Kepada 5 Tahun Lalu

Hai.

Apa kabar?

Aneh sekali harus menulis ini untukmu malam ini, tapi sebuah pesan penting kubaca tadi siang di sebuah buku motivasi milenial ala tumblr. Untuk menjadi diri lebih baik, konsistensi adalah nomor wahid.

Aku masih ingin menulis dengan baik, sehingga aku harus menulis sesuatu, apa saja, setiap hari. Konsisten adalah kunci. Baik.

Semoga itu adalah alasan yang cukup meyakinkan untukmu meneruskan membaca tulisan ini. Tidak, tidak, jangan berhenti membaca. Aku belum menyampaikan apapun. Sabar sedikit ya.

Bersyukurlah, Allah memampukanmu (kita!), memberimu kesemoatan mencicipi usia 25 tahun, tahun ini kita berusia 26.

Lihat, di tahun ini kamu melahirlan anak laki-laki yang sehat dan lucu, ditemani suami yang punya lesung pipit dan mata yang ikut tertawa saat tertawa.

Dalam tubuhmu itu, Allah perkenankan janin dengan ruh tumbuh. Menyerap semuanya lewat plasentamu, kamu menyediakan tempat yang paling nyaman untuk calon manusia tumbuh! Belum lagi mengeluarkannya. Momen yang kujamin tidak akan kita lupakan selamanya. Semua perasaan bercampur yang buat kita bingung menamainya. Tapi semuanya valid.

Kamu tidak pernah menyangka tubuhmu melakukan hal itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah..

Nezha, aku senang menemui kamu malam ini. Aku senang membacamu, menyimak keresahanmu tentang diri, dan mimpi-mimpi. Aku senang menyimakmu menggebu-gebu melahap semua hal baru itu, ide-ide itu.

Kadang terkikik geli dengan kesoktahuanmu tentang sedikit itu, tapi menceritakan pada orang lain seperti sudah paham betul, ingin dianggap keren rupanya. Fufufu.

Ohya jika kamu benar penasaran, mas-mas yang tiba-tiba chat di LiNE malam-malam itu, adalah suamimu sekarang. Ia memang tidak terbiasa tidur awal, jetlag permanen.

Nezha, terima kasih sudah berusaha. Memimpikan ini itu. Terima kasih sudah memulai menulis dengan gayamu. Sungguh aku suka sekali tulisanmu saat itu. Diksimu unik, kau pandai mempersonifikasi perasaanmu. Entah mengapa sulit untukku menirumu lagi saat ini, kenapa ya? Apa aku sudah terlalu dewasa dan realistis?

Nezha, bicara tentang dewasa dan realistis, jujur… kadang aku juga takut. Aku taku dengan segenap pengetahuanku yang tak seberapa saat ini, aku jadi kelewat realistis. Aku tidak lagi sebebal kamu dalam membela mimpi-mimpi. Aku takut aku menyerah. Kita menyerah.

Mungkin itu alasan Allah menakdirkanku dengan mas – mas itu. Kebetulan ia juga punya mimpi yang sama. Allah tahu bensinku mudah habis. Sehingga ia pasangkan kita dengan yang punya nyala yang sama.

Semoga terus bisa saling menjaga nyala, tidak meredup, atau bahkan dengan sengaja kita matikan.

Masih, masih, masih.

Masih kusimpan baik ingin-ingin itu dalam toples kaca. Tak berani kuutak-atik. Aku takut melukainya, merusaknya.

Sabar sedikit lagi ya, Nezha. Saat ini kita sedang mengambil jeda, kita akan mulai lagi, dengan personel baru, dengan semangat dan pola pikir baru.

Ini tidak akan mudah, seperti yang kamu tahu. Tapi tidak apa, kita siap, Allah sedang siapkan kita lewat tantangan selama ini. Kesungguhan kita diuji, seperti yang kamu perkirakan.

Bismillah.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: