Sejauh ini; cinta.

Disaat waktu terasa melambat, saat tidak ada yang kulakukan selain menyusui dan membersamai bayi berusia kurang dari 2 bulan, seringkali muncul berbagai hal terlintas. Tentang impian kecil dan besar– yang berusaha sekuat tenaga tak kupadamkan nyalanya, tentang keinginan membuat jejak dan karya yang tidak tahu mulai darimana, tentang cuitan antah berantah di Twitter—– IRT? bergantung pada suami?!1? perempuan harus mandiri!!11 independen!!1!!1, sampai ekspektasi pada pasangan yang masih tersimpan dan belum menemukan cara menyampaikannya.

Saat kondisi pikiran lagi lurus, sungguh tidak ada penyesalan atas keputusan-keputusan itu. Aku menyadari betul bahwa jalan yang kupilih ini adalah jalan sunyi, jauh dari ingar bingar, tapi rentan justifikasi– setelah menikah di rumah aja??11 nggak kerja?1???1 gimana itu nasib ijazah?1?? Kapan-kapan semoga punya waktu untuk mendefinisikan “kerja” dan “mencari uang” menurutku.

Percayalah, aku sama sekali tidak tergoncang, (like, I don’t care, I know what I do, it only takes time) hanya mungkin sesekali ingin dibesarkan hatinya.

Capek hati dan badan, iri, insecure, kecewa, muncul silih berganti. Syusyah memang jadi ibu baru yang hidup di era sosmed. Kalau values dan prinsip nggak kokoh dan nggak terus diingat, bisa hilang arah (kapan kapan, aku cerita tentang values dan prinsip— wow banyak janji nulis, biarin)

Aku ingin terus mengetuk kepala dan ingat, jangan sampai hal-hal negatif itu menggerus keikhlasan, menghilangkan pahala. Jadi, diterima dulu, diakui perasaan-perasaan negatif itu, “Weleh, Rizqa istri Fahd gimana ya rasanya dibikinin caption syahdu gitu tiap minggu...”. “Wadu, produktif sekali mbak ini, ada anak 2 , pinter dan lucu, jago masak, bikin buku, bikin komunitas.. apalah aku….” diterima dulu hal negatif itu, terus langsung istighfar dan taawudz yang banyak, lepaskan. Sambil ingat-ingat teori-teori media studies yang dulu kupelajari. People choose their stage— to show things that they considered meaningful, fulfiling.

Aku mencintai keluarga kecilku.

Aku bersedia menjadi kawan perjalanan seorang yang logis, pemikir dan irit kata-kata, sehingga berharap ia akan memvalidasiku dengan pujian atau kata-kata manis adalah hal yang tidak bisa tiap hari kudapatkan. Tapi kesediaannya untuk (selalu) meletakan kembali sepatu yang kulepas saat menggendong Langit masuk ke rumah atau mengecharge HPku yang habis batrainya, atau selalu bertanya “kenapa?” saat aku ketahuan menangis, selalu buatku tersenyum mengingatnya. Uwu.

Aku dititipkan amanah Allah untuk melahirkan bayi kecil yang sehat dan lucu. Aku memahami bahwa dalam dirinya ada fitrah-fitrah yang harus terjaga. Aku menantikan dan menstimulasi perkembangannnya; bulan keberapa dia bisa mengoceh, tengkurap, duduk tegak, atau melumat makanan.

Dulu saat galau jodoh dan hobi menenggelamkan diri pada postingan berkata-kata syahdu di Tumblr, ada yang bilang bahwa konsekuensi mencintai ada dua: melepaskan (membiarkan si dia nikah sama orang lain) dan memperjuangkan (tembak, nikah)

Sekarang, menurutku, mencintai adalah memperjuangkan sekaligus melepaskan. Menikah dan berkeluarga adalah contoh konkretnya.

Mencintai dikala hati sedang berbunga-bunga, diri sedang cantik-cantiknya, dan segalanya tampak indah adalah mudah. Namun, mencintai di kala perjalanan terasa jauh dan jenuh, masalah yang mulai beragam dan kekurangan-kekurangan diri yang perlahan muncul, adalah hal yang kebalikannya. Sulit.

Sehingga disinilah, bagiku, letak memperjuangkan itu. Untuk tidak menyerah dengan satu sama lain begitu saja, untuk mencari 10 hal yang disukai saat 1 hal yang tidak disukai muncul, untuk terus belajar beradaptasi dan menerima fakta bahwa hidup dengan satu tambahan anggota keluarga jelas berbeda dari yang sebelumnya hanya berdua.

Melepaskan, adalah berusaha untuk tidak menuntut pasangan melakukan cara yang sama sepertiku dalam mengungkapkan cinta, sesederhana itu. Jika konteksnya adalah mencintai anak, aku telah melatih diri untuk tidak membebani Langit dengan harapan-harapan semuku. Aku ingin ia terbang tinggi dengan iman, ke tempat dan peran yang ia pilih sendiri. Namun jika kemudian memilih ingin berada tetap di bumi, selama mengerti apa yang ia ingini dan lakui, ya.. aku akan merelakannya.

Tapi apalah aku yang baru genap setahun belajar mencintai ini. Mungkin definisinya lebih rumit, mungkin bertransformasi dalam bentuk yang tidak bisa dikatakan. Mungkin juga tidak ada definisinya.

Sampai saat ini aku masih terus belajar.

Allah adalah sebaik-baik penyimak dan pembalas harap hambaNya yang tidak putus asa. Jadi, semangat ya aku! Semoga bisa membuat surga sebelum surga sebenarnya.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

2 thoughts on “Sejauh ini; cinta.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: