Corona dan Indonesia, Catatan tentang Kekhawatiran

Hari ini (25/03) hampir seminggu pemerintah mempromosikan #dirumahaja demi mencegah penyebaran wabah pandemik yang mengguncang dunia sejak 3 bulan lalu, yaitu Covid-19 atau sering pula disebut Virus Corona.

Hari-hari ini, sosial mediapun topiknya tidak jauh dari tema Corona, sedihnya, hampir seluruhnya membuat resah. Mulai kebijakan WFH yang tidak menyeluruh, lockdown setengah hati pemerintah, RS yang kewalahan dengan semakin banyaknya pasien, dokter-dokter yang gugur, dollar hampir menyentuh 17ribu….

Jika dirunut ke belakang, semakin membuatku stres. Pemerintah Indonesia benar menyepelekan wabah ini, komentar-komentar lelucon yang tidak perlu membuat merasa sah-sah saja menghardik mereka, menuntut dunia sampai akhirat.

Lalu di tengah lamunan setelah menyimak perdana menteri Kanada dan Selandia Baru berbicara pada masyarakatnya, (simak deh, sangat menenangkan… such a leadership!) sempat aku berpikir, apes sekali ya menjadi orang Indonesia dan tinggal di Indonesia….

Ya Allah, why ya Allah. Wkk….

Sungguh akupun terheran-heran mengapa pikiran itu muncul. Apa aku telah mencapai batas ketidakberdayaanku? Wkwkwk. Paham ngga sih, kayak, pingin quit tapi nggak bisa karena emang nggak bisa 🤣 #NezhaSyaifpindahnegara2021 (karena 2020 masih Corona, wkk) aamiin….

Melihat buruknya Indonesia menghadapi wabah ini, buatku tiba-tiba was-was bagaimana kelak Langit tumbuh 🤣 Jujur, aku tidak pernah sekesal ini sebelum menikah dan punya anak. Maksudku, saat masih muda dulu alias mahasiswa wkk, hidup mungkin terlihat lebih lempeng karena yaa.. aku melakukan kegiatan-kegiatan sosial itu sebenarnya untuk diri sendiri, untuk memenuhi rasa penasaran, menyalurkan resah. Setelah mempunyai anak, ya jadi level-up yha kadar tantangan juga khawatirnya. Termasuk memikirkan dunia seperti apa yang akan ditinggali Langit. Indonesia yang seperti apa yang akan ia hidupi… Well, mengingat 2045 adalah masa emas Indonesia dengan bonus demografinya, entah jadi anugerah atau petaka. Di tahun itu, insya Allah Langit umur 25. Aku umur 50 🌝

Sungguh izinkan aku meluapkan semua emosi negatif ini tanpa perlu memusingkan solusi dan langkah-langkah apa yang harus kulakukan sebagai orangtua dan warga negara untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik untuk Langit dan berjuta bayi lainnya yang lahir tahun kemarin. 😂 Insya allah untuk hal itu kelak ada di postingan lain. Wkk.

Tapi bener deh, sulit sekali untuk berpikir positif di hari-hari ini. Kabar-kabar itu membuatku kepayahan untuk tidak pesimis. Hingga mencari-cari hal yang bisa disyukuri di tiap-tiap hari berlalu adalah satu-satunya cara menjaga kewarasan. Untuk suamiku mungkin WFH ini jadi tantangan barunya, wkk. pasti penat mengoding di ruang depan kontrakan kami yang minimalis berminggu-minggu.

Yah.. semoga Allah segera mengangkat wabah ini, memberi hidayah untuk pemimpin, dan kesabaran menanti hikmah untuk kami.

This too shall pass, insya Allah.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: