Healing Journey: A prolog.

Since being a mom, I think I’ve met the darkest version of me. The ugliest, the worst of Nezha. This is the thing that I always deny. Kenapa? Karena itu berarti hal-hal yang aku siapkan sebelumnya tentang pernikahan, tentang pengasuhan jadi terasa tidak berguna. Aku merasa tujuanku saat itu adalah agar dapat menjalani masa pernikahan dan pengasuhan dengan potensi konflik yang aman dan terprediksi.

Baru kusadari, ada satu hal basic yang tidak cukup kuketahui saat menjadi istri dan orangtua. Bauwa aku adalah bukan lagi Nezha yang sama. Aku kehilangan diriku yang dulu. Menjadi orangtua, terlebih ibu, aku sering dihadapkan situasi yang entah mengapa ingin membuatku kabur dari peran. Aku bangun tidur, dan menyadari akan ada hari yang panjang akan kulalui. Memikirkannya saja sudah berat.

Aku juga sering tiba-tiba nangis, tiba-tiba meledak, merasa nggak berdaya, merasa asing dan sendiri. Hal ini terjadi ketika aku berhadapan dengan situasi saat akumulasi lelah menemami Langit seharian ditambah ia yang tidak mau makan plus maunya hanya denganku, atau saat komunikasi dengan pasangan tidak baik, atau saat ada hal eksternal terkait orangtuaku, dalam hal ini ibuku, muncul.

Aku sadar itu adalah badai emosi yang harus dilewati, di depan Langit, saat sedang menangispun aku akan coba jelaskan, “Langit, ibu nangis karena ibu sedih. Sebentar ya.” Namun, setelah lewatpun, aku merasa itu bukanlah a good cry. I don’t feel any better. I feel that there’s something stuck, left hanging in the room of my chest.

Aku merasa masa baby bluesku sudah selesai (hal yang paling bisa menjelaskanku). Sampai akhirnya aku menemukan sebuah diskusi dua perempuan yang membawaku pada banyak penemuan tentang kondisiku yang sebenarnya. 5 stages of grieving Mom, oleh Damar Wijayanti dan Lolita.

Ternyata aku sedang berduka. Aku kehilangan diriku yang dulu. Hidupku berubah. Hal yang sudah kusiapkan sebelumnya, tapi tak benar aku paham apa artinya. Perubahan yang tak hanya tentang hormon dan bentuk fisik, tapi juga prioritas hidup, rutinitas (sekadar bisa makan dan mandi bener aja udah alhamdulillah) juga hubungan dengan pasangan yang berubah.

Sisi-sisi tersembunyipun perlahan muncul. I remember how I was parented, and I think that is the cause. Untuk sekadar mengakui bahwa hal ini valid saja aku enggan. Aku khawatir perenungan-perenungan itu akan membuatku tidak nyaman dan merasa bersalah.

But I think I need to do it. I need to heal myself. To dig deep down inside me.

It must be frightening, but it’s okay.

It is only a meeting with 5 years old of me. She’s a kid. She needs someone to pat herself. I’m more than ready to do that.

So let’s start our healing journey ya Anisah.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: