yang mulai berikrar secara istiqomah memakai kerudung walau sedang di lapangan bermain voli. Semangat, Intan The CinTub Girl. Jilbab tidak akan pernah menghambat performamu :*

Ada yang ingin lebih rajin sholat berjamaah, yang punya banyak stok cerita tentang sistem bobrok sebuah kampus, bisnis solar dan dupanya serta segudang pengalaman hidup yang beragam di usianya yang 21 tahun. Berbicara dengannya, semakin membuatku yakin bahwa kita perlu untuk menyiapkan telinga kapanpun, karena tidak semua pengalaman bisa kita alami secara langsung. Lewat berbagilah hikmah dan pelajaran itu dapat sampai. Ada juga yang berikrar berhenti merokok dan menurunkan berat badan sampai 70 kg lewat freelatics. Di hari terakhir KKN, ia menjanjikan saat wisuda nanti, beratnya akan benar turun menjadi 70 kg, “Engkuk pas wisuda, aku tak nggowo timbangan!” Kordes Iqbal yang luar biasa. Atau yang suara ngajinya meliuk bagai Imam di murottal-murottal dan juga jago nyanyi. Setiap katanya bernada. Ia sering mengeluhkan beban menyandang almamater SMA-nya yang cukup tersohor di negeri ini. “Saya malu tiap ketemu masyarakat.” lol. Dengan kondisi awal tidak ada siapapun yang mengenal siapa ia sebelumnya– orang ini kemudian ingin menjadi lebih baik. Awalnya ia dikenal misterius, namun lama-kelamaan, ealah, podo ae. Wkk. Feels like home, yha Man.

KKN juga membuat kita melakukan hal-hal yang awalnya kita ragu bisa lakukan. Memasak, misalnya. Yunita bilang, dia nggak pernah menyentuh dapur selama di rumah. Ia cuma tinggal makan dan kembali lagi ke kamar. Namun, siapa sangka, di KKN, dia bertransformasi menjadi The Cooking Mama yang memimpin dapur dan mendelagasikan tugas memotong bawang, menumis, menakar bumbu, menggoreng, sampai mencuci sayur, kepada bawahan-bawahannya. Hasilnya? Tidak mengecewakan. Malah bisa dikategorikan enak. Luar biasa ya potensi manusia. Wkk. Belum lagi rencana untuk mendirikan usaha bertajuk Yunus Crispy– kepanjangan Yunita dan Susi. Menjual jamur crispy di tengah Kampus B dan Kampus C. Terdengar ganjil, memang.

Hal terbaik yang pernah terjadi di kehidupan manusia bagiku adalah berada dalam sebuah lingkungan yang mempersilakanmu menjadi dirimu sendiri, namun juga mendukungmu untuk menjadi lebih baik dari yang kamu bisa sekarang. Bersama orang-orang yang mengapresiasi keanehanmu dan melihat itu sebagai sesuatu yang luar biasa.

IMG_3239.JPG
Sedudo yeah. Anw, Iqbal kok nemu ae pose iku.

Ikatan yang semoga tidak berhenti sampai disini. Ikatan yang mempertemukan kami dengan sosok-sosok luar biasa di Desa Kweden sekaligus dengan keramahan warganya, kepolosan anak-anak SDnya, kelucuan Isna anak tetangga, juga suara hujannya. Desa sebagai sebuah tempat yang mengajarimu banyak hal, memintamu untuk tidak serta merta menerapkan ilmu tanpa menyesuaikannya dengan adat dan kebiasaan setempat. Tempat ini memberi lebih dari yang kami bayangkan. Kweden membuatku merasa… tersanjung dengan hampir setiap aspek masyarakatnya. Desa ini mungkin statis, tapi ia hidup dan berdenyut dengan caranya sendiri.

Sapaan warganya setiap bertemu kami, adik-adik satu sekolah yang menyambut kedatangan kami dengan antre meminta tanda tangan (hng…..), juga keindahan alamnya. Sawah membentang, pagi yang sarat oksigen, ayam-ayam yang sering mampir ke rumah, suara sungai, juga pohon rambutan yang menggantung malas di hampir setiap rumah tiba-tiba menjadi suatu hal yang mewah. Memang benar, wujud bahagia memang tidak rumit dan banyak atraksi.

Walau dengan segala keterbatasan kelompok kami, 25 hari telah terlewati. Walau kurang disana-disini, kesulitan dan hambatan bisa kami atasi. Mulai dari sakit yang bergantian, HP kordes yang hilang, wangi melati semerbak di malam hari, main pembunuh-pembunuhan, mengarungi Nganjuk kota mencari JNE untuk mengirim berkas demi keperluan sponsor setelah seharian ngurusin anak satu sekolah (tos dulu, Fay :’), sampai menghadapi protes warga. Mungkin diam-diam, 11 manusia ini sudah bersepakat untuk menikmati setiap proses belajar ini bersama-sama dan memutuskan untuk menerima kenangan keluarga baru ini secara lengkap; senang-sedihnya, mangkel-ngakaknya, kecewa-puasnya, semuanya.

Aku harus bersyukur sekali lagi.

Adakah yang lebih baik dari mengenal kalian?

IMG_3191

Bersama Bu Nur 🙂

H+3 KKN Bersamamu

(Hampir) Setahun

Kami bertemu dalam sebuah program beasiswa sebuah CSR BUMN. Saat berada di Tretes mengikuti pelatihan yang melibatkan penerima beasiswa ini dari seluruh Indonesia Desember tahun lalu, betapa saat itu aku yakin dengan program ambisius jajaran CSR ini. Bapak Ibu terhormat dari Jakarta itu nampak sangat meyakinkan dalam melihat kami sebagai “agen-agen” di kalangan anak muda yang akan membawa virus kebaikan terhadap lingkungan. Kami pun semakin bersemangat.

Lalu kemudian, beberapa waktu lalu, kita bisa melihat berita bahwa mantan orang nomor satu di CSR ini tersangkut kasus korupsi dan gagal jadi calon Ketua KPK.

Terlepas dari kemungkinan politis di dalamnya, saya pribadi meyakini bahwa beliau orang yang baik, passionate, dan tulus.

“Elah, arek sobi iku aktivis lingkungan gegara beasiswa tok.”

Program beasiswa ini, sayangnya, gagal membentuk citranya sebagai program yang serius mewadahi aktivis muda lingkungan seluruh Indonesia. Program ini diisi oleh mahasiswa-mahasiswa strategis berbagai bidang, yang sayangnya, jarang ada yang benar-benar memiliki ketertarikan dalam bidang lingkungan. Tolak ukurnya gampang, dilihat dari rekam jejak dan partisipasi mereka dalam proyek regional.

Jika boleh membandingkan, program beasiswa berbasis yayasan seperti Pepesdemes-lah yang menurutku sangat baik dalam me-maintanance penerima besiswanya. Ada indikator pencapaian, kewajiban mengikuti kajian dan pelatihan, target yang harus dipenuhi setiap bulan, dan jika melanggar, beasiswa diputus. Ia dikeluarkan dari gumbulan. Wawh.

Berbeda dengan kami. Kamu bisa aja nggak terlibat sama sekali dalam penyusunan ide dan proyek tetapi tetap mendapat dana setiap bulan.
Ya, yang seperti itu memang tidak semua, tapi… ada, dilakukan oleh beberapa oknum.

Bahkan dinyinyir sama komunitas lingkungan lain karena dianggap bergerak-gegara-duit-doang-sehingga-terkesan-asal-aksi juga pernah kami alami.
Terlepas dari kekurangan ini, aku berharap apapun keputusan dari pusat, tidak akan mengubah spirit yang sudah pelan kami bentuk.

Karena dari program ini, aku yang dulunya mungkin menjaga bumi hanya sekadar lewat menolak kertas kresek dari indomaret, mulai memasukkan pemberdayaan lingkungan secara terstruktur dalam mimpi-mimpiku.

Perubahan kami susun sendiri dari Surabaya, dengan sejumput pengetahuan manajemen SDM dari kampus, alur kerja, sampai branding aksi yang dikolaborasikan.

Pilihan untuk maju dengan idealisme baru berarti mereduksi juga jumlah kami yang awalnya 24 menjadi 12. Sisanya sedang bergerak sesuai passion dan cita-citanya masing-masing. Semoga sama-sama diberi kekuatan.

Kami ingin sampai pada titik kalau dapat kabar tentang beasiswa cair itu seperti bonus aja. Karena mendapat kesempatan untuk berbagi, belajar, dan bergerak bersama merupakan pengalaman yang memperkaya diri kami. Mengkristalkan spirit menjaga bumi ini dalam ruang lingkup yang nyata dengan wajah gembira, dan hati yang penuh. Semoga tidak terdengar naif.

Selamat setahun, Sob.

image

 

(Hampir) Setahun

Menulis dan Monster

Saya memulai tulisan ini dengan hati yang bercampur aduk, otak berpikir keras tentang topik yang akan saya tulis. Hm, nulis apa ya? apa nulis tentang tips-tips melawan gejolak prokrasinasi? Aduh, takut kabura maqtan

Menulis tentang tips trik menguasai bahasa Inggris? Kan kebetulan saya sastra Inggris, mungkin…. dianggap ber-TOEFL bagus, lalu diharapkan membagi tips berbahasa Inggris cas cis cus

Atau… menulis dengan puitis-naratis tentang kehidupan. Tsah… Saya ingat beberapa waktu lalu Oknum M dan Oknum M2 bahu membahu mem-psy war saya supaya menulis Godong yang nyastra. Aduh, terus kalo nanti tulisan saya gagal dan mekso gimana? Image nyastra saya akan hancur seketika, lalu dijauhi dan dianggap tidak qualified. :v

Aduh, apa ya…. hm… Nulis apa ya…. Dudududu.

…..

Pernah juga merasa begitu?

Menulis, bagi saya adalah tentang tiga hal:

1. Mengolah gagasan dan hasil pemikiran yang bergerombol dalam otak menjadi rangkaian kata

2. Mengendapkan pengalaman untuk dijadikan camilan melanjutkan perjalanan.

3. Membuat diri ada, hadir, dan menjadi bagian dari semesta. Scribo ergo sum, aku menulis maka aku ada– kalau boleh memelintir kata-kata Rene Descartes.

Ketiga fungsi diatas terdengar individualis?

Ya. Menurut saya menulis adalah tentang diri sendiri.

Menulis adalah tentang melawan monster-monster yang kita buat dalam pikiran sendiri.

Kita sering, hm… saya sering dihinggapi ketakutan ketika hendak menulis. Saya takut tulisan saya dibaca dan dinilai oleh orang lain– dan dari situ mereka akan mengetahui siapa saya sebenarnya.

Menurut Oknum A, adik kelas saya yang calon kahima, penyampaian ide memang dikenal dengan dua cara; menulis dan berbicara. Namun keduanya adalah hal yang sangat berbeda.

Saat kita berbicara, kita mengerti benar siapa dan berapa banyak lawan bicara yang kita hadapi.

Dalam menulis, tidak. Kita tidak benar-benar tahu siapa yang akan membaca tulisan itu. Wujud mereka abstrak. Kita tidak bisa menerka isi pikiran mereka ketika membaca tulisan kita.

Dan itu cukup menyeramkan bagi saya pribadi.

Saya setuju sekali dengan pendapat Oknum A Si Calon Kahima.

Katanya, menulis hanya dilakukan oleh para pemberani.

Berapa banyak manusia yang harus diadili karena menulis lantang gagasannya?

Dari Hatta sampai Sayyid Qutb. Asumsi saya, ketakutan mereka bertransformasi dalam bentuk lain; tertutupi oleh semangat mereka untuk menyuarakan gagasannya. Ada kegusaran yang ingin mereka sampaikan dan hal itu ternyata menggugah pula kepala-kepala yang membaca tulisan mereka. 

Menulis adalah upaya melawan ketakutan.

Monster monster itu membuat kita membangun sendiri tembok-tembok berwujud kemalasan, kebuntuan, dan ketakutan-akan-dibaca saat menyelesaikan sebuah tulisan.

Takut orang lain akan berasumsi dan menilai atas tulisan kita dan diri kita sebagai  pribadi.

Ditambah, kita mungkin sering membaca tulisan orang lain dan ber-wow atas tajamnya pikiran dan cantiknya bahasa yang mereka pakai, lalu ketika membandingkan dengan tulisan sendiri, Duh….. Kita merasa tulisan kita bagai biji dzarrah. Butir deterjen yang diobok-obok hilang jadi busa.

Menulislah saja.

Saat ini, minimal untuk diri sendiri. Membuktikan bahwa kita cukup layak disebut pemberani karena telah berhasil menjinakkan monster-monster dalam pikiran yang melarang kita menulis dengan berbagai alasan.

Menulislah untuk diri sendiri, maka kita akan menemukan diri kita menjadi lebih damai dan tenteram. Tak lagi membebani tulisan-tulisan itu dengan standar-standar yang tidak relevan.

Semakin sering menulis, kita akan semakin terlatih menaklukkan ketakutan.

Menulis aka menjadi seru karena kita akan punya lebih banyak stok untuk dijadikan camilan melanjutkan perjalanan.

Saat di masa depan kita merasa jenuh atau hilang arah, coba baca lagi tulisan-tulisan lama kita. Kita akan terkejut dengan tulisan-tulisan itu. “Ternyata aku pernah lho menulis tentang ini, ternyata aku pernah lho merasa sangat percaya dengan nilai-nilai ini, ternyata nasihat seperti ini lho yang dulu membuatku bangun dan percaya lagi.”

Dan kesemua tulisan itu akan menjadi pulpen-pulpen yang mengetuk kepala ketika kita lupa. Kadang nasihat dari diri di masa lalu (yang termanifestasi lewat tulisan-tulisan lama) jauh membuat kita lebih sadar sesadar-sadarnya. Bukan dari motivator, bukan orang lain.

Jadi saya akan terus berusaha menulis.

Because I write to remember.

What about you?

Menulis dan Monster

Selfie

Oknum T : *nunjukin tweet seorang ustadz tentang Selfie* Menurutmu?

Hm. Dear T, Aku mungkin akan fokus pada pendapat mengenai fenomena selfie-nya saja, bukan ke Ustadznya, kenapa? karena paknya itu temennya Ustadz Salim. (Lho?) Ya biar nggak logical fallacy number one: ad hominem. 

Selfie.
Aku kayaknya sering selfie. Kamu mungkin akan menemukan banyak fotoku di hape kawan-kawan dekatku. Aku tidak akan menolak jika kamu ajak selfie maupun grufie. Tapi memang, aku jarang masang foto selfie di akun media sosial sendiri.

Kenapa? Uhm, sesungguhnya ini cerita yang panjang…………………..
Singkat cerita, dulu aku percaya, muslimah sejati adalah mereka yang memajang foto bunga atau pemandangan atau kutipan Alqur’an di foto profil mereka. Tetapi, semakin kemari, aku kemudian menyadari bahwa menjadi muslimah itu lebih dari itu. Aku kemudian memilih untuk tidak memasang foto karena aku…. merasa cukup percaya diri.
Aku kadang kepingin banget masang satu foto yang.. tampak bagus. Tapi, di detik yang hampir sama, muncul pertanyaan yang bikin mempertimbangkan lagi… posting foto elok gini buat apa ya? Biar apa ya? …

Apa bener cuma buat jadi identitas akun? .. atau biar bisa jadi referensi? Biar bisa dipertimbangkan bahwa aku cocok dan harus banget dijadikan teman bergaul? atau cukup memenuhi kriteria fisik sebagai calon istri? ….

T, sepertinya, aku nggak membutuhkan persetujuan masyarakat bahwa diriku ini, si Anisah Fathiroh, adalah sosok yang cantik, maniez, ngehits, atau mirip finalis ASEAN Top Model— dan kudu banget dijadikan teman bergaul. Aku percaya bahwa teman-teman tetap mau nggumbul denganku meski hanya dengan foto profil yang begitu. Lain soal kalau ada orang lain yang masang foto selfienya bareng aku. Itu udah bukan urusanku sih.
Jadi aku pribadi lebih milih foto-foto yang artisitik gitu (setidaknya menurutku :v) atau foto bareng-bareng. Ini pilihanku, tidak menutup kemungkinan ada orang lain di luar sana yang punya alasan lain. Ya tidak masalah.

Di sisi lain, ada tesis bikinan dosen yang pernah ku-review waktu ujian, (maaf banget, cuma nemu abstraknya) yang relevan sama fenomena selfie ini. Yang intinya bilang, ada beberapa muslimah yang di facebooknya nggak majang foto dan tidak menggunakan nama asli, sesungguhnya sedang berupaya menunjukkan kepada publik tentang siapa dirinya– identitasnya. Ada hal-hal yang ia sematkan dan ia ingin publik percaya tentang konsepsi seorang muslimah: taat, patuh kepada perintah agama, dan tentu saja menjaga aurat.

 … as a face with Islamic Make Up, Facebook can become a laboratory of self-creating for its users, as a result, those informants can reflect their Islamic identity creatively and symbolically through code switching process, as a make-up. Therefore, Facebook, through all writings produced by those informants, can finally be concluded as a media that can make mystification of the discourse of Islam women.

Hal-hal mengenai tidak memajang foto selfie sebenarnya bisa melahirkan takabbur yang lain, “Noh, gini lhoh berperilaku yang bener sebagai muslimah tuh. Gini lho seharusnya menjaga aurat itu. Gak bener semua tuh cewek-cewek selfie.”

Semoga aku dijauhkan dari lintasan pikiran seperti itu. Jadi apapun pilihan sikap terhadap sesuatu, harus tetap hati-hati, waspada sejak dalam pikiran.

Erhm… Itu sih. Wallahu a’lam bisshawab.

Selfie