Lintasan Pikir

Waktu aku masih sendiri, melihat Ibu-ibu muda yang mencurahkan isi hati mereka setelah menjadi ibu, kadang buat keningku berkerut. Mulai dari depresi sampai merasa kehilangan diri sendiri.

Wow, benarkah?

36 hari menjadi ibu dari bayi kecil nan montok, aku kemudian bisa memahami hal itu. Tidak, kurasa aku tidak sampai depresi, dan tidak, aku masih merasa Nezha adalah aku dan peran baruku sebagai ibu– dua hal yang sekarang melekat.

Masa nifasku belum selesai, aku masih ada di fase transisi yang penuh dukungan dari berbagai pihak, mulai suami, teman dan tetangga haha. Langit masih kooperatif, rewel pada waktu tertentu saja.

Namun kemudian aku berpikir tentang bulan dan tahun setelah ini. Langit yang semakin besar dengan keingintahuannya yang tinggi (begitu pula tantangan-tantangan baru dan mengharuskanku upgrade pengetahuan)– yang jelas menjadi porsi perhatian terbesarku, rutinitas rumah tangga, mimpi-mimpi personal…

Ah, akankah bisa semua berjalan seirama?

“Prioritas” katanya. Dari semua hal itu, mana yang harus diprioritaskan.

Sungguh aku bukan ingin memilih satu atau lainnya, atau membatasai kemampuanku. Tapi saat ini aku ingin membedah segala bentuk kekhawatiran yang muncul di pikiran.

Dan yang nomor satu adalah, aku terjebak rutinitas, hingga satu titik aku kemudian “memaafkan” diriku, lalu mengkambinghitamkan anak dan keluargaku, “Ini semua demi keluarga.”

Rasanya dulu aku cukup optimis akan memiliki keluarga yang saling mendukung mimpi personal– yang kemudian tidak lagi menjadi personal, tapi mimpi keluarga. Hidup yang rutin dan slow, penuh teori di luar namun minim aplikasi di keluarga, sedapat mungkin ingin aku hindari.

Bukankah bertambahnya anggota keluarga menjadi amunisi bertumbuh? Tiap anggota keluarga jelas memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi bukankah disitu letak ibadahnya? Saling melengkapi? Saling mendukung dengan mengurangi beban masing-masing?

Meneropong hal-hal yang belum terjadi, lalu berkhawatir atasnya, ternyata hobiku. Seringkali ditegur suamiku.

Entah, kadang memetakan masalah yang mungkin timbul di masa depan membuatku lebih baik– karena merasa bisa bersiap dan menghindarinya.

Ah, tapi mungkin aku yang terlalu berlebihan. People said we have to live today as it is a present.

Hmm.

Baiklah. Kuakhiri tulisan ini dengan hati yang lebih plong namun tetap bertanya-tanya.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: