Barang-barang Bayi Yang Menyilaukan

Ada satu keresahan yang sering muncul tanpa diundang, perasaan baru yang muncul di ruang tamu hati, lucu, menggemaskan, tapi jika dijamu terlalu lama, akan menggelisahkan dan menggerus rasa syukur.

Melihat printilan barang bayi yang mahal-mahal. Wkkwkw.

Ketika melihat bayi lain yang tampaknya sangat dilimpahi materi dan baju-baju bermerk, atau perlengkapan MPASI yang organik, mahal, dan bergelimang mainan, sering aku tiba-tiba jadi galau. Galau yang setelah kuvalidasi, segera kuputus dengan membuka folder pemahaman aka nilai-nilai yang kupegang.

Dalam hal MPASI, apakah bayi harus makan makanan organik? Tidak. Sejauh ini tidak ada penelitian tentang sayur/tumbuhan organik mengandung lebih banyak vitamin. EVOO, ELOO yang harganya 3x lipat lebih mahal dari minyak sawit?

Mungkin jika aku tidak mencoba lebih jeli menggali informasi, aku akan membuat suamiku pusing dengan permintaan ini itu yang sebetulnya tidak wajib. Prinsip MPASI adalah mudah dan tersedia secara lokal. Dan tujuan MPASI adalah anak bisa ikut makan menu seperti keluarganya. Jika setiap hari karbohidrat yang kami konsumsi adalah nasi, mengapa pusing mencari Kabocha? Jika lebih sering makan ikan kembung, kenapa harus salmon? Toh kandungan gizinya hampir sama, bahkan lebih tinggi ikan kembung. Sekali-kali boleh. Tapi ingat lagi prinsipnya, tidak wajib.

Begitu pula dengan sederet baju bayi, gendongan, peralatan, kosmetik bayi. Jika memang Langit tidak bermasalah dengan baju dengan kualitas lokal, mengapa harus pusing dengan bayi lain yang memakai baju merk luar negeri?

Sungguh mungkin kami bisa membeli itu semua, tapi untuk apa?

Banyak hal yang ingin kami coba terapkan di keluarga ini, salah satunya cara hidup yang minimalis (dan mindful!). Membeli banyak berarti menyimpan banyak, yang juga sama dengan mengambil space yang besar di rumah. Rumah sempit barang= lebih sumpek hati dan pikiran= bikin bete di rumah.

Membeli dengan mindfullness juga membuat hati lebih peka. Pakaian-pakaian bayi khas retail ini apakah dikerjakan oleh buruh yang dibayar rendah? Apakah ramah lingkungan? Apakah memakaikannya ke Langit membuatku lega? seperti apa? Atau hanya mengisi dahaga egoku sebagai ibu yang bisa mendandani bayi?

Masih banyak PR tentang mendidik anak. Mungkin ini salah satunya, mengajarkan Langit(dan diri kami!) untuk betul memahami setiap keputusan yang kami ambil, bermula dari membeli barang sekecil apapun.

Karena barangpun akan dimintai pertanggungjawaban kan?

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: