Pertunjukan Pagi

Aku masih ingat dengan jelas bagaimana sejak kecil aku dibesarkan dalam rumah yang dinamis. Semenjak adzan Subuh berkumandang, duniakupun dimulai dengan rima yang cepat. l

Jika divisualkan, aku seperti berdansa dalam irama Mexico, tiap ketuk adalah perpindahan satu aktivitas ke aktivitas lain. Bangun, mandi, sholat, mempersiapkan baju, sarapan, terburu memakai sepatu, menggerutu mencari dimana kaus kaki sebelahnya, cium tangan ibu, dan berangkat, duduk di belakang ayah. Gas motor ayah jadi penutup dansa rutin ini. Diganti dengan sepoi angin jalanan yang menggelitik pipi dengan-bedak-seadanya-ku.

Rutinitas anak sekolah mungkin sebagian besar sepertiku. Begitu pula dengan rutinitas Ibu.

Ibu adalah medan magnet rumah kami. Jika dalam orkestra pagi di rumahku aku adalah penari, kuyakin kastaku adalah sekadar penari latar. Sedang Ibu adalah penari utama. Gerakannya dominan, karismanya memikat, tak luput barang satu sepersekian detikpun.

Ia memulai pertunjukan ini dengan bangun 2 jam lebih awal dariku, dilebarkannya sajadah, dipanjangkan doa-doa. Ada aku dan kakak-kakakku dibisikkan disana. Kata ibu, Ibu selalu berdoa agar aku diberi Allah kemudahan menggapai cita-cita.

Intro yang khusyuk dan sakral itu berlangsung sampai adzan Subuh berkumandang. Selanjutnya adalah Ibu mulai menabuh suara kompor hingga menyala, sembari memencet air dispenser untuk kopi dan teh ayahku, dibersamai suara tahu atau tempe yang ditenggelamkan di minyak panas. Mendesis, menemani penari utama itu menyalakan radio di dekat meja makan, mencari frekuensi radio suara muslim yang sedang berdzikir pagi.

Dapur adalah panggung Ibuku. Ia penari yang penuhe, ia jeli, ia cekatan. Aku tak pernah membayangkan akan serindu ini dengan suasana pagi dan karya-karya tangan Ibuku yang tersaji di meja makan.

Pertunjukan pagi yang selamanya akan kuingat baik, dengan Ibuku sebagai aktor utamanya. Yang diam-diam jadi inginku, agar memiliki gemulai tangan sekarismatik ia.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

One thought on “Pertunjukan Pagi”

  1. Barakallah ibunya kak nezha, aku turut tersanjung juga dengan deskripsi yang berirama sendu ttg ibumu nez :”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: