Ibu dan Tiga Anaknya di Jl. H. Samali

Sejak tinggal di Jakarta, aku sering kaget dengan pemandangan anak seusia keponakanku (7-10 tahun) yang bersama orangtuanya, di tengah terik matahari, berjalan mencari entah apa di tumpukan sampah warung-warung dan toko. Kadang kutemukan satu atau dua, bahkan bisa lebih di hari dan jam tertentu.

Semakin lama, pemandangan ini jadi semakin biasa untukku. Aku bahkan cenderung mengalihkan pandangan ketika menemukan mereka, karena tidak nyaman dengan perasaan ….. kasihan? Bersalah? Gusar? yang meliputiku berjam-jam setelahnya.

Sampai ketika di bulan Maret/April, saat pergi ke warung dengan Langit dalam gendonganku, anak laki-laki dengan rambut merah dan baju yang lusuh, memangkul karung berjalan melewatiku. Ia melihatku sekilasnya, tampak buru-buru. Berbelas meter di depannya, ada anak lebih kecil lagi, sedang mengambil aqua botol dari tempat sampah TK sebelah kontrakanku.

Mereka adalah kakak beradik, menemani ibunya yang juga menggendong bayi, sepertiku, memulung botol atau gelas bekas di sepanjang Jalan Samali, Pejaten, sampai Siaga. Ditotal bisa lebih dari 5 km.

Hatiku remuk.

Aku menangis saat itu juga. Aku teringat keponakan-keponakanku yang mungkin saat itu sedang makan dengan ayam kesukaaan mereka sambil menonton TV di rumah mereka yang berantakan dengan krayon, kertas-kertas gambar, atau mainan-mainan. Saat melihat Ibu yang menggendong bayi yang sepertinya sama usianya seperti Langit, aku teringat aku, seorang Ibu yang baru melahirkan, dengan segala perubahan fisik dan emosi, mungkin tidak punya pilihan lain selain membawa ketiga anaknya turun ke jalan.

Tentang pemulung yang membawa tiga anaknya mungkin sudah belasan atau puluhan tahun menjadi persoalan khas Kota besar di Indonesia, mungkin juga sudah lama jadi PR dinas sosial.

Privilase pengetahuan semakin membuatku sesak, tentang 1000 hari pertama bayi, nutrisi yang seharusnya mereka dapatkan, hak anak untuk bermain, merasa aman… Apakah anak-anak itu mendapatkannya? Belum lagi tentang kerentanan pergaulan jalanan sampai kriminalitas. Aku perih membayangkannya.

Saat menulis ini, aku tak benar-benar tahu harus berbuat apa. Apa yang sebenarnya mereka butuhkan? Apa bagi-bagi makanan tiap Jumat saja cukup? Apa aku juga harus memberikan mainan edukasi atau buku bacaan untuk anaknya? Apa perlu aku kontak kawan bidanku untuk kita buat edukasi untuk ibu-ibu yang membesarkan anak di jalanan? Mencari tahu komunitas yang bergerak di ranah itu?

Apa mungkin mereka hanya ingin perasaan aman? Aman dari hujan, panas? Aman dari keharusan mengumpulkan sekian rupiah untuk diserahkan pada pengepul? Aman dari sesama pemulung yang memalak?

Apa yang harus kulakukan? Apa aku bisa benar-benar melakukannya?

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s