In Blue

17.45.

Langit akhirnya tertidur, setelah lama menangis, lalu tampak kelelahan dan pelan melepas menyusunya. Aku yang belum berhenti menangis.

Mengingatkan diri bahwa aku sedang dalam fase naik-turun transisi menjadi ibu setidaknya membuatku lebih bisa mengendalikan diri.

Disaat Langit menangis kencang, meminta menyusu namun ia seperti lupa bagaimana caranya sehingga ia menjadi kesal dan semakin kencang tangisnya, ketika ia hanya ingin digendong, atau bahkan ketika keadaan baik-baik saja–Langit tertidur pulas dan kenyang, hanya aku dengan renungku yang kemana-mana.

Aku harus terus tersadar bahwa fase ini akan berlalu, ini hanya bagian kecil saja di awal perjalanan ibu-anak, bahwa Allah menjagaku, mengawasiku…

Dari wajahnya, aku ingat lagi namanya, Langit Rasyid. Langit, luas, tidak terbatas. Langit tidak selalu mendung, di saat yang sama, di belahan bumi lain, Langit sedang cerah. Selalu ada hal yang membuat hati berbahagia. Selalu ada.

Rasyid, yang mendapat petunjuk. Padanya, aku ingin diingatkan untuk memohon petunjuk dari Allah, bahwa di pikiran yang kalut sekalipun, aku tidak akan melakukan hal yang dibenci Allah, Allah akan selalu memberiku (dan kelak, anakku dalam menjalani hidupnya) petunjuk. Seperti nabi Yusuf.

Semoga.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: