“3 Things to be Grateful”

Ini jadi rutinitas saat morning briefing di tempat kerja dulu, sebelum memulai tugas masing-masing, orang-orang melingkar dan menyebutkan 3 hal yang ia syukuri pagi itu satu persatu, dan lebih sering kujawab sekenanya aja (karena diburu-buru giliran yang lain plus nggak mau terlalu open /halah).

Kebiasaan ini kurasa akan kupraktikkan di situasi karantina mandiri Covid-19. Lebih baik energi-energi panik, khawatir, galau, bingung, mati gaya ini dialihkan ke hal lain.

1. Alhamdulillah, ini hari ketiga aku memulai hari dengan menyenangkan. Sebelum bayi bangun, setelah subuh, dzikir pagi sebentar, melipir melaundry baju sambil merencanakan hari ini ngapain aja, kembali ke sajadah dan dilanjutkan dengan ngerjain 1 atau 2 set kuis bahasa Jerman di Duolingo πŸ˜… kalau bayi belum bangun, lanjut dengan mengikuti kelas online gratis, dengerin podcast, atau baca 1 artikel. Sejauh ini aku selalu menghindari membuka sosial media saat bangun pagi.

Walau masih berjalan 3 hari dan belum sempurna (karena masih sering miss bangun sebelum subuh), tapi… lumayan karena ngerasa lebih produktif. Mungkin ini yang dibilang buku-buku tentang creating small success to feel productive for whole day haha, sesederhana melaundri baju di mesin cuci atau sudah mandi/sarapan. Wk.

2. Akta kelahiran Langit sudah jadi. Wow, bayi ini resmi tercatat sebagai orang Indonesia yang telah tertempel hak dan kewajibannya di masa depan sebagai warga negara. Langit hampir berusia 4 bulan April ini, it also means that My 4th semester is gonna be over… Kalau baca postingan di blog ini beberapa minggu ke belakang, I was like.. whoa.. You’ve been there, Nezh.

Mungkin nanti aku kadang akan ngerasain lagi blues itu, dengan format dan situasi yang berbeda. Tapi, melihat sebelumnya aku bisa melewatinya, kurasa yang kelak nanti datang juga akan bisa terlewati, insya allah.

Waktu menatap Langit saat ini, aku senang sekali akhirnya bisa merasakan emosi ini. Motherly affection, yang terasa tulus dan effortless. Kayak, secara ajaib pelan-pelan muncul gitu. Lebih-lebih saat menyusui. It’s like an overwhelmed love, I think I can explode. I know what happens, oxytocin does its job perfectly.

It’s beautiful.

3. Menerima bahwa Memasak enak itu butuh proses

Sebenarnya aku senang banyak teman-teman yang kutau suka membagi resep-resep masakan atau camilan mereka. Tapi kadang aku didera rasa iri karena mereka tampak mudah gitu memasak dan enak πŸ˜‚ sedang aku sering failed memasak (apapun) wkk.

Sebelum menikah aku percaya bahwa memasak adalah skill yang bisa dipelajari, wmakin sering dilatih, semakin jago. Sama seperti menyetir. Jadi aku tidak cukup pusing belajar masak ini dan itu.

Yha, ternyata.. Memang skill sih. Tapi jadinya aku merasa kalah start. Aku harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk gagal sampai akhirnya menemui takaran yang pas dan enak. Ini belum genap 2 tahun aku memasak, dan belum juga seenam resto-resto hahaha. Semoga suamiku diberi kesabaran menanti datangnya masa kecemerlangan masakanku.

Aku sedang berproses. Aku sedang belajar. It’s okay.

Itu 3 hal yang kusyukuri hari ini. Semoga dianugerahkan keistiqomahan untuk terus mengamalkan hal-hal yang bermanfaat. Aamiin 😭

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: