Sebuah Update

Ingin terus kuingat bahwa ujian setiap orang berbeda-beda. Dimanapun fase hidupnya.

Boleh dibilang, persiapan mpasi-ku cukup update, aku melakukan feeding rules seperti anjuran IDAI dan WHO. Aku menakar nutrisi anakku dengan presisi. Hasilnya, Langit tetap sulit makannya. Ketika di bulan ke 7 makan dan berat badannya sudah mulai melandai, pergi ke dokter menanyakan perihal ada apa, malah diceramahi tentang “kenapa kok vaksinnya nggak dilengkapi dengan yang ini ini dan ini?”

I feel attacked and right know I don’t need any secondary vaccine for my kids. And yes, it’s based on proper knowledge. That’s not what matter for now.

And yeah, BB Langit yang awalnya berstatus gizi baik jadi underweight. Pergilah kami ke dokter spesialis nutrisi dan metabolik, dr. Meta di Surabaya. Semua hidden disease yang ditakutkan tidak ada, hanya memang perlu booster susu padat kalori sambil terus sabar menemani Langit makan. Untuk mengejat ketertinggalan BB-nya.

Selang beberapa minggu, Langit menunjukkan minat makan yang jauh lebih baik. Dia minta makan, dia menghabiskan camilan, semua dengan porsi yang lebih banyak dari sebelum-sebelumnya. Dan baru saat itu aku melalui hari dengan perasaan yang sangat baik. Langit makan! Langit makan dengan baik, berarti kebutuhan nutrisi untuk otak serta pertumbuhan dan perkembangannya pun baik. Ini merupakan kewajiban dasar yang kuusahakan, Langit berhak akan hal itu.

Sampai di fase saat ini, berusia 18bulan ketika Langit mulai demam dan berlanjut tidak mau makan sampai berhari-hari, aku merenung lagi. Mencoba menelaah perasaan yang dulu menyergapku tiba-tiba. Fase sulit makan langit menguak semua trauma masa kecilku. Permasalahan sekecil Langit yang menumpahkan air untuk dimainkan bisa mentrigger emosiku sampai membuatku menyesal. He is not responsible to my unsolved inner problem.

Everyday I try to heal. Everyday I try to remember that this Langit situation doesn’t define me as Nezha, as a Mom. Everyday I try to reframe my own thoughts.

Ketika melihat anak lain tampak begitu lahap makan, tanpa drama, dengan sangat menyenangkan, aku mencoba memahami dengan lebih baik, bahwa everyone owns their own problem. Ada yang bermasalah dengan finansial rumah tangganya, ada yang bermasalah dengan keluarganya, ada yang struggling dengan pekerjaannya.

Allah memberikan pengalaman bersabar yang berbeda-beda pada hamba-Nya. Sesuai kadar yang cuma Allah yang paham kekuatan mereka. “Gitu aja kok bingung,” “Halah, gitu aja dibikin stress. Orang lain ada yang lebih parah dan buktinya mereka survive-survive aja?” Menjadi komentar yang sangat tidak empatik.

Jujur, aku pernah merasa “Ya Allah, masalahku anak suka makan aja kok ngeluhnya gini banget.” Sebuah denial yang justru memperburuk keadaan. M

My worries is around how if Langit’s 2 years golden age wouldn’t go as what it should be. Langit adalah amanah terbesarku saat ini. Adalah hak Langit untuk mendapat pengasuhan yang maksimal dari kami. Aku selalu membayangkan Langit akan menuntut di hadapan Allah tentang lalainya aku dalam membesarkannya. Aku tidak ingin begitu.

Aku harus selalu ingat untuk fokus pada hal-hal yang bisa aku kontrol saja. Hal di dalamnya termasuk persepsi, niat, dan upaya terbaik dalam mendampingi makan (dan hal apapun) dengan Langit.

Sisanya biar Langit dan Allah yang tentukan.

Semangat Ibu

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s