Bertemu Langit

Seminggu lalu pertemuan yang ditunggu-tunggu terjadi. Tepat di jam ini, 19.56, dan di beberapa jam setelahnya, kurasakan duniaku berputar dalam radian yang tidak bisa dijelaskan. Dimensi baru. Hidup baru.

Kelahiran Langit maju satu minggu dari HPL-nya, ia berhasil berjuang selama 9 bulan, bertahan dan bersusah payah mencari jalan lahir, menipiskan serviks. Aku melahirkan seorang pejuang.

Langit telah menjadi anak yang sangat kooperatif semenjak dalam kandungan. Ia jarang membuatku mual seperti yang diceritakan orang-orang di trimester 1, ia tumbuh sehat, normal, sesuai afirmasi. Ia tidak membuatku pegal-pegal, kesakitan di pangkal paha, dan semua keluhan-keluhan itu

Langit anak yang baik.

Kelahiran langit adalah kelahiranku, dan kelahiran suamiku juga. Kami resmi diamanahi seorang hamba Allah yang suci fitrahnya. Kami adalah orang tua, ayah dan ibu.

Perubahan ini sangat personal bagiku, dimulai dari kesadaran bahwa birth-plan adalah tetap sebuah rencana, dan Allah-lah sebaik-baik perencana.

Mengikhlaskan bahwa proses kelahiranku tidak 100% seperti keinginanku adalah tugas pertama yang harus kuterima. Proses mengejan yang panjang dan melelahkan, sampai prosedur episiotomi yang tidak bisa dihindarkan.

Aku merasa sangat labil. Aku kecewa. Di sisi lain, saat menatap Langit, hatiku dipenuhi haru bercampur merasa bersalah. Ia telah melakukan tugasnya dengan sangat baik selama 9 bulan ini, aku yang gagal di akhirnya.

Sampai di hari ketujuh kedatangan Langit, aku menemui banyak sekali emosi yang kesemuanya bercampur dengan nyeri yang munculnya terus menerus di berbagai bagian tubuh. Disaat yang sama sangat menunggu masa dimana Langit akan menemaniku melanjutkan mimpi-mimpi, ia akan jadi saksi, jadi penyimak bagaimana mimpi seharusnya diperjuangkan. Entah bagaimanapun hasilnya nanti.

Ah, kurasa ia sudah mengalaminya pertama-tama di proses kelahirannya. Terima kasih Langit, sudah menerima Ibu dan Ayah dengan sepaket kekurangan kami yang masih tidak tahu menahu bagaimana menjagamu.

Terima kasih Langit sudah diam-diam mengajari Ibu untuk meluaskan hati lagi. Karena hati seharusnya seperti langit, hujan dan badai hanya ada di satu kordinatnya saja, jika sabar sedikit kita akan bertemu cerah. Begitupula sedih, dengan menyadari sepenuhnya bahwa hal ini akan segera berlalu, Ibu jadi memaklumi dan bersiap dengan emosi yang lain. Emosi yang menumbuhkan.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Dari kesemua proses ini, aku ingin terus ingat bahwa Allah tidak pernah mengingkari janjinya. Aku sungguh berharap bahwa keikhlasan dalam proses ini benar akan mengundang keberkahan Allah, Ia akan mengasihaniku dan berkenan menggugurkan dosa-dosa yang bertumpuk itu. Insya allah.

Selamat hari ketujuh, Langit. Ibu dan Ayah sayang sekali sama Langit.

Author: nezhafath

a klepon-hearted

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: