MPASI dan Hal-hal Lain yang Tidak Boleh Dilupakan

Hampit 1 bulan Langit memulai proses melumat makanannya. Drama sudah terasa sejak awal MPASI, segala teori yang dipelajari jauh-jauh hari langsung diuji onthespot dengan dewan penguji the one and only, bayi.

Memasak jam 11 malam jadi normalitas baru bagiku, menimbang-nimbang kandungan karbo, protein hewani sampai lemak. Melakukan semua itu tanpa tahu apakan benar dimakan atau berakhir di keranjang sampah. Baru kali ini ikutan masterchef, yang jadi juri, bayi. Jika mood sedang baik, makanan Langit cocok, ia bisa menghabiskannya dalam 30 menit, menyisakan 1/2 sendok bayi saja. (terharu, satu kali waktu itu, menu bobor bayam hati) Di lain waktu, dan semakin kesini semakin sering, Langit akan melempar sendok atau mengobok mangkuk makanannya. Mirip-mirip Chef Juna. Uwu menegangkan bukan…

Agaknya sebagai orang tua, selain selalu memberdayakan diri dengan hal-hal teknis terkait MPASI (mulai dari feeding rules, variasi menu) aku harus selalu ingat bahwa Langit ini diciptakan customized dengan kami sebagai orangtuanya. Artinya, Allah pun sudah percaya bahwa kami mampu membesarkan anak ini, termasuk di dalamnya memberinya makan. Drama MPASI ini adalah sedikit dari contohnya.

Sungguh deh, semenjak jadi Ibu dan istri, aku berusaha untuk tidak berpikir, “andai aku lebih jago masak ya, andai aku lebih pintar ya, andai aku lebih solehah ya.” Ingin kuingat bahwa aku tidak perlu meminta maaf pada Langit karena kondisiku saat ini. Apalagi jika keresahan-keresahan itu muncul dari perbandingan-perbandingan tidak relevan pada ibu lain/keluarga lain. Yang harus dilakukan adalah terus berbenah, menciptakan makna dari tiap proses, bersabar dan bersyukur.

Selalu ingat, Allah yang memampukan, Ia adalah sumber energi dan drive terbesar dalam hidup. Allah-lah yang mengizinkan otot oromotorik Langit bergerak melumat makanan, berpindah dari satu ruang pipi ke pipi lain, lau turun ke kerongkongan kecilnya, dibantu air ludahnya. Allah yang mengizinkan ia masuk ke lambung, dicerna nutrisinya, lalu disebar ke paru, jantung, otak dan seluruh peredaran darahnya. Allah yang mengizinkan.

Lewat tanda-tanda yang Langit beri, (menolak suapan, merengek keluar kursi, dan sejenisnya) aku harusnya paham bahwa hal ini adalah proses belajar yang terus menerus. Plan, do, evaluate, repeat. Iringi dzikir dan keyakinan.

Baiklah. Kita coba lagi besok makannya Langit. Semangatt!

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: