Terima Kasih

Boleh nggak sih berterima kasih pada diri sendiri? Wkk. Sebuah pertanyaan yang menurutku agak aneh. Sebagai ibu yang punya rutinitas sekaligus keresahan, moodswing, dan ekspektasi-ekspektasi, di akhir hari dimana bayi akhirnya tertidur, dapur bersih, seharusnya aku berada di waktu yang paling nyaman untuk menemui lagi “aku”.  Tapi kadang, ada malam yang kuakhiri dengan pikiran yang masih mengganjal, masih enggan dikeluarkan.

Aku ingin segera melompat dari Ibu menjadi Nezha. Dengan cara apapun, membaca dan membalas chat-chat yang belum terbuka, mengerjakan tugas komunitas, memperbarui konten jualan buku, sampai scrolling socmed, online shop atau nonton.

Aku jarang benar-benar memikirkan bagaimana hari ini berjalan. Hari bersama bayi tidak pernah sederhana, kadang segalanya terasa mudah, kadang sulit luar biasa. Kadang bertanya-tanya, apakah aku bisa izin satu hari saja? Wk. Tapi memikirkan hal itu selalu buatku merasa bersalah. Kok tega mikir begitu. Wong Langit ini masih butuh kamu di dunia yang masih asing ini kok.

You are now someone’s universe.

That sentence really flatters me, but also sometimes, burdens me.

Alasan lainku enggan mengevaluasi perasaan hari ini adalah aku takut menemukan bahwa seharian aku diliputi rasa bersalah, perasaan kurang baik melakukan hal ini dan itu. That I’m not enough.

Aku takut menyadari bahwa itu bukan lagi perasaan, tapi memang       benar adanya.

Sulit untuk sekadar mengapresiasi diri dengan sederet kutipan self-love itu. Sulit untuk melakukan hal yang memang sangat kubutuhkan. Apresiasi diri.

Sungguh masih banyak PR yang harus kukerjakan. I need to choose my battle wisely, one by one. So maybe the first thing is… emotional management? Which really related to  the feeling of fulfillment.

I think I really need to say this:

Terima kasih Nezha, sudah bangun setiap malam untuk menyusui Langit. Terima kasih sudah memeluk Langit dengan hangat. Terima kasih untuk keseruan bermain bersama

Terima kasih sudah berusaha semampumu. Terima kasih sudah bersedia memperbaiki kesalahan. Terima kasih sudah menahan diri. Terima kasih untuk terus selalu belajar. Terima kasih sudah bertahan.

Perjalanan masih panjang. You are not alone. Never even in a second. Please believe that you are loved, a lot.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: